
Samuel benci bangun pagi. Sayangnya ia tak punya pilihan, karena di Rumahnya sendiri ia mempunyai alarm alami. Nyawa Samuel masih setengah saat Mamanya berteriak-teriak panjang sambil memukul badan Samuel dengan sapu lidi. Samuel masih menggeliat saat suara Mamanya terdengar menjauh, namun ketika ia berniat memejamkan mata kembali, suara itu kembali mendekat, kali ini dua kali lebih keras dari sebelumnya, membuat cowok tersebut mengerang dan mengacak rambutnya frustasi.
Samuel bangkit dan mengusap wajahnya kasar, sebelum akhirnya setumpuk kain mengena wajahnya. “Itu alat sholatmu. Katanya mau sholat shubuh, dibangunin susah banget.
” Mama kembali mengomel.
Sejenak pandangan mata Samuel bertumpu pada jam yang menggantung diatas dinding kamarnya, pukul 04:45. Tidakkah Mamanya terlalu cepat membangunkan? Dengan langkah gontai, Samuel berjalan menuju kamar mandi, hendak membersihkan diri lalu bersiap ke Masjid.
Saat keluar Rumah, Samuel menatap angkasa yang bahkan belum terjamah matahari. Udara sejuk pagi-pagi buta yang sangat jarang ia jumpai seolah memeluk tubuhnya yang mengenakan baju koko. Ah sepertinya inilah alasan kenapa sholat shubuh dikatakan berat bagi orang-orang munafik. Ternyata selain kantuk, udara dingin juga menjadi alasan utama bagi mereka yang enggan menunaikan sholat shubuh.
Laki-laki itu berjalan menembus dinginnya udara. Suara adzan shubuh dari pengeras suara Masjid di seberang terdengar masih sementara dikumandangkan. Ia mempercepat langkah. Begitu sampai di Masjid wajah yang pertama kali ia kenali adalah wajah Papanya.
“Pah, ke Masjid nggak ngajak-ngajak.” Bisiknya.
“Papa pikir kamu nggak serius mau sholat di Masjid.” Jawab Papanya. Ia bahkan menelisik penampilan putranya tersebut, seolah-olah sedang melihat keajaiban dunia.
“Kamu ketempelan jin Islam?”
Samuel berdecak, “Pah, seburuk-buruknya Samuel, Samuel tetap muslim yang wajib menjalankan sholat.”
Papa benar-benar takjub melihat perubahan Samuel yang menurutnya begitu tiba-tiba. Namun tak bisa dipungkiri ia turut senang melihatnya.
\*
Nisa baru saja kelar kelas pertama saat suara sirene dibunyikan di tengah-tengah gedung Rektorat. Beberapa orang berkumpul seperti semut yang mengelilingi permen manis. Tak lama kemudian suara gerusak-gerusuk berasal dari pengeras suara terdengar.
“Ada demo, ya?” Sarah yang baru saja keluar dari Toilet turut heran melihat kondisi sekitar yang ramai. Para Mahasiswa berlarian kearah sumber suara.
“Nggak tau.” Jawab Nisa acuh.
“Ayo semuanya berkumpul di depan Rektorat!” Suara itu berasal dari seorang bertubuh tegap, memakai almamater Universitas Guna Dharma, yang Nisa tahu namanya Fathur. Dia si ketua BEM.
“Eh ayo kesana!” Sarah menarik lengan Nisa tanpa meminta persetujuan gadis tersebut.
“Rah, males ah. Kita kabur aja deh. Nggak jelas juga demonya tentang apa.
” Nisa melepaskan tangan Sarah dari lengannya.
“Ya ampun, Nis. Yang pasti tuh demo ada benefitnya buat kita.” Sarah mencoba meyakinkan Nisa.
“ Eh, Mbak, itu di depan demo apa ya?” Ia mencegat salah seorang Mahasiswi.
“Demo menuntut kenaikan UKT yang dinilai tidak wajar.” Ujar seorang gadis yang rambutnya diurai dan berwarna kemerah-merahan.
“Tuh kan. Aku bilang juga apa. Kalo UKT naik kan kita juga yang rugi. Ayolah.” Sarah kembali menarik lengan Nisa membuat gadis tersebut mau tidak mau mengikuti langkah sahabatnya yang begitu bersemangat. Nisa tahu persis, pasti Sarah memiliki tujuan lain.
