Cinta Yang Halal

Cinta Yang Halal
Pertemuan


__ADS_3

Tak terasa waktu satu bulan itu sangatlah cepat, sekarang aku sedang ada di pernikahan Ulva, oh ya Ulva terlihat gugup sekali, dia tidak ingin aku jauh darinya hingga saat di dandanipun aku harus setia menemaninya.


Waktu sudah menunjukan pukul 07.00 dan sejam lagi ijab qobul akan segera di laksanakan. Aku pamit dulu kepada Ulva untuk ke toko mengambil kue.


"Va aku ke toko dulu yah sebentar". ucapku.


"Iya Ran hati-hati yah, cepet balik lagi kesini yqh Ran soalnya aku gugup banget nih".


"Iya Va sebentar doang ko cuma ngambil kue".


Sampai di toko aku menyuruh Ba Ica untuk memasukan kue ke dalam taksi.


"Ba Ica, tolong yah masukan kue ini ke taksi, awas loh jangan sampai rusak" ucapku pada ba ica yang ia jawab dengan anggukan.


"Teh Ran masukin semuanya nih " tanya Ba Ica kepadaku.


"Masukan kue pengantin sama yang pesenan aja Ba, yang di kotak hijau gak usah biar saya saja yang masukan". jawabku.


"Ya sudah Teh Ran udah Mba masukan semua tuh" ucapnya.


"Ya sudah yah Ba Ica, Makasih, Ran pergi dulu, Assalamuaikum". aku meninggalkan Ba Ica dan langsung naik ke taksi.


"Waalaikumsalam, hati-hati Teh".


Ini sudah pukul 07.30 aku harus segera masuk untuk merapikan kue-kue ini.


"Mas Dim, tolong bantu Ran buat ngangkattin kue ke dalam dong". ucapku meminta tolong pada Mas Dimas sepupu Ulva.


"Iya Ran" jawab Mas Dimas


Acara ijab qobul' pun selesai, kini sahabatku telah sah menjadi istri orang.


Sekarang pukul 19.00, dan akan di adakan resepsi.


"Ran kamu belum makan dari siang?" tanya Ulva kepadaku.


"Belum Va, lagipula aku belum laper" Jawabku pada Ulva.


"Kamu makan dulu sana, biar nanti pas resepsi di mulai kamu bisa temenin aku". Ulva menyuruhku makan.


"Baiklah Va, ya sudah aku makan dulu yah Va, Mas Kel awas jagain Ulva yah jangan sampai lecet loh". akupun pergi untuk makan dan sebelum pergi aku sempat berbicara pada suami Upva untuk menjaga Ulva.


"Iyah Ran pasti aku jagain ko, diakan istriku sekarang, manamungkin aku membiarkan istri cantiku ini lecet". jawab Mas Kelvin yang berhasil membuat wajah Ulva memerah.


Aku sedang berjalan membawa kue ke meja tiba-tiba ada sesorang yang menambraku dan membuat kue yang aku pegang jatuh dan mengotori jilbabku, aku sangat kesal apa dia tidak bisa berhati-hati fikirku.


"Astagfirullah al-adzim, bapak tidak bisa hati-hati yah kalau jalan" ucapku dengan nada kesal.


"Kamu yang gak liat-liat kalau jalan" Ucapnya tanpa rasa bersalah, padahal dia tadi yang berjalan tergesa-gesa hingga menabraku.


"Sudah salah tapi gak mau minta maaf apa susahnya sih pak minta maaf, bapakan yang salah di tempat yang ramai seperti ini malah lari-lari" ucapku padanya.


"Kalau kamu lihat saya berlari kenapa kamu gak ngehindar, sudahlah saya buru-buru tak ada waktu untuk meladeni kamu". ucapnya datar dengan wajah tanpa dosa.


"Cih,, dia yang salah tapi tak mau di salahkan dasar". umpatku dalam hati.


Aku segera ke kamar mandi untuk membersihkan Jilbabku yang kotor.


Rasa kesal masih memenuhi hatiku bagaima tidak dia yang salah tapi tak mau minta maaf.

__ADS_1


Akhirnya aku berwudhu untuk meredamkan rasa marahku padanya.


