Cinta Yang Halal

Cinta Yang Halal
26


__ADS_3

Siang itu matahari masih saja malu-malu. Namun tidak peduli pagi, siang atau malam, bukan Jakarta namanya kalau jalanan tidak padat.


Samuel sedang berada di pinggir trotoar depan Kampus. Ia duduk di atas kursi kayu, memegang bungkusan plastik yang isinya somay. Seorang pengamen cilik datang, namanya Sangiang. Dia sudah lama menjadi pengamen di wilayah tersebut, bahkan penjual dan pembeli sudah mengenalinya. Dia mulai menyanyi, lagu tik-tok yag lagi hits, namun dibawakan dengan aransemen yang berbeda.


“Sangi Sangi, bosen gue lihat muka lo terus yang mampang disini.” Fathur menarik kursi kayu di samping Samuel, ia memesan seporsi mpek-mpek kepada mamang-mamang penjual.


“Gue lebih bosen, Bang. Kok pengunjung tetap sini abang-abang terus. Sekali-kali kek cewek-cewek kampus yang bening.”


Fathur hampir tersedak kuah mpek-mpeknya. Ia terbatuk-batuk, namun dengan sigap mamang penjual mpek-mpek menyodorkan minuman kearahnya.


“Anjir, tau cewek bening juga lo, bocah.” Tawa Fathur menggelegar.


Di sampingnya Samuel hanya tersenyum-senyum. “Gimana sama pengisi acara? Lo udah hubungi penulisnya?”


Fathur mengangguk lalu mengacungkan jempolnya. “Beres.” Ia menyendok kembali kuah mpek-mpeknya.


“Siapa memangnya? Penulis buku apa?”


“Dia nggak pake nama asli, cuma nama pena. Namanya penulis muda. Dan katanya buku-bukunya lumayan terkenal. Karyanya semacam novel gitu. Sudah ada 3 yang dia terbitin, gue lupa apa semua judulnya.”


Samuel mengelap mulutnya dengan tissue. “Lo tau dia darimana?”


“Adek gue. Lo tau kan, Syifa doyan baca novel. Dia bilang ada penulis novel di Jakarta yang karyanya cukup terkenal. Dia juga biasa jadi pembicara di event-event kepenulisan.”


Samuel mengangguk-angguk. “Ignya ada nggak?”


“Ada.” Fathur mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Ia terlihat mengotak-atik layarnya lalu menyerahkan ponsel miliknya kepada Samuel. “Nama usernya @penulismuda.”


Samuel menerima ponsel tersebut, lalu menscrool layarnya. Ia mencoba mencari identitas penulis. “Lumayan juga followersnya. Ignya cuma berisi buku-bukunya sama penggalan-penggalan quotes gitu, nggak ada foto pribadi.” Samuel bergumam sendiri.


Fathur turut melongokkan kepala kearah Samuel. “Kayaknya dia memang sengaja buat pembacanya penasaran.”


“Lo hubungi dia lewat mana?”


“Lewat dm ig.” Jawab Fathur singkat.


*****


Gadis dengan iris coklat itu berjalan keluar Kelas. Jemarinya sibuk merapikan rambut, mengikatnya menjadi ekor kuda. Kuis dadakan yang baru saja selesai membuat otak gadis itu berasap.


Vika benar-benar merutuk dalam hati, ia benar-benar butuh es the kantin, dan mungkin semangkuk mie ayam bisa membuatnya kembali berpikir. Namun, Vika kembali mengurungkan niatnya. Membayangkan ramainya Kantin di jam istirahat seperti sekarang ini, membuatnya bergidik.


Mungkin sebungkus roti dan air mineral sudah cukup, pikirnya.


Baru beberapa langkah, kaki jenjang Vika terhenti karena sebuah suara yang meneriakkan namanya.


“Vika. Mau kemana?”


Iris coklat Vika memutar jengah. Jika Samuel sudah menungguinya seperti ini, pasti ada kerjaan yang harus diselesaikan.


“Gue mau ngisi perut dulu, Sam.” Ucapnya memelas.


Samuel terkekeh. “Gue mau minta rundown acara yang baru. Tapi ngeliat wajah lo yang nggak enak banget kayak gitu, yaudah gue izinin lo makan siang dulu.”


“Lo mau nemenin gue?”


Samuel mengangguk. “Of course.”


Mereka melangkah bersama, menyusuri koridor menuju kantin.


