Cinta Yang Halal

Cinta Yang Halal
33


__ADS_3

Sudah hampir seminggu Nisa tidak pernah bertemu Samuel. Laki-laki itu juga tidak pernah menghubunginya. Berat memang, melepaskan seseorang yang kita cintai untuk orang lain, di saat perasaan kita ke dia sedang berada di level tertinggi. Nisa terpaksa harus menekan egonya kuat-kuat, mencoba meyakinkan diri, bahwa yang mencintai Samuel bukan hanya dirinya saja, Alila jauh lebih dulu menaruh rasa pada laki-laki itu. Bahkan jika di pikir-pikir, Alila jauh lebih mekbutuhkan Samuel dibandingkan dirinya. "Macam mana pula ini. Pantas awannya mendung sangat, ternyata petirnya ada disampingku." Sarah meletakkan tasnya di samping Nisa, sambil menggoda gadis itu.


Nisa hanya melirik sekilas, tak memiliki minat untuk membalas ucapan Sarah.


Sarah duduk beringsut mendekat, tangannya bertumpu pada meja lalu di topangkan di atas dagu. "Belum dapat titik terang?" Tanyanya.


Nisa mengusap wajah, mengucap istighfar berkali-kali. Setelah membuang napas kasar, ia kembali duduk dengan tenang. "Aku nyuruh Samuel pilih Alila."


Sarah nyaris terjengkang karena tiba-tiba berdiri saat keseimbangannya belum sepenuhnya stabil. "Kamu piye sih, Nis?!" Ucapnya melengking.


Seluruh pasang mata yang ada di dalam kelad tertuju pada mereka berdua. Nisa segera menarik lengan Sarah untuk duduk kembali dan mengisyaratkan sahabatnya tersebut agar diam. "Suaramu itu loh, Rah. Mbok ya santai aja kenapa." Protes Nisa.


"Gimana aku bisa santai, wong kamu ngambil keputusan edan kayak gitu." Kali ini volume suara Sarah sudah tak semelengking tadi. Bahkan terkesan bisik-bisik. "Cerita cepet, kenapa bisa ngomong gitu ke Samuel." Ucapnya lagi.


Nisa membasahi kerongkongannya yang kering, lalu berdehem. "Alila jauh lebih butuh Samuel daripada aku." Jawab Nisa.


Sarah tersenyum miring, "Heh, lama-lama aku pengen ngatain kamu itu sok tahu. Kamu bilang kayak gitu atas asas praduga kamu lagi, kan?"


Nisa menggeleng cepat, "Enggak. Jadi dua hari lalu aku sempet ngobrol sama Alila. Dia bahas Samuel. Alila tuh nggak pernah kelihatan punya semangat hidup, tapi ketika dia bicara tentang Samuel, matanya tuh berbinar-binar. Seolah-olah Samuel itu pusat dunianya."


Sarah terdiam sejenak, lalu setelahnya ia tertawa keras. "Udah udah, aku tau pokok permasalahannya dimana. Kamu cemburu." Gadis itu masih tertawa.


Nisa melotot. Ia tidak cemburu, bahkan ia tidak tahu bagaimana rasanya cemburu itu sendiri. "Aku nggak cemburu!" Serunya. Ia tidak ingin di cap sebagai gadis posesif di saat ia tidak memiliki ikatan yang jelas dengan Samuel. "Aku cuma sedang menyampaikan apa yang ku lihat dari Alila saja."


Alila mengangguk-anggukkan kepala, "Iya deh, iya, Nisa nggak cemburu kok." Tawanya kembali terdengar, wajahnya pun masih terlihat menggoda.


"Rah, ih. Males nih aku cerita kalo kamu kayak gini." Nisa merajuk. Membuat Sarah mati-matian menghentikan tawanya.


Ini adalah kali pertama ia melihat Nisa cemburu. Gadis sepolos Nisa bahkan tak tahu bagaimana bentuknya perasaan cemburu itu, sampai-sampai ketika dia mengalaminya, ia sendiri tidak bisa mendefinisikan perasaannya dan malah berputar-putr membuat alibi. "Oke oke, aku berhenti."


