Cinta Yang Belum Usai

Cinta Yang Belum Usai
62


__ADS_3

"Yah, dia sampai pingsan berkali-kali. Terlebih para kakak Keysa, mereka sampai tidak bicara sama sekali. Kesedihan terpancar jelas di matanya, bahkan sampai saat ini sepertinya mereka masih berada di makam adik mereka." Terang Rani.


Mereka pun telah sampai di kamar Keysa, kamar yang bernuansa pink. Terlihat Fara terbaring lemah dengan air mata yang terus mengalir. Tatapannya mengisyaratkan kesedihan yang mendalam.


Alex dengan setia duduk di pinggir kasur dengan mengusap kepala istrinya.


"Ehmm ... Bagaimana kabarmu kakak, kakak ipar? Maaf kami baru bisa kesini," ujar Deva menyapa keduanya.


Alex bangkit dari duduknya, dia membiarkan Deva berbicara dengan Fara. Sementara dirinya mendekati Axel yang menggendong Kenzo.


"Tidak apa, terima kasih sudah datang hiks ... Aku sangat terpukul dengan kepergiannya hiks ... Kenapa dia di panggil lebih dulu. Dia anak yang baik dan manis, kenapa mereka tega hiks ...,"


Deva memeluk Fara, dia ikut merasakan sakit kakak iparnya itu.


"Sabarlah kak, dia sudah bahagia sekarang dan tak merasakan sakit lagi. Jika kau larut dalam kesedihan, dia jadi ikut menangis," ujar Deva.


Fara tetap menangis, Deva dengan telaten mengusap air mata Fara dengan menggunakan tisu.


Sementara Alex. Dia menatap Kenzo dengan serius, bahkan tak sedetik pun tatapannya berpindah.


"Kenapa kau selalu menatapnya huh?" Tak terima Axel.


"Dia putramu? Putra bungsumu?" Ragu Alex.


"Ya, memangnya kenapa hah?" Kesal Axel.


"Kenapa dia malah mirip dengan istriku?" Heran Alex.


Jantung Axel berdegup kencang, tenggorokannya terasa tercekat. Dia tak mampu membuka suara, dirinya khawatir Alex akan mencari tahu tentang Kenzo.


"Bunda bilang saat hamil adek dia sangat senang melihat tante Fara. Maka dari itu Kenzo sedikit mirip dengannya." Terang Romeo yang merasa tak suka dengan omongan Alex.


"Ouh begitu, ya ... Apakah dia tetap penyakitan?" Tanya Alex yang mana mengundang amarah Kevan.


"Jaga mulut om, saya masih menghormati anda sebagai om saya. Jadi, jaga sikap anda." Tekan Kevan dengan bahasa formalnya.


Alex menatap Kevan, menurutnya Kevan dan putra pertamanya tak jauh berbeda sifatnya.


"Ya baiklah," ujar Alex dengan malas.


Kenzo menatap Alex dengan tatapan sayu nya, sepertinya ia kembali mengantuk.


Benar saja, tak lama Kenzo tertidur kembali. Padahal baru saja dia bangun dan menangis.


"Dia tidur, baringkan saja sebelah istriku. Kasihan, badannya pasti lelah karena perjalanan jauh." Usul Alex.


Axel menatap Kevan, dan Kevan menganggukkan kepalanya. Sebenarnya Axel tak rela jika putranya berdekatan dengan keluarga Alex.


Dengan berat hati Axel berjalan ke arah kasur dan menempatkan Kenzo di samping Fara.


Fara yang tadinya masih menangis mengingat Keysa kini mengalihkan perhatiannya pada sosok mungil yang berada di sebelahnya.


"Dia putramu?" Tanya Fara pada Deva tanpa mengalihkan pandangannya.


"Yah, dia manis bukan?" Ujar Deva.


Fara mengangguk, tangannya terangkat dan mengelus pipi putih Kenzo.


Merasakan ada yang menyentuhnya, Kenzo membalikkan badannya sehingga kini dia tidur miring menghadap Fara.


Kevan menyelimuti Kenzo dengan selimut bayi milik anak itu. Tambah lelap lah sudah Kenzo saat ini.


"Dia manis, kalau Keysa masih ada mereka pasti menjadi teman yang akur." Gumam Fara.


Deva menatap Fara, tatapan kakak iparnya itu sangat sendu. Deva pikir mungkin Fara masih merasa kehilangan Keysa.