“Lo tau penulis yang di undang sama Fathur?”


“Penulis muda?” Vika justru balik bertanya.


Samuel mengangguk. “Nggak ada profil lengkapnya gitu? Soalnya gue yang bawain acara, yakali gue nggak kenal sama narasumber.” Samuel tertawa.


“Kayaknya nanti aja deh nanyain hal itu, pas dia udah ada di lokasi.”


Mereka menghentikan langkahnya saat tiba di depan pintu kantin. Mata Vika berusaha mencari celah untuk berjalan, tapi yang di lihatnya hanyalah kepadatan.


“Sam, gue nggak jadi deh. Rame banget.”


Samuel menggeleng kuat. “Nggak, nggak.” Cegahnya. “Lo nggak boleh ngelewatin makan siang.”


“Kita bisa di nongkrong di Trotoar depan kampus.”


“Kepalang nanggung, Vik. Udah disini juga. Mereka cuman anak-anak Kampus kok. Bukan monster kanibal yang mau bunuh lo.”


Vika tertawa. “Apaan sih, lo. Gue Cuma males antre.”


“Yaelah gitu doang. Biar gue deh yg antre pesen makanan. Lu duduk di…” Mata Samuel mengelilingi setiap sudut kantin, hingga pandangannya jatuh pada meja kosong yang masih tersisa di pojokan. “Disana aja.”


Vika mengangguk. “Gue mie ayam sama es the manis.”


Samuel mengangkat kedua jempolnya ke udara lalu berjalan menuju antrean.


Tidak sulit bagi sosok Samuel untuk mendapatkan antrean pertama. Beberapa mahasiswa yang mengenalnya menawarkan Samuel untuk memesan terlebih dahulu, meskipun Samuel menolak, namun mereka tetap bersikeras.


Tak butuh waktu lama, Samuel sudah berdiri di antrean pertama. Ibu Alya pemilik warung kantin tersenyum ramah.


“Dua mie ayam sama es teh, Bu.” Samuel juga menunjukkan wajah yang tak kalah ramah dari Bu Alya.


Sembari menunggu pesanannya Samuel berjalan menuju meja yang telah di pilihnya tadi bersama Vika. Tak sengaja pandangan Samuel jatuh pada sosok yang berdiri di depan Lab. Sosok itu terlihat sedang berbicara serius dengan seseorang. Dari jarak yang tak begitu jauh ia mengenali dua orang tersebut.


Samuel memutuskan untuk menemui mereka. Lebih tepatnya sosok gadis bertudung merah maroon yang sedang memegangi botol minum, sambil sesekali tangannya mengayunkan botol tersebut, namun wajahnya nampak serius berbicara dengan lawan bicaranya. Samuel tersenyum melihatnya.


“Ya mau gimana, jujur sebenarnya aku malu. Nggak biasa tampil di Kampus.”


“Hai.”


Percakapan keduanya terhenti saat Samuel menyapa.

__ADS_1


“Wa’alaikumussalam.” Ucap Sarah seolah menyindir Samuel yang datang tanpa mengucap salam.


Samuel menggaruk kepalanya yang tak gatal, lalu terkekeh malu. Ia memang belum terbiasa mengucap salam ketika bertemu dengan seseorang. Ia lebih sering menyapa “Hai” atau sapaan-sapaan absurd lainnya.


“Ngapain disini?”


“Nemenin Nisa curhat kalo dia, aww.” Kalimat Sarah terhenti saat sebuah cubitan kecil mendarat di lengannya. Gadis itu memanyunkan wajahnya sambil bergumam-gumam lirih.


“Kalo apa?” Samuel yang menantikan kelanjutan ucapan Sarah bertanya kepada gadis tersebut.


“Nggak papa. Bukan apa-apa.” Kali ini Nisa yang menjawab.


“Kalian mau kemana sekarang?” Samuel mengalihkan topik pembicaraan saat melihat Nisa mulai terlihat kikuk.


“Kantin.”


“Kalo gitu gabung aja.”


Sarah mengangguk antusias, “Boleh.”


Lagi-lagi Nisa mencubit lengannya, membuat Sarah mengaduh. Sarah sampai mengira bahwa gadis itu sedang terkena sindrom suka mencubit hari ini.


“Kita kan mau ke Perpus, Rah.” Nisa mencoba berkilah.


“Bukannya kita kesini karena memang mau ke kantin.”


