Cinta Yang Halal

Cinta Yang Halal
32


__ADS_3

Matahari menerik dengan panasnya. Bahkan segelas es kelapa muda tak bisa menghilangkan dahaga bagi penikmatnya. Nisa duduk di deretan bangku panjang yang di sediakan pihak Kampus di depan Fakultas. Matanya menatap nanar ujung sepatunya.


"Hayo loh, ngelamun aja."


Suara cempreng Sarah mengalihkan fokus Nisa. Gadis itu mengambil tempat duduk di samping Nisa kemudian mengibas-ngibaskan map yang ada di tangannya.


"Gimana? Bu Mardiah sudah setuju kamu minta pindah tempat magang?" Tanya Sarah.


Nisa menggeleng, "Beliau bilang kalau mau pindah, harus ada mahasiswa lain yang mau di ajak bertukar tempat. Sejauh ini belum ada."


Sarah menyandarkan bahunya pada dudukan bangku, "Yaudah sih, disitu aja. Kita bisa bareng, kan."


Nisa menghela napas keras, "Masalahnya aku nggak bisa ninggalin Aya. Kasian."


"Dia bisa di titipin di Yayasan, Nis. Nggak papa, cuma sebulan lebih juga."


Nisa melirik Sarah sekilas, "Iya, tapi aku nggak tega."


"Yaudah, kalo gitu pikirin lagi. Nggak gampang loh, nyari tempat magang yang strategis. Menurutku RSJ Sudirihusodo itu udah strategis. Deket sama Swalayan, masjid besar, Rumah Sakit, Poskonya juga terpisah kan dari RSJ."


Nisa tidak menjawab, ia justru larut dalam pikirannya. Pandangannya lurus ke depan, namun sorot matanya kosong.


Begitu melihat Nisa tak memberi respon apapun, Sarah menelisik wajah Nisa. Ada sesuatu yang tidak beres, gumamnya.


Sarah menyenggol lengan Nisa. "Kenapa lagi?"


Tatapan itu sendu, namun hanya berlalu bebeberapa menit, setelahnya Nisa mengubah ekspresinya seperti biasa. "Lucu tau, Rah. Saat seseorang yang kemarin mengungkapkan cinta sama kamu, tapi hari ini ia justru memilih kembali dengan masa lalunya."


Sarah menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Maksud kamu apa tah?"


Nisa tersenyum, Sarah tidak bisa mendefinisikan jenis senyuman yang sahabatnya itu sunggingkan. "Beberapa hari lalu, Samuel datang ke rumah."


Sarah meneggakkan punggung, "Terus?" Tanyanya antusias.


"Ya gitu. Abi nyuruh dia belajar dulu. Abi agak nggak sreg sama dia, Rah."


Sarah mendengarkan dengan seksama. Ia tidak ingin berkomentar apapun sampai Nisa selesai bercerita. Jarang-jarang sahabatnya itu mau menceritakan masalah hidupnya. Biasa Sarah yang memaksa, baru ia mau bercerita.


"Aku berusaha yakinin Abi. Dan kayaknya Abi masih berpikir. Tapi kemarin…" Nisa menunduk, memperhatikan ujung sepatunya. "Samuel ketemu sama mantannya."


Sarah mengerutkan kening. Menurutnya seseorang yang sudah putus kemudian bertemu mantan pacarnya merupakan hal yang lumrah. Toh mereka juga sudah tidak ada hubungan. Dan pastinya sudah memilih jalan masing-masing.


"Mungkin kamu berpikir, kalau seseorang bertemu mantan adalah hal yang wajar. Tapi kali ini beda." Nisa seolah bisa membaca pikiran Sarah. "Mereka masih saling mencintai."


Sarah semakin mengerutkan kening dalam. "Darimana kamu tau kalau mereka masih saling mencintai?" Sejak tadi Sarah gemas ingin berkomentar, namun urung karena melihat Nisa yang sudah mulai nyaman bercerita.


