
Samuel membanting tubuhnya di atas kasur. Badan, pikiran, dan hatinya benar-benar lelah saat ini. Seharusnya, ia masih memiliki beberapa proposal yang harus di urusnya saat ini di Sekretariat, hanya saja ia enggan ke Kampus dan justru memilih pulang ke rumah. Meskipun Fathur dan Vika berkali-kali menghubunginya, namun Samuel malah mengabaikan. Untuk sekali saja, ia ingin egois, mendahulukan kepentingan pribadi di bandingkan kepentingan publik.
Pikiran Samuel benar-benar lelah saat ini akibat seharian di ajak bergelut tanpa ampun. Laki-laki itu melirik jam yang menggantung di dinding. Pukul setengah dua belas malam. Samuel seharusnya sampai di rumah setelah mengantar Nisa pulang, kira-kira pukul 9 kurang seperempat. Namun kejadian Alila kesurupan, di tambah dengan gadis itu yang memaksanya untuk di temani, membuat Samuel baru bisa pulang di waktu selarut ini.
Samuel mengusap wajahnya kasar. Ia ingat, tadi Alila memeluknya dan Nisa ada di sana. Gadis itu saat ini pasti sedang berpikiran yang tidak-tidak. Mengingat bagaimana Nisa merajuk saat Alila memeluknya juga waktu itu, hingga Nisa memaksakan Samuel untuk memilih gadis itu, membuat Samuel yakin, bahwa Nisa pasti akan melakukan hal yang sama lagi.
Samuel merogoh ponsel di saku celananya. Ia berinisiatif untuk menghubungi Nisa. Namun ketika kontak Nisa sudah terpampang, Samuel mengurungkan niatnya. Mungkin saja gadis itu sudah tidur, tidak sopan kan menelepon tengah malam seperti ini? Pikirnya.
Samuel akhirnya menyimpan kembali ponselnya. Ia mengacak-acak rambutnya frustasi. Rasa-rasanya ia seperti tidak memiliki muka untuk bertemu dengan Nisa esok hari. Ia pernah mengatakan, bahwa Alila adalah masa lalunya, dan Nisa masa depannya, tapi apa yang ia lakukan sekarang? Ucapannya telah berkhianat dari perasaannya.
Samuel bangkit dari tidurnya, kepalanya saat ini terasa panas. Ia memutuskan untuk mengambil air wudhu. Mungkin membaca Al-Qur'an akan menangkan sedikit pikirannya. Ia ingat, Nisa pernah berkata padanya, bahwa Al-Qur'an termasuk obat hati yang dapat menetramkan pikiran pembacanya.
Samuel mengambil mushaf yang ada di dalam tasnya. Mushaf itu adalah pemberian Nisa yang selalu di bawa Samuel kemana-mana. Bahkan benda tersebut tak pernah lepas dari dalam tasnya.
Samuel mulai membaca surah Ar-Rahman. Sejak mulai lancar mengaji, ia selalu membaca surah tersebut setiap malam. Kadang setelah sholat maghrib, kadang juga setelah sholat isya. Entah kenapa surah itu menjadi surah favoritnya. Mungkin karena makna yang terkandung dalam surah itu yang membahas tentang bagaimana manusia mensyukuri segala nikmat yang di berikan oleh Allah Azzawajalla.
Ayat demi ayat Samuel lantunkan dengan tajwid dan tartil, ia berusaha menyesuaikan dengan apa yang telah di pelajarinya dari ustadz Agam. Perlaha-lahan hatinya melembut dan berubah menjadi tenang.
Perubahan Samuel memang tidak main-main. Ia menepati betul janjinya terhadap diri sendiri yang bertekad akan memperbaiki diri. Dan terbukti saat ini ia lebih mendekatkan diri kepada Sang Illahi. Ia tidak pernah lagi meninggalkan sholat lima waktu meskipun kesibukan Kampus tidak pernah berhenti dan juga selalu menyempatkan diri membaca Al-Qur'an walau hanya sekali dalam sehari. Semua hal itu tentu saja tidak serta merta terjadi tanpa adanya hidayah dari Allah dan juga bantuan Nisa. Ah, gadis itu sudah terlalu banyak memberikan kebaikan pada Samuel. Sekarang Samuel bertanya pada dirinya sendiri, apa yang telah ia berikan pada Nisa? Bahkan saat ini pun ia justru melukai hati gadis itu.
*****
"Ya Allah, Engkau lah yang menggenggam hati setiap manusia, maka tenangkanlah hatiku yang saat ini sedang kacau tak menentu." Nisa berulang kali merapalkan doa tersebut. Air mata masih saja terus meleleh menganak sungai di pipinya.
Selepas melihat Samuel dan Alila di RKS tadi, nyeri di hatinya tak kunjung hilang. Bukan saja hanya karena melihat mereka berdua-duaan di dalam ruangan yang sama, tapi juga karena ucapan Alila yang menyebutkan bahwa Samuel masih menyukai gadis itu, dan buruknya Samuel hanya terdiam seolah membenarkan ucapan Alila.
Tidak ingin seperti orang bodoh yang tidak tahu harus lari kemana saat mengalami kesusahan, Nisa memilih mengambil air wudhu lalu mengerjakan sholat istikhoroh. Berdiskusi dengan Allah dan menceritakan seluruh keluh kesahnya adalah pilihan yang tepat saat ini. Sebab tidak ada pendengar dan pemberi solusi yang lebih baik selain Allah.
