
Susana semakin tegang, terlebih Dania serta suaminya turut ikut menyambut kedatangan keluarga Reno. Sedangkan keluarga Satria, sudah sedari siang mereka kembali ke rumah mereka.
"Ngapain keluarga kusuma kesini?" Bisik Satria pada istrinya.
"Kamu kenal?" Bukannya menjawab, Dania malah bertanya balik.
"Kenal lah, nyonya Aprilia itu sahabat mami dari kecil." Jelas Satria.
Dania mengangguk-anggukan kepalanya, keduanya masih menatap apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Bukan, ini bukan soal pekerjaan." Sahut Reno dengan cepat.
"Terus? oh maaf, maafkan kami tidak mengundang kalian di acara pernikahan adikku. Bukan maksud tidak mengundang, tapi ini hanya acara keluarga saja." Darren pikir, Reno datang karena pernikahan Dania. Rupanya bukan, Reno datang dengan maksud tujuan lain.
"Dania menikah?!" Kaget Reno.
Darren semakin tak paham, karena lelah berdiri. Darren mengajak semuanya duduk saja, sambil menikmati sajian untuk tamu.
"Maaf, Darren. Apakah kamu sudah menemukan ayah kandung kamu?" Tanya Reno dengan tatapan penuh selidik.
Darren menggeleng. "Tunggu, ini maksudnya gimana? kenapa tanya-tanya soal ayah kandung saya yah?apa urusannya dengan kalian?"
Sama hal nya dengan Darren, Dania dan Recky pun tak paham dengan apa yang mereka bicarakan.
Reno terdiam, dia menatap aprilia selaku ibunya itu. Tampak, Aprilia terlihat gelisah. Sedari tadi wanita paruh baya itu selalu mengusap pipinya.
"Namamu Darren, benar?" Tanya Aprilia.
"Iya Nyonya, kenapa?"
Aprilia bangkit dari duduknya, dia berjalan menghampiri Darren dan terhenti saat di depan pria itu.
BRUK!!
"Nyonya!!" Pekik Darren saat melihat Aprilia yang menjatuhkan lututnya tepat di hadapan Darren.
Mendengar pekikan Darren, membuat Savanna terpaksa menggendong Gibran dan membawanya ke ruang tamu untuk melihat apa yang terjadi.
"Nyonya! apa yang Nyonya lakukan?! Jangan seperti ini! ku mohon!" Darren bahkan sampai ikut dengan duduk di bawah karena merasa tidak enak dengan Aprilia.
Fernaldi Kusuma, selaku suami Aprilia segera mendekati istrinya. Dia tak menyuruh istrinya bangun, hanya berdiri sambil memandang keduanya.
"Maafkan saya, maafkan saya."
Darren tampak semakin bingung, dia menatap Reno yang hanya berdiri mematung di sana.
"Ren! tolong! bilang ke ibu kamu! jangan seperti ini, saya tidak suka!"
__ADS_1
Akhirnya Reno mendekat, tapi sebelum dirinya sampai di samping Aprilia. Wanita paruh baya itu akhirnya buka suara.
"Saya tahu ayah kandung kamu, saya tahu."
Raut wajah khawatir Darren seketika berubah menjadi raut terkejut, dia menatap serius Aprilia yang masih menundukkan kepalanya.
"Saya tidak peduli, saya tidak ingin dengar pria itu." Ujar Darren dengan nada datar.
Darren segera bangkit, dia akan pergi dari sana. Namun, dirinya berpapasan dengan istrinya menggendong Gibran.
"Apa yang kamu lakukan? Gibran berat, bagaimana bisa kamu menggendong dua anak?!" Kesal Darren.
Darren membawa Gibran ke dalam gendongannya, berniat akan ke kamar untuk menghindari mereka.
"Darren tunggu! Saya mohon! kamu satu-satu keturunan Kak Abhi. Saya mohon, dengarkan dulu!!" Sentak Aprilia.
Seketika, Darren menghentikan langkahnya. Dia berbalik, menatap Aprilia dengan tatapan datar.
Aprilia segera menghapus air matanya, dia bangkit lalu jalan mendekati Darren. Saat tiba di hadapan pria itu, Aprilia membuka tasnya. Dia menunjukkan sebuah foto seorang pria yang mirip sekali dengan Darren.
"Kamu lihat dia? dia adalah Abhi, kakak tante. Ayah kandung kamu!"
"APA?!" Bukan Darren yang berteriak, melainkan Recky.
Dengan wajah marah, Recky menghampiri Aprilia dan merebut paksa foto itu.
"Anda kenal?" Tanya Aprilia.
