
sudah dua hari suami istri itu saling diam, keduanya tak ada yang mau minta maaf lebih dulu. Bahkan, Darren yang selalu menurunkan egonya. Kali ini dia tetap mempertahankan egonya tersebut.
Darren baru saja pulang dari perkebunan, saat memasuki gebang rumahnya. Dia mendengar suara tangisan Arisha yang melengking keras, putri cantiknya itu tengah menangis. Dengan cepat Darren masuk ke rumahnya menghampiri asal suara tangisan putrinya.
"Arisha." panggil Darren saa melihat putrinya berdiri di depan pintu kamar mandi. Segera Darren mengangkat putrinya, membawanya ke dalam dekapannya.
"Arisha kenapa sayang? Mau apa? Mamah mana?"
Aisha menunjuk pintu kamar mandi sambil merengek memanggil sang mamah. "Ma ... ma ...,"
Mengetahui kode putrinya, Darren segera mengetuk pintu kamar mandi.
TOK
TOK
TOK
"SAV! KAMU LAGI APA SIH DI DALEM? INI ARISHA CARIIN KAMU LOH!" Nada suara Darren terdengar sangat kesal.
Tidak ada sahutan dari SAvanna, berkali-kali Darren mengetuk. Tapi tetap tak ada sahutan, hingga Darren menurunkan Arisha untuk membuka paksa pintu.
Arisha yang di turunkan pun kembali menangis keras, dia berusaha menggapai tangan sang daddy. tapi tubuh kecilnya hanya bisa memeluk kaki daddynya saja.
"Sebentar yah nak." Ujar Darren pada putrinya.
Darren berusaha membuka pintu, tetapi pintu itu terkunci dari dalam. Darren pun kembali menggendong Arisha dan menaruhnya di box tidurnya agar tidak menyulitkannya membuka pintu.
"Ekhee!! huaaa!!"
"Sebentar yah, sebentar." Panik Darren dan kembali ke depan pintu kamar mandi.
BRUGH!!
BRUGH!!
BRUGH!!
BRAAKKK!!!
Darren berhasil membuka pintu itu, saat melihat ke dalam. Betapa terkejutnya dia saat melihat tubuh istrinya tergeletak di lantai.
"Sayang!!" Pekik Darren.
Darren membawa Savanna ke pangkuannya, dia berusaha membuat Savanna sadar. Tapi, wajah istrinya terlihat sangat pucat. Segera Darren membawa istrinya keluar dari kamar mandi dan meletakkan ke ranjang.
"Apa yang terjadi padamu sayang? maafkan kakak, maafkan kakak yang mendiamimu hiks ... bangunlah. jangan buat mas takut." Lirih Darren.
Darren sungguh tidak bisa berpikir, putrinya menangis keras sedangkan istrinya belum sadarkan diri.
"Daddy!"
Darren menoleh, ternyata si kembar sudah pulang dari sekolah. keduanya tampak menghampiri ranjang dengan perasaan cemas.
"Mamah kenapa daddy? daddy apakan mamah!" Sentak Gabriel.
"Jangan bahas hal itu dulu, cepat kamu ke rumah kakek. Bilang kalau mamah pingsan." Titah Darren dengan panik.
Gabriel segera berlari ke rumah kakeknya, sementara Gibran membawa sang adik ke gendongannya. Bocah berumur dua tahun itu sedang berusaha membuat adiknya diam.
"Jangan nangis terus, pengang kuping abang." Decak Gibran, mengomel pada adiknya.
Bukannya diam tangisan Arisha semakin keras hingga membuat Gibran menahan nafas kesal.
"Iya iya, tangisan Arisha sangat merdu. udah yah cantik, nanti suaranya habis. Kalau habis sayang duitnya buat ke rumah sakit," ujar Gibran. Memang tak berprikeadikan.
Tak lama Bagas datang, dengan wajah panik dia mendekati ranjang dimana putrinya pingsan.
"Kenapa putri ayah, Darren?" Panik pria tua itu.
"Pingsan di kamar mandi yah, Darren mau bawa ke rumah sakit saja." Usul Darren.
"Yasudah ayo kita bawa ke rumah sakit, ibu mertuamu lagi tutup toko di pasar. Nanti dia nyusul ke rumah buat jaga anak-anak."
Darren membawa Savanna ke gendongannya, sementara Bagas membuka pintu mobil untuk mempermudah Darren memasukkan putrinya.
"Gabriel, Gibran jaga Arisha sampai nenek datang yah." Pinta Darren sebelum dia masuk ke dalam mobil.
Selepas kepergian mobil Darren, Gabriel mengambil alih Arisha. Dia menimang Arisha dengan sabar, tak seperti Gibran yang mudah kesal.
***
"Bagaimana dok keadaan istri saya?" Tanya Darren setelah dokter selesai menangani istrinya.
"Anda bisa ikut saya sebentar? ada hal yang ingin saya katakan," ujar dokter.
__ADS_1
Darren menatap ayah mertuanya sebentar, setelah mendapat anggukan dari bagas. Darren pun mengikuti sang dokter menuju ruangan nya.
