Cinta Yang Halal

Cinta Yang Halal
22


__ADS_3

Suara langkah yang berjalan tergesa-gesa berlari-lari kecil di sebuah lorong yang tidak begitu padat manusia. Sesekali ia melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Pukul 08:30. Masih terlalu pagi untuk menghadiri perkuliahan bagi semester tua. Namun Nisa terlihat terburu-buru. Gamis lebarnya beterbangan kesana -kemari tertiup angin. Hari ini, ia ada jadwal bertemu dengan dosen pendamping, guna membahas perihal magang yang akan dilaksanakan semester ini. Nisa ingin meminta beberapa arahan dari dosen pendampingnya tersebut, terkait dengan niatnya yang tidak ingin di tempatkan di tempat magang yang terlalu jauh.


Ketika sampai di depan sebuah pintu besar, ia menghentikan langkahnya. Tanpa menunggu waktu lama, Nisa segera mengetuk pintu tersebut. Satu dua kali ketukan tak ada jawaban. Nisa mencoba memutar knop, terkunci. Harusnya dosen pendampingnya sudah ada di dalam, mengingat semalam ia sudah membuat janji untuk bertemu.


Nisa merogoh ponsel di dalam tasnya. Ia membuka history chat dengan Bu Mardiah selaku dosen pendamping. Begitu membaca ulang chatnya, Nisa menepuk jidat, “Astaghfirullah, pukul 10 ternyata.” Ia memasukkan kembali ponselnya kedalam tas. Hari ini ia bangun melebihi waktu yang seharusnya, gara-gara baru bisa tidur sehabis subuh.


Aya rewel, dan tidak tidur semalaman karena demam tinggi. Nisa harus terjaga semalaman untuk menjaga balita tersebut. Selepas subuh, Aya baru bisa tidur dengan tenang, dan Nisa tak sengaja ikut tertidur, alhasil ia baru terbangun pukul 06 lewat.


Teringat akan janjinya dengan Bu Mardiah, Nisa bergegas mandi kilat dan kejar-kejaran dengan dua jarum jam hingga sampai di Kampus.


Sesampainya di Kampus, lima menit sebelum pukul 08:30, dengan berpeluh dan napas memburu hanya untuk mendapati Bu Mardiah. Tetapi begitu sampai, ia harus menelan kecewa, dosen pendampingnya tersebut tidak ada. Ia yang kurang fokus akibat terburu-terburu, membuatnya salah ingat dengan jadwal yang ia sepakati sebelumnya.


Nisa menghembuskan napas kasar. Jika ingin kembali lagi ke Rumah, maka hanya akan membuang-buang waktu saja. Akhirnya ia memutuskan untuk ke Perpustakaan. Gadis itu berjalan kembali melewati Gedung Fakultas FISIP, mengingat jalan itu adalah akses terdekat menuju Perpustakaan.


Nisa mengedarkan pandangan ke selasar lantai satu dan dua. Sederet pintu ruang Kelas tertutup. Bisa jadi, ada perkuliahan semeste muda, pikirnya. Ia kembali melanjutkan langkahnya mengabaikan kondisi sekitar yang sepi.


Kebiasaannya yang selalu berjalan menunduk, Nisa tak menyadari ketika ada sosok yang tiba-tiba menghalangi langkahnya. Aroma percampuran mint dan vanilla menusuk indra penciuman. Nisa mengamati sepatu converse butut yang dikenakan sepasang kaki milik orang di hadapannya.


Ketika ia mengangkat pandangan, sesosok laki-laki bertubuh jangkung berkemeja kotak-kotak biru safir yang tidak dikancing. Tampak kaos hitam polos menutupi bagian dalamnya. Salah satu tangannya yang tampak berotot mencengkeram tali tas ransel.


Rambut panjangnya di kucir satu kebelakang. Wajahnya bersih dan terlihat sesegar selada air yang baru di panen. Hidung mancungnya menaungi setangkup bibir melengkung. Laki-laki itu melempar senyum lebar kearah Nisa. Suara berat yang familiar membuat ribuan kupu-kupu menari di perutnya saat sosok di hadapannya tersebut menyapa, “Hai.”