"Aku ini sudah 3 tahun kuliah di jurusan psikologi. Nggak mungkin kalau untuk baca ekspresi seseorang aja aku nggak bisa." Ucap Nisa. Kata-katanya seolah meyakinkan Sarah untuk turut percaya dengan asumsinya.


"Nggak selamanya, Nisa. Kadang perkiraan psikolog itu bisa meleset. Sehebat apapun psikolog, dia juga cuma manusia biasa. Apalagi pernyataan kamu itu cuma sekedar asumsi, praduga, jadi masih ada kemungkinan buat salah, kan?"


Nisa menggeleng. "Enggak. Hatiku yakin, Rah."


Sarah membuang napas kasar. "Oke, kalau begitu begini saja, coba kamu tanyakan sama Samuel terlebih dahulu. Bagaimana pun kamu butuh sumber yang jelas, yang tidak hanya sebatas asumsimu saja."


Nisa terdiam. Menemui Samuel? Untuk membahas masalah kemarin? Bertemu dengan laki-laki itu adalah hal yang paling ia hindari belakangan ini.


Nisa mengeleng, "Aku nggak mau dulu ketemu dia?"


Sarah beringsut, mendekat ke arah Nisa. "Nis, justru kalau semakin lama kamu memendam masalah ini sendirian, semakin pula kamu bakalan kepikiran dan terus su'udzon sama Samuel."


Nisa menghela napas dalam, lalu membuangnya kasar. "Nanti aku pikirin lagi, Rah." Nisa bangkit dari duduknya. Berjalan menuju pintu keluar Fakultas. Suasana hatinya sedang tidak membaik. Ada sesuatu yang terasa mengganjal di dalam sana. Memikirkan kejadian tempo hari, membuat kepalanya pening. Istighfar dan dzikir ia gumamkan dalam hati, untuk menentramkan perasaannya saat ini.


*****


"Shodaqallahul'adzim."


"Alhamdulillah, hafalanmu masih terjaga dengan baik, Nduk. Padahal kamu sibuk kuliah, ya?"


Nisa tersenyum, "Nggih, Ustadzah. Lagi persiapan buat magang sekarang."


Ustadzah Hanum menggeleng takjub, "MasyAllah tabarakallah, Nduk. Semangat ya."


Nisa mengangguk. "Nggih, Ustadzah."


Nisa menutup Al-Qur'an yang terbentang di hadapannya. Ia baru saja selesai muroja'ah hafalan bersama Ustadzah Hanum. Nisa benar-benar di haruskan pandai-padai membagi waktu. Pagi hingga menjelang sore, ia akan di sibukkan dengan perkuliahan, sedang sore sampai malam, ia harus muroja'ah dan mengajar beberapa Kelas.


"Assalamu'alaikum." Sebuah suara lembut menginterupsi percakapan keduanya.


Di depan pintu berdiri Alila yang sedang menatap ke arah Nisa dan ustadzah Hanum. Gadis mengembangkan senyumannya. Hari ini, Alila nampak jauh lebih baik dari kemarin.


Nisa dan Ustadzah Hanum menjawab berbarengan. Lalu mempersilahkan Alila masuk. "Ada apa, Lil?" Kali ini Nisa yang bertanya. Sejak kejadian Alila kabur kemarin, baru kali ini gadis itu memunculkan batang hidungnya.


Nisa mencoba bersikap setenang mungkin, meski saat ini otaknya sedang berputar mengulang kejadian kemarin. Melihat Alila, mengingatkannya dengan adegan pelukan yang di lakukan gadis itu bersama Samuel.


Alila tersenyum hangat. "Saya mau muroja'ah surah-surah pendek."


Ustadzah Hanum mengangguk. "Oh yaudah, silahkan Lil. Kalau begitu saya pamit kembali ke Pesantren dulu, ya?" Wanita paruh baya itu bergegas bangkit dari duduknya.