"Kawan-kawan sekalian, marilah kita bersama-sama memperjuangkan hak kita. Apa yang seharusnya kita dapatkan harus benar-benar didapatkan. Kita runtuhkan rezim-rezim zalim yang memakan uang rakyat. Jangan diam saat ditindas. Kampus ini bukan hanya milik rektor dan jajarannya, jadi jangan biarkan mereka bertindak semena-mena. Kita harus bergerak saat ketidakadilan berada didepan mata. Hidup mahasiswa! Hidup rakyat!"
Sebuah suara lantang yang mendominasi Lapangan siang ini menjadi pusat perhatian seluruh pasang mata yang sedang menyaksikan. Suara itu berasal dari laki-laki gondrong yang rambutnya acak-acakan tertiup angin. Tubuhnya tinggi tegap berbalut jaket almamater dengan emblem Badan Eksekutif Mahasiswa, alias BEM dilengan kanannya.
Panasnya matahari siang tak menggentarkan semangatnya berorasi. Meskipun peluh bercucuran di dahi, namun laki-laki itu tetap berdiri kokoh meneriakkan suara hatinya mewakili seluruh mahasiswa.
"Tujuan pendidikan ialah mencerdaskan, bukan untuk menyengsarakan. Biaya pendidikan yang mencekik, membuat kami tidak bisa berkutik. Seolah-olah pendidikan hanya milik orang kaya saja. Yang miskin? Dibiarkan menjadi manusia bodoh. Pendidikan di negeri kita ini harusnya merata. Untuk itu kawan-kawan, jangan bungkam saat hak kita dirampas. Mari kita bersatu untuk melawan!"
"Kenaikan UKT yang tidak lagi berada diatas batas wajar, harus kita tolak! Jangan mau diperas dengan dalih pemberian pendidikan yang layak!" Laki-laki itu terus berteriak. Beberapa orang terlihat mengabadikan momen tersebut dengan mengambil gambarnya dan kondisi sekitar.
Asap mengepul berasal dari ban yang sengaja dibakar membumbung tinggi. Menambah panasnya suhu dan situasi. Para mahasiswa baru digiring paksa untuk mengikuti aksi. Meskipun tak melakukan apa-apa, mereka diperintahkam untuk tetap berada di lingkungan tersebut.
"Disini negeri kami, berjuta rakyat bersimbah luka. Anak buruh tak sekolah, pemuda desa tak kerja. Mereka dirampas haknya….."
Lagu mars mahasiswa mulai mengalun dari megafon yang laki-laki itu pegang. Diikuti oleh seluruh peserta aksi yang turut menyanyikannya. Dari sudut, ujung kiri, ujung kanan, dibagian tengah, semua nampak bernyanyi menyuarakan protes mereka.
Hari ini, seluruh mahasiswa diharuskan mengikuti aksi yang menuntut kenaikan UKT atau uang kuliah tunggal. Kenaikan UKT yang dianggap tidak wajar, menimbulkan kontroversi dikalangan mahasiswa. Beberapa orang yang berwenang mewakili suara seluruh mahasiswa sedang berjuang didepan sana. Menuntut, meminta kembali hak yang seharusnya mereka dapatkan.
Kenaikan UKT dinilai sebagai tindakan kotor para petinggi kampus yang serakah. Pasalnya, pendidikan telah diputar haluan oleh mereka. Dimana yang bisa menikmati pendidikan itu hanyalah orang-orang yang mampu membayarnya saja.
Samuel terus berteriak-teriak di depan sana. Nisa memperhatikannya dari kejauhan. Setiap kata yang keluar dari mulut laki-laki tersebut memang menarik perhatian bagi siapa saja yang mendengar. Laki-laki itu sudah terbiasa menjadi pusat perhatian seperti ini. Dan tanpa disadari, di saat-saat seperti itulah Samuel banyak dikagumi oleh gadis-gadis.
"Nis, si Sam keren ya."
Sarah menyenggol lengan gadis berjilbab hitam disampingnya, yang dibalas dengan decakan. Gadis itu tidak peduli. Sebenarnya ia sangat enggan bergabung dengan kegiatan-kegiatan semacam itu. Namun, Sarah memaksanya. Meskipun kegiatan itu berfaedah, namun terlalu banyak mudharat yang ditimbulkan. Bercampur baurnya laki-laki dan perempuan, serta teriakan-teriakan yang memekakkan telinga membuatnya risih.