Samuel menyembunyikan tawanya. Melihat muka Nisa yang sesaat terlihat memerah rasa-rasanya lucu. Gadis itu selalu terlihat imut saat sedang malu-malu.


“Ada Vika juga disana.” Samuel menelengkan kepala kearah Vika. Gadis itu juga nampak sedang menatap kearahnya. Namun begitu Samuel menoleh, buru-buru Vika mengalihkan pandangan kearah lain.


“Vika sekretaris BEM?” Sarah bertanya karena memang selama ini ia tak pernah terlibat kedekatan dengan Vika.


Samuel mengangguk. “Iya. Nisa juga kenal sama Vika, kok. Ayo.”


Begitu Nisa mengangguk, barulah Samuel bergerak kembali ke arah kantin.


Begitu sampai, mereka disambut oleh wajah tegang Vika. Bahkan saking tegangnya, Samuel sampai mengira Vika sedang menahan BAB. “Kenapa Vik?”


“Eh, nggak papa.” Gadis itu menarik dua kursi di sampingnya lalu mempersilahkan Nisa dan Sarah duduk.


“Apa kabar, Vika?” Kali ini Nisa yang berbasa-basi.


Vika tersenyum canggung. “Baik. Kamu apa kabar? Lama nggak ketemu hehe padahal satu kampus.”


“Baik. Kamu sibuk, makanya nggak pernah ada waktu buat ketemu aku.” Nisa tersenyum


Diam-diam Sarah memperhatikan Vika. Gadis itu memang pengamat ulung. Ia bahkan bisa membaca keadaan yang sedang dialaminya atau orang lain. Sejak kedatangannya di kantin, Vika sama sekali tak berbasa-basi dengannya. Perempuan itu hanya melempar senyum canggung.


“Eh aku pesen dulu, ya?” Sarah berdiri hendak memesan makanan, mengingat ia dan Nisa belum memesan sama sekali.


Nisa mengangguk, membiarkan Sarah meninggalkan meja. Tanpa memberitahu, sahabatnya itu sudah paham makanan apa yang hendak ia pessankan untuk dirinya.


Vika sempat mengehentikan pergerakannya menyendok mie ayamnya mendengar Samuel melontarkan pertanyaan tadi kepada Nisa. Setahu Vika, Samuel adalah orang yang paling malas berbasa-basi mengenai perkuliahan dengan orang baru. Orang baru? Ah ingatkan Vika, bahwa Nisa bukan lagi orang baru untuk Samuel. Ia lebih dari itu.


Nisa menarik kedua sudut bibirnya hingga melengkungkan senyum plus dua lesung pipi samarnya. “Alhamdulillah, baik.”


“Semester ini magang, ya?”


Nisa mengangguk. “Iya, InsyaAllah.”


“Magang dimana?” Samuel masih gencar membrondongi Nisa dengan pertanyaan, meskipun gadis itu hanya menjawab seadanya.


“InsyaAllah di RSJ Sudirohusodo.”


Samuel mengangguk-angguk. Sadar akan responnya yang tidak bersahabat, Nisa akhirnya balik bertanya. “Bagaimana denganmu? Semester ini KKN?”


Samuel nyengir kuda. “Nggak tau. Masih belum pengen KKN.” Ucapnya.


Nisa menautkan kedua alisnya heran. Melihat hal itu, Vika yang sejak tadi diam ikut angkat bicara. “Fyi Nis, kuliah bukan hal penting buat Samuel.”


“Kenapa?”


“Katanya kuliah bukan tolak ukur sukses tidaknya seseorang.”


Samuel tertunduk, sesekali terkekeh.


Nisa terdiam sejenak. “Kalau begitu kenapa kuliah?”


Samuel mengangkat kepala, memusatkan seluruh perhatiannya pada Nisa. “Supaya nggak jadi pengangguran aja.” Lagi-lagi Samuel nyengir.


“Kalau begitu kamu cuma buang-buang waktu.” Ucap Nisa.


Samuel menggeleng. “Nggak dong. Kuliah bukan hanya sebatas tentang duduk di kelas bertatap muka dengan dosen lalu belajar.”


“Oh ya? Lalu tujuan utamamu kuliah apa?”


Vika diam-diam memperhatikan interaksi keduanya.


“Menambah pengalaman.” Jawab Samuel.