Nisa dan Alila buru-buru menyalami Ustadzah Hanum dengan penuh rasa takzim.


Kini tinggallah mereka berdua di dalam ruangan. Nisa memaksakan senyumnya ke arah Alila. "Hafalan surah apa sekarang?" Tanya Nisa.


"Al-kafirun."

__ADS_1


Alila mulai mengulang hafalan surah Al-kafirun, lalu dilanjutkan dengan surah-surah sebelumnya.


Begitu selesai, Alila tidak langsung pamit seperti biasa. Melihat hal itu, Nisa tersenyum, "Ada yang perlu di bicarakan?" Tanyanya.


Alila mengangguk ragu-ragu. Wajahnya berubah menjadi segan.


"Mengenai masalah kemarin."


Napas Nisa tertahan. Ia sudah menduga, bahwa lama kelamaan, Alila pasti akan membahas masalah itu juga. Tapi sungguh, meskipun ia penasaran, namun sebenarnya ia tidak ingin mendengarnya. Ia takut, jika pernyataan Alila justru semakin membuat sakit hatinya.


"Saya minta maaf, kemarin saya khilaf." Ucap Alila. Gadis itu menunduk. "Tidak seharusnya saya lari seperti itu sampai merepotkan kamu." Jeda sejenak. Kemudian Alila mulai melanjutkan, "Saya juga minta maaf, karena sudah melakukan hal yang tidak seharusnya saya lakukan."


Nisa terdiam, tidak ingin berkomentar apapun sampai Alila menyelesaikan perkataannya.


"Kemarin saya kehilangan kendali saat melihat Samuel tiba-tiba ada di sana." Ucapnya lagi.


Nisa hanya mengangguk, mengembangkan senyum palsunya. Bahkan saat ini hatinya sedang berdenyut ngilu di dalam sana. Ada seuatu yang kasyaf, yang tak bisa ia jabarkan detailnya.


"Lain kali jangan di ulang, ya." Alih-alih menanykan perihal hubungan Alila dengan Samuel, Nisa malah hanya bisa mengucapkan kalimat itu.


Alila mengangguk. "Maaf, kalau boleh tau, kamu punya hubungan apa dengan Samuel? Maksudku, kenapa sampai kalian bisa datang bersamaan ke Bekasi?"


Lengkungan senyum Nisa masih bertahan di wajahnya. Gadis itu nampak tenang, seolah tak terusik sama sekali akan pertanyaan Alila. Meskipun di dalam sana, perasaannya sedang tak karu-karuan.


"Kami hanya teman."


Ucapan Nisa di sambut dengan hembusan napas lega dari Alila. Gadis itu nampak tenang. Entah apa yang ia pikirkan sebelumnya. "Syukurlah."


"Memangnya Samuel tidak mengatakan apapun sama kamu?"


Alila menggeleng, dengan senyuman yang tak lepas dari bibirnya. "Enggak. Samuel emang gitu, lebih banyak diem kalo sama aku. Mungkin masih marah, tapi yang ku syukuri, dia sudah tidak lagi mengusirku." Alila tertawa kecil, mengingat-ingat kembali ekspresi Samuel kemarin.


"Apa laki-laki yang kamu ceritakan ke aku tempo hari adalah Samuel?"


Alila tersenyum malu-malu, lalu mengangguk sebagai jawaban.


Nisa mencoba untuk mempertahankan senyumnya. "Kalian masih saling suka." Kalimat barusan terdengar lebih seperti pernyataan daripada pertanyaan.


Alila mengangkat wajah, "Kalau aku memang masih menyukai Samuel. Tapi kayaknya Samuel enggak."


Buru-buru Nisa bertanya, "Kenapa?"


"Samuel merasa di khianati, dan mungkin dia masih butuh waktu untuk menerima semua itu."


"Samuel sudah tau kebenarannya." Ucap Nisa.


Alila menoleh sepenuhnya pada Nisa, "Maksudnya?"


