
Metro dalam keadaan tidak terlalu padat penumpang. Di sudut bangku metro Vika menyandarkan punggung, sibuk bersama buku tebal yang ia baca. Ponsel di dalam saku sweeternya berdering. Begitu ia melirik layar, nama Samuel sebagai si pemanggil yang muncul. Ia menimbang-nimbang untuk mengangkatnya atau tidak.
“Vik.” Sapanya.
Selanjutnya diikuti oleh pertanyaan yang menanyakan eksistensi gadis itu. Dengan enggan, Vika menjelaskan bahwa dirinya sedang berada di dalam Metro dan sebentar lagi akan turun. Sambungan terputus beberapa saat setelah terdengar suara dari pengeras dan kereta mulai melambat. Vika mengemas ponsel beserta bukunya ke dalam ransel.
Libur panjang untuk menyambut hari raya idul fitri telah tiba. Vika selalu memanfaatkan libur panjangnya untuk kembali ke Kampung halamannya di Semarang. Sebagai seorang anak rantau, gadis itu jarang pulang kampung kecuali saat libur panjang seperti ini. Kesibukan kuliah dan organisasinya memaksa gadis itu untuk tetap tidak terlalu sering pulang kampung seperti kebiasaan anak rantau lainnya.
Gadis itu melangkah di belakang jubelan penumpang menuju keluar kereta. Di sepanjang lorong menuju pintu keluar, barisan musisi jalanan meramaikan Stasiun dengan berbagai lagu sobat ambyar. Ia melempar uang ke dalam kotak mereka, dan para musisi jalanan itu terlihat mengangguk sebagai tanda terima kasih.
Untuk sampai di Rumah, Vika harus kembali naik ojol yang mengantarkannya menempuh perjalanan selama 10 menit. Gadis itu mengelap peluh yang jatuh di pelipisnya karena matahari yang sedang mencapai ubun-ubun.
Sebenarnya masih ada beberapa hal yang harus ia selesaikan di Kampus, hanya saja daya tarik untuk kembali ke kampung halaman lebih kuat. Selain itu, Vika juga sedang meminimalisir pertemuan antara dirinya dan Samuel. Sejak kegiatan Safari Ramadhan kemarin, Vika sudah tidak lagi pernah memunculkan batang hidung ke Basecamp maupun sekretariat BEM. Ia hanya sesekali berkunjung ke Kampus untuk menyelesaikan beberapa tugasnya, itu pun hanya sebatas sampai di Perpustakaan.
Mengetahui kenyataan bahwa Samuel menyukai Nisa, adalah kondisi yang benar-benar tak disukainya. Karena hal itu ia tidak bisa bersikap profesional. Vika yang biasa mengesampingkan ego demi kemaslahatan banyak orang, kali ini justru melarikan diri.
Ia tahu, bahwa perbuatannya tidak lebih mencerminkan sebagai seorang pengecut, namun ia berusaha memakluminya. Bagaimana pun juga, dirinya hanyalah wanita biasa. Apabila menyangkut perihal cinta, sepintar apapun manusia, pada akhirnya akan bodoh juga.
Ojol yang mengantarnya berhenti tepat di depan Rumah dengan gaya minimalis. Vika menyerahkan selembar uang 10 ribuan kepada Abang Ojol tersebut. Setelahnya, gadis itu melangkah memasuki pekarangan Rumahnya.
__ADS_1
Ketika membuka pintu, pemandangan yang pertama kali ditangkap oleh indranya adalah kesunyian, seperti biasa. Gadis itu melepas sepatu sneakers yang dikenakan lalu meletakkannya diatas rak sepatu. Ia berjalan ke arah Ruang keluarga, di dapatinya seorang gadis yang tengah asik memainkan ponsel sambil sesekali terdengar tawa hahahihi.
Vika menjatuhkan bokongnya ke sofa disamping gadis tersebut, membuat gadis itu terlonjak kaget. “Lo kalau masuk rumah bisa ketuk pintu nggak, sih?” Gadis itu mulai mengomel seperti nenek-nenek yang hendak makan namun kehilangan gigi palsunya.
“Ngapain gue ngetuk pintu di Rumah sendiri.” Jawab Vika enteng.
Gadis disebelahnya mendengus, mahfum dengan sifat seenaknya Vika.
“Mama mana?” Vika kembali buka suara.
“Ke Gereja.” Gadis itu menjawab namun matanya masih tak lepas dari layar gadget.
“Lo kenapa nggak ke Gereja?”
