Cinta Yang Belum Usai

Cinta Yang Belum Usai
Kegabutan bumil


__ADS_3

Darren dan Savanna bersiap akan tidur, sebelum itu. Seperti biasa Darren akan menyapa anak yang ada di dalam perut istrinya. Menanti gerakan buah jati mereka yang semangat menyapa sang daddy.


"Aduh aduh aduh, baby daddy lagi ceneng yah di capa daddy nya." Ujar Darren dengan bahasa anak kecil.


"Kak." Panggil Savanna.


"Hm?" Darren masih saja terfokus mengetuk perut Savanna, gerakan calon bayi mereka membuat Darren sangat antusias.


"Waktu si kembar masih dalam kandungan, kakak gini juga gak?"


Seketika kegiatan Darren terhenti, dia mendongak menatap istrinya yang juga tengah menatapnya.


"Enggak." Sahut Darren dengan cepat dan kembali pada kegiatannya.


"Kenapa? kenapa kamu gak memperdulikan si kembar?" Tanya Savanna dengan tatapan penuh tanya.


Darren menghela nafas pelan, dia menegakkan tubuhnya. Ikut menyandarkan dirinya di kepala ranjang sambil menatap Savanna dengan intens.


"Sebab mereka terlahir dari kesalahan, saat itu ... aku masih menyalahkan mengapa mereka hadir di waktu yang tidak tepat."


"Kenapa kakak seperti itu?! mereka tidak salah! yang salah itu kakak!" Sewot Savanna.


"Kakak tahu, kan tadi kakak bilangnya saat itu. Bukan sekarang. Kalau sekarang, mereka segala-galanya bagi kakak. Mereka sama seperti calon anak kita, kasih sayang kakak sama mereka dan anak kita sama beratnya."


Beruntung saat ini si kembar tidur di kamar sebelah, sehingga tak mendengar kan perbincangan kedua orang tuanya.


"Kakak tuh harusnya marah sama diri kaka sendiri, bukan anak-anak. Kakak tuh aneh tau gak! kakak yang taruh mereka di rahim ibunya, malah kakak yang nyalahin mereka!" Ketus Savanna.


Darren menggaruk kepalanya yang tidak gatal, apakah lagi-lagi dirinya salah? bukankah istrinya yang memancing perdebatan ini?


"Iya, kakak ngaku salah. Si kembar juga nyawa kakak, biarpun kakak tidak pernah mencintai ibu mereka," ujar Darren dengan pasrah.


"Gak cinta tapi bisa jadi anak." Cibir Savanna.


"Yaaangg!!" Rengek Darren.


Sedangkan di kamar pengantin, Dania tidur dengan nyenyak. Berbeda dengan Satria yang saat ini merasa panas dingin.


"Dia tuh sebenarnya polos apa cuma ngerjain gue sih!" Gerutu Satria, sesekali netranya melirik sang istri yang tengah tertidur pulas.


Dania tak peduli, bahkan dia hanya menyelimuti dirinya sampai sebatas pinggang. Tak peduli jika leher dan lengannya tak terbalut apapun.


"Mana cantik banget kalau lagi tidur." Cicit Satria.


Satria mendudukkan dirinya, dia memukul pelan kepalanya yang di penuhi oleh hal-hal aneh.


"Astaga, gue gak pernah punya kekasih. Tapi kok ya sekalinya nikah, pemikirannya gitu terus sih!" Gerutu Satria.


Satria memutuskan untuk merendam dirinya, tak peduli jika hari sudah sangat malam. Setelah tenang, Satria keluar dari kamar mandi dengan handuk yang berada di pinggang.


"Astaga ...,"


Satria benar-benar cengo melihat bagaimana Dania tidur, selimut sudah terjatuh ke lantai. Bahkan saat ini kepala Dania berada di ujung ranjang sedangjan kakinya berada di kepala ranjang.


"Gue nikahin manusia beneran apa jadi-jadian sih?!" Pasrah Satria.


***


Pagi hari, Dania keluar dari kamarnya dengan wajah yang fresh. Dia berjalan menuju ruang nakan, dimana semua keluarga termasuk mertuanya yang menginap telah berada di sana.


"Morning!" Sapa Dania sebelum duduk di sebelah Aurel.


"Widih, penganten baru. Pagi-pagi udah segera aja." Celetuk Aurel.

__ADS_1


"Ya iya dong!" BAngga Dania.


"Gimana? calon ponakan gue udah terkirim belum?"


Seketika mereka semua menatap Aurel dengan tatapan terkejut, sedangkan Dania menatap sahabatnya itu dengan kening mengerut.


"Lo pesen ponakan dimana emang?" Tanya Dania.


"Ya sama abang gue, kan di kirim nya ke lo!" Greget Aurel.


"Ha? kan yang pesen lo, kenapa di kirimnya ke gue?"


Aurel menepuk keningnya, begitu pun dengan yang lain. Si kembar tak mengerti pembahasan itu hanya sibuk memakan sarapan nya sambil merecoki Savanna.


"Gak usah iseng kamu Rel!"


Aurel mengalihkan tatapannya, begitu pun semua orang. Aurel tertawa melihat wajah masam dari abangnya itu.


"Hahaha pantes aja si Dania kagak ngerti, ternyata abang gue belum nyoblos hahaha?!"


"AUREL!!!" Geram Satria.


"Nyoblos? emangnya udah pemilu? bukannya masih lama yah?"


Tawa terdengar pecah di ruang makan meledek Satria yang kini tertunduk malu. Aurel benar-benar membuat nya mati kutu saat ini.