Nisa mengangguk, "Iya, kemarin Samuel sudah dengar semua kebenarannya saat kamu bertengkar sama Askar."


Diam-diam Nisa mengamati Alila. Gadis itu nampak senang, wajahnya jauh lebih berseri-seri dibandingkan saat pertama kali ia temui. Kini, tatapan matanya kembali hidup, seolah kembali menemukan tujuan hidupnya. Nisa mengucap istighfar di dalam hati, karena saat ini justru ia yang kehilangan harapan.


*****


Suasana Basecamp begitu riuh saat ini. Fathur sedang memutar musik melalui pengeras suara, sedang beberapa orang rekannya berteriak-teriak menyanyi menggunakan mic, mendendangkan lagu dangdut.


"Hidup tanpa cinta, bagai taman tak berbunga, hei begitulah kata para pujanggaaaa."


Sesaat Basecamp seperti rumah karaoke. Mereka heboh menyanyi dan berjoget dengan gaya masing-masing.


"Heii begitulah kata para pujanggaaa." Fathur mendekat ke arah Samuel yang sedang bersandar di pojokan, menatap tanpa minat teman-temannya yang sedang habis obat warasnya.


"Stop guys, stop. Ada yang lagi galau, nih." Fathur mengangkat tangan ke atas, menginstruksikan rekan-rekannya agar berhenti sejenak.


"Lo punya masalah idup apa sih, Sam?" Kamal ikut berbicara. Bahkan suaranya masuk ke dalam mic, karena ia lupa mematikan mic yang ada dalam genggamannya.


Samuel mengerutkan kening. Enggan berkomentar apapun, laki-laki itu memilih membuka gawainya, lalu fokus kesana.


Merasa diabaikan, Fathur menarik gawai milik Samuel, membuat laki-laki itu misuh. "Anjing, balikin nggak!"


"Weits, jangan kasar-kasar ngomongnya kaka." Fathur masih menggoda Samuel.


"Balikin sebelum gue patahin seluruh tulang-tulang belikat lo!"


Merasa bahwa mood Samuel sedang buruk, Fathur mengalah. Ia mengembalikan ponsel Samuel yang di rampas secara paksa oleh laki-laki itu.


Tanpa banyak bicara lagi, Samuel memilih keluar. Pikirannya sedang penat, moodnya memburuk, ia sedang dalam mode senggol bacok. Di saat-saat seperti ini, ia tidak bisa berpikir dengan baik. Bisa-bisa teman-temannya menjadi pelampiasan kekesalannya jika terus menggoda.


Tempat yang Samuel pilih untuk menenangkan pikirannya adalah Warkop yang berada di belakang Kampus. Suasana disana memang tidak begitu sepi, bahkan terkesan banyak pengunjung. Tapi setidaknya, di tempat itu tidak ada gangguan-gangguan yang di tujukan untuknya. Ia bisa dengan rileks menikmati secangkir kopi hitam kesukaannya sambil merenung panjang.


Samuel membuang napas kasar. Ingatannya berputa pada kejadian saat ia datang bersama Nisa dan Kahfi untuk mencari Alila. Alila yang mereka cari rupanya Alila yang sama dengan gadis yang ia kenali selama ini. Alila mantan pacarnya. Alila yang ia benci dengan sangat dan begitu ia hindari.


Di saat bersamaan, Samuel mendengar seluruh kebenaran yang tidak ia ketahui selama ini. Kebenaran itu benar-benar menampar dirinya yang terlalu bersikap keras terhadap Alila.


Selama ini ia mengira Alila mengkhianatinya, tapi ternyata ia salah. Alila adalah korban yang tidak seharusnya mendapat perlakuan buruk dari si brengsek Askar. Alila tidak pernah mengkhianatinya. Bahkan saat Samuel mencaci makinya dengan kalimat-kalimat yang tidak seharusnya, gadis itu masih mencintainya. Tak sedikit pun ia gentar, atau memilih berhenti.