Sejak tadi Nisa menengadahkan tangan, memohon ketentraman hati dan juga petunjuk mengenai langkah apa yang harus ia ambil dalam menyelesaikan masalahnya.
"Ya Allah, jika memang Samuel bukan yang terbaik untuk hamba, maka padamkanlah perasaan ini dan gantikan dengan keikhlasan. Tanamkanlah sifat ridho akan keputusanmu di dalam hatiku. Sebab hamba tidak ingin menahan takdir apapun yang telah Engkau tetapkan untukku. Sesungguhnya jodoh, rezki, dan kematian ada dalam genggamanMu, maka hamba kembalikan semua padaMu ya Illahi Rabbi."
Nisa luruh dalam sujud, bahunya bergetar hebat. Tangisnya pecah di tengah sunyinya malam. Setelah ini ia harus tegas terhadap dirinya sendiri. Jika Allah memberi petunjuk untuk melepaskan Samuel maka ia harus benar-benar ikhlas. Mungkin sakit hatinya saat ini juga adalah teguran dari-Nya di sebabkan sikap Nisa yang sudah kelewat batas mencintai seorang hamba, hingga Nisa terus-terusan berani mempertahankan perasaan yang tidak halal di dalam hatinya.
*****
Nisa saat ini tengah berdiri di depan sebuah lorong yang begitu gelap. Ia tidak tahu lorong tersebut jalan menuju ke arah mana. Yang jelas ia melihat sebuah cahaya terang di ujung lorong itu. Tapi anehnya, cahaya itu tidak sedikit pun membias menerangi lorong. Lorong itu tetap gelap gulita tanpa ada sedikit pun penerangan. Nisa ingin melewati lorong tersebut untuk tahu cahaya apa yang terlihat begitu terang di seberang sana. Tapi di sisi lain, ketakutan menghinggapi hati Nisa. Kegelapan membuat nyalinya ciut, ia mengurungkan niatnya seketika.
Ketika Nisa masih berdiri dengan bimbang, sebuah tangan kokoh menggenggam jemarinya. Jari-jari tangan itu berusaha memasangkan di sela-sela jari Nisa, dan terasa pas sekali. Ketika Nisa mendongak di dapatinya Samuel yang sedang tersenyum kepadanya. Laki-laki itu nampak berseri-seri, bahkan Nisa tidak pernah melihat Samuel seperti itu sebelumnya.
"Ikut aku Nisa." Ucap Samuel lembut.
Nisa mengernyit, "Kemana?"
Samuel masih memepertahankan senyuman di kedua sudut bibirnya. "Melewati lorong itu. Kita akan sampai pada cahaya terang di sana." Samuel menunjuk cahaya terang yang sejak tadi Nisa kagumi.
Rasa takut dan ragu yang tadi Nisa rasakan kali ini menguar bahkan hilang. Keberadaan Samuel di sisinya membuatnya merasa aman. Ia percaya pada Samuel, bahwa laki-laki itu akan menjaganya di dalam sana.
"Ayo, Nisa." Samuel menarik tangan Nisa perlahan. Dan langkah demi langkah berlalu menyusuri lorong gelap itu. Langkah Nisa terasa ringan, namun semakin ia berjalan mendekati cahaya, semakin pula cahaya itu menjauh. "Sam, sampai kapan kita berjalan di lorong ini?" Tanya Nisa. Ia tidak bisa melihat wajah laki-laki itu karena kondisi lorong yang begitu pekat.
"Sampai kita sampai, Nisa. Fokuslah dengan cahaya di depan sana." Samuel mengeratkan ruas-ruas jemarinya pada ruas-ruas jemari milik Nisa. Ia menggandeng Nisa dengan langkah pasti.
Nisa merasa lelah, cahaya itu tak kunjung di gapaianya. Bahkan rasanya ia sudah berjalan beratus-ratus kilo meter, namun cahaya itu jusru menjauh darinya. Perlahan-lahan, genggaman tangan Samuel di sela-sela jemarinya mengendur. "Sam, kenapa?"
Samuel tak menjawab. Genggaman tangannya semakin mengendur, membuat Nisa khawatir setengah mati akan di tinggalkan di dalam lorong gelap tersebut seorang diri. "Sam, Samuel!" Nisa terus meneriakkan nama Samuel, namun laki-laki itu tidak menjawab sama sekali. Bahkan saat ini genggaman jemarinya seolah-olah akan terlepas. Nisa semakin histeris, apalagi saat jemari tangan Samuel sudah lepas seketika dari jemarinya. Ia tidak tahu kemana perginya Samuel, yang jelas saat ini ia seorang diri di dalam lorong yang tidak di masuki seberkas cahaya pun. Nisa jatuh terduduk, menekuk lutut lalu membenamkan wajahnya di antara lengannya. Ia menangis, kehilangan arah dan tidak tahu harus kemana.
Adzan subuh yang berkumandang membangunkan Nisa dari tidurnya. Gadis itu gelagapan, lalu mengusap wajah kasar. Berulang kali ia mengucap istighfar. Mimpi apa yang baru saja ia alami? Adakah itu sebagai jawaban atas istikhorohnya semalam?
