
Aku semakin kawatir pada ka Adit, dia selalu saja pulang malam.
Pernah sekali aku menanyakan pada temannya, apakah ka adit sudah pulang dari rumah sakit, dan dia bilang bahwa sudah dua minggu terakhir ini ka adit selalu pulang sekitar jam 5 sore.
Lalu kenapa ka Adit datang kerumah selalu pukul 10 atau 11 malam.
Ada apa sebenarnya apa yang ka Adit sembunyikan dariku, aku mencoba untuk mempercayainya.
Tapi rasa penasaran selalu saja merasuki diriku, apa yang harus aku lakukan agar apa yang aku fikirkan tentang suamiku itu tidak benar.
Aku tidak ingin suudzon pada ka Adit, Ya Allah bantu aku untuk mengetahui apa yang sedang di sembunyikan suamiku.
Sudah ku coba untuk bertanya, namun jawabannya tetap saja sama, bahwa ia sibuk dan banyak pasien, aku tahu dia bohong, tapi untuk apa, seharusnya ia memberitahuku apa yang terjadi.
Jika dia punya masalah mungkin aku akan senang hati membantunya, tapi dia sudah mulai berbohong padaku.
Sungguh aku tidak habis pikir, Bukankah Sebuah hubungan akan tetap terjalin dengan baik jika ada sebuah kejujuran dan kepercayaan di dalamnya.
Tapi kenapa aku merasa ka adit tidak mempercayaiku untuk mengetahui masalahnya.
Aku akan mencari tahu apa yang terjadi agar aku tida suudon terus pada ka Adit.
"Ka nanti siang aku ijin keluar rumah, boleh ga". Tanyaku pada Ka Adit, saat kami hendak melaksanakan sholat subuh.
"Boleh, asal jangan pulang malam ya ". Jawabnya.
"Iya, siap, kakak sarapan di rumah kan pagi ini ?" Tanyaku padanya.
"Maaf sayang pagi ini kakak harus berangkat pagi, kakak akan sarapanĀ di rumah sakit ya". Ucapnya, terlihat merasa bersalah.
"Sabar Rania kecurigaanmu akan segera hilang nanti siang, lihat saja mana mungkin suamimu berbuat yang tidak tida". Ucapku pada diriku sendiri.
Saat ka Adit berangkat ke RS, aku mengikutinya, namun ada hal ganjil yang aku rasakan ini bukan jalan menuju rumah sakit.
Sebenarnya ka Adit hendak kemana.
Ku lihat ka Adit memarkirkan mobilnya di depan Alfamar.
Ternyata dia mau ke Alfamar dulu pantas saja jalannya bukan arah ke RS.
Tapi tunggu ka Adit melajukan kembali mobilnya, dan ini benar-benar bukan arah ke RS.
Dan jalan untuk putar balik ke RS sudah terlewati, sebenarnya mau ke mana dia.
Ku ikuti terus ka Adit, hingga aku melihatnya memarkirkan mobil di depan rumah seseorang.
Ku lihat ka Adit mengetuk pintu dan mengucapkan salam.
Tunggu yang membukakan pintu adalah seorang perempuan, tapi aku tidak bisa melihatnya dengan jelas.
Astagfirullah, apa yang ka Adit lakukan, siapa perempuan itu, sungguh hatiku sangat sakit.
Ingin rasanya aku menghampiri mereka, nun aku tudak ingin suudzon dulu mungkin saja itu pasieunnya.
__ADS_1
Ku lihat belanjaan yang tadi ka Adit beli di alfamar ia berikan pada perempuan itu.
Lalu ku lihat ka Adit menaiki lagi mobilnya, tidak aku tidak mengikutinya lagi.
Aku melihat seorang ibu-ibu yang sedang berjalan, aku keluar dari mobil dan bertanya padanya.
"Maaf bu, boleh saya bertanya". Ucapku meminta ijin dulu, siapa tau dia keberatan untuk aku tanyai.
"Iya neng silahkan mau bertanya apa?". Jawabnya.
"Begini bu, apa ibu mengenal perempuan yang tinggal di rumah itu" ucapku sambil menunjuk rumah yang tadi ka Adit datangi.
"Oh, Itu tetangga baru saya bu tapi saya tidak tau namanya dia begitu tertutup". Ucapnya.
"Lalu siapa bu lelaki yang selalu ke rumahnya". Tanyaku
"Saya tidak tau neng, setau saya perempuan itu tengah hamil tua dan dia tinggal di sini sekitar dua minggu yang lalu neng, dan lelaki itu yang mengantarnya ke sini, lelaki itu juga suka ke sini setiap pagi dan sore dan akan pulang malam neng, saya kira itu suaminya". Jawaban ibu itu membuatku semakin sakit.
"Oh begitu ya bu, ya sudah terimakasih saya permisi dulu ya". Ucapku berpamitan.
"Iya neng sama-sama".
"Assalamualaikum bu".
"Waalaikumsalam".
Sungguh apa yang baru saja aku ke tahu sangat mengiris hatiku, kenapa ka Adit menyembunyikan seorang perempuan.
Apakah dia perempuan yang ka Adit cintai Ya Allah andai ka Adit jujur padaku mungkin aku tidak masalah bila memang ka Adit ingin menikahinya.