__ADS_1
Gadis itu hendak melangkah menjauh dari keramaian, saat tiba-tiba namanya disebut melalui pengeras suara.
"Sayyidah Annisa."
Langkahnya terhenti. Beberapa pasang mata yang mengenali dirinya menatap penuh tanya. Gadis itu berdiri mematung tanpa melakukan apapun. Bahkan Sarah hanya melongo saat mendengar nama sahabatnya itu disebut.
"Jangan ada yang berpindah dari tempat ini sebelum aksi selesai." Laki-laki yang memanggil nama Nisa tadi kembali buka suara. Tak ingin menjadi pusat perhatian, gadis itu memutar arah langkahnya kembali ke tempat semula.
“Nis, kamu harus cerita setelah ini. Pokoknya harus.” Sarah berseru heboh.
Sedang Nisa hanya terdiam. Jantungnya berdetak diatas batas wajar. Ribuan kupu-kupu kembali menggelitik menari-nari di perutnya. Wajahnya bersemu merah, seperti baru saja disiram saus tomat. Laki-laki di depan sana benar-benar penuh kejutan.
\*
Vika mengikuti langkah Samuel yang bergerak cepat ke lapangan. Hari ini ada agenda demo tiba-tiba setelah mendengar kabar adanya kenaikan UKT yang dinilai tidak wajar. Fathur yang membawa informasi tersebut langsung disambut oleh Samuel yang tiba-tiba saja dengan penuh semangat berdiri lalu mengumpulkan massa untuk mengadakan aksi.
Kecurangan adalah hal yang mesti dipadamkan. Bungkam saat ditindas adalah kesalahan. Kalimat itulah yang selalu di ucapkan Samuel saat hal-hal semacam ini terjadi. Laki-laki itu sanksi dengan tindakan kotor para petinggi yang menurutnya hanya sebatas kaya materi, namun miskin adab dan budi pekerti.
“Sam, gue kumpulin anak FK, Hukum, sama MIPA. Lo ke Fisip, Sastra, sama Ekonomi. Sebagian sudah diurus sama anak-anak lain.”
Kalimat Vika dibalas anggukan dan acungan jempol dari Samuel. Mereka bergegas menjalankan tugasnya masing-masing. Tidak lagi menghiraukan perkuliahan yang sedang berlangsung. Tidak boleh ada Mahasiswa yang dipersulit dalam masalah pembayaran UKT, apabila hal itu terjadi maka BEM yang akan berdiri di garda terdepan, mewakili suara seluruh Mahasiswa untuk menuntut para petinggi-petinggi curang tersebut.
Massa sudah berkumpul di depan gedung Rektorat. Samuel pun sudah bersiap-siap untuk memulai aksinya.
“Sam, nggak ada orang di Rektorat. Cuma staff bawahan doang.”
Samuel tertawa miring. Sudah dipastikan para petinggi Kampus tersebut tidak ada di ruangannya. Mereka tahu bahwa setelah mengeluarkan keputusan, pihak Mahasiswa pasti tidak terima dan bersiap untuk menuntut. Untuk menghindari kata-kata manis dari Mahasiswa, mereka memilih untuk tidak bekerja hari ini. Benar-benar licik.
“Kita tetap lanjutin. Aksi bukan Cuma dilaksanakan satu kali. Kita terus bergerak, sampai tujuan tercapai.”
Vika mengangguk. Kalimat Samuel menjadi suntikan penyemangat untuknya. Gadis itu mengambil sirene lalu membunyikannya di tengah-tengah keramaian.
"Kawan-kawan sekalian, marilah kita bersama-sama memperjuangkan hak kita. Apa yang seharusnya kita dapatkan harus benar-benar didapatkan. Kita runtuhkan rezim-rezim zalim yang memakan uang rakyat. Jangan diam saat ditindas. Kampus ini bukan hanya milik rektor dan jajarannya, jadi jangan biarkan mereka bertindak semena-mena. Kita harus bergerak saat ketidakadilan berada didepan mata. Hidup mahasiswa! Hidup rakyat!"
