
Malam tenang dan hangat. Langit cerah tanpa mendung. Sesekali terlihat kedipan bintang. Angin darat bertiup kembali ke Laut. Tapi bau asin air laut samar-samar tercium. Penginapan Hakuku Matana memang berada tak jauh dari pantai dan laut. Jalan kaki 5 menit sampai ke pantai.
Sebuah taman indah terhampar di samping penginapan, mengarah ke laut. Di salah satu bangku taman, Samuel menggeliat. Setelah hampir 2 jam ia duduk, tak satu pun segala hal-hal yang berkecamuk dalam pikirannya teratasi.
Suara senar getar yang di petik dan alunan lagu yang dinyanyikan oleh beberapa orang terdengar bising dari arah penginapan. Sesekali tawa membahana dan cekikikan menggema tak mau kalah dengan suara debur ombak di laut.
Hari ini adalah hari pembubaran panitia orientasi. Orientasi sudah berakhir sejak 5 hari yang lalu. Dan pembubaran di laksanakan di Pantai Sawarna. Para panitia memilih Sawarna sebagai tujuan melepas penat setelah hampir 2 bulan mempersiapkan kelengkapan orientasi. Pantai Sawarna juga nerupakan pantai yang terbilang masih asri karena belum di kelola dan di kembangkan seperti pantai-pantai lainnya.
Samuel melirik jam tangannya, pukul 01 dini hari. Karena terbiasa begadang, matanya tak merasakan kantuk sama sekali. Ditambah dengan pikirannya yang penat, tanya yang tak kunjung terjawab, semua menjadi satu satu menari-nari di dalam kepalanya. Sudah hampir seminggu sejak pertemuannya dengan Nisa membahas perihal hubungan, namun Samuel masih juga tak menemukan jawaban untuk pilihannya. Tawaran yang Nisa ajukan seolah-olah barang berat yang harus dipaksakan untuk di pikul ketika ia sedang tak mampu. Sulit.
Setelah pertemuannya beberapa hari yang lalu dengan Nisa, Samuel tidak lagi pernah bertemu dengan gadis itu. Ia juga tidak pernah menghubunginya. Bukan mencoba lari dari kenyataan, hanya saja ia butuh waktu untuk berpikir. Bertemu dengan orang tua gadis yang di sukai bukanlah hal yang main-main. Di tambah kedatangan tersebut di sertai maksud tertentu. Memikirkannya membuat kepala Samuel berdenyut-denyut pening.
Samuel merasa dirinya belum mampu melangkah ke arah hubungan yang serius. Banyak yang harus ia benahi terlebih dahulu. Seperti ibadahnya, ilmunya, terutama kuliahnya. Jika ia datang lalu meminta baik-baik Nisa pada Pak Kyai, maka pasti Pak Kyai akan bertanya bagaimana dengan kuliahnya. Tidak mungkin Samuel mengatakan bahwa perkuliahan tidak menjamin masa depan. Kalaupun berani, mungkin auto di usir dari rumahnya.
Samuel menggeliat, merenggangkan otot-otot tubuhnya yang kaku.
“Laut, angin malam, dan seseorang yang sedang duduk sendirian. Hmm biar ku tebak, galau?”
Vika mendaratkan bokong di bangku panjang taman, tepat di samping Samuel. Samuel sempat melirik sekilas, sedetik kemudian pandangan tertuju lurus ke depan, pada hamparan luas lautan di tengah malam.
“Nisa?” Vika kembali buka suara.
Samuel mengangguk lalu merapatkan jaketnya. Dinginnya angin laut di malam hari terasa menusuk-nusuk kulit.
“Ada apa?” Vika bertanya hati-hati.
Samuel menatap ke arah Vika, “Menurut lo, apa yang paling di butuhkan perempuan dalam suatu hubungan?”
Vika mengernyit, “Kepastian?” Vika justru ragu-ragu dengan jawabannya sendiri.
Samuel menggaruk tengkuk. Ia kembali pada posisi semula, matanya terpejam. Vika memperhatikan dari samping. Wajah Samuel begitu mempesona, di tambah dengan bias cahaya rembulan yang mengenai wajah laki-laki tersebut di tengah kegelapan.
“Gue berniat ngajak Nisa menuju hubungan yang lebih serius.” Samuel bergumam, matanya masih terpejam.
Vika membeku di tempat. Matanya membelalak. Lalu tawa getir menyelinap keluar. Sebuah kertas yang ada dalam genggamannya di remas sampai tak berbentuk. “Lo kan masih kuliah. Lo mau ngasih makan anaknya orang pake apa?” Vika tertawa. Namun, tawanya terdengar canggung.