Sedetik, Nisa mengerjapkan mata. Tak menjawab sapaan tersebut, ia justru mengalihkan pandangannya untuk menetralkan detak jantungnya yang melompat-lompat nakal.


Samuel adalah laki-laki pertama yang menumbuhkan degup tak tahu malu di setiap kali mereka berjumpa. Nisa tidak pernah seperti ini. Bukannya tak pernah menyukai lawan jenis, sebagai manusia normal Nisa juga pernah merasakan fitrah yang ditipkan Sang Maha kuasa tersebut di dalam hatinya. Ia pernah menyukai seseorang, hanya saja efek dari rasa sukanya tersebut tak sehebat efek yang ditimbulkan saat ia bertemu dengan Samuel.


“Ngapain disini?” Samuel masih berusaha membangun topik pembicaraan.


Nisa berdehem pelan, “Mau ke Perpus.”


Samuel kembali tersenyum, seolah-seolah senyumnya begitu mudah ia bagikan kepada siapapun.


“FK lebih deket sama Perpus padahal.” Ia memicingkan matanya.


Nisa mengehmbuskan napas jengah, “Tadi saya dari Rektorat. Satu-satunya akses tercepat dari sana ke Perpus ya lewat sini.”


Laki-laki itu mengangguk-angguk sambil terkekeh, “Oke, anggap aku percaya.”


“Saya tidak punya banyak waktu, Assalamu’alaikum.” Nisa malas beradu argumen. Ia masih menyayangi kondisi jantungnya daripada berlama-lama dengan laki-laki tersebut.


“Bisa kita bahas masalah yang waktu itu?”


Kalimat itu menghentikan langkah tergesa Nisa. Samuel kembali menghampiri dan mensejajarkan dirinya disamping gadis yang hari ini memakai tudung abu-abu gelap tersebut.


“Bagaimana?” Tanyanya lagi.


“Apa yang kamu butuhkan untuk dipelajari terlebih dahulu?”


Samuel mencoba berpikir sejenak, hingga sebuah pertanyaan yang anomali lolos dari bibirnya, “Menurutmu sholat itu apa?”


Nisa mengangkat kepala, “Pertanyaanmu aneh.” Ia tak habis pikir dengan pertanyaan laki-laki dihadapannya tersebut. Ia menanyakan perihal apa itu sholat? Bukankah semua umat muslim mengetahuinya, bahkan anak SD pun tahu apa itu sholat.


Samuel tersenyum tanpa makna, “Jadi begini, apakah sholat adalah jaminan seseorang dekat dengan Tuhan?”


Nisa mengerutkan kening dalam, “Ya, sholat itu serupa komunikasi kita dengan Allah.”


“Jadi kalau muslim yang tidak sholat, dikatakan lost communication sama Allah?”


“Tentu saja. Muslim yang tidak sholat, bagaikan anggota tubuh tanpa kepala. Manusia masih bisa hidup tanpa kaki, tanpa tangan, tapi tanpa kepala? Apa mereka bisa bertahan?”


Samuel terdiam, mencoba mencerna ucapan Nisa.


“Saya sudah lama meninggalkan sholat. Apa masih boleh mengerjakannya, setelah selama ini saya lalaikan?”


Nisa terdiam, tak bergeming sedikitpun dari tempatnya berdiri.


“Apa saya masih pantas untuk itu?” Samuel kali ini menatap Nisa dengan mata nanar.


Tidak ada keraguan saat Nisa mengangguk. “Tidak ada kata terlambat untuk bertaubat. Dan Allah selalu menerima taubat hamba-Nya yang bersungguh-sungguh.” Ia akhirnya bicara, berusaha sehati-hati mungkin agar tak menyinggung perasaan Samuel.


Kali ini wajah Samuel berubah serius, “Ada satu hal yang menjadi kendala.”


Kedua alis Nisa bertaut menjadi satu,


“Apa?”


“Saya lupa niat semua sholat lima waktu.”