Vika tidak bisa untuk tidak terkesima dengan Samuel ketika laki-laki itu mulai berorasi. Baginya, saat-saat seperti itulah seluruh kharisma yang Samuel miliki terpancar. Meskipun penampilan Samuel tidak bisa dikatakan rapi, namun laki-laki tersebut selalu di puja dan di puji. Pembawaannya yang menyenangkan dan wajah laki-laki itu yang tidak bisa dikatakan jelek menjadi alasannya.
“Sayyidah Annisa.”
LamunanVika terbuyar, saat Samuel di depan sana menyebut satu nama. Vika mengikuti arah pandang Samuel yang jatuh pada sosok perempuan berjilbab abu-abu muda yang sedang berdiri di bawah pohon akasia. Perempuan itu sama terjekutnya, bahkan dari kejauhan pun Vika bisa melihat rona merah yang menghiasi pipi gadis tersebut.
Melihat Samuel yang dengan terang-terangan menyebut nama Nisa saja membuat hatinya berdenyut ngilu. Apalagi ketika Samuel menatap gadis itu dengan pandangan memuja, bertambah parahlah sakit hatinya.
“Si Sam ngapa deh, nyebut-nyebut nama anak orang di tengah aksi.” Fathur menyenggol lengan Vika, membuat gadis itu mengalihkan padangannya.
Vika mengendikkan bahu, “Itu Nisa.”
“Nisa anaknya Pak Kyai?”
Vika mengangguk yang dibalas seruan heboh oleh Fathur.
“Anjir tuh anak. Gercep banget dah. Kasian anaknya Pak Kyai sampe kayak kepiting rebus gitu mukanya.” Ucap Fathur sambil menatap Nisa yang saat ini bergerak-gerak tak nyaman di psosisinya.
Vika tak menanggapi ucapan Fathur. Gadis itu berlalu meninggalkan lokasi aksi begitu saja. Bahkan ketika Fathur meneriakinya ia tetap berjalan tak peduli.
\*
“Cerita, cepet!”
Nisa yang sedang mengaduk-aduk kuah soto ayamnya menatap Sarah dengan jengah. Ia tidak ingin membahas Samuel dulu. Bahkan jantungnya belum sepenuhnya normal. Gadis itu harus menanggung malu setelah insiden namanya disebut di tengah-tengah aksi. Beruntung, hanya segelintir orang di Guna Dharma yang mengenalinya. Sebagian besarnya anak FK dan anggota Lembaga Dakwah Kampus. Namun tetap saja saat berjalan ke Kantin, Nisa harus ikhlas membiarkan telinganya mendengar desas-desus tentang dirinya.
“Ternyata bener ya, dugaanku. Kamu itu ada apa-apa sama Samuel.”
Nisa mendesis geram dengan gadis dihadapannya.
“Bisa ndak sih, volume suara kamu dikecilin. Kalo ada yang denger bakal salah paham.”
Sarah menutup mulutnya menggunakan kedua telapak tangan, “Ya sorry. Abisnya aku gemes sama kamu yang nggak ngasih klarifikasi dari tadi.”
“Klarifikasi apa? Emang bener kok aku nggak ada apa-apa sama Samuel.”
Sarah membuang napas kasar, “Kita udah berapa lama sih temenan? Sebulan? Dua bulan?” Gadis itu mendesah gemas. “3 tahun, Nis, 3 tahun. Kita sudah kenal selama 3 tahun. Apa pernah aku selama ini mengkhianati kamu saat kamu menceritakan semua privasimu? Enggak, kan? Lalu sekarang kenapa kamu malah berlagak seperti orang yang nggak percaya sama aku? Sakit hati aku, Nis.”
__ADS_1
Nisa tersenyum. Entah kenapa sifat kekanak-kanakan Sarah seolah menggelitiknya.
“Malah senyum-senyum. Ayo cerita.” Sarah memukul lengan Nisa pelan.
“Oke oke. Jadi gini…” Nisa menggantung kalimatnya, membuat Sarah yang sudah siap sedia pasang kuping kembali merengek.
“Nisaaaaaaa kalo cerita jangan setengah-setengah.”
Nasi tertawa, “Samuel minta tolong ke aku buat ngajarin dia cara beragama yang benar.”
“Hah, demi apa Samuel bilang gitu?!” Suara Sarah terdengar nyaring. Bahkan saking nyaringnya, sampai-sampai beberpa pengunjung kantin melihat kearah mereka berdua.
Nisa gelagapan. “Udah lah Rah, ah, males aku cerita.” Ia merajuk.