Nisa akhirnya berbalik. Wajahnya memerah, entah karena malu atau karena baru menyadari bahwa ia sedang cemburu.


"Jadi rencanamu apa sekarang?"


Nisa mengendikkan bahu, "Entah."


Sarah membuang napas kasar, "Jangan lepasin Samuel, Nis."


"Kenapa?" Tanya Nisa tak mengerti dengan ucapan Sarah.


"Kasian. Dia lagi dalam proses belajar agama. Jangan sampai keputusan kamu mempengaruhi langkah hijrahnya."


Nisa terdiam. Sebelum akhirnya buka suara, "Kalau hijrahnya lillahi ta'ala, maka ia akan terus melanjutkan proses belajarnya, ada atau tidak adanya aku. Tapi kalau cuma karena aku dia mau mempelajari agama, maka sudah bisa di pastikan, dia berhenti untuk belajar."


*****


Vika sedang menyusun proposal untuk pengadaan seminar. BEM rencananya akan mengadakan seminar mengenai penulisan karya tulis ilmiah. Tidak main-main, BEM mengundang pemateri yang luar biasa, bahkan pemateri itu adalah seorang pembicara yang datang dari negeri seberang, yakni Australia."


Persiapan seminar pun sudah disusun sedemikian rupa sejak 1 bulan sepelum hari H. Seminar diadakan selama 4 hari berturut-turut. Dan seminar ini tidak hanya di hadiri oleh kalangan mahasiswa, melainkan terbuka untuk umum.


Vika menoleh saat derit pintu di buka terdengar bising di telinga. "Vik, bikinin surah permohonan untuk pembicara dong." Fathur mengambil posisi nyaman, duduk bersila di samping Vika.


Vika mengangguk. Ia segera berpinda dari jendela word proposal, menuju jendela word baru. Tangannya dengan lihai mulai meng-copy paste dokumen yang sudah ada.


"Menurut lo, Samuel kenapa?"


Vika menoleh, dan mengangkat alis ketika Fathur menanyakan hal itu. "Kenapa memang?" Tanyanya.


"Tuh anak dari kemarin ngeborong kerjaan. Beberapa pekerjaan yang seharusnya bukan dia yang ngerjain malah di ambil alih semua. Nggak pernah tuh istirahat sampai sekarang."

__ADS_1


Vika berpikir sejenak. "Lo nggak coba nanyain penyebabnya?"


Fathur mendengus, "Udah. Tapi gue malah di anjing anjingin. Males banget gue kalau dia lagi dalam mode senggol bacok gitu. Udah kayak singa betina minta kawin tapi nggak nemuin pejantan yang tangguh."


Vika memukul lengan Fathur keras, hingga laki-laki iyu mengaduh. "Ngaco banget sih lo."


Fathur mnegusap-usap lengannya, "Yaelah, Vik beneran. Kalau nggak percaya noh lihat sendiri di sebelah. Dia udah kek fosil Fir'aun di kasih nyawa, diem aja nggak ada bunyinya."


Vika segera menyelesaikan surat permohonan yang di buatnya. Setelah itu ia menyalakan mesin cetak, kemudian mengklik tombol print pada mesin komputer. Bahkan belum sempat dokumen itu tercetak, Vika sudah meninggalkannya. Membuat Fathur misuh-misuh, padahal hanya sisa menunggu dokumen selesai tercetak saja.


Vika mengetuk pintu sebelum masuk di ruang sekretariat resmi. Tidak ada jawaban. Vika mendorong pintu itu perlahan. Di lihatnya Samuel yang sedang duduk di meja kerjanya menghadap laptop. Tangannya sibuk memainkan mouse, dan mesin cetak terdengar bising karena ruangan yang sepi.