Samuel terkekeh, ia membuka mata. “Ya pake nasi lah, masa batu.”
“Kuliah lo aja nggak beres, gimana bisa lo bilang mau menuju hubungan yang serius.” Sebuah senyuman masih tersungging di bibir Vika, namun tidak bermakna apa-apa, tawanya palsu.
Samuel menggeram, lalu membuang napas kasar. “Gue nggak tau, kalau Nisa lebih rumit dari yang gue bayangin.”
“Perempuan memang seperti itu. Kalau ada hal yang paling rumit di dunia ini, maka perempuan ada di posisi paling atas.”
Samuel terkekeh. “Gimana dengan lo? Lo kan juga perempuan.”
Vika membuang pandangannya dari wajah Samuel, “Gue juga rumit. Tapi masih bisa di pahami.”
Samuel mengacak-acak rambut Vika. “Dan gue sudah berhasil memahami lo.” Samuel memerkan senyum magisnya kepada Vika. Vika mematung, mengutuk perbuatan Samuel yang dengan kurang ajar membangkitkan kembali cupid-cupid bodoh di dalam hatinya. Namun dengan segera Vika menepis, seakan di bangunkan dari tidur panjang tanpa mimpi. Dia ingin memejamkan mata, berpura-pura tidak pernah ada yang terjadi. Sebab, ia tidak mau merasa sakit untuk yang kesekian kalinya.
*****
Bulan juli sudah memasuki musim kemarau. Udara panas menguar. Sayangnya AC kantin memilih rusak di waktu yang tidak tepat. Jendela sudah di buka lebar, berharap agar angin masuk. Tapi hawa panas masih berputar di dalam ruangan. Harapan kesejukan di gantungkan pada kipas angin yang keluar paksa dari gudang.
Nisa mengangkat es kacang merah yang tinggal separuh. Resapan es meleleh membasahi sepetak kaca mejanya. Nisa tanpa sadar mengamatinya, lupa hendak membasahi tenggorokan, sampai muncul sebuah wajah samar-samar terpantul. Wajah itu mentapnya dengan seksama. Tampak begitu hidup dan seakan hendak keluar dari kaca. Lalu Nisa mengerutkan kening seiring dengan bibirnya yang menyebut sebuah nama. Samuel. Kenapa ia bisa melihat wajah laki-laki itu di balik gelas, ah sepertinya ia sudah tidak waras. Nisa menggeleng, lalu mengucap istighfar.
“Kamu biasa dapat inspriasi menulis darimana?” Tanya Samuel saat Nisa mendongak padanya.
Refleks Nisa mundur karena kaget. Tangan kiri Samuel dengan sigap menangkap gelas yang nyaris jatuh. Tanpa sengaja sebagian jarinya menyentuh jemari Nisa.
Nisa refleks menarik gelas dan meletakkannya dengan keras. “Astaghfirullah. Kamu ngapain disini?”
Samuel tersenyum, seperti biasa, menawan. “Biasakan menjawab dulu pertanyaan, baru membuat pertanyaan baru.”
Nisa berdehem untuk menetralkan suasana hatinya. “Kamu tidak butuh jawabannya. Jawab saja pertanyaanku, kamu ngapain disini?”
Sifat Nisa yang baru Samuel ketahui. Keras kepala dan tidak mau mengalah. Samuel memasukkan tangan ke kantong jeans, lalu memanatap sekeliling, kemudian membungkuk. “Saya kesini khusus untuk menemuimu.”
Nisa terperangah. Seingatnya ia tak membuat janji untuk bertemu dengan Samuel. Kantin belakang juga sepertinya bukan tempat nongkrong laki-laki itu, mengingat kantin tersebut hanya di kunjungi oleh mahasiswa-mahasiswa yang mampir dari Perpustakaan saja, seingatnya Nisa hampir tidak pernah melihat Samuel ke Perpustakaan. Kantin belakang adalah tempat favoritnya dengan Sarah, ah Sarah, Nisa baru ingat bahwa semua ini pasti ulah Sarah. Tadi Sarah yang memintanya untuk datang ke kantin belakang. Ia menyuruh Nisa berangkat duluan, dengan alibi masih ada tugas kelompok yang harus ia selesaikan.
“Sarah, ya?”
Samuel terkekeh. “Jangan marah sama Sarah. Karena saya yang minta tolong sama dia.”
__ADS_1
Nisa menggeram di dalam hati, namun ia masih terlihat tenang. “Ada apa?”