Tapi apa perempuan itu sudah hamil tua.
Berarti ka Adit dan dia..
Tidak jangan suudzon begitu Ran.
Aku berharap ka Adit akan jujur padaku saat nanti pulang dari RS.
Ku pacu mobilku, aku ingin sekali cepat datang ke rumah aku ingin sholat untuk menenangkan hatiku yang sedang gelisah ini.
Ya Allah bila memang dia jodoh yang telah engkau takdir kan untukku dan telah Engkau takdir kan menjadi imamku biarkan rumah tanggaku baik-baik saja.
Aku akan lebih senang jika kau memberikan kejujuran walaupun akan menyakitkan dibandingkan kau berikan aku kesenangan tapi di landasi sebuah kebohongan.
Seperti biasa ka Adit pulang malam lagi, aku tidak akan bertanya tentang siapa perempuan itu.
Akan aku tunggu ka Asit sendiri yang berkata jujur padaku, biarlah sekarang aku harus merasakan cemburu.
Wajarkan bila aku cemburu pada perempuan itu, sungguh aku juga punya hati.
Astagfirullah Rania jangan marah jangan emosi, sungguh jangan sampai karena kau cemburu kau di kuasai setan. (Ucapku pada diriku sendiri).
"Assalamualikum". Ka Adit baru datang dan dengan ekspresi seperti biasanya ekspresi kelelahan.
__ADS_1
"Waalaikumsalam". Aku menghampirinya dan mencium tangannya.
"Sayang, badanku pegal, mau gak pijitin". Ucap ka Adit dengan eksperi memelas, sungguh aku tidak tega melihatnya kelelahan seperti ini.
Namun seharusnya ia bisa jujur padaku, dengan menahan semua rasa kesal di hatiku aku menganggu kan kepala dan tersenyum padanya.
Ya meski aku sedang merasa marah padanya karena ketidak jujurannya, aku sebagai seorang istri harus selalu melayani kebutuhan suamiku.
Aku tidak ingin berdosa karena menolak perintah suamiku.
"Iya ayo". Aku mengambil jas dan tas kerjanya.
"Makasih, tapiko aku ngeliat kamu katanya lagi nyembunyiin sesuatu dari aku sayang". Ucapnya, aku menyembunyikan sesuatu justru kamu Ka yang nyembunyiin sesuatu dari aku bukankan itu faktanya.
"Tidak aku tidak menyembunyikan sesuatu memangnya apa yang harus aku sembunyikan dari kakak". Jawabku, aku memang menyembunyikan sesuatu yaitu rasa sakitku ka.
"Oh" ucapnya be oh ria.
"Iya, mungkin kakak merasa aku sedang menyembunyikan sesuatu karena kakak yang sedang menyembunyikan sesuatu". Ucapku berusaha untuk memancingnya, ia terlihat salah tingkah, bahkan sepertinya ia gugup untuk bicara.
"Ti ti tidak, aku tidak sedang menyembunyikan apapun darimu". Jawabnya, aku tau kamu berbohong Ka buktinya dia tidak menatap mataku saat berbicara.
"Aku hanya becanda, kenapa harus gugup seperti itu". Aku hanya tidak ingin mengintimidasi suamiku sendiri.
"Siapa yang gugup saya aku tidak gugup". Ka Adit, Ka Adit ternyata sekarang sudah pandai menyembunyikan sesuatu.
Mungkin jika Aku masih Rania yang dulu aku akan marah padanya, tapi tidak sekarang aku sudah mencoba untuk lebih baik, aku harus menghilangkan emosiku yang selalu berlebihan.
"Sayang sudah, badanku sudah terasa enakan ko". Ucapnya menghentikan aku memijatnya.
"Oh ya sudah, kamu mau mandi Ka, atau mau Makan?" Tanyaku padanya.
"Tidak aku sudah makan, tapi ran aku rasa aku begitu menginginkan Rujak deh". Ya ampun ada apa dengan ka Adit, aneh sekali malam-malam ingin rujak.
"Ya Ampun ka ini hampir jam dua belas malam mana mungkin ada tukang rujak, biar besok siang saja ya aku buatkan dan aku antar ke RS". Jawabku, dasar aneh.
"Ya sudah iya deh, tapi awas ya buatkan, aku ngerasa ngiler banget pengen rujaknya".
"Iyah nanti aku biarkan". Ka Adit membaringkan kepalanya di lahunanku.
Dia mengelus perutku, ya perutku yang belum isi meski sudah setahun menikah.
"Andai saja ada Aditya juniaor di sini". Ucapnya sambil terus mengelus-ngelus perutku.
"Maaf ka aku belum bisa memberikanmu anak". Jawabku, aku sungguh sedih, namun apa daya mungkin ini belum saatnya aku hamil.
Ka adi melihat wajahku yang murung ia langsung bangun.
"Tidak apa-apa mungkin belum saatnya, sudah ayo tidur". Ka Adit meletakan sebelah tangannya di bantalku.
Aku tau itu kebiasaannya dari dulu, dia pasti akan menyuruhku tidur di atas tangannya lagi.
Sungguh dia suami yang baik namun aku masih belum habis pikir atas kebohongannya padaku.
__ADS_1