“Entah sadar atau tidak, tapi kamu sudah menyesatkan pikiranmu sendiri. Dan kamu juga sedang mempersiapkan hadiah kekecewaan untuk orang-orang yang kamu cintai.”


Samuel terdiam. Ia mencoba mencerna baik-baik ucapan Nisa. Gadis itu berhasil membuatnya ragu dengan keputusannya selama ini.


Vika melirik Samuel. Ia tidak pernah melihat Samuel kalah dalam adu argumen sebelumnya. Laki-laki itu adalah makhluk yang paling keras kepala. Bahkan ketika Dekan Fakultas menasehatinya pun ia memiliki puluhan argumen untuk menjatuhkan argumen yang ditujukan padanya. Tapi ketika Nisa yang memberikan argumentasi, Samuel ciut dihadapan gadis tersebut. Bahkan Nisa tak banyak berbicara. Ia hanya mengucapkan beberapa penggal kata saja.


Percakapan keduanya terhenti saat Sarah datang membawa pesanannya dan Nisa ke meja. Tatapannya langsung terarah pada Vika yang sedang menunduk memakan mie ayamnya. Padahal jelas-jelas sejak tadi ia melihat Vika memperhatikan Samuel.


*****


Sepulang diskusi mengenai kegiatan Orientasi, juga megecek persiapan pelaksanaan dari panitia bersama Fathur, plus berkonsultasi pada wakil rektor agar kegiatan lancar, Samuel langsung mengambil motor dan berniat berkunjung ke Pesantren untuk kembali belajar mengaji bersama Ustadz Agam. Ia bahkan sudah menghubungi Nisa untuk menemaninya, namun seperti biasa, dengan gaya dinginnya gadis itu malah menyarankan agar Samuel membiasakan diri berkunjung ke Pesantren tanpa harus ditemani lagi.

__ADS_1


Samuel tertawa kecil. Selalu ada hal-hal yang menggelitik hatinya ketika mengingat Nisa. Gadis itu memiliki sikap yang suka berubah-ubah, seperti bunglon. Kadang cuek, kadang ramah, kadang menggemaskan, kadang sarkas, kadang juga menjadi penasehat ulung.


Ia ingat percakapannya dengan Nisa tadi siang, perihal perkuliahan. Gadis itu nampak tidak suka saat Samuel mengklaim bahwa kuliah bukanlah hal yang penting. Samuel memahami, bahwa gadis seperti Nisa pasti memiliki kehidupan lurus, tidak neko-neko. Ia pasti tidak memiliki pemikiran anomali seperti pikiran Samuel.


Perkataan Nisa terus saja terngingang di telinga Samuel. Gadis itu tadi mengatakan bahwa Samuel telah menyesatkan pikirannya sendiri? Setitik bagian dari hatinya tersentil. Jujur saja, meskipun menganggap kuliah tidak penting, namun ada kalanya Samuel merasa bahwa apa yang ia lakukan salah. Namun sisi lain dari dirinya seolah memaksa untuk membenarkan hal tersebut.


Dan juga tadi Nisa mengatakan bahwa saat ini ia sedang menyiapkan hadiah kekecewaan untuk orang yang di cintainya? Untuk yang satu itu, Samuel tak memahami. Memangnya siapa yang akan dengan sengaja mengecewakan orang yang dicintai? Rasa-rasanya tidak ada. Kecuali jika orang itu sudah gila.


Samuel memacu kendaraannya saat dilihatnya langit sudah menggelap. Sepertinya ia akan sampai tepat pada waktu maghrib lagi.


Ketika sampai di Pesantren, Samuel memarkirkan motornya di depan ruang Mulaqot. Suara adzan yang menggema dari pengeras suara membuat laki-laki itu bergegas mengambil sarung di bagasi motornya, lalu berlari ke arah Masjid.


*****


“Lil, ayo.”


Alila menghentikan aktivitas melamunnya saat teman sekamarnya menegur untuk mengajak sholat maghrib berjamaah. Gadis itu memang belum terbiasa dengan waktu sholat. Bahkan ia masih sering mengabaikan panggilan adzan apabila tak ada yang mengajaknya sholat.


Sudah lebih dari satu minggu dirinya di Pesantren. Namun, ia masih juga belum bisa beradaptasi. Beruntung Nisa selalu mengunjunginya. Gadis itu selalu menyapanya dengan hangat. Bahkan ia yang menawarkan diri untuk membimbing Alila secara langsung. Kahfi pun hampir tiap hari datang untuk memastikan kondisi Alila. Setidaknya dengan begitu, Alila merasa tidak sendiri.