"Sudah-sudah, Satria! duduk!" Titah Recky.


Dengan kesal, Satria duduk di samping istrinya. Dia berada di tengah-tengah antara istrinya dan Gibran. Gibran yang merasa Satria masihlah orang asing menggeser piringnya.


"Kenapa geser-geser? om juga gak bakalan ambil makanan kamu!" Sewot Satria.


"Om itu menculigakan mukana." Celetuk Gibran.


Gibran tampak mengerutkan keningnya, dia tak asing dengan nama itu.


"Kemarin itu loh, anak perempuan yang berantem sama kamu. Dia sepupu aunty, seumuran sama kamu!" Seru Aurel dengan semangat.


"Ooohh!! pantecan! cama ngecelinna kayak om ini." Sinis Gibran.


Darren segera menukar tempat duduknya dengan Gibran, putranya mencari musuh tak kenal umur. Bahkan jika kakek-kakek saja mungkin di ajak berdebat dengan anaknya itu.


"Udah bang! makan!" Cetus Dania.


Satria melihat piringnya, seketika dia menyenggol lengan Dania dan berbisik.


"Durhaka lo, suami mau makan gak di siapin makan." Bidik Satria.


"Oh siap kapten! saya siapkan!" Seru Dania dengan semangat.


Dania mengambil piring Satria, dia menuangkan nasi goreng ke dalam piring Satria hingga menggunung.


"Kenzi, Reza. Kalian kalau mau di layani, susul kembaran kalian nih." Ledek Karel.


Seketika Kenzi dan Reza berdiri dik ngeri saat melihat porsi menggunung yang Dania berikan pada Satria.


"Eng-enggak deh pi." Ringis Reza.


"Kok banyak banget sih!!" Protes Satria.


"Biar suami ku gemoy kaya dedek Gibran!" Sengaja Dania.


Satria menoleh pada Gibran, begitu pun sebaliknya. Gibran melotokan matanya sambil memegang ayam di tangannya.

__ADS_1


"APA PELELOK DEDEK?!"


"Eng-enggak kok!"


Tanpa mereka sadari, sedari tadi Queen menatap Darren yang tengah menyuapi Savanna. Dia menatap pria itu dengan serius, bahkan sampai keningnya mengerut.


"Mami liatin apa?" Tanya Karel menyadari perbedaan raut istrinya.


"Enggak pi, kok muka Darren kayak gak asing gitu yah?" Bisik Queen.


"Oh, mungkin mami pernah liat di mana." Sahut Karel santai.


"Mukanya gak mirip sama Dania maupun sama besan ya pi?"


Karel mengangguk santai, dia meminum airnya hingga kandas dan kembali mendekati wajahnya di telinga istrinya.


"Bukan anak kandung mi,"


"Apa!!" Kaget Queen.


"Nanti papi cerita, jangan sampai mereka tersinggung." Bisik Karel dan menormalkan ekspresinya.


Savanna selesai makan, dia pamit ke kamar Delia untuk melihat ibu mertuanya itu. Darren pun ikut juga, dia akan mendampingi istrinya.


"Gue mau ikut ketemu mommy lo." Bisik Satria.


"Hm, ayo." Ajak Dania.


"Semuanya, kami pamit duluan " Ujar Dania.


Dania mengajak Satria menemui Delia, ternyata wanita tua itu tengah berjemur di balkon rumah. Sebab, matahari pagi bagus untuk membantu proses penyembuhannya.


"Mom." Panggil Dania.


Dania menggandeng lengan Satria, kemudian dia berjongkok di hadapan Delia yang tiduran di kasur khusus.


Delia menatap anak serta menantunya, saat melihat Satria. Delia meneteskan air matanya, dia mengisyaratkan dengan tangannya agar Satria mendekat padanya.


Satria berjongkok, dia merasakan sapuan lembut di wajahnya.


"Ja-jaga a-anak mo-mommy." Bisik Delia.


Satria tersenyum, dia menyentuh tangan kurus ibu mertuanya. Satria tahu problem keluarga istrinya dan apa yang terjadi pada Dania. Namun, semua itu tak membuatnya ilfil dengan istrinya.


"Pasti, Satria akan selalu menjaga anak mommy. Terima kasih karena mommy sudah melahirkan gadis secantik dia." Balas Satria membuat senyuman Delia mengembang.


Dania mengusap air matanya yang sempet jatuh, tak menyangka jika Satria akan mengatakan hal yang begitu tulus di hadapan mommy nya.


Savanna dan Darren hanya berdiri menatap keduanya, tanpa berniat menganggu.


"Mom." Panggil Dania.


Delia tersenyum, dia memegang pipi putrinya. Dania menggenggam tangan mommy yang mengusap pipinya dengan erat.


"Mom-my te-tenang ka-kalau kamu su-sudah baha-gia."


"Dania tambah bahagia kalau mommy sembuh, dan kita akan berkumpul lagi. Kayak dulu." Lirih Dania.


Delia menggeleng, baginya. Sembuh dan tidak, merupakan hukuman baginya. Hari demi hari, rasa penyesalan memeluk relung hatinya.


"Ma-mafkan mo-momy." Bisik Delia.


______

__ADS_1


Wah wah wah, tanggal berapa sekarang? 28 yah, bentar lagi ketemu nih sama lanjutan S2 i'm coming daddy yang bakalan kalaborasi dengan novel author yang lainnya. Waduh, gimana tuh😱😱


__ADS_2