Nisa melepas mukena yang masih melekat di badannya. Ia lupa kapan ia tertidur, yang jelas ketika bangun, ia berada di lantai beralaskan sajadah. Gadis itu buru-buru ke kamar mandi, membersihkan diri kemudian bersiap-siap menunaikan sholat subuh berjamaah. Di liriknya Aya yang masih tertidur dengan pulas. Balita itu semalaman tidak rewel sama sekali. Seolah ia tahu, bahwa Nisa sedang butuh waktu meneyepi.
*****
Nisa berjalan menyusuri koridor Fakultas. Pandangannya tertunduk ke bawah, menyusuri petak demi petak ubin yang di pijakinya.
"Nis! Nisa!!!" Nisa menoleh saat di dengarnya namanya di teriakkan oleh seseorang. Ketika Nisa berbalik, terlihat Sarah yang berlari ke arahnya dengan tergopoh-gopoh. "Di panggilin dari tadi juga." Protesnya.
Nisa menaikkan alisnya seolah mewakili pertanyaan 'kenapa.'
"Kamu mau kemana?" Tanya Sarah.
"Mau balikin formulir magang." Jawab Nisa.
"Oh yaudah, balikin dulu, cepet. Abis itu aku mau cerita." Sarah mendorong punggung Nisa, membuat gadis itu bingung.
Ketika selesai menyerahkan formulir magang, Nisa di sambut dengan Sarah yang langsung berdiri kemudian menarik tangan gadis itu dengan paksa.
"Rah, mau kemana sih?" Nisa mencebik kesal.
"Ke kantin belakang." Ucap gadis itu masih menarik paksa lengan Nisa.
Ketika sampai di kantin, Nisa melongo sepenuhnya karena Sarah memesan banyak sekali makanan. Bahkan ia yakin, makanan tersebut tidak akan habis mereka habiskan berdua. "Rah, kamu habis gajian?" Tanya Nisa.
Sarah menggeleng. "Udah makan aja, jangan banyak nanya."
Nisa mendengus lalu mulai memakan es pisang ijo yang tersuguh di hadapannya.
Sarah berdehem. "Nis." Panggilnya kemudian.
Nisa hanya merespon dengan gumaman.
"Aku di lamar."
Nisa tersedak, gara-gara ia menelan es batu yang tidak hancur sepenuhnya. Sarah panik lalu menyodorkan air mineral ke arah sahabatnya tersebut. "Kamu kalo ngehalu jangan kelewatan." Muka Nisa memerah, bahkan ia terus terbatuk-batuk.
Sarah merengut, merasa jengkel karena ia tidak berbohong sama sekali tapi Nisa malah mengatainya halu, "Aku serius, Mbak e."
"Siapa yang mau ngelamar kamu?" Akhirnya Nisa mengalah walaupun masih tidak percaya.
"Pak Alfian."
Nisa melotot. Sepertinya ada yang salah dengan Sarah hari ini. Mungkin saja ada sistem syarafnya yang putus. Atau jangan-jangan Sarah sedang mengonsumsi obat-obatan hingga dia sekarang ngefly dan ngehalu? Nisa menggelengkan kepalanya. Menepis pikiran-pikiran buruknya pada Sarah.
"Kaget ya?" Gadis itu memamerkan cengirannya pada Nisa.
Nisa memukul lengan Sarah, membuat gadis itu protes. "Rah, kamu kenapa sih? Kamu nggak lagi konsumsi obat-obatan sampai ngefly, kan?"
Sarah melotot, lalu balik memukul lengan Nisa. "Heh! Pikiranmu malah kemana-mana. Aku serius." Ucapnya bersungut-sungut.
"Serius Pak Alfian ngelamar kamu?" Nisa memastikan.
Sarah mengangguk. "Iya, dan semalam aku di undang makan malam di rumahnya. Bareng keluarganya."
Nisa melongo. Seolah apa yang di katakan Sarah barusan hanyalah dongeng belaka. Bukannya mengatai Sarah tak pantas, bahkan Nisa tahu bahwa sahabatnya tersebut cukup berkelas, tapi bukankah seorang Direktur utama seperti Alfian itu mencari calon istri yang usianya sudah matang, dan memiliki pekerjaan tetap. Selain itu, biasanya permasalahan pendidikan juga di permasalahkan oleh orang-orang seperti Alfian. Sedang Sarah masih kuliah, bahkan masih ada dua semester lagi yang harus ia tempuh.
"Terus kamu ngasih jawaban apa?"
Sarah menggeleng. "Aku nggak mau." Ucapnya.
"Kenapa?"
Sarah mengendikkan bahu. "Aku takut cuma di permainkan. Secara kastaku sama dia itu beda. Dia seorang tuan yang kaya raya sedang aku rakyat jelata."
"Bagaimana kalau dia serius?" Tanya Nisa lagi.
__ADS_1
"Ya aku juga bakalan merespon serius." Ucap Sarah santai. "Dia cuma jadikan aku pelarian, Nis. Papanya jodohkan dia sama anak konglomerat, tapi dia nggak mau. **** banget, kan? Padahal tuh cewek katanya cantik, anggota dewan parlemen, berpendidikan dan pastinya tersohor."
Nisa menghela napas. "Kamu pikir semua itu bisa menjamin kebahagiaan? Enggak, Rah. Menikah dengan seseorang yang terkenal itu kebanyakan makan hati daripada bahagianya. Nggak jarang sebagian dari mereka kadang terlihat harmonis tapi keharmonisan itu hanya di pakai untuk pencitraan, bukan sungguhan."