Setelah mengambil air wudhu dan memakai mukenah, Alila bergerak menuju Masjid untuk sholat berjamaah. Ia berjalan lewat pintu samping yang menghubungkan koridor menuju akses pintu keluar Pesantren Putri. Gadis itu tidak biasanya melewati jalan tersebut. Biasanya ia mengikuti jalanan umum, yakni pintu belakang. Namun hari ini entah mengapa, hatinya ingin melewati jalanan tersebut.


Saat tiba di samping ruang Mulaqot, matanya tak sengaja melihat sosok yang ia kenali. Sangat di kenalinya. Ia berdiri disana. Di samping motornya, lalu seperti sedang mencari sesuatu di bagasi. Setelah mendapatkan apa yang di cari, sosok itu bergegas menuju… Mushola? Apa yang dilakukan disini?


Alila terdiam, di tempatnya, bahkan saat sosok itu sudah tak terlihat lagi. Hatinya tiba-tiba nyeri. Ia memutar arah menuju pintu belakang, menghindari pertemuan dengan sosok tadi.


*****


“Samuel, apa kabar? Saya menyuruhmu datang dua hari yang lalu, kenapa baru sekarang muncul?” Ustadz Agam terlihat seperti sedang memarahi Samuel, namun nada bercandanya begitu kentara.


Sejak mengenal Ustadz Agam, Samuel jadi tahu perangai laki-laki paruh baya tersebut. Ustadz Agam suka bercanda, namun ia akan serius di waktu-waktu tertentu. Apalagi jika suasana hatinya sedang baik, beliau akan terus tersenyum sepanjang hari.


“Maaf Ustadz, ada kesibukan di Kampus.”


Ustadz Agam tersenyum lagi. “Hah, begitulah dunia, Sam. Manusia bila disibukkan dengan hal-hal duniawi sudah pasti melupakan perihal akherat. Padahal semakin manusia mengejar dunia, semakin pula dunia menjauh darinya. Justru apabila ia mendekatkan diri dengan akherat, dengan sendirinya dunia akan mendekat padanya.”


Samuel merasa tertohok. Selama ini ia tidak pernah memikirkan hal itu. Dan sekarang ia baru menyadarinya. Betapa dunia telah menyibukkannya hingga lupa dengan ibadahnya.


“Manusia adalah anak. Tergantung mereka, mau memilih menjadi anak dunia atau anak akherat. Kalau dia memilih menjadi anak akherat, ya selamat, ia akan mendapatkan kedua-duanya. Tapi jikalau ia memilih menjadi anak dunia, maka celaka, ia pasti akan menyesalinya.”


Samuel terdiam. Tidak argumen yang bisa ia kemukakan untuk menyangkal perkataan Ustadz Agam.


“Kamu lihat, Sam. Betapa ramainya jalan ke Kampus, ke Kantor, tapi sedikitnya yang berjalan di jalan majelis-majelis ilmu akherat. Mereka berbondong-bondong berjalan ke arah yang salah.”


Ustadz Agam kembali melengkungkan senyum di bibirnya melihat Samuel yang terdiam dan sepertinya sedang berpikir. Namun, Ustadz Agam mahfum. Tidak banyak anak muda seperti Samuel. Meskipun kesibukan dunia masih menguasainya, akan tetapi pemuda itu masih menyempatkan diri menuntut ilmu agama.


Ustadz Agam menepuk-nepuk bahu Samuel. “Sudah, jangan terlalu lama berpikir. Kita sholat maghrib dulu.”


Samuel mengangguk. Keluar dari carut marut pikirannya sendiri. Merasa bodoh karena selama ini telah mnghabiskan waktu untuk hal sia-sia. Meninggalkan ibadah demi pekerjaan yang bahkan masih sangat bisa di tunda. Bahkan ketika pekerjaannya selesai, hatinya tak pernah tergerak untuk memberikan waktu kepada dirinya beribadah. Dulu, adzan yang berkumandang tak pernah menarik perhatiannya. Suara lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an tak sekalipun menyentuh kalbunya. Samuel merutuk di dalam hati, betapa lalainya ia selama ini. Betapa sombongnya ia, dengan angkuh menjauhkan Tuhan dari kehidupannya.


*****


“Nisa!”