"Begini pak, setelah kami periksa. Sepertinya istri bapak tengah hamil, saya mendengar detak jantung lain saat saya memeriksanya."
Tentu saja Darren syok mendengarnya.
"Hamil dok? tapi istri saya minum pil kb," ujar Darren merasa heran.
Dokter itu tersenyum. "Pil KB tidak mencegah kehamilan 100% pak, jadi kali ini kehamilan tidak di rencakan yah pak?"
Dengan polosnya Darren mengangguk, mereka telah berniat memiliki anak kembali setelah Arisha berumur 3 tahun. Dia mau putrinya mendapat asi ekslusif dari sang ibu sampai berumur 2 tahun, tapi ... malah istrinya hamil kembali saat putrinya bahkan belum berusia dua tahun.
"Jadi udah jadi yah dok? gak bisa di cancel?"
Dokter pun tertawa mendengarnya, dia tampak menggelengkan kepalanya setelah mendengar pertanyaan aneh Darren.
"Untuk lebih pastinya berapa usia kehamilannya, anda bisa membawa istri anda ke dokter kandungan."
...
Darren masuk ke ruang rawat istrinya sambil membawa kertas adminitrasi, netranya melihat sang ayah mertua yang sedang membantu Savanna duduk.
"Udah balik Ren? apa kata dokter?" Tanya Bagas menyadari kehadiran Darren.
Savanna melihat suaminya yang berjalan mendekatinya, dia segera memalingkan wajahnya karena masih kesal dengan sang suami.
"Harus ke dokter spesialis kandungan yah, Darren udah urus tadi. Mungkin setengah jam lagi Sava akan di bawa ke sana," ujar Darren sambil menatap ke arah istrinya.
"Spesialis kandungan?" Beo Bagas dengan tatapan melotot.
Savanna yang mendengarnya juga tak kalah terkejut, hingga dia balik menatap suaminya dengan ekspresi yang kaget.
"Kamu hamil," ujar Darren dengan pelan.
"Hamil? aku kan rutin minum pil kb!" Sentak Savanna tak terima.
"Ya tapi kan buktinya jadi, terus mau gimana lagi? aku juga bingung." Ujar Darren tak mau di salahkan.
Mendengar perkataan suaminya, Savanna semakin kesal. Dia memukul bahu suaminya dengan air mata yang mengalir di pelupuk matanya.
"Kan aku sering bilang kalau aku lagi subur!! tapi kamu tetep ngeyel minta jatah!! jadi kan!! hiks ... Arisha masih kecil, masa harus dapet adik hiks ... tega kamu kak!!"
Darren menggaruk keningnya, dia menatap mertuanya yang merasa canggung dengan percakapan mereka.
Selepas dari dokter kandungan, ternyata Savanna di nyatakan hamil 3 bulan. Hal itu tentu membuat Savanna syok bukan main, dia bahkan lupa kapan terakhir dirinya datang bulan. Memang semenjak melahirkan datang bulannya tak teratur, dan dia pikir itu wajar.
Sepanjang perjalanan pulang, Savanna hanya terdiam menatap jalanan. Darren yang menyetir hanya bisa ikut terdiam.
"Udah, gak usah di sesali. Toh, udah jadi. Masa mau kalian buang, emang tega?" Ujar Bagas memecah keheningan.
"Ya tapi kan yah, aku mau pas Arisha udah besar sedikit," ujar Savanna yang merasa kesal.
"Haahh ... ya namanya rejeki itu gak boleh di tolak. Rezeki suamimu sedang di atas kejayaan, terus di tambah kalian akan punya anak lagi. Seharusnya kamu itu bersyukur, gitu loh nak."
"Ayah sama bundamu dulu pengen kasih kamu adik, tapi namanya belum rezeki. Kita bisa apa? Bersyukur kami Sav,"
Savanna semakin mengerucutkan bibirnya sebal. Setelah sampai di depan rumah, Savanna langsung turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam rumah tanpa menghiraukan suami dan sang ayah.
Darren hanya bisa menghela nafas pelan, dia pun turun dari mobil.
"Pak Darren!"
Darren menoleh, dia tersenyum ramah saat pak bupati menghampirinya.
"Mau mampir pak?" Tanya Darren.
"Enggak, saya mau pamit balik ke kota. Terima kasih atas kebaikan pak Darren membolehkan saya dan tim untuk berlibur disini," ujar bapak bupati.
"Oo gitu ...." Sahut Darren.
Netra Darren menangkap Adara yang berjalan menghampiri nya. Seketika wajah Darren berubah menjadi datar ketika melihat gadis itu.
"Pah, aku gak kau pulang." Rengek Adara.
"Jangan malu-maluin kamu Dar." Bisik pak bupati.
Pak bupati menatap Darren dengan perasaan tak enak.
"Terima kasih atas kunjungan bapak ke desa kami, kapan-kapan jika berkenan silahkan datang kembali. Tapi maaf pak, saya gak bisa antar. Kebetulan istri saya baru pulang dari rumah sakit," ujar Darren.
