Cinta Yang Halal

Cinta Yang Halal
Malam yang tertunda


__ADS_3

"Ka hari ini kita ke rumah Ibu yah". Ucap ku pada ka Adit, karena kebetulan ka adit sedang libur hari ini.


"Sayang, nanti saja yah minggu depan pas Kakak libur, biar kita di sananya agak lama, kalau sekarang kamu bisa kecapean karena pulang pergi, kakak kan besok kerja". Jawabnya, aku sedikit merengut.


"Baiklah, tapi aku bosan di rumah". Rengekku.


"Ya sudah jangan cemberut dong, hari ini kita jalan-jalan ke kebun teh saja".


"Oke, aku siap-siap dulu yah". Aku pergi ke kamar untuk berganti pakaian.


"Sayang ayo cepat". Ka Adit sudah memanggilku.


"Iyah sebentar". Jawabku.


Hari ini kami pergi ke kebun teh dan pergi ke tempat wisata Taman Matahari.


Rasanya sangat lelah kakiku dan pundaku sungguh sangat pegal, mungkin karena aku tidak terbiasa bepergian.


"Ada apa sayang?". Tanya Ka Adit asar aku memijat-mijat kakiku.


"Kaki dan pundaku sangat pegal Ka". Rengeku seperti anak kecil.


"Ya sudah sini biar Kakak pijitin ". Jawab ka adit.


"Tapi Ka, tidak usahlah aku akan memijitnya sendiri, Kakak juga kan sedang cape" aku menolak tawaran Ka Adit, masa aku membiarkan suamiku memijitku dia juga kan sama sedang cape.


"Sudah ayo sini, jangan menolak". Jawab Ka Ai tdi t sambil tersenyum.


"Tapi Ka". Aku ragu.


"Tidak apa lagi pula aku yang menawarkan memijitmu". Ucap Ka Adit sembari mendekatiku.


Aku hanya mengangguk, aku merasakan pijatan Ka Adit di pundaku, dan perlahan rasa pegalnya hilang.


"Bagaimana pijatanku enak bukan?". Tanyanya padaku.


Aku hanya mengangguk.


"Sudah Ka nanti tangan Kakak yang jadi pegal karena terlalu lama memijitku". Ucapku mana tega aku melihat dia merasakan pegal juga.


"Bener udah". Tanyanya padaku.


"Iyah". Jawabku.


"Sayang nanti malam kita makan di luar saja ya, jadi kamu gak usah masak ".


"Ok, ya udah gih Kakak mandi dulu, bau tahu". Ucapku sambil menutup hidung untuk menggodanya.


"Kamu juga bau yang, ayo mandi". Jawabnya datar.


"Ya nanti sanah Kakak dulu kamar mandinya kan cuma ada satu". Jawabku.


"Ya sudah kalau begitu mandi berdua saja". Icak Ka Adit sambil tersenyum dan mengedipkan mata.


"Kakak". Teriaku kesal.


"Hahahaha, aku hanya becanda, ya udah aku mandi dulu yah". Dia tertawa.


"Iyah". Jawabku


Cup..


Ka Adit mengecup keningku sebelum dia keluar kamar, aku terbelalak dan dia hanya tersenyum saja melihat kekagetanku.


"Apa masih jauh Ka?". Tanyaku pada ka Adit.


"Sebentar lagi yang, kamu sudah lapar ya?. Jawab ka Adit.


"Tidak". Jawabku.


Di dekat rumah padahal ada restoran tapi kenapa ka Adit membawaku jauh sekali.


"Ayo sayang turun". Ucap ka Adit padaku.


Aku bingung di mana kami akan makan di sini tidak ada restoran.


"Ka kita makan di mana?. Tanyaku.


"Tuh" tunjuk ka Adit pada sebuah warung nasi.


Ya Allah suamiku ini mengajak jauh-jauh aku kira dia akan membawaku ke restoran ternyata dia membawaku ke warung nasi sederhana.


Tapi tidak masalah perutku akan kenyang jika makan di warung nasi dan aku juga tidak perlu bayar mahal.


"Ayo sayang".


''Iya Ka".


"Kamu tidak suka ya?". Tanya ka Adit padaku.

__ADS_1


"Tidak aku suka ko". Jawabku.


"Maaf jika aku hanya membawamu ke warung nasi sederhana ". Ucapnya dengan nada bersalah.


"Tidak papa Ka, bahkan bila Kakak membawaku makan di pinggir jalanpun aku tidak masalah". Jawabku.