Samuel menarik kursi di depannya. “Mengenai tawaranmu waktu itu.”
Nisa mengangkat kedua alisnya. Membuat Samuel paham. “Saya sudah memutuskan.”
Mata Nisa terpejam sejenak. Sebuah tarikan napas dalam membuat punggungnya lebih tegak. Lalu matanya terbuka, “Apa keputusannmu?”
“Saya akan menemui Pak Kyai.”
Sudah Nisa duga. Laki-laki di hadapannya adalah sosok laki-laki yang suka perjuangan. Setidaknya itu yang sering ia dengar dari cerita Sarah. Tak heran, jika ia bertekad penuh untuk meujudkan keinginannya.
“Baik. Kamu bisa datang ke Rumah malam ini.”
Nisa mengambil tasnya yang tergeletak di bangku samping. Ia langsung bergegas pergi setelah mengucapkan kalimat barusan.
*****
“Mohon maaf menganggu waktunya sebentar Pak Kyai, ada yang mau saya sampaikan..”
“Maaf Pak Kyai, saya datang kesini dengan maksud…”
Samuel menggeram kesal dengan dirinya sendiri. Tidak biasanya ia kehilangan kata-kata seperti seakarang ini. Biasanya ia paling pandai dalam berkata-kata, dalam situasi apapun. Bahkan dirinya lebih cakap dari Fathur. Ia lebih sering di dorong menjadi pembicara dalam event-event tertentu. Tapi malam ini, entah kemana larinya klihaiannya berkata-kata.
Sudah lebih dari 15 menit, Samuel duduk di atas motor, di depan Parkiran Pesantren. Entah sudah berapa banyak santri yang mengenalnya menegur setiap kali mereka lewat. Namun Samuel masih saja bertahan duduk di sana. Nyamuk yang menghisap darahnya sesekali tak di pedulikan lagi. Sampai suara dering ponsel dari saku celananya bergetar.
“Assalamu’alaikum. Kamu dimana? Abi sudah menunggu.”
Samuel mengangguk. Bodoh, sudah pasti Nisa di seberang sana tak melihat. “Saya di parkiran. Otw kesitu, ya.” Suara kekehan menutupi kegugupannya.
Sambungan di putus setelah Nisa mengucapkan Salam. Samuel menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya kasar. Di rapikannya kerah kemeja yang ia kenakan, lalu sekilas ia menatap pantulan diirnya di spion motor.
Rambut gondrongnya disisir rapi dan diikat kebelakang. Setelan kemeja berwarna army di balut dengan celana jeans membuat tampilannya sedikit berbeda dari biasanya.
Dengan mengumpulkan segenap keberanian, Samuel melangkah memasuki pekarangan pesantren. Lalu berjalan lurus menuju sebuah Rumah yang terletak di sudut, samping Masjid.
Begitu sampai di depan pintu, Samuel membaca doa, doa apapun itu yang ia hafal. Dengan gerakan optimis di ketuklah pintu di hadapannya. “Assalamu’alaikum.”
Suara bariton khas bapak-bapak terdengar menyahut. Saat pintu di buka, wajah Pak Kyai menyembul di balik daun pintu. Jantung Samuel terasa di pompa begitu cepat. Keringat dingin membasahi telapak tangan dan ujung dahinya.
Setelah menyalami Pak Kyai dan di persilahkan masuk, Samuel duduk di ruang tamu. Tidak ada perbincangan di antara keduanya. Bahkan ia merasa saat ini Pak Kyai sedang menatanpnya dalam-dalam seolah hendak menguitinya.
kedatangan Nisa memecah kesunyian. Gadis itu datang entah dari arah mana, mungkin saja dapur, membawa senampan teh hijau hangat dan setoples cemilan.
“Hmm..” Pak Kyai berdehem. “Jadi ada apa, Nak Samuel?”
Samuel mendongak. Mendapati wajah Nisa yang meski terlihat tenang, namun tak bisa di pungkiri bahwa ia sedang gelisah di dalam sana.
“Begini Pak Kyai, saya punya i’tikad baik dengan Nisa.” Mati-matian Samuel berusaha menahan detak jantungnya yang gila-gilaan.
“Sebelumnya, kalau boleh tahu, kamu kesini apa sudah ada izin dari orang tua?”
Samuel menggeleng. “Tapi saya yakin, mereka selalu menerima keputusan saya.”
“Bagaimana jika tidak?”
“Mereka selalu mendukung hal-hal baik yang saya lakukan Pak Kyai, InsyaAllah.”