Kata-kata Nisa barusan mengingatkannya terhadap Alfian. Semalam, laki-laki itu juga mengatakan hal yang serupa.
"Kamu yakin alasanmu menolak dia cuma karena hal itu?"
Sarah mengangguk, "Sejauh ini hanya ada alasan itu."
"Aku saranin kamu buat pikirin lagi baik-baik. Aku tau aku nggak berhak ikut campur, tapi aku ini sahabatmu, yang harus mengarahkanmu kalau saja kamu salah arah, yang harus menasehatimu kalau kamu lalai. Aku nggak mau lihat kamu sengsara, itu pastinya. Pikirin lagi baik-baik, ya."
"Kemarin kamu curiga sama Alfian, tapi sekarang kamu malah dukung dia." Sarah memutar bola matanya jengah, wajahnya di tekuk, kentara sekali kalau ia sedang kesal.
"Itu karena aku belum tau tujuan Alfian apa. Dan sekarang sudah jelas. Dia ngajakin kamu ke arah yang lebih serius. Itu artinya dia laki-laki baik, nggak perlu pake embel-embel apapun di depan, tau-tau ngelamar."
"Tapi ini terlalu mendadak Nisa. Masa iya ada orang yang ngelamar seseorang tiba-tiba? Bahkan di saat kita sama sekali belum kenal. Kalau di film-film biasanya yang kayak gitu cuma mau mempermainkan."
Nisa mendengus, "Gini nih, kalau kebanyakan nonton film. Otakmu di doktrin sama cerita-cerita fiksi tau nggak. Lagian kalo misalnya Alfian itu mau main-main, darimana dia tau banyak hal tentang kamu? Dia mungkin sudah lama tertarik sama kamu, hanya saja dia belum punya waktu yang tepat untuk mengungkapkan, who knows?"
Sarah mencebik, "Bisa aja kan dia jadi stalkerku."
Nisa menghembuskan napas kasar. Sarah ini adalah pendebat ulung, kalau bukan demi kebaikan sahabatnya ia enggan berdebat dengan gadis itu seperti sekarang ini. "Yaudah, sekarang gini, gimana kalau kamu ta'arufan dulu sama dia. Supaya kalian bisa lebih mengenal satu sama lain."
Sarah berdecak, "Dia nggak bakalan paham. Orang sholat aja di lalaikan, apa lagi hal kayak gitu." Sarah tiba-tiba berseru dengan heboh, "Oh ya, satu lagi alasanku menolak dia, dia bukan calon imam yang baik buatku. Dia menganggap enteng sholat."
"Bukannya dulu kamu yang meyakinkanku untuk mengajari Samuel beragama dengan benar?" Nisa mengucapkan kalimat itu dengan hati-hati, bukan untuk menjaga perasaan Sarah, tapi untuk menjaga perasaannya sendiri.
Sarah terdiam. Sekarang justru ia merasa bingung, dan pastinya sedikit penyesalan menyusup di dalam hatinya. "Jadi aku harus bagaimana?" Tanyanya kemudian.
"Tawarkan solusi ta'aruf. Kamu bisa mengenal dia lebih jauh sekakigus meyakinkan hatimu sendiri. Dan jangan lupa selalu libatkan Allah dalam setiap membuat keputusan. Karena kadang apa yang kita anggap terbaik bekum tentu baik bagi Allah. Tapi apa yang Allah anggap baik, sudah pasti bahwa itu terbaik untuk kita."
*****
Samuel berkali-kali menghubungi Nisa, namun gadis itu sama sekali tak mengangkat teleponnya. Saat ini suasana hati Samuel sedang cemas, ia mengira-ngira mungkin saja Nisa sedang marah padanya. Ia mengacak-acak rambutnya frustasi.
"Lo kenapa, Sam?" Vika yang sejak tadi mengamati gerak-gerik Samuel ikut jengah, karena laki-laki itu seperti cacing kepanasan. Ia terus menggeliat-geliat sambil mengacak-acak rambut dan berkali-kali mengecek ponselnya.
"Nggak papa." Jawabnya singkat.
Vika berdecak, "Kita udah berapa lama sih kenal? Sebulan? Dua bulan?" Vika menatap ke arah Samuel dengan tatapan jengah. "Udah 3 tahun lebih, Sam. Dan lo masih nganggap gue seperti orang lain, seolah-olah gue nggak paham sama keadaan lo."
Samuel melirik Vika sekilas, lalu kembali memfokuskan pandangan pada layar ponselnya yang tak menunjukkan tanda-tanda bahwa Nisa akan menghubunginya balik.
"Gue bukan mau ikut campur, kalau lo mau tau. Gue cuman mau peran gue sebagai temen lo di fungsikan. Kali aja kan gue bisa bantu kalo misalnya lo ada masalah."
Samuel menghela napas lalu membuangnya dengan kasar. "Gue lagi ada masalah sama Nisa."
Vika terdiam. Ia sudah menebak, pasti karena Nisa. Siapa lagi memangnya yang bisa membuat laki-laki itu segalau ini kalau bukan Nisa.
"Gue ngelakuin kesalahan yang fatal." Ucap Samuel purus asa.
Vika memperbaiki posisi duduknya, lalu mulai menyimak cerita Samuel dengan seksama.