Samuel merasa bodoh. Seandainya saja jika sejak dulu Alila berterus terang, maka ia pasti tak akan semarah ini. Ia pasti tidak akan meninggalkan gadis itu menghadapi masalahnya sendirian. Namun nasi sudah menjadi bubur, yang telah berlalu tak bisa di ulang.


Sekarang ia hanya ingin fokus pada Nisa. Gadis itu menunggunya. Meski Abinya tidak begitu yakin dengan Samuel, tapi Nisa bertahan. Ia masih memiliki harapan untuk dirinya.


Bagi Samuel, Alila adalah masa lalu yang harus ia lupakan. Sedang Nisa adalah masa depan yang harus ia perjuangkan. Ia harus bisa melupakan Alila. Bagaimana pun juga kisah mereka sudah lama berakhir. Tidak ada lagi ikatan apapun yang mampu mengikat keduanya untuk bersama. Dan ya, Samuel sudah memilih.


*****

__ADS_1


Nisa baru saja melangkahkan kaki keluar dari Perpustakaan, saat di kihatnya sepasang kaki jenjang di balut celana jeans belel berdiri di hadapannya. Nisa mengira, orang itu bukan mahasiswa di Guna Dharma, mengingat gayanya yang tidak msncerminkan seorang mahasiswa sama sekali.


Ketika Nisa ingin pergi, suara yang begitu damiliar di telinga menghentikan langkahnya.


"Saya mau bicara, Nis."


Ketika Nisa mendongak, di dapati wajah Samuel. Wajah laki-laki itu nampak kusut. Lingkaran hitam di bawah mata samar-samar terlihat. Rambut panjangnya di biarkan tergerai berantakan.


"Nisa."


Samuel mengejutkan Nisa yang sedang menelisik penampilan dirinya. Gadis itu segera berdehem untuk membuang rasa canggungnya.


"Ada apa?" Tanyanya kemudian.


"Bisa ikut saya?"


Nisa tampak mengerutkan kening. Alarm waspada menyala di kepalanya. Samuel sedang mengajaknya untuk mengikutinya. Hanya berdua.


Seolah bisa membaca pikiran Nisa, Samuel terkekeh, "Tenang, Nis. Tempatnya ramai kok."


Nisa mengedip-ngedipkan matanya lucu. Memangnya apa yang di pikirkan Samuel? Memangnya Nisa menuduh akan membawanya di tempat yang sepi?


"Ayo." Samuel kembali membuyarkan lamunan Nisa. Gadis itu akhirnya bergerak mengikuti langkah Samuel.


Tiba lah mereka di Kantin Belakang. Tempat favorit Nisa. Samuel memesan minuman agar perbincangan keduanya lebih rileks, dan tidak terkesan hanya numpang ngobrol saja.


"Kamu mau pesen apa?" Tanya Samuel.


"Apa aja."


"Disini nggak ada loh menu apa aja." Sebuah senyuman jahil terbit dari bibir Samuel.


Nisa menyumpah serapahi laki-laki di hadapannya. Berhari-hari berhasil membuat pikirannya kacau, sekarang ia justru datang tanpa dosa lalu menggodanya. Tak tahu malu memang si Samuel ini.


"Atau mau di samain? Aku pesen kopi hitam, kamu mau kopi hitam juga?"


Nisa memberengut. Wajahnya nampak begitu lucu. Lalu dengan sigap, ia mengambil daftar menu dari tangan Samuel. "Es Milo." Pilihnya kemudian.


Samuel mati-matian menahan tawanya hingga ujung bibirnya berkedut. Perempuan di hadapannya benar-benar menggemaskan, pikirnya. Lalu ia beregas memberi tahu ibu kantin pesanannya, sebelum ia khilaf mencubitpipi Nisa saking gemasnya.


"Apa kabar?" Samue kembali duduk di tempatnya.