Dan aku langsung kembali ke Pelaminan untuk menemani Ulva.


"Ran kamu dari mana saja sih makan ko lama banget, eh Jilbab kamu ko basah sih Ran" tanya ulva padaku.


"Aku abis dari kamar mandi Va, iyah ini tadi kena krim kue waktu aku hendak makan". jawabku pada Ulva, aku tidak berkata aku tidak jadi makan kepada Ulva kalau Ulva tahu aku tidak makan pasti dia akan menyuruhku kembali ke tempat makan untuk makan.


"Mas Kel kamana Va ko kamu sendiri sih?". Aku menanyakan Mas Kelvin kepada Ulva karena aku tidak melihat dia di sini.


"Mas Kelvin sedang menemui temannya Ran, paling sebentar lagi balik sini ko". Ucap Ulva memberitahuku.


Aku sudah lelah menemani Ulva seharian ini, akhirnya aku memutuskan untuk pamit pulang karena sekarang sudah jam 22.00, besok pagi aku harus membuat kue dan pergi bekerja.


"Va, aku pamit pulang dulu yah ini sudah malam". Ucapku pada Upva berpamitan.


"Tunggu sebentar Ran tunggu Bang Kelvin balik kesini ya, masa kamu tega sih ninggalin aku sendirian, sebentar saja Ran nanti kalau Bang


Kelvi sudah balik kesini kamu boleh deh pulang". Ucap Ulva padaku dengan ekspresi yang memelas.


"Ya sudah baiklah". Aku tidak akan tega meninggalkan temanku sendiri jadi aku menuruti permintaan Ulva.


"Eh Ran belum pulang". Aku mendengar suara Mas Kelvin bertanya.


"Belum Bang tadi aku suruh Ran temenin aku dulu sebelum Abang balik kesini, Abang dari mana saja sih?". Ucap Ulva pada suaminya.


"Abang dari depan, Maaf ya Ran jadi membuat kamu pulang ke maleman akibat aku tinggalin Ulva".


"Ya tidak masalah mas, oh ya aku pamit dulu yah Va, Mas Kel". Ucapku hendak pergi baru saja selangkah aku pergi dari mereka, Mas Kel sudah memanggilku lagi.


"Eh Ran tunggu sebentar". Ucap mas Kel akupun membalikan badanku.


"Ini loh Bang Kelvin mau ngenalin dulu kamu sama temennya Ran". Jawab Ulva


"Oh". Aku hanya ber oh.


"Dit sini". Mas Kel memanggil temannya.


"Adapa Kel?". Tanya lelaki yang di panggin Dit terswbut.


" Ini Dit aku mau kenalin kamu sama temen istriku, Namanya Ran..". Sebelum Mas Kel menyebutkan semua namaku dia melirik ke arahku.


Kami sama-sama kaget, dia kan pria menyebalkan yang tadi menabraku.


"Kamu". Ucap kami bebarengan.


"Loh kalian sudah saling kenal". Tanya Mas Kel.


"Dia itu yang tadi marah-marah ke saya Kel". Jawabbpria itu kepada mas Kelvin.


"Loh Ran kenapa kamu marah-marah ke temen suamiku?". Tanya Ulva padaku.


"Bagaimana aku tidak marah Va dia menabraku dan menyebabkan jilbabku kotor karena terkena krim kue". Ucapku pada Ulva.


"Gak biasanya kamu nge besar-besarin masalah Ran". Ucap Ulva padaku.


"Aku tak membesar-besarkan maslah Va, aku hanya kesal saja dia tidak mau meminta maaf padahal dia yang salah". Jawabku pada Ulva.


"Loh, kenapa kamu gak mencoba menghindar saat melihatku lari". Ucap pria itu.

__ADS_1


Aku sangat geram dari tadi pria ini terus saja menyalahkanku dan tidak mau minta maaf padahal dia yang salah.


"Va aku pamit pulang dulu ini sudah sangat malam". Ucapku akhirnya karena malas terus-terusan berdebat.


"Ya sudah ayo aku antar sampai depan, kamu beranikan Ran pulang sendirian malam-malam seperti ini?" tanya Ulva padaku.


