
Haruskah aku menerima khitbahan lelaki yang sama sekali aku tidak mengenal sebelumnya, tapi bagaimana akupun sulit untuk menolak apalagi jika berhubungan dengan kesehatan bapak, aku tidak bisa mengecewakan mereka.
Ya Allah bantulah aku untuk memutuskan hal yang sangat sulit ini.
Begitu aku turun dari tangga aku sangat kaget dia, dia yang mau mengkhitbahku ternyata laki-laki 1 tahun yang lalu yang ada di walimahan Ulva.
Aku berfikir apakah dia tidak mengenaliku atau memang dia sudah lupa kepadaku.
Waktu menunjukan pukul 19.40, kami baru selesai makan malam, dan keluarga Om Ardi, mulai membicarakan acara khitbahan.
Om Ardi menyuruh anaknya yang mau mengkhitbahku untuk berbicara tentang niatan mereka datang ke rumah.
"Begini Dek Rania niat saya datang kerumah dek Rania adalah untuk mengkhitbah de Rania, apakah dek Rania menerima khitbahan saya?". Tanya laki-laki itu kepadaku, aku tiba-tiba gugup saat akan menjawab lidah ku terasa kelu.
Aku berikan jawaban dengan sebuah anggukan, bukan tak mau bicara namun rasanya sangat sulit untuk bicara.
Orang-orang yang melihat anggukanku mengucapkan Alhamdulillah, dan bapak mengusulkan agar pernikah di percepat saja.
Keluarga laki-lakipun setuju mereka menetapkan pernikahan 7 hari lagi. Aku tidak mungkin menolak, sebab bapak sudah menyetujuinya.
_______*******_________*******______
Hari ini adalah hari di mana pernikahanku berlangsung, aku sedang berada di hadapan meja rias melihat diriku di cermin.
Aku menggunakan gaun putih dengan wajah di tutupi cadar.
Bajuku memang tidak terlalu mewah sebab aku tidak inging meng hambur-hamburkan uang. Hanya untuk sebuah baju.
Entah apa yang aku rasakan, sedih, senang, dan juga grogi.
Sedih karena aku menikah dengan dia yang mungkin saja tidak mencintaiku.
Senang karena aku menikah dengan dia yang aku ka g umi satu tahun lalu.
Grogi karena hari ini adalah hari paling sakral bagiku.
Waktu menunjukan pukul 9.00 dan sebentar lagi ijab qobul akan segera di laksanakan, aku begitu gugup di dalam kamar, keringat dingin membasahi tubuh ku.
Samar-samar aku dengar penghulu berbicara.
Lalu aku dengar bapak berbicara
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau saudara Aditya nugraha bin Ardi nugraha dengan putri saya Rania az zahra binti Devan pratama Dengan maskawin seperangkat alat sholat di bayar tunai"
"Saya terima nikah dan kawinnya Rania az zahra binti Devan pratama dengan maskawin tersebut tunai.
"Sah para saksi" ucap penghulu
__ADS_1
"Sah" ucap semua orang yang ada di situ.
Aku bernapas lega, dia yang aku cintai dalam dia kini telah menjadi suamiku.
Malam ini aku merasa gugup, aku menutup tubuh ku dalam selimut, hari ini juga aku merasa sangat lelah, semoga saya Kak Adit tidak meminta hak nya malam ini, karena jujur saja aku belum siap.
Tiba-tiba aku mendengar pintu terbuka langsung saja aku pejamkan mataku, akupun masih menggunakan cadar saat ini.
Ceklek..
Aditya pov.
Sepertinya dia sangat kelelahan, dia bahkan memakai cacar saat tidur, apa yang harus aku lakukan apa dia tidak senang dengan pernikahan ini, sehingga ia tidak mau untuk sekedar membuka cadar di depanku.
Aku ini suaminya dan tidak akan dosa bila aku melihat wajahnya, ah mungkin saja dia merasa malu.
Aku merasakan Ka Adit mengusap-ngusap dahoku, aku kira dia akan membangunkanku tapi tidak dia hanya mengecup dahiku.
Bahkan dia sama sekali tidak membuka cadarku.
Aku mendengarnya meminta maaf padaku.
"Rania maafkan kakak karena belum bisa sepenuhnya memberikan cinta kakak padamu, kau tahu Ran jauh sebelum kau hadir sudah ada yang lain yang mengisi hati kaka, dan mungkin cinta kakak masih separuh berada padanya". Ucap Ka Adit dan itu berhasil membuat aku merasa sakit, ternyata laki-laki yang aku ka g umi selama satu tahun ini mencintai wanita lain.
Kak Adit belum tahu bahwa aku Adalah gadis yang pernah ia tabrak di walimahan Ulva dan Kelvin. Dulu aku hanya menggunakan jilbab dan sekarang aku menggunakan niqab. Jadi pantas saja Ka Adit tak mengenaliku.
Aku bingung Bagaimana aku memberitahunya, aku takut bahwa dia tidak akan menerimaku karena dulu kami pernah bertengkar.