Pak Kyai terdiam. Ia melihat sifat Samuel yang tidak mudah di goyahkan. “Apa yang membuat kamu jatuh hati dengan Nisa?”
“Nisa berbeda dari perempuan lain. Ada beberapa hal dari diri Nisa yang tidak bisa saya temukan pada perempuan-perempuan yang saya temui selama ini.”
Pak Kyai menghembuskan napas kasar. Ia percaya dengan keteguhan hati pemuda di hadapannya ini, namun ada sebagian dari dirinya yang merasa ragu. “Bagaimana ilmu agamamu?”
Kali ini Samuel terdiam cukup lama. Ia mengusap tengkuknya, “Saya masih dalam tahap berproses, Pak Kyai.”
Nisa memperhatikan interaksi keduanya dengan perasaan was-was. Ia takut jika Abinya berbicara yang tidak-tidak.
“Sekarang Abi tanya sama kamu, nduk. Apa kamu memilki perasaan yang sama dengan Samuel?”
Nisa megangguk takut-takut. Ia menyembunyikan wajahnya dengan tundukan dalam. Rasanya ia ingin segera keluar gari situasi menegangkan ini.
“Tidak ada obat yang paling manjur bagi dua orang yang jatuh cinta kecuali pernikahan.” Pak Kyai menatap Samuel. Memperhatikan ekspresi pemuda tersebut akan ucapannya. “Tapi masih ada satu cara lagi yang bisa meminimalisir, yakni puasa.”
__ADS_1
Samuel terdiam. Ia tak menanggapi ucapan Pak Kyai.
“Samuel, saya pribadi bukan tidak menerimamu. Hanya saja saya mau kamu belajar dulu. Menjadi kepala rumah tangga bukanlah hal yang mudah. Setelah ilmu mu memadai, kamu bisa datang lagi kesini.”
Samuel mengangguk. Ada sebersit kecewa yang menjalar dalam hatinya.
“Saya sering melihat kamu bersama Ustadz Agam.”
Samuel mengangguk cepat, “Iya Pak Kyai, saya belajar ngaji.” Samuel tidak ingin menutupi satu pun kekurangan dirinya. Baginya lebih baik di cela karena kekurangannya, daripada di puji karena ingin terlihat sempurna.
Pak Kyai mengangguk-angguk. “Kalau begitu, Nak, belajarlah dulu. Tuntut ilmu sebanyak mungkin, agar bekalmu memadai untuk menyambut masa depan nanti.”
Samuel tidak mengatakan apapun, ia mencengkeram dudukan kursi. Bibirnya terkatup rapat. Ia menunduk dalam. Apa ia baru saja di tolak? Dengan bahasa yang sangat halus? Samuel menertawakan dirinya sendiri di dalam hati. Harusnya sejak dulu ia tahu diri, bahwa Nisa adalah sesuatu yang tidak bisa ia gapai, tidak akan pernah.
*****
“Nduk, perasaanmu itu muncul sejak Samuel mengadakan kegiatan di Pesantren, bukan?”
Nisa mendongak. Sejak tadi ia hanya tertunduk dalam. Mengingat bahwa Abinya baru saja menolak Samuel, membuat ada sedikit bagian dari hatinya yang terluka. Tidak, bukan sedikit, melainkan hampir sebagian besar hatinya merasa kecewa.
“Benar, Nis?”
Nisa mengangguk. Bila Abinya sudah tidak lagi memakai embel-embel ‘nduk’ untuk memanggilnya, berarti beliau sedang serius. “Abi menebak?” Tanya Nisa kemudian.
Abi menggeleng. “Abi juga pernah muda. Sorot mata Samuel, cara dia menatapmu, cara dia berbicara denganmu, dari semua itu Abi bisa menebak bahwa dia punya perasaan denganmu.”
Nisa mengerjapkan mata takjub. Tak menyangka bahwa Abinya bisa sepeka itu. Sedetik kemudian ia mencoba membela Samuel. “Dia laki-laki baik, Bi.”
Abi membuang napas lelah, “Nduk, ada banyak laki-laki baik yang mau denganmu. Bukan hanya dia. Kamu lihat Naim, pemuda itu juga diam-diam memiliki perasaan untukmu?”
Nisa melotot tak perya. “Naim, Bi?”
Abi mengangguk. “Dia pernah mengutarakan perasaannya untukmu kepada Abi.”