Sarah memukul mulutnya sendiri. “Iya, maaf. Habisnya kaget. Lanjut lanjut. Janji nggak bakal teriak lagi.” Gadis itu membuat piece dengan dua jarinya.
“Hmm janji, ya?”
Sarah mengangguk meyakinkan. “Iya janji. Cepet lanjutin.”
“Aku bilang aku bersedia bantu dia. Dia mulai belajar sholat 5 waktu, baca Qur’an. Baru itu doang sih.”
Sarah menyimak, sebelum akhirnya kembali berseru, “Kama suka sama Samuel?”
Kalimat itu terdengar menggelitik di telinga Nisa. Dirinya menyukai Samuel? Benarkah?
“Kenapa kamu ngambil kesimpulan kayak gitu?”
Sarah mendekatkan kursinya lebih maju kearah Nisa. “Aku kenal kamu. Kamu orangnya nggak pernah mau buang-buang waktu buat ngerjain sesuatu yang nggak berguna. Dan ketika kamu mengerjakan sesuatu, sesuatu itu pasti hal penting yang punya makna buat kamu.”
Nisa terdiam, mencoba mencerna kata-kata Sarah yang sedikit ada benarnya.
“Tapi aku nggak suka sama Samuel.” Nisa berkilah.
“Kalau begitu, sekarang coba tanyakan sama diri kamu sendiri, apa tujuan kamu sebenanya menerima permohonan Samuel.”
Nisa kembali terdiam. Ia tak pernah memikirkan hal itu sebelumnya. Saat Samuel meminta bantuannya, ia hanya bermaksud menolong saja. Tidak ada hal lebih. Tapi satu yang berputar di kepala Nisa saat ini, dirinya tidak pernah melakukan hal ini sebelumnya. Ia tidak pernah membuang waktu untuk hal-hal yang tidak begitu penting. Dan satu hal juga yang baru ia sadari, selama ini ia tidak suka gangguan dalam jenis apapun. Tapi selama mengenal Samuel, ia selalu merasa terganggu. Laki-laki itu selalu muncul semaunya dan menumbuhkan gelanyar aneh di dalam dadanya.
\*
Ketika sampai di Basecamp, Samuel disambut dengan tatapan penuh tanya oleh rekan-rekannya. Bahkan saat ini ia merasa seperti terdakwa yang bersiap untuk dihakimi.
“Kenapa lo pada?” Samuel berusaha tetap tenang.
Fathur menepuk-nepuk karpet di sampingnya, mengisyaratkan agar Samuel duduk disana. Bagaikan kerbau yang dicokol hidungnya, Samuel nurut-nurut saja.
“Lo pada jangan gue kayak gitu kenapa sih Gue abis ngelakuin dosa apa?”
“Lo kenapa nyebut namanya anak Pak Kyai di tengah aksi?” Fathur sebagai pembicara yang mewakili teman-temannya akhirnya buka suara.
Samuel terdiam sejenak. “Karena dia mau kabur dari lokasi pas aksi belum selesai.” Ucap Samuel.
Fathur berdecih, “Alasan lo nggak masuk akal. Banyak kok junior yang lari dari lokasi pas aksi belum selesai, tapi lo nggak tegur.”
“Kan gue nggak kenal nama mereka.” Samuel masih kekeuh dengan pendiriannya.
“Bahkan Vika juga keluar dari lokasi nggak lo sebut tuh namanya.”
Merasa namanya disebut, Vika mengangkat pandangan. Dan sesaat pandangan matanya bertemu dengan manik mata hitam Samuel.
“Karena gue nggak lihat.” Samuel mencoba mempertahankan argumennya.
“Jangan-jangan lo udah pacaran sama dia?!”
Vika seperti mendapat setruman di dadanya. Ia mencoba menetralkan ngilu yang menggeroti hatinya.
Samuel menoyor kepala Fathur, “Lo jangan bikin fitnah! Gue nggak ada apa-apa sama Nisa.”
Fathur memperbaiki tatanan rambutnya yang berantakan.
“Gue nggak mau kalo sampai Nisa dapat tuduhan aneh-aneh karena spekulasi kalian yang nggak punya bukti apapun.”
__ADS_1
Samuel berdiri, meninggalkan Basecamp dan teman-temannya yang hanya melongo melihat tingkah aneh rekannya tersebut.
\*