
Nisa meletakkan panci yang berisi sup iga begitu saja saat di dengarnya suara tangisan Aya dari arah kamar. Gadis itu berlari tergopoh-gopoh.
“Iya sayang, Ummah disini.” Aya langsung terdiam ketika Nisa mengangkatnya kedalam gendongan.
Balita tersebut memeluk Nisa erat, seolah-olah Nisa adalah pusat dunianya yang tak boleh kemana-mana. Nisa mencium pucuk kepala Aya dengan penuh rasa sayang. Melihat hal itu, Abi datang menghampirinya.
“Nduk, sini duduk dulu. Abi mau bicara.”
Nisa mengangguk patuh lalu duduk di sisi ranjang.
“Kamu kan sudah semester tua, sebentar lagi disibukkan sama magang dan skripsi, apa tidak sebaiknya Aya dititipkan di Yayasan dulu?” Abi menasehati Nisa dengan hati-hati, khawatir jika menyinggung perasaan putrinya tersebut.
“Nisa bisa bagi waktu, Bi. InsyaAllah. Nisa juga nggak tega, kalau malam Aya biasanya rewel.” Gadis itu menatap Aya yang kini sudah terlelap kembali di pelukannya.
Abinya manggut-manggut. “Bukan maksud Abi mau memisahkanmu dengan Aya, hanya saja kamu mungkin tidak bisa terus selamanya bersama dia.”
Ucapan Abinya membuat pasokan oksigen di dada Nisa mendadak menyempit.
“Kenapa, Bi?”
“Nanti setelah menikah, suami dan keluarga suamimu belum tentu mau menerima keberadaan Aya.”
Nisa terdiam. Apa salah Aya? Kenapa balita yang tak berdosa ini harus selalu mengalami penolakan dalam hidupnya? Sebulir air mata jatuh bebas dari pelupuk mata Nisa.
“Apapun yang terjadi, Aya akan tetap sama Nisa, Bi.”
Tidak akan pernah ada yang memisahkan dirinya dengan Aya. Kesibukan tidak boleh menjadi alasan untuknya menelantarkan balita kesayangan tersebut. Apalagi pernikahan. Bukankah pernikahan adalah ikatan yang suci? Ikatan itu seharusnya tidak boleh membawa dampak buruk apapun. Aya seperti mata yang ia gunakan melihat, telinga yang ia gunakan untuk mendengar, berpisah dengannya sama saja dengan kehilangan separuh dunianya.
\*
Samuel memakai kaos hitam, jeans hitam, sepatu Adidas hitam, danjaket jeans biru tua yang sudah kelihatan buluk karena warnanya memudar. Semua kesan hitam itu melebur dengan desain interor Kafe Sweetness yang juga di dominasi warna coklat dan hitam. Sarah sedari tadi memandangi Samuel tanpa henti. Beberapa kali berbisik, “Fabiayyi alaa irobbikuma tukadziban.”
__ADS_1
“Nis, kamu tau ndak itu yang ngobrol sama Samuel siapa?” Sarah dengan sangat antusias bertanya pada Nisa.
Nisa memperhatikan Samuel yang duduk di bangku pojok Kafe dengan seorang perempuan bergaya nyentrik berambut panjang yang di cat kemerah-merahan. Mereka nampak sedang terlibat perbincangan serius.
“Dia public influencer sama selebgram gitu, Nis. Masa kamu nggak ngenalin sih. Dia terkenal banget paddahal di dunia perinstagraman. Tapi tuh cewek kayaknya udah punya pacar deh, soalnya di ig nya banyak postingannya sama bareng cowok gitu. Terus si Sam siapanya dia, ya? Atau jangan-jangan selingkuhannya lagi?”
Nisa mendelik.
“Istighfar kamu, Rah. Kita kesini buat ngisi perut, bukan buat ghibahin atau ikut campur urusan orang.” Nisa memperingatkan.
Sarah menggaruk kepalanya yang dibungkus jilbab, “Iya juga ya, ngapain aku jadi ngeliatin mereka berdua mulu,ya. Astaghfirullah, kan aku dalam proses move on.”
Nisa terkekeh, bahkan ia sampai geleng-geleng kepala melihat sikap absurd Sarah. Setahu Nisa, Sarah sudah memutuskan untuk tidak lagi mengaggumi Samuel. Namun di beberapa kesempatan, gadis itu terkadang masih khilaf. Jika saja Nisa menceritakan perihal Samuel yang memintanya untuk mengajarinya cara beragama yang benar, mungkin saja Sarah akan pingsan mendengarnya.
Nisa melirik Samuel dengan ekor matanya, laki-laki itu berdiri dari tempat duduknya. Meniggalkan gadis yang diajaknya berbincang tadi seorang diri. Ketika Samuel berbalik, Nisa kedapatan sedang melirik laki-laki tersebut. Segera Nisa mengucap istighfar, hingga Sarah yang sedang memasukkan potongan burger di mulutnya bertanya heran, “Kenapa, Nis?”