"Nisa ngeliat gue pelukan sama Alila, lagi."
Vika melotot. Yang benar saja? Kalau menjadi Nisa, ia pun akan melakukan hal yang sama. Tapi Vika memilih bungkam, sampai Samuel menyelesaikan ceritanya.
"Gue bingung mendefinisikan perasaan gue. Padahal kemarin hati gue udah mantap pilih Nisa, tapi begitu melihat Alila dalam keadaan yang benar-benar kacau, entah kenapa dasar hati gue seperti merasakan sakit. Seolah-olah gue mau menjadi penghapus kesedihan Alila. Dan ya, waktu itu aku baru menyadari satunhal, bahwa ternyata perasaanku pada Alila masih belum hilang seutuhnya. Bahkan meskipun gue udah tanamkan rasa benci dalam hati gue."
Samuek terdiam, wajahnya menunjukkan frustasi yang teramat sangat.
"Lo tau, cinta dan benci itu hnya memiliki sekat yang sangat tipis. Bahkan saking tipisnya sampai sekat itu tidak terlihat. Itulah sebabnya, kenapa banyak orang yang memulai perjalanan cinta dari perasaan benci jadi cinta." Tutur Vika. "Sekarang coba lo tanya sama diri lo sendiri, siapa sebenarnya yang lo pilih, Nisa atau Alila. Dan ketika kamu sudah memilih, maka kamu harus benar-benar melepaskan salah satunya." Vika mengucapkan nasehat itu dengan tulus. Ia tidak lagi merasakan perasaan sakit hati yang biasa ia rasakan ketika Samuel bercerita perihal hubunganya dengan Nisa.
Vika menghela napas, "Apa yang ngebuat lo bingung? Bukannya sudah jelas, antara masa lalu dan masa depan, mana yang lebih pantas kamu perjuangkan?"
"Gue serius sama Nisa. Bahkan gue udah berjuang demi dia. Meskipun kadang, perasaan minder karena merasa nggak pantes selalu gue rasain. Tapi gue coba tepis itu, dengan cara terus memperbaiki diri. Tapi di sisi lain, perasaan gue ke Alila masih ada. Gue nggak pernah bisa ngeliat dia sakit hati. Dan kemarin, saat ngeliat dia terluka karena gue, rasanya hancur, Vik. Gue langsung menghujat diri gue sendiri, gue merasa jadi laki-laki paling brengsek."
"Lo pernah dengar premis ini, katanya kalau kita jatuh cinta dengan 2 orang dalam satu waktu, maka pilihlah yang kedua. Karena kamu tidak mungkin mencintai yang pertama kalau hatimu justru bisa terbuka untuk yang kedua."
Samuel memejamkan mata sesaat. Lalu ia berdiri, "Oke, gue udah bisa ngambil kesimpulannya. Gue harus perjuangin apa yang pantas buat di perjuangkan. Thank's, Vik." Samuel berlalu begitu saja, meninggalkan Vika yang masih menebak-nebak, kira-kira siapa yang akan dipilih oleh laki-laki itu.
*****
Nisa saat ini sedang duduk berhadap-hadapan dengan Abinya. Saat pulang kuliah tadi, Abinya sudah menunggu di ruang tengah. Beliau mengatakan bahwa ada sesuatu hal yang di sampaikan kepada Nisa. Entah kenapa, Nisa memiliki firasat buruk akan hal itu. Mungkin saja Abinya akan memarahinya.
"Nduk, sudah sejauh apa hubunganmu dengan Samuel?"
Nisa msngangkat wajahnya yang sejak tadi tertunduk. "Ma…maksud Abi?" Ia justru balik bertanya.
"Jujur saja, Nduk. Abi sudah tau. Meskipun kamu nggak pernah ngasih tau Abi."
Nisa gelagapan, "Bukan maksud Nisa nggak mau ngasih tau Abi. Hanya saja Nisa menunggu waktu yang tepat."
Abi menghela napas panjang, "Abi tau. Tapi yang Abi tidak pahami, kenapa kamu masih pilih dia di saat Abi sudah menolaknya? Apa kamu mengira Abi berlaku jahat terhadapmu, Nduk?"
Nisa menggeleng lemah, mulutnya terkatup rapat. Ia tidak memiliki pembalaan apapun atas dirinya.
"Abi memang tidak tau pasti yang terbaik untukmu. Tapi Abi bisa mengira-ngira, mana yang baik buat kamu." Abi berdehem, kemudian kembali melanjutkan kalimatnya, "Abi dengar kamu sudah berkunjung ke rumahnya?"
Nisa kembali mengangguk, matanya berkaca-kaca, ia merasa bersalah karena tak melibatkan Abinya dalam setiap tindakan yang ia lakukan.
Abi menghembuskan napas berat, "Bagaimana? Apa keluarganya menerimamu?"
Nisa mengangguk pelan.
"Mereka bersikap baik denganmu?"
Kembali Nisa mengangguk. Ia masih tidak mau berbicara sepatah kata pun, karena merasa malu kepada Abinya.