Tatapan Samuel lurus ke depan, namun Vika tahu, bukan laptop atau kerjaan yang menjadi titik fokus pikirannya saat ini. Entah apa yang sedang laki-laki itu pikirkan. Terakhir kali Vika melihatnya seperti ini, dua tahun yang lalu. Ketika ia masih menjadi MABA. Waktu itu Samuel masih rajin belajar di kelas. Jadi, kelas merupakan satu-satunya tempat nongkrong yang paling nyaman. Cowok itu duduk di depan jendela yang berada di pojokan, lama sekali. Tidak ada yang dia lakukan selain duduk diam memandangi orang-orang yang berlalu lalang di luar jendela. Saat itu teman-teman yang lain hanya berbisik-bisik dan menebak-nebak, kira-kira apa yang membuat Samuel seperti itu. Salah satu teman kelas yang bernama Rusdi mencoba untuk mengurnya dengan bayolan yang justru membuat Samuel marah. Samuel meninju rahang Rusdi sampai laki-laki itu tersungkur ke lantai. Beruntung, beberapa teman yang lain mencoba memisahkan. Setelahnya, Samuel sempat membanting kursi sebelum meninggalkan kelas. Tapi sikap Samuel yang seperti itu sudah lama tidak pernah muncul. Ia lebih sering terlihat ceria ketimbang muram.


"Sam." Vika menegur hati-hati.


Samuel menoleh sekilas lalu kembali fokus pada layar monitor lagi. Kalau sudah begini, benar lah kata Fathur, Samuel seperti singa betina yang minta kawin tapi nggak nemu pejantan yang tangguh. Sesaat Vika terkikik geli mengingat analogi Fathur yang berbau porno.


Melihat Vika tertawa, Samuel menoleh lagi, "Kenapa lo?" Tanyanya sinis.


"Weits, santai bro." Vika menghentikan tawanya setelah berhasil membuat Samuel buka suara. "Mau ngopi di warkop?" Tawar Vika. Gadis itu menaik-naikkan kedua alisnya.


Samuel tak merespon, laki-laki itu justru bergerak mengambil sesuatu di dalam tasnya. Merasa di abaikan, Vika tidak mau lagi mengganggu Samuel. Ia berniat meninggalkan Samuel. Biarlah laki-laki itu menenangkan pikirannya. Mungkin saat ini ia sedang tidak butuh siapa-siapa, pikirnya.


Ketika kaki Vika hendak bergerak keluar ruangan, Samuel menahannya. "Mau kemana lo? Tadi ngajakin, sekarang mau ninggalin."


Vika memutar tubuh menghadap Samuel. "Gue kirain lo nggak mau." Ucapnya polos.


Samuel hanya berdecak. Laki-laki itu memakai jaket parasut yang baru saja ia ambil dari dalam tasnya. "Ayo." Ia berjalan duluan. Meninggalkan Vika yang melongo takjub. Namun setelahnya ia tertawa, tawanya terdengar renyah.


Hal pertama yang di lakukan Samuel saat tiba di Warkop adalah memainkan kicir-kicir milik Salwa, anak pemilik warkop yang baru berusia 5 tahun. Ia sama sekali tak berbicara, bahkan tak juga bergerak memesan seuatu. Jemgah melihat tingkah Samuel yang konyol, akhirnya Vika yang duluan memesan. Gadis itu memesen kopi espresso untuk dirinya dan kopi hitam untuk Samuel.


"Siapa yang nyuruh lo buat pesen kopi hitam?" Samuel protes begitu pramusaji mengantarkan pesanan ke meja mereka.


"Siapa suruh nggak nanya-nanya." Samuel tak mau kalah.


Vika berkacak pinggang. Sorot matanya tajam. Kalau saja tatapan bisa membunuh, maka saat ini Samuel pasti sudah tergeletak tak berdaya di lantai. Di tatap seperti itu, akhirnya Samuel ciut juga. "Lo kayak cewek lagi PMS tau nggak, sih!" Vika berseru kesal.