"Kitabaru 3 hari yang lalu ketemu." Percayalah, Nisa sebenarnya ingin terlihat tenang mengucapkan kalimat barusan, namun justru terdengar ketus.


Samuel tertawa, "Ketus banget sih Ibu."


Nisa mendengus, mengalihkan fokusnya pada ikan-ikan kecil yang ada dalam aquarium.


"Saya minta maaf."


Nisa menunggu dengan seksama, kira-kira apa selanjutnya kalimat Samuel.


"Tidak seharusnya saya membiarkan Alila memeluk saya seperti itu." Ucapnya kemudian.


Hening. Nisa tidak menanggapi ucapan Samuel. Sedang Samuel tenggelam dalam pikirannya sendiri, memikirkan reaksi Nisa yang mungkin akan marah seperti gadis kebanyakan.


Nisa tersenyum. Senyum tulus. Bahkan Samuel tak menyangka bahwa gadis di hadapannya justrunakan memberikan reaksi seperti itu.


"Tidak apa-apa. Itu hak mu."


"Tapi tidak seharusnya saya membiarkan hal itu terjadi, di saat saya menjanjikan komitmen denganmu."


Pesanan yang diantarkan oleh Ibu kantin menghentikan percakapan keduanya. Samuel mengucap terima kasih, selepas ibu kantin tersebut pergi.


"Saya dan Alila tidak ada hubungan apa-apa." Ucap Samuel lagi.


"Perasaan Alila tidak pernah berubah sejak dulu." Nisa mengaduk-aduk gumpalan es batu yang masih utuh di dalam es milonya.


"Alila bilang begitu?"


Nisa mengangguk.


"Dia mengharapkanmu." Ucap Nisa lagi.


Samuel teratwa hambar, "Saya sudah memilihmu."


Nisa tersenyum. "Jangan paksakan hanya karena kamu tidak enak hati dengan saya."


Samuel menggeleng cepat. "Saya tidak pernah melakukan hal itu. Perasaanku untuk Alila memang sudah tidak ada. Mungkin hanya sebatas kasian?" Samuel justru merasa tidak yakin dengan kalimat terakhirnya.


"Dia perempuan baik. Kehilangan ayah, keluarga, bayi, dan juga kamu adalah pukulan telak yang membuatnya hancur. Singkatnya, saat itu juga dia kehilangan segalanya. Dia tidak lagi punya harapan untuk masa depan yang menjanjikan. Baginya, harapan hanyalah sebatas kata-kata penyemangat agar seseorang mampu bertahan dengan kesulitan yang di alami di masa kini."


Samuel tak mengerti, apa tujuan Nisa menceritakan perihal Alila kepada dirinya? Bukakah seharusnya ia meyakinkan Samuel untuk memilihnya?


"Saya tidak akan memaksakan kehendak siapa pun. Tidak juga berniat menyakiti hati siapa pun. Jadi tolong, buatlah pilihan yang tepat agar tidak ada pihak yang merasa di rugikan."


"Pilihanku sudah tepat. Saya memilihmu." Ucap Samuel penuh keyakinan.


"Tapi Alila mengharapkanmu. Kamu satu-satunya yang bisa merubah hidupnya."


Samuel mendesis, "Jangan pikirkan orang lain, Nisa. Kalau saya memilih Alila, lalu bagaimana denganmu?"


Nisa tertunduk, "Saya akan melupakanmu. Lagipula Abi menolakmu." Nisa mati-matian memberanikan diri mengucapkan kalimat itu.

__ADS_1


Samuel terdiam, tidak percaya bahwa yang mengucapkan kalimat barusan adalah Nisa. Samuel kehabisan kata-kata. Bahkan saat ini pamit lalu meninggalkannya seorang diri pun, Samuel masih tak bergeming. Pusat dunianya baru saja di sedot di satu titik putaran. Dan titik putaran itu hanya bermuara pada satu situasi, sakit hati.


__ADS_2