Pak Kyai mengusap bahu Nisa lembut. “Nduk, laki-laki baik adalah dia yang menyimpan rapat-rapat perasaannya kepada wanita yang ia cintai, kenapa? Karena dia takut, jikalau perasaannya itu justru merugikan wanita tersebut. Ia takut, kalau karena perasaannya itu, Allah murka.”
“Tapi Samuel juga sudah memiliki i’tikad baik dengan mengunjungi Abi dan menyampaikan niatnya.” Ucap Nisa. Ia tak terima bila Abinya tidak objektif dalam menilai.
“Iya, Abi tau. Abi hargai itu. Tapi apa gunanya dia datang tanpa memiliki kesiapan? Pernikahan bukan hal yang main-main, Nduk. Membangun bahtera rumah tangga bukan hanya sekedar atas asas suka sama suka, tapi seberapa bisa seseorang mampu mempertanggung jawabkan pernikahannya.”
Nisa terdiam. Air mata menggenang di pelupuk matanya. “Apa salah kalau Nisa berharap bahwa Nisa bisa menggiringnya untuk memperbaiki diri? Nisa berharap dengan hubungan yang lebih serius, dia bisa belajar dari Nisa. Dan Nisa bisa membagika ilmu yang selama ini Nisa miliki.”
Abi menggeleng. Meskipun paham dengan tabiat putrinya yang keras kepala, namun Nisa masih tetap harus diarahkan. “Nduk, apa ada hal yang bisa menjamin bahwa kamu sanggup melakukan itu? Abi paham perasaanmu. Tapi di dunia ini, tidak semua hal bisa kamu kendalikan dengan tanganmu. Ada beberapa hal yang memang harus kamu lepaskan.”
Setetes air mata lolos membasahi pipi Nisa. Ini adalah kali pertama ia merasakan perasaan jatuh cinta yang sebenarnya kepada seseorang, namun ini juga adalah patah hati perdananya karena seseorang itu juga.
*****
Alila baru saja menyelesaikan mengajinya. Ia hendak meninggalkan Masjid, namun langkahnya terhenti ketika netranya jatuh pada punggung seseorang yang berjalan lunglai di depan sana. Dalam diam ia mengamati. Alila tahu persis, bahwa ada sesuatu yang terjadi dengan laki-laki itu. 2 tahun bersama membuatnya sedikit banyak memahami sikap dan sifat laki-laki itu.
Laki-laki itu berhenti di parkiran. Lalu duduk di atas motor. Kepalanya tertunduk, sesekali terdengar helaan napas berat yang keluar dari bibirnya.
“Sam.”
Laki-laki itu mendongak. Matanya memerah. Ketika melihat siapa yang ada di hadapannya, seketika ia memutar kunci, hendak menyalakan mesin motornya.
“Tunggu!” Alila menahan pergerakan tangan Samuel, namun di tepis dengan kasar.
“Lo ngapain ngikutin gue sampai kesini?” Nada suaranya bergetar, namun sarat akan kemarahan.
Alila menggeleng. Ia sama sekali tidak mengikuti Samuel. Benar, memang dirinya masih engharapkan Samuel dan beberapa kali ia meminta untuk bertemu, tapi bukan berarti ia memiliki niat untuk menguntit laki-laki tersebut. “Aku nggak ngikutin kamu.” Ucapnya.
Samuel tersenyum miring. “Kalau nggak ngikutin gue, terus lo ngapain disini?”
“Aku mondok disini.”
Samuel tertawa, bukan tawa senang, melainkan tawa hambar yang di buat-buat. “Oke oke, semoga ucapan lo itu diaminkan oleh Malaikat. Meskipun saat ini lo sedang berbohong.”
“Aku nggak bohong!” Alila berteriak. Kesal karena Samuel selalu menganggapnya buruk.
“Oh ya? Sayangnya gue nggak ada alasan buat percaya.” Samuel kembali menghidupkan mesin motornya. Begitu mesin menyala, ia langsung tancap gas meninggalkan Alila uang masih berdiri mematung di tempatnya.
Samuel membencinya. Bahkan sangat membencinya lebih dari apapun. Seorang Samuel yang dulu bahkan tidak pernah berkata kasar padanya, hari ini justru makian yang selalu ia lontarkan ketika bertemu dengan dirinya. Tapi tak sedikitpun perasaan yang Alila miliki kepada laki-laki tersebut berubah. Sekalipun Samuel membencinya, hatinya masih tetap menyimpan dengan utuh perasaan yang sama. Alila yakin, sebenci apapun Samuel dengan dirinya saat ini, ia pasti juga masih menyimpan beberapa keing kenangan saat bersamanya dulu. People change, but memories don’t.
__ADS_1