Vika menoyor kepala gadis tersebut.“Vanessa, lo kapan tobatnya sih? Sudah gede tapi ibadah masih malas-malasan.”
Gadis yang dipanggil Vanessa tersebut cemberut, lalu memperbaiki tatanan rambutnya yang berantakan akibat ulah Vika. Gadis yang baru beranjak memasuki usia usia 15 tahun tersebut tak menghiraukan khotbah Vika. Ia kembali merebahkan diri diatas sofa sambil memainkan gadgetnya.
Melihat hal itu Vika geram sendiri. Adik satu-satunya tersebut nampaknya sudah kecanduan dengan gadget. Ia merebut paksa gadget tersebut dari tangan Vanessa, “Gara-gara ini nih, lo males ibadah.”
__ADS_1
Setelahnya ia membuang gadget tersebut ke sofa dengan tak manusiawi.
Vanessa berseru heboh melihat ponselnya yang mendarat mengenaskan. “Kak Vikaaaaa lo punya masalah apa sih sama gue?!”
Vika melipir dengan cepat menaiki tangga menuju kamarnya sebelum mendengar omelan panjang Vanessa yang tidak ada ujungnya. Ia segera menutup pintu rapat. Begitu sampai ia langsung merebahkan diri di kasur yang sudah sekian lama ia tinggalkan. Sekarang adalah saatnya rehat, tanpa perlu lagi memikirkan masalah tugas kuliah atau tugas himpunan.
\*
Samuel memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku setelah selesai melakukan panggilan bersama Vika. Gadis itu mengatakan sedang berada di Semarang, padahal masih ada beberapa tugas yang harus ia selesaikan. Vika tidak seperti itu biasanya, ia tidak pernah meninggalkan tugas dan kewajiban demi kepentingan pribadinya.
Samuel merasa ada yang janggal dengan rekan setimnya tersebut. Sejak insiden Vika baperan sepulang dari kegiatan Safari Ramadhan, gadis itu tidak lagi pernah bertandang ke Kampus atau sekedar memunculkan batang hidungnya di Sekretariat. Setiap kali Samuel menanyakan perihal perubahan sikapnya, Vika selalu saja menghindar dengan mengatakan.
“Tidak apa-apa.”
Samuel menguncir rambut gondrongnya ke belakang. Lalu bergerak keluar Basecamp guna menemui rektor bidang kemahasiswaan untuk membahas proker yang akan dihentikan selama libur berlangsung. Suasana Kampus yang sepi, menarik laki-laki tersebut untuk bebas bersenandung ria tanpa khawatir ada yang mendengar suara sumbangnya.
Saat melewati Parkiran, Samuel berharap bisa melihat Nisa. Namun nihil, tak ada siapa-siapa disana kecuali marbot Masjid yang mengepel lantai. Terakhir kali ia bertemu dengan Nisa adalah saat acara penutupan Safari Ramadhan seminggu yang lalu. Setelahnya ia tidak lagi pernah bertemu dengan gadis yang selalu menjarah pikirannya tersebut.
Dan hal bodoh yang Samuel lakukan sekarang adalah memandangi layar ponsel, mencari nomor hp, kemudian melihat history chat whatsapp dan berakhir mengenaskan saat melihat kotak Line. Samuel baru ingat, bahwa ia tak memiliki satu pun nomor Nisa yang bisa di hubungi. Bahkan media sosialnya juga Samuel tidak tahu. Padahal ia sedang menantikan jawaban Nisa perihal permintannya tempo hari. Lalu bagaimana dirinya bisa tahu apa keputusan Nisa jika akses untuk menghubungi gadis itu saja tak ada? Tidak mungkin jika ia harus mengunjungi Nisa di Pesantren. Bisa-bisa Pak Kyai menceramahinya sampai idul fitri tiba.
__ADS_1
Samuel menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal seolah-olah ada kutu rambut yang mengusiknya. Mengapa Nisa begitu rumit? Gadis itu benar-benar tak tersentuh. Tembok besar yang menutup dirinya seolah-olah tak akan roboh meski diguncang badai kencang. Samuel pikir dengan banyaknya interaksi yang dilakukan Nisa kepadanya kemarin, gadis itu bisa lebih terbuka dan tidak terlalu kaku.
Tak mau kelihatan seperti kerbau yang kehabisan rumput, Samuel naik keatas motor, menghidupkan mesinnya, lalu meninggalkan Parkiran. Mengabaikan keinginan hatinya yang meminta untuk diperhatikan.