\*


Orang punya banyak cara untuk mewujudkan mimpinya. Mereka rela mengorbankan apapun untuk sampai pada tujuan. Bersusah-susah dahulu, bersenang-senang kemudian katanya. Meskipun cara yang ditempuh tidak selamanya linear dan teratur. Namun mereka tidak pernah berhenti berusaha, gagal coba lagi, bercermin prinsip dari J.K Rowling yang belasan kali naskahnya di tolak sebelum akhirnya mendunia.


Samuel memikirkan hal tersebut.


Dia memandang keluar jendela Sekretariat Resmi yang sedang sepi pengunjung. Rekan-rekannya sedang berkumpul di Basecamp, menyelesaikan beberapa proposal pelaksanaan orientasi bulan depan.


Jika setiap orang memiliki mimpi dan sedang mati-matian berusaha mewujudkan, mengapa dirinya justru berada diambang ketidakjelasan? Mimpi serupa lilitan benang kusut yang tidak tahu bagaimana cara membuka simpul tak beraturannya. Semua orang memiliki rencana untuk masa depannya, namun dirinya justru tak memiliki waktu untuk memikirkannya.

__ADS_1


Jika ditanya, hendak jadi apa? Maka hanya gelengan kepala yang akan ia suguhkan kepada penanya. Samuel berani mengucapkan cita-cita hanya pada saat ia kecil dulu. Pilot, dokter, tentara, angkasawan, presiden, semua itu adalah deretan cita-cita yang selalu digumamkan oleh Samuel kecil. Semakin dewasa manusia, maka semakin pula ia akan mengalami kesulitan berpikir perihal cita-cita.


Mengambil jurusan Ilmu Sosial adalah pilihan yang ia pilih secara asal. Yang penting kuliah. Yang penting tidak menjadi pemuda luntang-lantung setelah lulus SMA. Itulah jalan pikirannya dulu sebelum masuk ke dunia perkuliahan.


Sudah sejak lama Samuel meninggalkan kehidupan normal. Ia memilih menjadi anomali yang membawa perubahan bagi kehidupan seseorang, namun tidak dengan hidupnya sendiri. Memperjuangkan hak banyak orang namun mengabaikan hak sendiri. Baginya, kepentingan umum lebih penting dibandingkan mendahulukan sisi egoisme dirinya yang harus di dahulukan.


“Sam, undangan ke Prof. Said sudah diurus?”


Samuel menoleh kearah sumber suara dan didapatinya Vika yang sedang menyusun berkas diatas meja. Entah sejak kapan gadis itu berada di ruangan yang sama dengannya.


“Gue nungguin lo yang bikin.”


Vika memutar bola matanya, “Sudah gue duga.”


Samuel terkekeh, “Gimana sama KKN nanti? Gue pikir lo bakalan sibuk buat urus hal itu dan lo nggak bakalan punya waktu ngurus kerjaan di BEM.”


“Lo lupa kalau gue itu perfeksionis dalam masalah membagi waktu?” Ucap Vika jumawa.


Samuel berdecih menanggapi ucapan Vika yang lebih mengarah ke sindiran halus untuk dirinya.


“Lo nggak mau ikut KKN gelombang ini?” Vika kembali buka suara.


Samuel mengendikkan bahu, “Entah. Belum ada rencana mau ikut atau enggak.”


Vika membuang napas kasar.


“Mau sampai kapan lo mengabaikan kuliah? Apa nggak sedikitpun terlintas ketakutan di benak lo kalau nggak bisa wisuda tepat waktu?”


“Gue masih betah lama-lama di Kampus.”


Ucapan Samuel membuat Vika geregetan. “Lo bisa bilang kayak gitu, kalau biaya kuliah lo sendiri yang tanggung.” Vika bersungut-sungut.


“Akan ada masanya gue berubah. Gue nggak bakalan begini terus.” Samuel tersenyum dipaksakan kearah Vika, membuat gadis itu semakin geram ingin mencabik-cabik wajah ganteng laki-laki dihadapannya.


“Gue lagi proses usaha.”


“Usaha apa? Usaha buat hancurin hidup lo lebih parah lagi?”