Nisa menggeleng, lalu meminum jus alpukat dihadapannya dengan gerakan menyedot cepat. Setelahnya gadis itu berusaha menyembunyikan wajahnya.
“Nisa. Nggak nyangka kita bakal ketemu disini.”
Percuma saja dirinya bersembunyi. Faktanya, Samuel justru menghampirinya tanpa rasa berdosa.
“Iya, sejak kamu datang sama cewek yang dipojok sana.” Suara itu berasal dari Sarah.
Samuel sempat berbalik, namun setelahnya terkekeh. “Dia rekan kerjaku.” Jelasnya.
Nisa yang sejak tadi hanya terdiam kali ini berdehem mencairkan suasana. Samuel melihat kearahnya, “Jadi gimana, Nis? Kita bisa mulai darimana dulu?”
Sarah yang mendengar ucapan Samuel menatap Nisa dengan tatapan ingin tahunya. Nisa yakin, setelah ini Sarah pasti langsung menuntut penjelasan Nisa.
“Belum aku pikirkan.” Nisa cari aman. Namun siapa sangka, bahu laki-laki di hadapannya langsung melorot kehilangan semangat.
\*
__ADS_1
“Senang bertemu sama kamu.” Gadis itu menyalami Samuel sambil tersenyum manis yang dibalas Samuel dengan anggukan singkat.
Hari ini ia ditugaskan untuk menemui salah seorang public influencer kondang yang rencananya akan diundang BEM Institut pada saat pembukaan kuliah perdana nanti.
Gadis dihadapannya tadi melenggang pergi setelah berpamitan dengan Samuel. Ia mengamati punngung gadis tersebut dan pakaian nyetrik yang dikenakannya. Bahkan ia tadi sampai mengira bahwa ia salah orang. Mengingat wajah dan gaya berbusana wanita tersebut yang jauh lebih cocok disebut beauty vlogger ketimbang seorang influencer.
Samuel berbalik menuju parkiran, namun sesaat pikirannya tertuju pada Nisa yang tadi sempat ia jumpai di dalam Kafe. Lagi-lagi gadis itu menunjukkan pesona uniknya. Tadi ia sempat mendapati Nisa melirik dirinya dengan ekor matanya. Namun tak berlangsung lama, karena saat ia menangkap basah apa yang dilakukan Nisa, buru-buru gadis itu menyembunyikan wajahnya. Seulas senyuman terbit dari bibir Samuel. Benar-benar gadis yang tidak bisa ditebak, pikirnya.
Samuel melajukan motornya membelah padatnya jalanan Ibukota. Laki-laki itu hendak menuju Basecamp untuk membahas agenda-agenda yang akan dilaksanakan pasca liburan usai nanti, bersama dengan rekan-rekan BEM yang masih tersisa.
Banyak anggota BEM yang memutuskan untuk pulang ke kampung halaman masing-masing. Termasuk Vika. Gadis itu bahkan tak mengabari Samuel. Apa sebegitu nyamannya di Kampung sendiri sampai-sampai melupakan teman-teman dan kerjaan yang masih tersisa di Kampus?
Karena kepulangan Vika dan beberapa anggota lain, Samuel dan Fathur yang memang tak memiliki kampung halaman, terpaksa harus mengambil alih tugas-tugas yang sebenarnya bukan menjadi tanggung jawab mereka. Keduanya bekerja sama mengisi waktu liburan yang tidak ada bedanya dengan hari biasa. Bertemu dengan proposal, proker, berkas-berkas, serta mesin print yang tak pernah berhenti bekerja.
Begitu tiba di Kampus, Samuel langsung memarkirkan motornya di Parkiran depan Masjid, lalu bergegas menju Basecamp. Saat membuka pintu Baecamp, pemandangan yang pertama kali ditangkap oleh matanya adalah seorang gadis yang tengah sibuk mengetik entah apa di depan laptop.
“Vika?”
Gadis itu terkejut. Sesaat ia menghentikan aktivitasnya.
“Kapan lo balik?”
Vika kembali memusatkan perhatiannya pada layar laptop. “Kemarin. Percuma aja ternyata, jiwa gue di Rumah tapi pikiran gue disini terus.”
Samuel terkekeh, merasa senang melihat rekannya tersebut sudah seperti biasa. Tidak lagi seperti Vika yang beberapa hari lalu urung-uringan tidak jelas. Tanpa Vika, banyak pekerjaan yang selesai tidak tepat waktu. Benar kata orang, eksistensi seseorang akan jauh lebih terasa ketika seseorang itu tidak ada. Vika adalah bagian organ penting dari BEM yang tidak bisa hilang begitu saja. Apabila hal itu terjadi, maka bersiap-siaplah BEM berjalan pincang dan mengalami kekacauan.
Terima kasih sudah mampir di Cinta Yang Halal, Jangan lupa untuk tinggalkan Like dan Comment yah guys..., Jangan lupa juga untuk baca karya author yang lain, kalian bisa klik profile aku dan bisa pilih cerita mana yang ingin kalian baca.. 😍😍😍
.
.
__ADS_1
.
Love Author.