"Sejam lagi aku akan menyuntikkan vitaminnya kembali, aku akan keluar sebentar ayah," ujar Kevan.


"Ya, tabung oksigen adek ada di mobil. Kau bisa mengambilnya dan menaruhnya di kamar tamu bagian timur. Untuk inhaler, kita pegang masing-masing satu takut keadaan adek darurat kita sudah siap." Pinta Axel.


Kevan mengangguk, dia pun keluar bersama dengan Keano. Sementara Romeo duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.


"Bagaimana kabar asistenmu?" Tanya Axel penasaran.


"Dia sudah lama aku kirim ke amerika untuk menangani perusahaan cabang di sana," ujar Alex.


Sudah Axel duga, tak mungkin Alex membiarkan orang yang memegang rahasianya berkeliaran di sekitar keluarganya.


Itulah alasan Bayu memberitahu Axel saat itu, dirinya tak ingin jika Axel terlambat mengamankan Kenzo agar tak lagi di buang oleh Alex. Karena bagi Alex kenzo merupakan ancaman untuknya mencapai keinginannya.


"Biasanya kau akan mengasingkan seseorang jika dia memiliki rahasiamu, sebenarnya ... Apa rahasia yang kakak rahasiakan dari kita semua?"


Pertanyaan Axel membuat Alex menatapnya tajam, dia seperti sedang di bercandakan.


"Apa maksudmu? Aku mengirimnya ke sana karena keadaan, bukan karena sebuah rahasia." Geram Alex.


"Kakak, aku hidup denganmu bukan setahun dua tahun, tapi puluhan tahun. Aku mengerti sifatmu, kau akan melakukan apapun demi mencapai tujuanmu. Bukan begitu kakakku tersayang?"

__ADS_1


Prok! Prok! Prok!


Arcio menghentikan pukulannya pada samsak di hadapannya, dengan nafas tak beraturan dia pun membalikkan badannya dan melihat Kevan melangkah mendekatinya.


Ruangan yang gelap hanya satu cahaya lampu kecil membuat Arcio menyipitkan matanya.


"Kevan?" Gumam Arcio.


Kevan menepuk bahu Arcio, setekah itu dia mengelus samsak yang tadi Kevan pukuli.


"Setiap kali lo banyak pikiran, pasti lo bakal lampiaskan semuanya pada samsak ini. Ada apa Arc? KAu sedih kehilangan adikmu? Ku dengar ... KAu bahkan tak ikut memakamkannya," ujar Kevan.


"Diamlah! Tau apa lo tentang gue!" Ketus Arcio sambil membuka sarung tangan tinjunya.


Kevan tersenyum sinis, dia melipat tangannya di depan dada dengan angkuh.


"Arc ... Arc, banyak yang tau kalau lo gak suka sama adik perempuan lo. Bahkan, lo selalu bersikap dingin padanya dan jarang berada di rumah. Apa ... Lo gak suka sama adik kesayangan keluarga Matteo?" Ujar Arcio.


Arcio mengambil jaketnya dan memakainya, dia mengambil botol minum dan menenggaknya dengan rakus.


"Buat apa lo disini?" Tanya Arcio setelah ia selesai minum.


"Mau lihat bagaimana keadaan mansion setelah kepergian anak yang kalian anggap berlian," ujar Kevan.


Arcio terdiam, jika Kevan berada di sini. Apakah semua adiknya berada di sini juga?


Tanpa berpikir lama lagi, Arcio segera keluar. Kevan pun ikut keluar karena saat ini sudah masuk waktunya jam makan malam.


Arcio memasuki ruang makan, begitu pula dengan Kevan. Namun, langkah Arcio terhenti ketika melihat sosok mungil yang berada di pangkuan sang paman.


"Iya ini udangnya, udah adek diem dulu. Biar ayah yang suapin," ujar Axel.


"Tapi adek mau makan dilii ayah!" Rengek Kenzo.


"Sudah lah mas, taruh dia di kursinya. Biarkan dia makan sendiri, dari pada nanti malam tidurnya rewel," ujar Deva menengahi.


Dengan berat hati, Axel menaruh putranya di kursi samping. Sehingga kini Kenzo berada di tengah-tengah orang tuanya.


Arcio menarik kursi, tatapannya mengarah pada sang mommy yang mengamati Kenzo dengan sangat intens.