Baru saja kemarin kami menikah dan sekarang Ka Adit sudah mau meninggalkanku ke luar negeri ya itu memang tugas dan dia harus besikap provesional dia akan pergi 3 hari untuk melakukan tugasnya sebagai dokter. Dan dia akan kembali pada saat walimahan pernikahan kami.
Acara walimah sudah selesai di laksanan, sekarang sudah pukul 21.00 aku sangat lelah.
Selesai mandi aku langsung berbaring di ranjang mengistirahatkan tubuh ku, dalam hati aku bertanya apakah Kak Adit akan meminta hak nya malam ini, karena sekarang sudah 4 hari pernikahanku bejalan dan Ka Adit belum meminta haknya dariku.
Ceklek..
Suara pintu terbuka dan munculah sosok tampan suamiku.
"Loh Az kamu belum tidur?". Tanya Ka Adit padaku dan aku hanya menggelengkan kepala.
Jantungku berdebar apakah Ka Adit akan meminta haknya, keringat mulai membasahi tubuhku aku sangat gerogi.
Ka Adit tersenyum padaku, akupun membalas senyumnya namun Ka Adit mungkin tidak bisa melihat senyumku karena aku menggunakan cadar.
Ya aku belum berani membuka cadarku di depan Ka Adit, aku malu, takut, apakah jika aku membuka cadarku dia masih mengenaliku, ini sudah cukup lama dari insiden itu.
"Dek , Kakak mau berbicara denganmu". Ucapnya ada expresi keraguan padanya, entahlah apa yang ingin Ka Adit bicarakan denganku.
__ADS_1
"Iya Ka silahkan mau bicara apa?". Ujarku.
Ka Adit menatapku sejenak lalu menarik napasnya sangat dalam.
"Begini, Kakak mau jujur kepadamu, tapi sebelum itu kamu janji dulu gak akan marah sama Kakak". Ucapnya.
"Ya tergantung apa yang Kakak bicarakan, Az tidak bisa berjanji sebab Az tidak tau apa yang akan Kaka bicarakan". Jawabku.
"Az sebenarnya aku mencintai perempuan lain". Unkapnya dengan wajah yang seperti menyimpan kesedihan.
"Az sudah tahu". Jawabku, aku menahan rasa sakit ternyata apa yang aku dengar 4 hari yang lalu tidak salah Ka Aditya mencintai perempuan lain.
"Kamu tahu darimana Az". Ucapnya penuh tanda tanya.
"Dari Kakak". Ucapku dengan suara paraw yang hampir menangis.
"Kakak baru berbicara kepadamu sekarang Az". Ucapnya bingung.
"Kakak memang baru berbicara sekarang saat aku sadar, tapi 4 hari yang lalu, saat hari pernikahan kita Kakak juga berkata seperti ini saat Aku tidur". Ucapku menahan tangis.
"Maafkan aku Az tapi rasa cintaku padanya semakin bertambah saat aku berada bersamamu sekarang, aku tidak tau apa yang terjadi padaku tapi aku benar-benar tidak bisa melupakan gadis yang memikat hatiku 1 tahun lalu". Ungkap Ka Adit panjang lebar, hatiku semakin sakit saja, suamiku semakin mencintai perempuan itu di saat dia berada di dekatku.
"Lalu kenapa Ka Adit mau menikahiku jika Ka Adit mencintai perempuan lain dan tidak mencintaiku". Ucap ku sambil terisak.
"Kamu salah Az aku mencintaimu dan merasakan nyaman berada di dekatmu makanya aku menikahimu, tapi aku juga tidak ingin berbohong bahwa aku juga mencintai dia". Ka adit berbicara dengan suara yang sangat lembut.
"Lantas apa mau Kakak?". Tanyaku aku takut, Ka Adit meninggalkanku apalagi jika dia tau bahwa aku ini gadis menyebalkan yang satu tahun lalu ribut dengannya.
"Tolong beri aku waktu untuk bisa melupakannya Az". Ucapnya.
"Baiklah Ka". Jawabku dengan suara lemah.
"Az kenapa kamu memakai cadar, kamu kan sekarang sudah sah menjadi istriku?". Tanya Ka adit, aku tidak mungkin membuka cadar malam ini, aku takut dia masih marah kepadku atas kejadian itu.
"Aku akan membukanya Ka tapi tidak untuk malam ini, aku butuh waktu". Ucapku.
"Baiklah tidak masalah". Jawabnya.
"Ka aku sudah mengantuk aku ingin tidur".
Ka Adit membaringkan dirinya lalu menyimpan lengannya di atas bantalku.
"Ayo tidur" ucap Ka Adit.
"Lengan Kakak?". Aku bingun.
"Taruhlah kepalmu di lenganku" ucap Ka Adit.
__ADS_1
"Tapi tangan Kakak akan terasa pegal nantinya". Dia tersenyum dan menatap mataku.
"Tidak masalah". Ucapnya sambil merengkuh badanku dan sekarang aku bagaikan bantal guling dia memelukku begitu erat.