Samuel mengalihkan perhatian dengan meminum kopinya. Ia sampai lupa, bahwa kopinya baru saja di hidangkan dan hawa panas yang di timbulkan membuat lidahnya seperti terbakar.


"Syukurin. Kualat kan lo." Vika bersungut-sungut.


Samuel megap-megap kepanasan. Lalu berlari mengambil air dingin di kulkas. "Ah gara-gara lo kan, gue sampai lupa kalo kopi gue masih panas." Ia justru menyalahkan Vika akibat tragedi kopi panasnya.


Vika tersenyum miring. "Lo kalo punya masalah, bisa nggak sih nggak di lampiasin ke orang lain?"


Samuel menarik kursi di hadapannya. Lalu duduk berhadap-hadapan dengan Vika. "Gue nggak ada masalah." Ucapnya.


"Yakali. Kata Fathur, lo itu lagi kayak singa betina yang ngebet kawin tapi nggak nemu pejantan tangguh." Ucap Vika meledek.


Hidung Samuel mekar seketika. "*****. Tuh anak di depan baek-baek ke gue, ternyata ghibahin gue di belakang."


Vika mendengus. "Tapi bener emang. Bagus analoginya si Fathur. Bisa tepat gitu."


Samuel berdecak. Menatap Vika dengan tatapan tajam. Namun bukan Vika namanya jika gentar di tatap Samuel seperti itu. Gadis itu malah balik menatap nyalang. "Apa?" Tanyanya menantang.


Samuel mengacak rambutnya frustasi. "Kenapa sih semua cewek itu ribet?!" Desisnya.


Vika mengangkat alis sebelah. "Bukannya yang kelihatan ribet sekarang itu lo?"

__ADS_1


"Vik.." Samuel melempar lirikan maut, seolah-olah kalau saja Vika mengucapkan kalimat barusan akan di kuliti hidup-hidup.


Vika mengabaikan lirikan Samuel. "Lo kenapa?" Ia justru melempar pertanyaan yang sejak tadi tertahan.


Samuel membuang pandangan. Mungkin bercerita tidak akan menyelesaikan masalah, namun setidaknya hal itu dapat meringankan masalahnya. "Nisa lebih rumit dari yang gue kira." Samuel mulai bercerita. "Gue nggak bisa menyelami pikirannya. Gue udah mati-matian bunuh perasaan gue ke orang lain demi dia. Tapi dengan entengnya dia menyatakan diri untuk berhenti dan buat keputusan supaya gue pilih orang lain." Samuel tertawa getir.


Setelahnya hanya kesunyian yang melingkupi keduanya. Vika mengira Samuel masih akan melanjutkan ceritanya. Tapi ternyata tidak. Laki-laki itu justru tenggelam dalam pikirannya sendiri.


"Gue juga pernah menyukai seseorang yang rumit. Dia juga sulit di pahami. Bertahun-tahun gue deket sama dia, tak sekali pun dia nganggap gue lebih dari teman." Vika memutar-mutar cangkir kopinya. Pandangannya menatap lurus ke arah cangkir. Menerawang kilas balik kisah percintaannya. "Gue juga nggak bisa menyelami pikirannya. Gue pikir, dengan gue selalu ada di sampingnya, gue bisa menjadi satu-satunya orang yang bisa memahaminya. Ternyata gue salah." Vika tertawa hambar. "Dia justru suka sama cewek yang nggak terduga."


Vika membuang napas kasar. "Kata orang hidup ini adalah tentang kompetisi. Kalau kamu terus berjuang maka kamu akan menang. Nyatanya tidak seperti itu. Ada yang sudah berjuang mati-matian, tapi ia justru kalah. Usahanya berakhir sia-sia. Lo tau nggak alasannya kenapa?" Vika melempar pertanyaan pada Samuel.


Samuel menggeleng.


"Karena mereka memperjuangkan seuatu yang tidak seharusnya mereka perjuangkan. Ketika seseorang ingin berjuang, maka cobalah lihat-lihat dulu apakah seuatu yang kita perjuangkan itu memang pantas untuk di perjuangkan atau tidak. Karena faktanya, ada usaha yang mengkhianati hasil."