"Nduk, mereka memang mungkin bersikap baik kepadamu. Mereka mungkin menyukaimu. Tapi hubunganmu tidak hanya di ukur sampai disitu. Mereka melakukan itu karena mekihat ada kebaikan dalam dirimu. Semua orang tua menginginkan segala kebaikan untuk anaknya, begitu pun orang tua Samuel. Mereka mengira, bahwa kamu adalah orang yang tepat untuk anaknya. Tapi apakah kamu pernah berpikir, bahwa itu hanyalah sebatas kehendak keinginan yang kapan saja bisa berubah jika ada yang lebih baik darimu? Dan ya, Abi semakin khawatir saat melihat Samuel berpelukan dengan Alila kemarin."
Nisa tersentak. Ia harusnya memikirkan hal itu, Abinya pasti mengetahui perihal permasalahan kemarin. Sebab Samuel dan Alila melakukannya di Pesantren, di wilayah yang di kuasai oleh Abinya.
"Kalau dia mencintaimu, maka ia tidak akan pernah membiarkan dirinya di sentuh oleh wanita mana pun. Dia seharusnya memiliki prinsip yang kuat, bahwa ia mencintaimu dan ia harus menjaga perasaanmu."
Setetes air mata jatuh bebas di atas dinginnya permukaan lantai marmer. Nisa membenci dirinya sendiri yang begitu bodoh. Tidakkah ia menyadari hal itu saat pertama kali ia melihat Alila memeluk Samuel saat itu juga? Dan mengapa ia dengan bodohnya justru menganggap bahwa hal itu adalah kesalah pahaman yang bisa di perbaiki?
"Sekarang Abi tanyakan padamu, apa kamu masih menginginkan Samuel? Kalau kamu masih kekeuh menginginkan dia, maka tidak banyak yang bisa Abi lakukan. Abi hanya mempercayakan amanah kepadamu untuk menggiring dia kepada hidayah. Abi hanya bisa berharap, mudah-mudahan kamu yang bisa menjadi jalan dia untuk meraih hidayah tersebut."
Nisa tergugu. Abinya mengatakan hal itu, bukankah itu artinya Abinya telah memberikan seluruh keputusan kepada dirinya? Mungkin Nisa tidak lagi butuh perenungan panjang, ia sudah tahu hal apa yang akan ia lakukan selanjutnya.
*****
Sore hari adalah pusat kepadatan kota Jakarta. Ya, meskipun Jakarta selalu padat dari waktu ke waktu, tapi sore hari adalah puncaknya. Waktu pulang yang bertubrukan dengan orang-orang kantoran, para pekerja lepas, anak sekolah, mahasiswa, menjadikan Ibu kota tersebut bising dan polusi bertambah.
Vika mempercepat langkahnya saat perutnya mengeluarkan bunyi yang sangat tidak enak di dengar telinga. Ia sedang menunggu ojol yang di pesannya tadi melalui aplikasi yang ada di ponselnya. Jarak antara Kampus dan kosnya memang tidak terlalu jauh, hanya berkisar kurang lebih 2 km.TApi tetap saja, apabila di tempuh dengan berjalan kaki akan sangat melelahkan, di tambah dengan perut keroncongan. Yang ada bukannya sampai di kos, ia malah berbelok di rumah makan pinggir jalan yang menawarkan banyak makanan-makanan lezat.
Ah, memikirkan makanan rasanya ia ingin cepat-cepat sampai di kos. Walaupun makanan di kosnya tidak jauh-jauh dari mie instan, namun tetap saja rasanya melezatkan. Membayangkan mie instan yang di masak campur telur di tambah dengan irisan cabe rawit, hmmm pasti aromanya menggoda dan rasanya begitu nikmat.
"Mbak Vika, ya?" Seorang bapak-bapak menghentikan motornya tepat di hadapam Vika. Bapak-bapak itu mengenakan jaket Ojol yang terkenal, membuat Vika bisa menebak, bahwa ia adalah Ojol yang di pesannya tadi.
"Iya, pak." Vika tersenyum ramah.
__ADS_1
"Maaf ya nunggu lama, Mbak. Tadi saya harus nganterin pesenan dulu."
Vika mengangguk paham. Ia lebih suka dengan orang yang jujur, ketimbang orang yang menutup-nutupi kesalahan agar dirinya tidak terlihat bersalah.
Vika mengenakan helm yang di sodorkan kepadanya lalu beregas naik ke jok belakang.
Kendaraan roda dua tersebut melaju dengan kecepatan sedang sebelum akhirnya bergerak meliuk-liuk mencari celah untuk menembus kemacetan. Vika sampai berpegangan erat pada jaket bapak-bapak ojol yang di tumpanginya, karena motor begitu lincah menyerobot kepadatan.
Ketika tepat di depan lampu merah, semua kendaraan terhenti. Namun di depan sana ada banyak orang berkerumun seperti semut yang menemukan makanan manis.
"Wah kayaknya ada kecelakaan." Gumam bapak-bapak ojol tersebut seolah menjawab rasa penasaran Vika.
Lampu lalu lintas sudah menunjukkan warna hijau, kemadaraan mulai bergerak kembali. Begitu pula dengan Ojol yang di tumpangi Vika. Namun, ketika kendaraan mendekat ke arah kerumunan, berkisar kurang lebih 3 meter, kondisi jalan macet total. Bahkan tidak ada lagi celah untuk menerobos jalanan.
"Yah Mbak, kayaknya kita bakal kejebak disini." Ucap Bapak-bapak ojol.
"Yaudah nggak papa, Pak. Sampai sini saja. Biar saya jalan kaki, kos saya sudah dekat kok." Vika melepaskan helm lalu menyerahkan kepada bapak-bapak ojol.