"Oh iya tidak apa-apa. Ehm memang istrimu sakit apa kalau saya boleh tau?" Tanya pak bupati. Membuat Adara yang mendengar nya sontak menatapnya tak suka.
Darren tersenyum sambil memasukkan tangannya ke dalam saku celananya.
"Lagi hamil muda pak, di kasih tambahan rezeki." Bangga Darren.
__ADS_1
"Wah! top care kamu! Padahal anak masih kecil-kecil yah!" Puji sang bupati.
"Ya namanya juga rezeki pak, masa mau di tolak." Canda Darren.
Keduanya tertawa, berbeda dengan Adara yang merasa sedih mendengarnya.
"Yasudah kalau gitu, ayo Adara masuk ke dalam mobil! mari pak Darren."
Darren mengangguk, dia bernafas lega saat Adara akhirnya tak lagi di kampungnya. Darren terkadang merasa aneh dengan kelakuan remaja sekarang yang malah lebih tertarik dengan pria yang jauh lebih dewasa.
***
Beberapa hari kemudian.
Acara pernikahan Reno dan Adinda tampak sangat megah, keduanya tersenyum bahagia menatap para tamu yang hadir.
Tentu nya Darren dan Savanna datang beserta anak-anak mereka, keduanya saling menggandeng Gabriel dan Gibran. Sementara Arisha tetap nemplok pada sang daddy, tak sedetik pun barang anak itu lepas dari jangkauan sang daddy.
"Selamat bro! cepet nyusul yah!" Seru Darren menjabat tangan Reno.
"Nyusul apa? kan udah," ujar Reno dengan bingung.
Darren memberi kode Reno dengan melirik pada Arisha yang tampak anteng, seketika Reno menepuk keras bahu Darren.
"Doain aja yah, moga cepet jadi. Maunya sih secepatnya," ujar Reno.
Darren melirik istrinya yang masih berbincang dengan Adinda, kemudian dia mendekatkan bibirnya pada telinga Reno.
"Noh bini gue lagi hamil lagi, mau gue kasih tau gak caranya biar cepet ngisi?"
"Emang ada caranya?" Tanya Reno dengan wajah terbengong.
"Ada. nanti gue kasih kisi-kisinya." Balas Darren.
"Kisi-kisi apa kak?"
Darren dan Reno saling menjauhkan tubuh mereka, keduanya sontak menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal.
"Itu, kisi-kisi kerjaan. Iya kan Ren, kerjaan. Gak penting, udah yuk yang pulang. Kasihan Arisha udah ngantuk tuh."
Padahal mata Arisha masih segar, anak itu sibuk melihat-lihat orang-orang yang berlalu lalang.
"Ngantuk? kan tadi baru tidur," ujar Savanna dengan bingung
"Namanya juga bayi kalau gak makan ya tidur, udah ayo." Ajak Darren dengan buru-buru.
Sebelum pergi, Darren sempat menatap Reno dam mengerlingkan matanya.
"Darren ngomongin apa ke kamu?" Tanya Adinda.
Dengan jail, Reno merengkuh pinggang Adinda hingga keduanya nyaris tak ada jarak. Reno mendekatkan wajahnya pada telinga Adinda dan berbisik.
"Dia mau ngajarin aku biar cepet gol."
"Gol apa? bola?" Bingung Adinda.
"Gol jadi anak."
Pipi Adinda pun bersemu merah, dia menyikut perut Reno dengan kesal. Walau hatinya sedang berdetak gak karuan.
Reno tersenyum gemas menatap Adinda yang tersenyum malu-malu, gadis bar-bar yang sering memusuhinya ternyata sudah menjadi istrinya.
Keduanya kembali merangkul dengan perasaan bahagia, sama seperti sepasang suami istri yang tengah berada di mobil perjalanan pulang.
"Ini ceritaku, cinta kami kembali bersatu. Mendapatkan anak-anak yang manis, suami yang perhatian dan mencintaiku apa adanya. Tangannya yang selalu menggenggam erat tanganku, seperti enggan melepasnya hanya untuk sebentar. Dia suamiku .... dia cintaku."
Savanna berucap dalam batinnya, menatap Darren yang masih fokus menyetir dan sesekali pria itu mengecup punggung tangan sang istri.
"I love you." Bisik Savanna.
"I love you too babe." Balas Darren.
Darren selalu bisa membuat hati Savanna bergetar, dia memeluk lengan suaminya, menyandarkan kepalanya pada bahu sang suami. Menikmati perjalan itu, tanpa gangguan anak-anak mereka karena sedang tertidur pulas di kursi belakang.
-Tamat-
TERIMA KASIH ATAS SUPPORT KALIAN, YANG SETIA MENUNGGU BAHKAN SAMPAI LUPA ALUR🥲 POKONYA TERIMA KASIH, SEMOGA KALIAN BAHAGIA DAN SEHAT SELALU🥰🥰🥰
Jangan lupa mampir di karya terbaru author.
JUDULNYA FIND ME DADDY
Bagi kalian yang suka bocah menggemaskan, cocok nih. Di karenakan ada tiga bocah cadel dengan tingkah yang luar biasa😆
MAMPIR!!
__ADS_1