Samuel menghela napas dalam. Di tatapnya lalu lalang manusia di luar jendela sana. Ia mengingat-ingat usaha apa saja yang telah ia lakukan namun berakhir dengan kegagalan. Dan salah satunya adalah usaha meaklukkan hati Nisa. Gadis itu membuat Samuel percaya dengan apa yang di katakan Vika barusan, bahwa memang ada sesuatu yang tidak bisa di perjuangkan sekeras apapun kamu mencoba. Harusnya sejak dulu Samuel menyadari itu. Kontradiksi yang nyata antara dirinya dan Nisa tidak dapat di elakkan. Nisa ibarat batu mutiara yang tersembunyi di laut dalam, indah dan tak sembarang orang bisa memilikinya. Sedang dirinya, hanyalah seonggok kayu yang di tancapkan di tepi pantai. Mudah rapuh, goyah saat di terpa ombak dan angin. Tidak ada harganya sama sekali.


"Sam, hidup ini tentang pilihan. Dan ketika seseorang sudah membuat pilihan, maka ia harus bertanggung jawab dengan pilihannya tersebut. Tapi ketika lo sudah bertanggung jawab tapi seuatu yang lo pilih itu justru menjauh dari lo, maka tidak ada yang bisa lo lakuin selain merelakan."


Merelakan? Semudah itu? Samuel bisa dengan cepat jatuh cinta dengan Nisa, bahkan di kali pertama mereka bertemu. Tapi untuk melupakan gadis itu, rasanya begitu sulit. Jarang sekali ia menemukan gadis yang nyaris sempurna seperti Nisa.


"Mungkin lo berpikir, bahwa Nisa adalah gadis yang sempurna buat lo." Seolah bisa membaca pikiran Samuel, Vika mengutarakan hal itu tepat setelah Samuel memikirkannya. "Gue pernah nggak sengaja baca quote islami yang lagi booming, katanya 'Jodohmu adalah cerminan dirimu', lalu kenapa lo harus takut? Kalau lo nggak bisa dapetin Nisa, maka berarti cermin lo nggak pas buat dia. Lo harus menempatkan cermin pada sosok yang sesuai. Lo bakalan nemuin yang setara dengan lo. Tugas lo sekarang cuma satu, cukup perbaiki diri menjadi lebih baik, agar jodoh lo nanti orang yang senantiasa memperbaiki dirinya juga."


Samuel terdiam, merasa tertohok dengan ucapan Vika barusan. Ya, mungkin memang benar cerminnya tidak pas buat Nisa. Atau bisa jadi cermin Nisa yang tidak pas untuk dirinya. Karena memang, kalau ada yang di katakan tidak pantas antara dirinya dengan Nisa, maka yang patut mendapatkan julukan itu adalah dirinya.


"Di dunia ini, kadang ada seuatu yang pengeeen banget kita lakuin, tapi kita nggak boleh lakuin itu." Vika mengucapkan kalimat barusan bukan untuk Samuel, tapi lebih ke dirinya. Selama ini ia sangat menginginkan hubungan yang lebih dari sekedar teman biasa dengan Samuel, tapi ada hal yang membatasi agar ia tidak boleh melakukan hal itu.


Samuel menarik napas dalam, lalu membuangnya dengan kasar. "Vik, kayaknya lo mahir banget ya dalam urusan patah hati."


Kalimat Samuel barusan membuat Vika tertawa getir. Tentu saja ia mahir, toh selama ini Vika memang berteman akrab dengan hal yang namanya patah hati. Dan tragisnya, ia justru memberikan kuliah singkat kepada seseorang yang membuatnya patah hati.


"Menurut lo, gue harus gimana?" Tanya Samuel kemudian.