"Tentu saja! dia pria yang terobsesi dengan istriku! ku pikir, dia sudah mati di penjara karena mencoba untuk melecehkan istriku! nyatanya, pria ini ... pria ini berhasil melecehkan istriku!! kurang 4j4r!!! dimana dia?! DIMANA KAKAKMU ITU!!!"
Reno dan Fernaldi segera pasang badan, mereka tak ingin Aprilia mendapatkan kekerasan dari Recky. Walau sebenarnya Recky tak mungkin melakukan itu, mereka yang ingin berjaga-jaga saja.
"KATAKAN!! DIMANA PRIA ITU?!" Sentak Recky dengan mata melotot.
Darren hanya bisa diam, mencerna apa yang terjadi dalam hidupnya. Savanna hanya bisa mengusap bahu suaminya, guna menguatkannya.
Bukannya menjawab, Aprilia malah menangis. Membuat Recky frustasi di buatnya.
"JAWAB!!!" Sentak Recky.
"DI SUDAH MENINGGAL!! KAKAKKU SUDAH MENINGGAL!! DAN AKU KESINI UNTUK MENJEMPUT KETURUNAN KAKAKKU!!"
Recky terdiam, nafasnya masih memburu. Dia menoleh pada Darren yang kini tengah menatapnya.
"Pria br3ngs3k itu sudah mati, apa yang akan kamu lakukan Darren? Daddy tidak akan menghalangi mu." Setelah mengatakan itu, Recky pergi begitu saja.
"Dan! Dania!!" Pekik Satria saat melihat istrinya ikut pergi bersama mertuanya.
__ADS_1
Satria bingung, dia tetap disini atau tidak. Sebenarnya dirinya kepo, tapi dia harus menghampiri istrinya. Sehingga, Satria pun memilih ikut dengan Dania.
Darren hanya bisa terdiam dengan tatapan kosong, dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Dirinya yang di lahirkan sebagai anak di luar pernikahan, sudah membuatnya terkejut.
"Katakan sesuatu! jangan diam saja!" Tuntut Aprilia menatap penuh manik keponakannya itu.
"Apa yang harus saya katakan nyonya? saya hanyalah anak yang tidak di harapkan. Anak yang lahir di luar pernikahan. Kakak anda, tidak memiliki hak apapun terhadap saya." Ujar Darren dengan suara rendah.
"Tidak, kamu masih memiliki hak! karena kamu memiliki darah kakak saya!" Sentak Aprilia.
"Dia hanya menitipkan benihnya saja, walau kami sedarah. Tapi sedari saya lahir, saya tidak mengenalnya."
Darren pergi begitu saja, dia masuk ke dalam kamar si kembar dan menguncinya. Bahkan, Savanna pun tidak bisa masuk.
Aprilia menatap suaminya, Fernaldi menggelengkan kepalanya memberi isyarat agar membuat Darren tenang.
"Ma-maaf Nyonya, saya akan mencoba bicara dengan kak Darren. Dia hanya terkejut saja mendengar fakta ini." Sahut Savanna.
Aprilia mendekati Savanna, dia memegang kedua tangan Savanna dengan erat.
"Kamu istri Darren kan? kamu pasti bisa bujuk dia untuk berbicara dengan saya. Saya ingin menceritakan tentang kakak saya. Saya mohon."
Savanna paling tidak tega melihat seorang wanita paruh baya memohon padanya, hatinya selalu lemah jika berhadapan dengan sesama wanita.
"Sava akan coba bicara dengan kak Darren, tapi Sava tidak janji." Balasnya.
"Ya tidak papa, setidaknya kamu berusaha."
Tatapan Aprilia beralih menatap perut Savanna, tangannya terangkat untuk mengelus perutnya itu.
"Berapa bulan?" Tanya Aprilia dengan siara bergetar.
"Li-lima bulan, sebentar lagi masuk enam bulan." Gugup Savanna.
Aprilia tersenyum hingga memperlihatkan giginya yang rapih, air katanya luruh. Entah mengapa, seakan dirinya bahagia mengelus perut Savanna.
"Saya selalu mendambakan memiliki cucu, tapi ... Reno belum juga mau menikah."
Tatapan Savanna beralih menatap Reno, begitu pun sebaliknya. Tak lama, mereka memutuskan kontak dengan rasa gugup.
Andai ibunya tahu, jika sebenarnya putranya hampir melamar wanita di hadapan ibunya kini. Pastilah wanita itu akan heboh.
Sedangkan di dalam kamar, Darren memeluk putranya. Sering dia meng3cup kening Gibran, hingga membuat anak itu kebingungan.
"Kenapa bisa nasibku menurun ke anakku, pasti si kembar akan merasakan hal yang sama saat besar nanti. Bagaimana jika mereka membenciku." Batin Darren, ketakutan memeluknya saat ini.
________
__ADS_1