Samuel tertawa, ia selalu senang melihat wajah kesal Vika, menurutnya lucu. Pipi chubby itu akan berubah menjadi semburat-semburat merah muda, dan mata sipitnya dipaksakan melebar seketika.


“Gue mau perbaiki cara beragama gue dulu.”


Vika terdiam. Seorang Samuel akan menjadi sosok yang religius? Entah kenapa, tiba-tiba sebesit ketakutan menghinggapi dadanya. Alasan mengapa Vika tidak ingin dikendalikan oleh perasannya terhadap Samuel adalah karena masalah agama. Tidak bisa ditampik, perbedaan agama menjadi jurang pemisah yang paling dalam antara keduanya. Mustahil untuk menyatukan. Karena jika memaksakan, maka harus ada salah satu yang berkorban.


“Vik, woy. Kok bengong?”


Vika tersadar dari lamunannya. “Apa yang buat lo punya inisiatif untuk memperbaiki cara beragama?”


“Semua itu ada kaitannya sama Nisa?”


Samuel melongo takjub. “Vik, sejak kapan lo jadi cenayang?”


Vika tersenyum hambar. Praduganya tak pernah meleset. “Lo banyak berubah sejak ketemu Nisa.”


“Oh ya? Kenapa gue nggak sadar?” Samuel menampilkan ekspresi polos tanpa dosa.


“Jatuh cinta memang tidak pernah disadari kapan bermulanya.”


Aku ribuan belati yang mengoyak-oyak hati Vika ketika ia mengucapkan kalimat tersebut.


Samuel tertawa, ia nampak salah tingkah.


“She’s different. Gue nggak pernah menjumpai perempuan seunik dia.”


Vika menunduk, sudut matanya tiba-tiba berair. Hatinya ngilu mendengar pengakuan Samuel.


“Gue nggak pernah tertarik sama agama gue sendiri. Tapi setelah gue ketemu dia, entah kenapa gue pengen berlomba-lomba dengan manusia lain untuk meraih surga. Singkatnya, gue ingin menjadi manusia yang mengenal Tuhan lebih dekat.”


Setetes air mata jatuh bebas di atas dinginnya lantai marmer yang Vika pijaki. Kenyataan bahwa dirinya tidak pantas untuk Samuel seolah menghancurkan hingga raib harapannya selama ini.


“Vik, lo dengerin gue nggak sih?”


Buru-buru Vika menyeka ujung matanya, “Eh, iya. Lo cocok sama Nisa.”


Samuel tersenyum getir, “Gue emang cocok sama Nisa, tapi Nisanya yang nggak cocok sama gue.”


“Lo nggak usah khawatir, kalau emang jodoh pasti bakalan cocok juga. Toh garam di laut, asam di gunung, ketemu juga di cobek.”


Samuel terkekeh. “Bagus juga analogi lo.” Ia mengacak-acak rambut Vika. Membuat Vika semakin meringis menahan nyeri di hatinya.


\*


Manusia tanpa sholat. Bagaimana ia menjalani hambarnya kehidupan selama ini? Masihkah ada ketenangan di hatinya? Bagaimana bisa ia mengabaikan kenikmatan bermesraan dengan Sang Maha pencipta?


“Kak Nis, aku mau muroja’ah.”


Lamunan Nisa terburai saat seorang santriwati menghampirinya. Dia adalah Sahadah, anak yatim piatu yang tinggal di Yayasan sejak 3 tahun yang lalu, setelah kedua orang tuanya mengalami kecelakaan tragis hingga merenggut nyawa keduanya.

__ADS_1


Nisa tersenyum hangat.


“Hafalan kamu sudah berapa?”


“25 juz. InsyaAllah mau nambah satu juz lagi.” Ucapnya heboh.


“Apa yang memotivasi kamu sampai semangat sekali menghafal?”