Ka Adit tersunyum.


"Umi pesen nasi 2 ya ". Ka Adit berkata pada sang penjual.


"Eh iya den Adit, tumben ko baru kesini lagi?". Tanyanya pada suamiku.


"Iyah nih Mi, biasa habis ada tugas". Jawab Ka Adit.


"Itu siapa den?". Tanyanya pada ka Adit.


"Oh iyah Mi ini istri saya". Ka adit memperkenalkanku.


"Oh jadi sibuk habis nikahannih?, siapa namanya?".


"Heheheh". Ka adit tertawa.


"Rania". Ucapku menjawab pertanyaannya.


"Oh neng Rania, perkenalkan saya Umi Iyah, panggil saja umi yah". Ucapnya padaku.


Aku hanya mengangguk sambil tersenyum mengiakannya.


"Ya udah Umi mau ambilkan nasinya dulu dit". Ucapnya pada ka Adit.


"Iya Mi". Jawab ka Adit.


Kami selesai makan, ternyata makanan di warung umi memang enak.


"Sayang kamu gak marahkan?" tanya ka Adit padaku.


"Tidak ko, Marah kenapa?". Tanyaku.


"Ya marah karena aku hanya mengajakmu ke warung nasi". Jawabnya.


"Ya Allah Ka, aku malah seneng suami ku ini hidupnya ternyata sederhana, dengan makan di warung nasi kita bisa menghemat ka". Ucap ku sambil tersenyum.


"Makasih". Ucapnya.


"Ya, oh iya Ka ko kakak bisa deket banget sih sama umi penjual nasinya?". Tanyaku.


"Oh". Jawabku ber oh ria.


Di dalam perjalanan pulang kami larut dalam keheningan, aku yang sudah mengantuk hanya diam bersandar pada kursi, dan Ka Aditpun sedang pokus pada jalanan.


Adit pov.


Aku kira istriku tidak mau di ajak makan di warung makan sederhana, ternyata dia menikmatinya.


Dia manis sekali saat tidur ya walaupun hanya matanya yang terlihat oleh ku.


Aku tidak tega membangunkannya, ah apakah aku harus menggendongnya.


Saat aku menggendongnya aku merasa jantungku berdebar sangat kencang. Ku turunkan dia di kasur.


Ku buka cadarnya, mungkin dia tidak akan nyaman memakai cadar saat tidur.


Wajahnya begitu cantik, ya Allah terimakasih Kau telah memberikanku istri yang sholeh di tambah cantik.


Bibirnya terlihat berwarna pink, sangat menggoda, untung saja keseharian dia memakai niqab jadi tidak ada lelaki lain yang melihatnya selain aku.


Tiba-tiba aku melihatnya membuka mata saat aku menatapnya, aku hendak berdiri, namun sial aku menginjak ujung selimut yang mebuat pijakanku menjadi licin.


Aku terjatuh di atasnya, Rania terlihat kaget, langsung saja aku bangun.


"Maaf, aku tidak sengaja". Ucapku menyesal karena telah menimpanya.


"Tida masalah". Ucapnya dengan senyum menghias bibirnya.


Sungguh aku sangat sulit menahan gejolak dalam diriku, apa aku harus meminta hakku malam ini.


Apakah Rania siap, aku segera pergi ke kamar mandi untuk berwudhu mendinginkan pikiranku dan menenangkan diriku.


Rania pov.


Aku kaget saat melihat ka Adit menatapku, lalu aku melihatnya akan berdiri namun tiba-tiba dia jatuh menimpaku.


Ka Adit meminta maaf padaku, aku merasa ada yang aneh dengannya, keringat bercucuran padahal AC di kamar hidup.


Tiba-tiba Ka Adit pergi ke kamar mandi aku mendengarnya seperti sedang berwudhu.


Ku lihat ia keluar dari kamar mandi, aku tersenyum padanya dan dia tersenyum padaku.


Dia berbaring di sebelahku, aku mendekat padanya, namun dia malah bergeser menjauh.

__ADS_1


Dia sangat aneh tidak biasanya seperti ini.


"Ka ada apa?". Tanyaku.


"Tidak ada apa-apa sayang sudah ayo tidur lagi". Ucapnya dengan suara parah seperti sedang menahan sesuatu.


"Ka, Kakak marah ya sama aku?" tanyaku gelisah karena biasanya dia tidak menjauhiku.


"Tidak sayang, aku tidak sedang marah padamu".