"Iyah aku berani, ya sudah aku pamit yah, Assalamualaikum".


"Waalaikumsalam". Ucap mereka bertiga menjawab salamku.


Ada apa denganku tadi malam biasanya aku tidak akan marah ataupun kesal saat menghadapi masalah, apalagi ini masalah sepele, "oh Rania kenapa kau seperti ini". Ucap ku pada diriku sendiri.


Dreet dret dret..


Ponselku bergetar menandakan ada panggilan masuk.


"Halo Assalamualaikum Bu". Oh ternyata ibuku yang menelepon.


"Waalaikumsalam Az". Jawab ibuku di sebrang sana, oh iya ibuku memanggilku Az bukan Ran seperti yang lain karena Az adalah panggilan sayang ibu kepadaku.


"Apa kabar Bu, oh iya ada apa Bu pagi-pagi begini sudah menelepon?". Tanyaku pada Ibu.


"Baik Az.. Begini Az besok kamu bisa gak pulang ibu mau membicarakan sesuatu yang penting ". Ada apa ini tak biasanya Ibu memintaku pulang di luar jadwal libur ku.


"Baiklah Bu besok Az usahain pulang, memangnya tidak bisa di bicarakan di telepon ya bu?".


"Tidak bisa Az, yasudah udah dulu yah Ibu tutup teleponnya, assalamualaikum Az". Ibuku menutup telpon.


"Waalaikumsalam Bu".


Yah mungkin Ibu rindu padaku jadi aku pasti akan pulang. Aku baru ingat bahwa hari ini kontrak kerjaku sudah usai, Bosku menawarkanku untuk memperpanjang kontrak, tapi aku tak akan memperpanjangnya.


Mungkin aku akan memperbesar toko dan mulai usaha sendiri saja, lagi pula kerja dengan mengandalkan hobbykan lebih menyenangkan.


"Az ibu cuma mau bilang..". Belum selesai ibu bicara bapak sudah memotongnya.


"Bu sudahlah biarkan Rania istirahat dulu, di baru datang". Ucap Bapak pada ibu.


"Tidak apa pak, jika ibu ingin bicara sekarang tida apa-apa ko". Selaku.


"Bener kata Bapakmu Az, kamu sebaiknya istirahat dulu sana biar nanti saja pas makan malam ibu bicaranya". Sahut ibu.


Hari ini sangat melelahkan dan lusa aku harus balik lagi ke jakarta.


"Begini Az ibu mau menanyakan, kapan kamu akan menikah Az?".


"Loh Bu kenapa tiba-tiba harus membahas kapan Az menikah Bu?". Sudah aku duga pasti ini yang akan di bicarakan ibu, sbenarnya aku sudah siap menikah, tapi bagaimana Allah belum mempertemukan aku dengan jodohku.


"Az adik kamu ziya dia sudah di khitbah, dan dia mau segera melangsungkan pernikahan". Aku sempat kaget adiku z iya baru saja menginjak usia 19 thn lalu dia sudah akan menikah.


"Ya sudah Bu, Pak tinggal nikahkan saja, lagi pula itu lebih bagus daripada berlama-lama akan menimbulkan hal-hal yang kurang baik". Ucapku.


"Bagaimana kami akan menikahkan adikmu Ran, sedangkan kamu sebagai kakanya saja belum menikah, kami tidak mau kamu sampai di langkahi adikmu". Ucap bapak.


"Pak Z iya kan sudah di pertemukan dengan jodohnya lebih baik di segerakan menikah daripada menjadi fitnah, Ran juga mau menikah tapi bagaimana Allah belum mempertemukan Ran dengan jodoh Ran pak bu". Jawabku padibu dan bapak.


"Ya sudah pernikahan akan di laksanakan sebulan lagi ran jika kamu setuju".


"Ran setuju ko pak, ya sudah ran tidur dulu, besok ran harus kembali ke jakarta". Niat awalku yang akan kembali ke jakarta lusa menjadi aku pajukan, jadi aku akan pulang besok saja, persetan dengan rasa lelah ini.

__ADS_1


__ADS_2