Sahadah bebrpikir sejenak. “Kata Ustadzah Qonita, jika seorang anak menjadi hafidz Qur’an, maka kelak kedua orangtuanya akan dipakaikan mahkota yang cahayanya melebihi cahaya matahari. Karena aku belum sempat ngasih hadiah apapun ke Mama dan Papa, maka aku ingin menghadiahkan mahkota itu untuk mereka saat ketemu di akherat nanti.”


Ucapan polos Sahadah begitu menyentuh hati Nisa. Seorang anak kecil berusia 10 tahun memiliki cita-cita yang begitu mulia. Betapa beruntung kedua orang tuanya. Pastilah saat ini mereka tersenyum bahagia memiliki aset miliknya yang bisa memberi jaminan masuk kedalam surga.


Nisa memalingkan wajahnya dari Sahadah. Ia tak ingin terlihat menangis dihadapan gadis tersebut. Bagaimana mungkin ia bisa meneteskan air mata, saat Sahadah sendiri justru begitu kuat melalui segalanya.


Sekarang pikirannya justru tertuju pada Umminya. Ia juga belum sempat memberikan hadiah terbaik untuk Ummi. Satu-satunya harapan adalah dengan selalu merawat hafalannya, dengan itu Ummi akan bangga padanya. Sekarang ia sadar, mengapa kedua orang tuanya memforsir dirinya untuk mepmpelajari ilmu agama lebih kuat dibandingkan ilmu-ilmu lainnya. Karena memang, setelah kematian, aset berharga yang dimiliki oleh seseorang setelah amal ibadah adalah anak-anak yang sholeh dan sholehah.


\*


Hujan deras baru saja selesai mengguyur bumi kala itu. Yang tersisa hanya beberapa genangan yang menyebabkan jalanan becek. Suasana taman Suropati sedang sepi, tidak ada anak-anak yang biasanya menghabiskan waktu sore untuk bermain kejar-kejaran, mungkin karena hawa dingin setelah hujan yang membuat mereka enggan untuk datang.


Di sebuah bangku panjang yang terletak di ujung Taman, nampak seorang pemuda yang sedang duduk gelisah. Ia sesekali melirik jam tangan hitam yang melingkar di pergelangan tangannya.


Alila mengamati pemuda tersebut, entah sudah berapa lama. Langkahnya tertahan untuk mendekat. Segenap keberanian yang ia miliki menghilang entah kemana. Air matanya berjatuhan bebas tanpa bisa dicegah Ia mencoba mengumpulkan pasokan oksigen sebanyak-banyaknya, lalu menghembuskannya secara perlahan agar sedikit bisa membuatnya tenang.


Ia berjalan dengan langkah rikuh. Rambut panjang kusutnya yang sangat jarang ia sisir beterbangan tertiup angin, namun ia abaikan. Tujuan satu-satunya hanyalah bertemu dengan pemuda di depan yang sedang menunggunya.


Begitu langkahnya mencapai posisi laki-laki itu, Alila menghentikan langkahnya. Segenap pikiran buruk menjarah kepalanya. Pemuda itu nampak kaget, ia langsung berdiri menyambut kedatangan Alila. Ada sorot penuh kerinduan yang terpancar didalam matanya. Ia tersenyum, begitu hangat dan menenangkan. Namun bagi Alila, senyum terebut justru menjadi belati yang mengiris paksa permukaannya kulitnya.


Setetes air mata jatuh. Alila mundur secara refleks, kala laki-laki di hadapannya hendak mendekat dan memeluknya. Ia justru hanya bisa tertunduk. Tidak sanggup menatap mata indah itu.


“La, gue kangen.”


Kalimat itu bagaikan ribuan jarum yang menusuk-nusuk hatinya. Alila berusaha mengangkat kepalanya. Memberanikan diri menatap laki-laki tersebut. Dengan segenap sisa-sisa keberanian yang ia pungut, akhirnya satu kalimat yang sejak tadi tertahan keluar dari bibir pucatnya yang sesekali terlihat bergetar.


“Aku hamil.”


Alila menyerahkan selembar foro hitam putih. Sorot mata laki-laki itu berubah. Ia terdiam membuka di tempatnya tanpa melakukan pergerakan apapun.