Suara yang menyebutkan namanya membuat Nisa menghentikan langkahnya. Ia baru saja hendak menuju Aula untuk melihat para santriwati yang sedang latihan rabbana.


“Assalamu’alaikum.” Kali ini Samuel menyapa dengan sapaan yang benar mengingat tadi siang ia sempat di sindir oleh Sarah.


“Wa’alaikumussalam warohmatullah. Ada apa? Sudah bertemu Ustadz Agam?” Nisa langsung melempar pertanyaan kepada laki-laki di hadapannya.


Samuel mengangguk. “Sudah.”


Keheningan meliputi keduanya selama beberapa menit sebelum akhirnya Samuel kembali buka suara. “Nis, aku mau menanyakan sesuatu?”


Nisa mengangkat alisnya sebelah, “Apa?”


Samuel tampak sedang menyusun kalimat-kalimat di kepalanya. “Komitmen dalam Islam itu bagaimana bentuknya.”


Nisa mengerutkan kening. “Komitmen?”


“Iya. Seperti yang pernah kamu katakan dulu. Islam tidak membolehkan pacaran. Karena Islam hanya berbicara tentang komitmen.”


Nisa ber-oh ria. “Kamu nggak paham maksud kata ‘komitmen’ disitu apa?”


Samuel menggeleng dengan polos. “Ambigu. Karena pacaran pun termasuk komitmen. Komitmen untuk menjalin hubungan.”


Nisa tersenyum dan menggelengkan kepala. “Keliru. Pacaran itu cuma berpura-pura membangun komitmen, bukan mewujudkan komitmen yang sesungguhnya. Komitmen yang di maksud dalam Islam adalah pernikahan. Tidak ada obat yang paling manjur bagi insan yang sedang jatuh cinta kecuali pernikahan.”


Samuel terdiam sejenak. “Apa haram hukumnya ketika seseorang jatuh cinta namun belum sanggup membawa orang yang di cintai ke jalan pernikahan?”


Nisa menggeleng. “Sama sekali tidak. Jatuh cinta adalah fitrah. Tidak mungkin Allah menitipkan perasaan cinta kepada makhluknya jika Dia tak memperbolehkan perasaan itu dirasakan. Yang salah kalau manusia menyalah gunakan fitrah tersebut. Kalau kamu belum sanggup membawa orang yang kau cintai ke jalan pernikahan, maka perbanyaklah puasa. Karena puasa bisa menguasai hawa nafsu yang bisa saja timbul dari perasaan cinta tersebut.”


“Nis?”


“Ya?”


“Bagaimana jika aku menyukaimu tapi aku belum sanggup menawarkan komitmen?”


Seperti ada letupan ribuan kempang api di hati Nisa. Ia sama sekali tak menyangka bahwa saat ini Samuel sedang mengutarakan perasaannya. Ia mencoba menetralkan perasaannya, namun nihil, justru ribuan kupu-kupu sedang menari bebas menggelitik perutnya saat ini.


“Ma..maksudmu apa?” Nisa sampai terbata-bata merespon ucapan Samuel.


“Maaf. Aku jatuh cinta padamu, Nis.”


Nisa berusaha membasahi kerongkongannya yang kering. Hatinya masih tak karuan. “Sejak kapan?” Akhirnya kalimat tersebut lolos dari bibirnya.


“Sejak pertama kali kita bertemu. Kejadian rok masuk di gir motor.” Samuel tersenyum sendiri mengingat pertemuan pertamanya dengan Nisa.


Nisa terdiam. Bingung harus merespon apa. Sementara jantungnya terus melompat-lompat nakal di dalam sana. Ini adalah kali pertamanya seseorang mengungkapkan perasaan cinta di hadapannya. Ia mengira tidak akan pernah ada yang melakukan hal itu kecuali calon imamnya nanti. Tapi kini, laki-laki di hadapannya sedang melakukan hal tersebut.


“Maaf saya harus segera mengajar. Assalamu’alaikum.” Nisa berlalu begitu saja tanpa menanggapi ucapan Samuel. Ia tidak ingin berlama-lama dengan laki-laki tersebut dalam situasi seperti ini. Bisa-bisa jantungnya beralih tempat karena saking kerasnya berdetak. Ia berjalan cepat, dengan langkah terburu-buru seperti habis bertemu setan. Ia bahkan tak mempedulikan lagi bagaimana reaksi Samuel yang melihat dirinya kabur seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2