"Temui Nisa. Dan perjelas dulu semuanya. Tanyakan, apa dia memang sudah yakin dengan keputusannya. Kalau memang masih bisa di perbaiki, perbaiki. Jangan saling menunggu kayak orang ****. Saling meninggikan ego tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Gue yakin, saat ini dia juga pasti lagi bimbang." Vika menyeruput espressonya dengan gerakan luwes. Ia mengabaikan hatinya yang berdenyut-denyut nyeri sejak tadi. Biarlah Samuel tak memilih dirinya, asal ia selalu ada di sisi Samuel. Memastikan bahwa laki-laki itu baik-baik saja. Bucin memang, tapi yah mau bagaimana lagi. Kalau sudah cinta, kopi pahit tanpa gula pun akan terasa manis.


*****


Nisa mengelus-elus rambut Aya. Balita itu sedang tertidur. Mungkin kelelahan karena seharian bermain dengan anak-anak di Yayasan.


Pikiran Nisa saat ini sedang kalut. Ia memikirkan kembali apakah keputusannya menyuruh Samuel memilih Alila adalah hal yang tepat. Ia menjadi ragu dengan keputusannya sendiri setelah tadi siang Sarah memprotes keputusannya tersebut.


Apakah ia harus memikirkan ulang? Atau meralat ucapannya? Jujur saja, Nisa sebenarnya berat hati melepaskan Samuel. Tapi apa boleh buat, sisi kemanusiannya lebih unggul. Sehingga ia tidak ingin bersikap egois karena mementingkan diri sendiri.


Nisa beringsut dari tempat tidur dengan gerakan sehalus mungkin agar tak membagunkan Aya. Ia bergerak menuju ruang keluarga, mencari Abinya. Biasanya di jam seperti ini, Abinya sedang mengaji atau membaca ulang kitab-kitab gundul miliknya.


Benar dugaan Nisa. Saat ini Abinya sedang duduk manis di ruang keluarga dengan kitab kuning di tangannya yang terbuka.


Nisa berdehem untuk mengalihkan perhatian Abinya. Abi menoleh, dan mendapati anak gadisnya sedang berdiri di sampingnya. Ia menutup kitab, lalu memperbaiki posisi duduknya. "Belum tidur, Nduk?" Tanyanya.


Nisa menggeleng, lalu mengambil posisi nyaman duduk di sofa seberang. "Bi, ada yang mau Nisa omingin."


Abi melepas kacamatanya, "Ada apa?" Tanya beliau kemudian.


Nisa menghembuskan napas pelan, mencoba merilekskan diri. "Apa Abi benar-benar tidak suka sama Samuel?"


Abi tersenyum jenaka, "Nduk, apa Abi pernah bilang kalau Abi tidak menyukainya?"


Nisa menggeleng. Kalau di pikir-pikir Abinya memang tak pernah mengatakan hal itu.

__ADS_1


"Abi hanya menyuruhnya belajar agama lebih, Nduk. Hanya itu. Abi cuma nggak mau kamu membangun keluarga dengan seseorang yang agamanya cetek. Ingat, kalau kamu menikah dengan laki-laki yang paham agama, ketika senang ia akan membahagianmu, ketika marah ia masih tetap akan memuliakan."


Nisa terdiam. Benar, Abinya hanya ingin yang terbaik untuknya. Tidak ada orang tua yang ingin melihat anaknya hidup sengsara. Mungkin ketika memberi arahan, kita merasa bahwa apa yang mereka lakukan terkesan menyebalkan, terlalu mengatur, hingga tak jarang banyak anak-anak yang menjunjung tinggi prinsip bahwa hidupnya adalah miliknya. Orang tua tidak boleh ikut campur. Karena yang menjalani kehidupan nantinya adalah dirinya sendiri, bukan orang tua. Padahal jika di renungi, orang tua tidak lah salah, bahkan apa yang mereka lakukan termasuk kategori perbuatan yang mulia. Sebab mereka ingin yang terbaik untuk anak-anaknya, hanya sebatas itu. Tidak ada asas manfaat yang mereka harapkan untuk diri mereka sendiri. Tapi sangat sedikit orang yang menyadari hal ini.


__ADS_2