Alila luruh ke tanah. Kakinya terasa seperti tak memiliki tulang. Ia bersimpuh di hadapan laki-laki tersebut, menangis tergugu sejadi-jadinya.


“Pergi sejauh mungkin, Sam. Aku nggak pantas buat kamu.”


Samuel masih terdiam. Kilatan emosi, benci, kecewa, semuanya menjadi satu.Matanya berkaca-kaca. Amarah bergerumul di dalam dadanya. Tangannya mengepal hingga urat-urat di lengannya menonjol.


Samuel berlalu meninggalkan Alila yang masih bersimpuh diatas tanah. Bahkan saat laki-laki itu sudah tak terlihat ia masih enggan berdiri. Di tatapnya dengan nanar foto hasil USG yang ada dalam genggamannya. Setelahnya ia meremas foto tersebut, lalu merobeknya. Saat itu dirinya sudah kehilangan harapan. Hidupnya hancur, seiring dengan terus bertumbuhnya janin yang ada dalam kandungannya.


Alila menyesap the hangat dengan aroma green tea yang menusuk cuping hidungnya. Kilasan masa lalu selalu saja hadir layaknya bayangan hitam menyeramkan. Sekuat apapun ia berusaha memperbaiki, namun hasilnya tetap tidak akan bisa kembali seperti semula. Kehilangan orang-orang yang ia cintai adalah defenisi dari patah yang paling parah. Alila tidak memiliki siapa pun yang bisa ia jadikan tempat bergantung saat ini. Dua tahun lalu, ia kehilangan segalanya.


Alila tidak akan pernah menyangka, bahwa garis hidupnya teramat memilukan. Ia mengira, bahwa semua orang yang ia temui tulus kepadanya. Namun ternyata ia salah. Pertemuannya dengan Askar, laki-laki yang ia tolong saat terjadi pengeroyokan karena dituduh mencuri oleh penumpang angkot miliknya, ternyata berakhir petaka. Selama mengenal Askar, laki-laki itu teramat baik padanya. Budi pekertinya yang luhur dan santun, serta taatnya ia beribadah, membuat Alila tidak pernah berpikir buruk tentangnya.


Sejak kejadian itu, dirinya dekat dengan Askar. Bahkan laki-laki itu yang mengajarkan agama secara mendalam pada diri Alila. Alila yang hampir tidak pernah bersentuhan dengan kitab suci, saat itu juga diajarkan kembali. Namun, tak sekalipun Alila menaruh rasa pada laki-laki itu. Baginya, ia sudah memiliki Samuel. Kecintaannya terhadap laki-laki tersebut telah menutup pintu hatinya untuk laki-laki lain.


Hingga pada suatu hari, Askar menghubunginya untuk meminta bantuan. Laki-laki itu sakit. Karena merasa kasihan, berhubung dengan kondisi Askar yang yatim piatu dan tidak memiliki biaya cukup untuk melengkapi kebutuhannya, Alila berinisiatif membantu laki-laki tersebut. Ia berniat membawanya periksa ke dokter.


Saat Alila sampai di depan sebuah kos-kosan kecil, gadis itu mengetuk pintu. Tidak ada jawaban. Akhirnya ia memberanikan diri membuka pintu tersebut. Dilihatnya Askar yang sedang berbaring sambil memejamkan mata, wajahnya pucat. Alila mendekati laki-laki tersebut lalu mencoba memegang dahinya. Suhu tubuhnya begitu panas. Ia berjalan ke belakang mencari kain dan air hangat untuk mengompres Askar.


Karena ia lelah menunggu Askar terbangun, rasa kantuk menyerangnya. Tak sengaja Alila tertidur di kursi samping ranjang Askar. Alila terbangun setelah dirasanya, ada tangan yang mengelus puncak kepalanya. Ketika ia mengangkat kepala, dilihatnya Askar yang juga tengah menatapnya. Pandangan mereka bertemu, dan laki-laki itu mengunci pandangan tersebut melalui daya tarik manik mata coklatnya.


Saat kesadaran sudah kembali menguasainya, Alila berdehem untuk menetralkan suasana canggung diantara keduanya.