Mata indah itu masih berkaca-kaca, mungkin karena Fara masih merasa sedih.


"Kau sudah kembali, baru saja mommy ingin memanggilmu," ujar Fara saat melihat putranya duduk di sampingnya.


Ucapan Fara membuat mereka semua menatap Arcio, dengan senyum tipis Arcio menatap Axel dan Deva dengan sopan.


"Terima kasih om sudah sempatkan waktu untuk mengunjungi kami," ujar Arcio.


"Yasudah ... Ayo semuanya, kita makan." Pinta Abercio sebagai kepala keluarga.


Mereka pun akhirnya makan, sangat damai dan tak ada suara kecuali dentingan sendok yang beradu dengan piring.


"Ayah adek udah," ujar Kenzo dan mendorong piringnya.


"Nah kan, apa kata ayah. Kamu kalau makan sendiri pasti gak habis, sayang kamu suapi dia sampai habis makanannya. Dokter ahli gizi nya berkata jika Kenzo harus menaiki berat badan," ujar Axel dengan sedikit kesal.


Deva mengangguk, dia mengambil piring Kenzo dan menyuapi anak itu. Dengan kesal, Kenzo kembali membuka mulutnya.


"Apa liat-liat! Mau di colok matana hah?!" Ketus Kenzo saat tatapan Alex mengarah datar ke arahnya.


"Ken ... Gak sopan sayang." Peringat Deva.


"Abisna dali tadi pelelok Ken telus, mau minta uang? Ken nda ada uang, jadi janan liatin Ken," ujar Kenzo membela diri.


Axel tersenyum tipis, dia sedikit senang karena Kenzo berhasil membuat Alex kesal.


"APa kau tak mengajarinya sopan santun?" Celetuk Alex.


"Ya, aku mengajarinya. Hanya saja ... Anak kecil jarang berbohong kan?" Ujar Axel membela diri sambil menatap sang kakak kembaran.


Alex memutar bola matanya malas, dia bahkan sungguh kesal dengan Axel karena tak mengajari sopan santun pada Kenzo.


Selang beberapa waktu, semua orang telah selesai makan. Kenzo masih sibuk mengunyah karena anak itu selalu makan dengan lambat.


Netranya sudah sayu, kepalanya sudah terkantuk-kantuk. Sehingga beberapa kali kepalanya hampir saja terjatuh ke meja makan.


"Sepertinya putramu mengantuk Dev," ujar Fara dan berjalan mendekati Kenzo.


"Iya mba, kayaknya ngantuk. Tapi nasinya masih ada sisa," ujar Deva dengan lesu.


Entah dorongan dari mana, Fara mengusap rambut kecoklatan milik Kenzo. Jantungnya berdesir, merasakan kehangatan yang dirinya rasakan saat memeluk putra-putranya. Seperti ada ikatan yang membuatnya seperti sekarang ini.


Wajah Kenzo, Fara mengamatinya. Dia baru menyadari jika Kenzo bisa di bilang mirip dengannya. Kulit putih, surai kecoklatan dan juga bulu mata yang lentik.


"Maaf mba, aku mau gendong Kenzo ke kamar." Ujar Deva sambil menaruh mangkok yang tadi ia pegang.


"O-oh iya, kasih saja susu sebelum tidur agar tidurnya nyenyak. Mba ke kamar dulu yah," ujar Fara dengan sedikit kaget.

__ADS_1


Fara pun melangkah pergi, tetapi langkahnya terhenti karena mendengar isakan Kenzo.


"Eunghh ... Hiks ... Janan bunda ... Ken mau bobo hiks ... Janan ganggu lagi!"


Fara berbalik, dia melihat Deva menggendong Kenzo dan berjalan masuk ke kamar.


"Mom, kenapa disini?"


Fara terperanjat kaget, dia mengusap dadanya kala melihat siapa yang mengagetkannya.


"Kamu! Ngagetin mommy aja sih!"


"Hehehe sorry mom, abisnya Arsha bingung kenapa mommy disini. Tuh, daddy cariin mommy," ujar Arsha.


"Yasudah, mommy susul daddy dulu," ujar Fara.


***


Malam hari, ketika Deva dan Axel sedang tertidur lelap. Mereka harus bangun lantaran Kenzo yang menangis keras.


