
Aku merasa mules di perutku, aku rasa aku akan melahirkan.
"Ka, ka Adit bangun ka". Aku membangunkan ka Adit yang sedang tertidur pulas.
"Ada apa sayang". Tanyanya, masih mengerjap-ngerjapkan mata.
"Perut aku sakit ka, bangun cepet". Aku sedikir meringis menahan sakit.
Ka Adit terlihat panik, ia langsung bangun dan menatapku.
"Ayo ke rumah sakit". Ucapnya, dia terlihat berkeringat.
"Ka" aku menatapnya kesal, aku yang kesakitan malah dia yang berkeringat dingin.
Dia bilang ayo ke rumah sakit tapi dia tidak membantuku untuk berdiri, dia malah diam mematung.
"Ka, Bantu aku, aku sulit untuk berdiri". Ucapku kesal, menahan sakit juga sehingga, sedikit membentaknya.
"Iya maaf". Ucap ka Adit.
"Ka ambilkan dulu niqabku".
"Ini sayang" ka Adit yang memakaikan niqab kepadaku.
"Ayo ka aku sudah tidak kuat". Ucapku perutku semakin mules.
Ka Adit menggendongku, tangannya terasa dingin, dia berkeringat.
Sepertinya ka Adit sangat panik, dia menatapku yang sedang kesakitan.
Ka Adit mengecup keningku dan berbisik kepadaku.
"Sabar ya sayang".
Sungguh aku menangis merasakan sakit ini, bukan apa aku hanya teringat perjuangan ibu waktu melahirkanku, dia juga pasti merasakan apa yang aku rasakan sekarang.
Ka Adit menemaniku di ruang persalinan, dia menangis melihat aku kesakitan seperti ini.
Setelah perjuangan yang sangat lama, akhirnya bayiku lahir dengan selamat.
Aku tersenyum pada ka Adit, ibu, bapak, dan mamah serta papah ka Adit belum datang mereka masih di jalan.
Aku di sini hanya di temani oleh Ziya dan ka Adit saja.
"Ka" aku melihat mata ka Adit yang masih berkaca-kaca.
"Iya ada apa sayang" ka Adit mengecup keningku dan tersenyum.
__ADS_1
Ziya sepertinya tak suka melihatku dan ka Adit bermesraan dia malah memutar bola matanya.
"Ka disini ada aku, kalau mau mesra-mesraan ya saat berdua saja, di sini juga masih ada keponakanmu ka jangan menodai mata keponakanmu yang masih suci ini". Dia mengerucutkan bibirnya.
Dan dia menganggap apa yang ka Adit lakukan kepadaku itu seperti adegan di drama-drama percintaan lebay.
Aku dan ka Adit hanya tertawa melihat ekspreainya.
"Kak, mas Adit lebay banget sih masa kakak yang melahirkan dan kesakitan eh mas adit yang nangis". Grutunya.
"Yah Zi mas kan kasian pada kakakmu, wajar bila mas menangis melihat kakakmu kesakitan". Kak Adit membela dirinya.
"Saking sayangnya dia pada kakakmu ini Zi, dia juga sering menangis saat kakak kesakitan saat haid". Mata Ka Adit memang sering berkaca-kaca, jika aku memberitahunya bahwa perutku sangat sakit karena haid.
Apa ka Adit semudah itu menangis.
"Sayang jangan buka kartu dong, aku nangis kan karena aku kasian sama kamu yang kesakitan eh kamu malah ngeledekin aku". Ka Adit cemberut, aku hanya tersenyum dan Ziya dia terkikik geli melihat kakak iparnya merajuk padaku.
"Assalamualaikum". Suara salam dari luar sangat ramai.
Mungkin itu orang ibu bapak serta mamah dan papah mertuaku.
"Waalaikumsalam". Jawab aku, kak Adit, dan Ziya bersamaan.
"Sayang maaf yah kami baru datang". Mamah mertuaku langsung menghampiriku dan mencium kepalaku.
"Bu". Aku merasa mataku memanas, dan ibu menghampiriku dan memeluku.
"Ada apa sayang". Ibu mencium kedua pipiku.
"Maafkan aku bila aku punya salah pada ibu, aku baru tahu bahwa melahirkan itu sangat sakit, maafkan aku bu". Aku merasa air mataku sudah keluar dan membasahi pipiku.
"Ibu sudah memaafkanmu nak". Jawab ibu.
"Mana Cucuku Ran" tanya bapak.
"Sedang di bersihkan pak nanti juga di bawa kesini". Jawabku.
"Eh itu bukan cucumu saja, tapi cucuku juga". Ucap papah mertuaku.
Semua orang yang ada di ruangan ini tertawa.
"Iyah iyah, itu cucu kita". Bapak meralat ucapan cucuku menjadi cucu kita.
"Anak kalian perempuan atau laki-laki? " Tanya ibu.
"Laki-laki bu". Ka Adit yang menjawb pertanyaan ibu.
__ADS_1
"Mau di kasih nama apa?". Mamah bertanya .
"Faeza putra nugraha". Jawabku dan ka Adit bersamaan.
"Bagaimana bagus kan namanya?". Aku bertanya pada semuanya.
"Bagus". Jawab mereka bersamaan.
Sungguh ini adalah kebahagiaan yang sangat besar, yang pernah aku rasakan.
Berkumpul bersama seluruh keluarga, dengan malikat mungil di sisi kami.
"Permisi". Seorang suster memasuki ruanganku sambil membawa bayi di gendongannya.
"Ini bu bayinya sebaiknya di adzani dulu nanti di beri asi ya, saya permisi dulu". Suster itu memberikan bayiku padaku, ka adit langsung mengambilnya dan mengadzaninya.
"Ya sudah kami keluar dulu ya, kamu susui little nugraha saja dulu biar adit yang menemani" ucap ibu, semua orang yang ada di dalam keluar.
"Dedenya haus kayanya ya sayang". Ka Adit terus memandangiku yang sedang menyusui.
"Iya ka, kakak jangan ganguin mulu dong biarkan faeza tidur". Ka Adit memainkan kaki Faeza jadi Faeza tidak tidur-tidur.
"Iya maaf". Dia berhenti memankan kaki faeza.
"Hmmm". Aku hanya bergumam.
"Kapan kita memberi Faeza adik " ka Adit menurun naikan alisnya.
"Ka Faeza saja baru keluar" aku menatapnya kesal.
Ka Adit hanya tertawa melihatku kesal.
"Bagaimana kalau 4 adik". Ucap ka Adit dengan muka memelasnya.
"Boleh" ucapku sambil tersenyum.
"Beneran". Mata ka Adit berbinar.
"Beneran, tapi kakak saja yang mengandung dan melahirkannya jangan aku". Aku tersenyum melihat ka Adit vemberut .
"Ya mana bisa sayang". Ka Adit terlihat sedih.
"Jangan seperti itu, kita serahkan saja semuanya pada Allah, jika Allah berkendak mau 4 atau 6 lagipun aku akan terima".
Aku tersenyum pada ka Adit.
"Iya kamu benar sayang". Ka Adit mencium keningku.
__ADS_1
Aku dan ka Adit saling tatap kami sama-sama tersenyum, dan ka Adit mencium bibirku dekilas.