"Nggak papa nih, Mbak. Tanggung jawab saya kan nganterin Mbak sampai tujuan. Masa iya cuma sampai di sini." Bapak itu terlihat menyesal.
"Nggak papa, Pak. Daripada lama nunggunya. Itu kos saya dekat banget kok udahan." Ucap Vika meyakinkan.
Baoak ojol itu akhirnya mengalah, "Yaudah, Mbak. Tapi tolong tetap kasih bintang lima, ya." Ucapnya memohon.
Vika tersenyum tulus. Ia paham dengan apa yang bapak itu rasakan. Betapa bintang berpengaruh penting untuknya. "Iya, Pak. Tenang saja."
"Makasih ya, Mbak. Dan hati-hati di jalan."
Vika tersenyum, lalu kemudian melambai dan mulai berjalan di pinggir-pinggir trotoar.
Ketika Vika tiba di keramaian itu, karena merasa penasaran, ia melanngkah maju membelah kerumunan, matanya menangkap sosok yang familiar sedang terbaring di tengah jalan.
Vika bergerak mendekati sosok tersebut, "Sudah ada yang menghubungi ambulance?" Tanya Vika pada orang-orang yang bedada dalam kerumunan tersebut.
"Sudah, mbak. Sementara jalan kesini." Ucap seorang laki-laki berbadan tambun.
"Dia kenapa?" Vika bertanya pada laki-laki berabada tambun tersebut.
"Korban tabrak lari, Mbak. Dia di tabrak dari belakang."
Vika mengambil sapu tangannya untuk menyeka darah di pelipis laki-laki yang sedang tergeletak tersebut.
Ketika Ambulance datang, Vika buru-buru masuk. Bahkan ketika petugas kesehatan menanyakan siapa anggota keluarganya, Vika mengajukan diri mengaku sebagai keluarga dari laki-laki tersebut. Saat itu Vika panik, apalagi melihat begitu banyak darah di bagian tubuh laki-laki tersebut.
*****
Vika menautkan jari-jarinya, harap-harap cemas dengan kondisi laki-laki yang sedang berada dalam UGD. Sudah lebih dari setengah jam dokter tidak kunjung keluar. Dan ya, Vika tidak suka menunggu. Menurutnya kegiatan menuggu adalah sebuah kegiatan yang paling menyebalkan.
Derit pintu mengalihkan perhatian Vika. Seseorang berpakaian serba putih dengan masker yang menutupi bagian mukut dan hidungnya keluar dari ruangan. Vika buru-buru berdiri dan menghampiri dokter tersebut. "Bagaimana keadaannya, dok?" Tanya Vika.
Doker itu melepas maskernya, "Kondisinya stabil. Hanya saja dia mengalami patah tulang di bagian lengannya."
Dokter itu pergi, setelah menyarankan Vika untuk menebus obat di apotek rumah sakit. Namun bukannya pergi menebus obat, Vika malah bergerak memasuki UGD.
Vika terdiam mengamati wajah yang baru di temuinya sebanyak dua kali. Wajah itu terlihat damai, dengan kedua kelopak mata yang tertutup. Harus Nisa akui, bahwa laki-laki di hadapannya ini memiliki wajah di atas stabdar rata-rata alias ganteng banget. Bahkan perban di sekitar kepalanya sama sekali tak mengurangi kadar ketampanan laki-laki tersebut. Sejenak Vika menggelengkan kepala, ia sadar baru saja melakukan kesalahan karena mengagumi laki-laki yang baru di kenalnya. Ralat, yang hanya ia ketahui namanya.
"Mbak yang nolongin saya?"
Vika terlonjak saat laki-laki yang tadinya tertidur itu menegurnya. Karena fokus mengamati wajah tidur laki-laki itu, ia sampai tak menyadari bahwa laki-laki tersebuta sudah siuman.
"Eh… iya, Mas. Iya." Ucapnya gugup.
"Makasih ya, Mbak." Ucapnya ramah.
Laki-laki itu berusaha duduk agar terlihat lebih sopan. Namun Vika menahan pergerakannya. "Eh Mas, nggak papa. Baring aja. Mas belum benar-benar pulih."
Laki-laki itu tersenyum. Namun satu yang Vika sadari, sejak pertama kali ia bertemu dengan laki-laki itu, ia tidak pernah mau menatap mata Vika ketika Vika berbicara padanya. Hal itu membuat Vika tidak nyaman tentunya.
"Makasih ya, Mbak." Ucapnya lagi. "Nanti biaya perawatan biar saya ganti."
Vika berkedip-kedip lucu. Ia jadi ingat perdebatan absurd dengan laki-laki itu waktu pertama kali mereka bertemu. Saat itu ia membayarkan Vika barang belanjaan yang ia beli, dan ketika Vika akan mengganti uangnya, laki-laki itu malah menolak. Dan sekarang, ia justru mengatakan akan mengganti biaya perawatan yang Vika bayarkan. Sesaat Vika tersenyum sendiri. "Nggak usah, Mas. Anggap saja itu sebagai uang ganti saya waktu mas bayarin belanjaan saya tempo hari." Ucapnya.
Laki-laki mengerutkan kening dalam, "Ya? Maksudnya Mbak?"