"Ada apa sayang?" Tanya Axel sambil merubah tidurnya menjadi duduk.


"Cakit ... Hiks ... Cakit!" Seru Kenzo dengan suara yang hampir hilang.


Axel membulatkan matanya saat melihat Kenzo yang memukul-mukul dada. Axel segera mengambil inhaler di nakas dan menyemprotkannya di mulut Kenzo.


Deva yang ikut terbangun segera keluar dan memanggil Kevan agar segera memeriksa keadaan Kenzo.


"Kenapa bisa kambuh yah?" Tanya Kevan yang berjalan masuk dengan di ikuti Deva.


Axel menggeleng, dia masih memangku putra bungsunya yang bersandar lemah di dadanya.


"AC nya terlalu dingin." Gumam Kevan dan mengambil remot Ac serta mematikannya.


Kevan mengambil tabung oksigen dan menaruhnya di samping ranjang. Dia memasangkan Kenzo masker oksigen dan mengaturnya.


"Aku akan mengeceknya sebentar yah, tolong baringkan adek." Pinta Kevan.


Saat Axel akan membaringkan Kenzo, cengkraman anak itu di piyama Axel menguat sehingga Axel menggeleng pasrah.


Akhirnya, Kevan terpaksa memeriksa adek itu dalam keadaan bersandar pada sang ayah.


"Janan cuntik agi yah, abang lagi nda telcangkut otakna ci? Janan cuntik, cakit." Lirih Kenzo.


"Abang akan menyuntikmu jika kau bandel, anak nakal!" Ancam Kevan.


Kenzo tak menghiraukan perkataan Kevan, tak lama dia oun kembali tertidur di dada bidang sang ayah.


"Suhu tubuhnya sedikit hangat, aku akan mengambil termometer sebentar," ujar Kevan dan berlalu dari kamar orang tuanya.


Deva mendudukkan dirinya kembali ke kasur sambil menghela nafas lega.


"Hah ... Padahal kita kepanasan dan memasang AC sampai suhu yang sangat dingin, seharusnya kita sadar dari awal kalau Kenzo gak tahan dengan dingin yang sangat kayak tadi," ujar Deva.


"Benar, kita hampir saja melupakannya." Sambung Axel.


Deva tersenyum, dia mengelus lembut surai putranya.


"Janan cuntik-cuntik ... Nanti telcangkut otakna ...,"


Deva dan Axel saling pandang, dan mereka pun terkekeh akibat gumaman dari putranya.


Sesuai dugaan Kevan, hari ini Kenzo terserang demam. Mungkin karena daya tahan tubuhnya yang lemah dan membuatnya harus terbiasa dengan cuaca di negara ini.


"Baby sama abang dulu yuk, papah mau pergi sayang." Bujuk Deva pada putra bungsunya itu.


Axel dengan sabar menimang putranya yang sakit, dia ada acara pertemuan bisnis bersamaan dengan sang istri. Tak mungkin ia meninggalkan Kenzo yang sedang rewel dan sakit, tetapi acara pertemuan itu sangatlah penting.


"Ken mau cama ayah, hiks ... Mau cama ayah." Rengeknya dengan suara serak.


Tanpa pikir panjang, Kevan merebut Kenzo dengan paksa. Hal itu membuat Axel marah kepada putra sulungnya.


"Jangan kasar Kev! Adikmu sedang sakit!" Kesal Axel.


"Sudahlah, biarkan dia menangis. Ayah dan bunda berangkat saja, aku akan menenangkannya," ujar Kevan dengan santai.


Kenzo sudah histeris dan menangis keras, Deva menjadi tak tega. Namun, Axel memberi isyarat padanya jika mereka harus segera pergi.


"Ayah tak mengizinkanmu untuk menyuntiknya dengan obat tidur Kev, dia adikmu bukan kelinci percobaanmu!" Peringat Axel.


"Ya, aku tahu." Tanggap Kevan.


Axel pun keluar dari kamar bersama dengan Deva, sementara Kevan masih berusaha untuk menangkan sang adik.


Kreett ....


"Kenapa berisik sekali? Kau apakan adikmu hah?" Seru Arcio yang baru saja masuk saat mendengar suara tangisan yang kencang.

__ADS_1


Kevan tak menjawab, dia hanya sibuk menimang Kenzo. Wajah pucat dengan air mata yang menggenang membuat Arcio tak tega.


__ADS_2