“Sudah bangun. Minum obat dulu.”


Baru saja Alila hendak berdiri mengambil obat di nakas, pergelangan tangannya dicekal oleh Askar.


“Terima kasih.”


Alila tersenyum lalu mengangguk. Ia berniat kembali mengambil obat, namun dengan satu tarikan kuat di pergelangan tangannya, gadis itu jatuh terduduk diatas ranjang. Tanpa aba-aba, tiba-tiba Askar mendekatkan bibirnya ke bibir ranum milik Alila. Alila berusaha berontak, namun sia-sia. Kekuatan laki-laki tidak sebanding dengan kekuatan wanitu.


Askar mengunci pergerakan Alila dengan memegang kedua tangan gadis tersebut, sementara ciumannya semakin liar. Laki-laki itu mencium bibir Alila dengan kasar, setelahnya berpindah ke leher jenjang Alila.


Alila masih berusaha meronta . Air matanya jatuh tak terhitung lagi jumlahnya. Sesaat wajah Samuel berputar dalam kepalanya. Ia tidak ingin berkhianat. Ia tidak ingin menyakiti Samuel. Namun ia tidak bisa berbuat banyak saat Askar dengan liarnya merobek baju yang ia kenakan. Saat itu, ia telah melakukan hal yang sangat menjijikan. Dan saat itu juga, ia kehilangan segalanya.


Alila memutar-mutar gelas yang ada di hadapannya.


Sesal tiada berguna. Semuanya berubah, karena kebodohannya sendiri. Ia kehilangan orang-orang yang ia cintai karena kedunguannya.


Ayahnya meninggal karena serangan jantung tiba-tiba saat mendengar putri semata wayangnya melakukan perzinahan hingga mengandung. Ibunya begitu membencinya, menganggap Alila adalah penyebab kematian suami yang begitu ia cintai. Dan Samuel, laki-laki itu sepertinya sangat tidak menginginkan kehadirannya.


Alila mencoba lari dari segala kesalahan yang ia perbuat. Ia menjauh dari orang-orang terkasihnya.


2 tahun lamanya meninggalkan kota kelahirannya, dan merantau ke Negeri asing yang tidak ada satupun manusia ia kenali disana. Ia pergi tanpa membawa apapun, hanya makhluk dalam kandungannya yang menemani.


Laki-laki yang begitu mencintai benar-benar membenci dirinya saat ini. Betapa hancurnya hati Alila, saat laki-laki itu memandang dirinya dengan pandangan hina. Bahkan kata-kata yang dilontarkan begitu kasar.


Ia masih ingat perkataan Samuel tempo hari saat tiba-tiba menghubunginya. Alila pikir, saat itu Samuel menelepon karena ingin berdamai. Namun ekspektasi memang jauh lebih indah dari realita. Samuel justru mencaci makinya.


“Kenapa lo ngotot mau balik lagi ke gue? Apa sudah habis laki-laki yang mengantri di ranjang lo? Dan sekarang lo mau jadiin gue sebagai salah satu pria yang mau ngangkangin lo? Jangan mimpi!”

__ADS_1


Kalimat itu bagaikan ribuan jarum yang menusuk tepat di dalam hatinya. Nyeri, sakit, perih. Sehina itukah dirinya dimata Samuel? Bahkan Samuel tidak tahu kebenarannya. Dan Alila justru tidak ingin menyampaikan kebenaran tersebut, salahnya sendiri.


Alila sudah berusaha melupakan Samuel. Berkali-kali ia meyakinkan dirinya bahwa ia tak pantas untuk laki-laki sebaik Samuel. Namun, siapalah yang bisa mengatur perasaan manusia selain Tuhan. Rasa cinta yang masih terus tumbuh, membuat Alila ngotot ingin memperbaiki semuanya. Ia memiliki keyakinan, bahwa ia sanggup membalik keadaan buruk menjadi sedia kala. Namun ternyata tidak mudah. Mentalnya tidak sanggup menghadapi kerasnya sikap Samuel dan sadisnya kata-kata lelaki tersebut.


__ADS_2