"Lantas kenapa Kakak tidak ingin aku dekati". Tanyaku mulai kesal.


"Cobalah mengerti sayang, jika aku dekat denganmu akan sangat sulit bagiku untuk tidur dan itu menyiksaku". Jawabnya, apa maksudnya menyiksa, apa aku meembuatnya tersiksa, apa dia tidak bisa  mencintaiku hingga merasa tersiksa di dekatku.


"Jadi aku menyiksa hidup kakak". Aku terisak, aku menyesal tidak menolak perjodohan ini, dan akhirnya membuat orang yang aku cintai menderita.


"Tidak sayang". Ucapnya terlihat prustasi.


Aku masih terisak mengapa harus seperti ini pernikahanku baru saja 6 hari namun aku sudah membuat suamiku merasa tersiksa.


"Bohong tadi Kakak sendiri yang bilang bahwa kakak tersiksa saat aku di dekat Kakak". Ucapku semakin terisak.


Adit pov.


Akkhh,, bagaimana ini, kenapa semuanya seperti ini, Rania menangis karenaku, padahal aku tidak bermaksud menyakitinya.


Aku sungguh tidak tega melihatnya berurai airmata, tapi jika aku mendekatinya gejolak dalam diriku akan bangkit lagi.


Aku tidak peduli, ku dekati dia, ku dekap dirinya yang terisak.


Lalu Aku berbisik padanya.


"I love you Az ". Aku mengatakan kata cintaku, dengan berharap dia akan tenang.


"Bohong". Ucapnya, dia memberontak dari pelukanku.


"Tidak aku tidak bohong, aku sungguh mencintaimu".


Ucapku meyakinkannya.


"Bohong, tadi Kakak bilang kakak tersiksa berada di dekatku". Ucapnya dengan wajah cemberut.


"Bukan itu maksud kakak Az, kakak hanya tidak bisa menahan gejolak dalam diri kakak jika kakak berada di dekatmu, dan itu sungguh menyika". Ucapku mulai prustasi, aku melihatnya terbelalak dan wajahnya memerah apakah dia akan menagis lagi.


Tidak dia memeluku, dia terlihat sedih namun terlihat semburat malu juga di wajahnya.


"Maafkan aku". Ucapnya masih berada dalam dekapanku.


"Untuk apa?". Tanyaku.


"Karena aku tidak mengerti kakak, karena aku belum menunaikan kewajibanku, karena aku tidak memberikan hak kakak". Ucapnya, ternyata dia langsung mencerna ucapanku.


"Tidak usah minta maaf, aku bisa menahanya jika kau  sedikit jauh dariku". Ucapku ya karena dekapannya membuatku merasa panas dingin.


Tapi apa dia malah mengeratkan dekapannya padaku dan menenggelamkan wajahnya di dadaku.


Rania pov.


Aku bodoh mengapa aku tidak mengerti maksudnya menyiksa, aku istri yang tak berguna aku melupakan kewajibanku melayani suamiku.


Rani bodoh dasar, aku sungguh sangat berdosa karena belum memberikan hak kka Adit.


Dan aku membuatnya tersiksa, sungguh aku pasti sudah sangat bedosa telah menyiksa suamiku.


Selama 6 hari.


Aku sungguh menyesal ya Allah ampuni aku, belum bisa menjadi istri yang baik.


"Jika Kakak mau hak Kakak aku siap". Ucapku, malu tentu saja, tapi jika aku tidak berkata seperti itu ka Adit pasti mengganggapku belum siap terus.


"Apa itu benar?". Tanyanya sambil mengedipkan mata.


Aku hanya mengangguk.


Ku rasakan dia mengecup bibirku dengan sangat lembut.


"Ayo wudhu, kita sholat sunah 2 rakaat dulu". Ucap ka adit, dan aku hanya mengangguk.


Selesai sholat sunah, Kak Adit memegang ubun-ubunku sambil melapadzkan doa.


Dan kami melakukannya sungguh malam ini aku merasakan sesuatu yang berbeda dan belum pernah aku rasakan.


Aku tersenyum pada ka Adit dan dia membalasnya, sebelum kami tertidur dia mengecup bibirku lagi.


Akhirnya aku melakukan kewajibanku semoga saja Allah meridhoinya, dan memberikan rizkynya padaku dan ka Adit.


Malam yang tertunda itu kini telah telaksanakan.


Terimakasih ya Allah atas segala kenikmatan yang telah engkau limpahkan kepada kami.

__ADS_1


__ADS_2