Vika ikut-ikutan heran. Pasalnya dirinya saja masih mengingat laki-laki itu, tapi justru laki-laki itu melupakannya. Ah, hal yang tidak penting. Cepat memang di lupakan, pikir Vika.
"Mas yang bayarin belanjaan saya di super market waktu hari. Itu loh Mas uang mau saya ganti tapi Mas menolak. Kalau tidak salah Mas namanya Naim, kan?" Tanya Vika, ia berusaha mengingatkam laki-laki tersebut. Ia menggeruti sendiei dalam hati, masa sih ia benar-bemar melupakan kejadian itu. Padahal kejadian itu juga belum lama terjadi, baru sekitar 3 hari yang lalu. Atau jangan-jangan dia hilant intgatan? Tapi tadi dokter tidak bilang ada gangguan pada otak atau kepalanya. Vika menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Laki-laki itu masih terlihat berpikir, sebelum akhirnya ia berkata, "Oh, Mbak yang saya tumpangi trolinya dengan barang belanjaan saya? Yang belanjanya sedikit tapi pakee troli? Kan?"
Vika baru saja akan tersenyum, namun kalimat laki-laki itu memudarkan niatnya. Ternyata ada orang yang berpikiran seperti itu juga. Vika pikir jika orang-orang yang tak mengenalinya, maka mereka pasti mengabaikan apa yang Vika lakukan.
Vika mengangguk canggung, "Iya."
"Dunia se sempit daun kelor. Ternyata benar ya istilah itu?" Naim berbicara tanpa menatap lawan bicaranya.
Lagi-lagi Vika hanya tersenyum canggung.
Suara gemerucuk cacing-cacing nakal di perut Vika memecah keheningan. Dan kabar buruknya, Naim langsung menoleh ke arahnya. Sesaat Vika membeku di tempat. Wajahnya merah padam. Harusnya ia mengisi perut tadi sembari menunggu dokter menangani Naim. Kalau begini kan, ia sendiri yang merasa malu.
"Mbak, lapar ya?" Tanya Naim polos.
Vika menggaruk kepalanya yang tak gatal, "Mmm iya mas. Ini kan memang ja, makan malam."
Naim tersenyum. Dih, manis sekali, pikir Vika.
"Kalau begitu Mbak bisa ke kantin untuk mengisi perut. Nnnnn nnn n mau sholat dulu." Ucapnya. Saya
Vika menaikkan alisnya seolah bertanya, 'kenapa?'
"Kamu kan masih sakit, apa harus tetap melaksanakan sholat?" Tanya Vika.
Laki-laki itu menyunggingkan sebuah senyuman yang begitu meneduhkan, "Mbak, sholat itu kewajiban. Selagi kita masih di beri kemampuan maka kita harus melaksanakan."
"Tapi kan, sholat harus di laksanakan berdiri. Kamu kan tidak bisa berdiri saat ini."
"Sholat afdholnya memang di lakukan dengan berdiri. Tapi Islam tidak pernah mempersulit. Karena tidak selamanya manusia itu sanggup berdiri. Maka Islam membuat rukhshah, atau keringanan. Kalau sholat tidak bisa di lakukan berdiri, maka di bolehkan duduk. Kalau tidak bisa duduk, maka bisa di lakukan dengan berbaring." Tutur Naim.
Vika di buat kagum oleh penuturan laki-laki itu. Tuturkatanya begitu lembut, tidak terkesan sok tahu atau menggurui. "Maaf saya tidak tahu itu. Karena saya bukan muslim."
Naim kembali tersenyum. Sampai-sampai hal itu membuat Vika percaya, bahwa dalam islam, senyum adalah sedekah. Dan ya, Naim sudah sangat dermawan saat ini karena telah bersedekah sepanjang waktu kepada Vika.
"Nama mbak siapa?" Tanya naim kemudian.
Ada seuatu di dalam hati Vika yang berdegup-degup ganjil. perasaan meletup-letup seperti kembang api. Vika familiar dengan perasaan tersebut. hanya saja perasaan itu biasanya hanya ia rasakan saat sedang bersama Samuel.
"Vika." ucapnya kemudian.
Naim kembaki tersenyum, "Baik Viika, kamu boleh mengisi perut dulu. dan saya akan sholat, menunaikan kewaijiban saya. tolong setelah selesai makan kembali ke sini. saya akan mengganti biaya perawatan."
Vika mengangguk sebelum akhirnya menerima arahan Naim, meskipun ia tidak ingin menerima biaya ganti perawatan, namun Vika bertekad untuk tetap kembali. Entah kenapa, berlama-lama dengan Naim rasanya menyenangkan.
Vika tidak sepenuhnya keluar dari ruangan. gadis itu memuuskan untuk tinggal sejenak guna melihat apa yang Naim lakukan. laki laki itu terlihat menggosok gosok tangan lalu mukanya kemudian mengangkat tangan dan mulutnya mulai komat kamit entah membaca apa. Tapi vika menebak, bahwa laki-laki itu sedang sholat. Vika mengamati setiap pergerakan yang dilakukan oleh Naim. Ia begitu khusyu' mengerjakan sholat. Dan entah kenapa ada seuatu dalam diri Vika yang medasa tertarik dengan Islam setelah melihat bagaimana cara Naim tetap beribadah di saat dirinya sedang sakit. Menurutnya, hal seperti itu hanya ia jumpai di dalam Islam saja.
__ADS_1