
Alila baru tiba di Pesantren setelah ba'da Ashar. Sebenarnya ia pamit undur diri dari rumah Samuel sebelum dzuhur. Namun ia memutuskan untuk mengunjungi makam ayahnya. Satu-satunya tempat dimana ia bisa menceritakan apapun tanpa ada yang di tutup-tutupi.
Ia melangkah gontai memasuki Pesanten. Kepalanya tertunduk, mendung bergelayut di dalam hatinya. Matanya sembab, sebab menangis hampir 1 jam lebih di depan pusara ayahnya. Ia mengira, bahwa harapan masih ada. Nyatanya harapan itu di hancurkan kembali. Bahkan di saat ia baru saja berani mengumpulkan puing-puingnya.
"Alila!" Seseorang berseru di belakang.
Alila menoleh, dan mendapati Nisa sedang berlari-lari kecil di belakangnya. Wajah Nisa membuatnya teringat kembali dengan ucapan Samuel tadi. Ia enggan menemui Nisa, karena melihatnya saja membuat hatinya nyeri. Ia berlari meninggalkan pelataran menuju ke Pesantren putri.
"Alila!" Nisa masih terus memanggil Alila, tapi gadis itu malah berlari meninggalkannya. Padahal ia tahu persis, bahwa tadi Alila mendengarnya. Bahkan gadis itu sempat menoleh.
Nisa menghentikan langkahnya. Biarlah nanti saja, mungkin Alila sedang buru-buru, ia tidak ingin bersu'udzon, ucap Nisa di dalam hati.
*****
Nisa baru saja keluar dari kelas saat di lihatnya hujan deras mengguyur sampai terlihat berkabut. Kilat sesekali berkerlap-kerlip dan guntur menyambar. Langit menggelap, padahal waktu baru menunjukkan pukul 5 sore.
Tatapan Nisa mengikuti arah air dari langit. Hujan yang begitu lebat membuat tiap tetesnya tak bisa di hitung.
Petrichor
"Kenapa sebagian besar orang umumnya menyukai hujan?"
Suara itu mengalihkan perhatian Nisa. Ketika Nisa menoleh, di dapatinya Samuel yang sedang berdiri memamerkan senyum magisnya. Rambut laki-laki itu sedikit basah, membuat sebagian anak rambutnya menjuntai di dahi.
"Ngapain disini?" Nisa berkerut heran. Yang ia tahu Fakultas Ilmu Sosial lumayan jauh dari Fakultas Kedokteran. Bahkan di tempuh naik motor pun harus memakan waktu kurang lebih 5 menit. Atau Samuel dari sekretariat BEM? Ah sepertinya tidak. Sekretariat BEM terletak di samping Aula Serbaguna, lebih jauh lagi.
Samuel nyengir kuda, "Nyamperin calis?"
"Hah? Calis apaan?" Tanya Nisa.
"Calon istri hehe." Samuel tersenyum sok imut.
Rona merah langsung menjalar di pipi Nisa. Bahkan gadis itu merasa wajahnya panas saat ini. Ia membuang muka ke sembarang arah, menghindari wajah tengil Samuel yang saat ini masih cengengesan.
Melihat Nisa yang salah tingkah membuat Samuel mati-matian menahan tawanya agar tak meledak saat itu juga. Nisa bergerak-gerak tak nyaman di posisinya saat ini. "Jangan salting dong calis." Goda Samuel lagi.
"Apaan sih, nggak enak di liatin banyak orang." Ekor mata Nisa bergerak kesana kemari mengawasi beberapa pasang mata yang sedang menatapnya saat ini. Bahkan sebagian cewek-cewek yang berkumpul terlihat berbisik-bisik.
Samuel mengendikkan bahu, "Hidup ini milik kita calis, jadi ngapain harus mikirin komentar orang lain."
Nisa melotot. Samuel barusan mengurcapkan kalimat itu dengan suara yang lumayan keras. Bahakan beberapa orang yang tadi berbisik-bisik terlihat menghentikan aktivitasnya.
"Duh kalo melotot gitu makin cantik deh." Samuel mengedipkan sebelah matanya.
Nisa benar-benar ingin menenggelamkan Samuel di kolam piranha atau membuangnya di segitiga bermuda saat ini. Laki-laki itu betul-betul sedang mendatangkan masalah untuk dirinya.
Jangan tanyakan bagaimana tatapan fans-fans Samuel saat ini. Mereka melotot ganas ke arah Nisa, seolah-olah memperingatkan agar tak kecentilan pada Samuel.
"Woi, di cariin rupanya lo di sini, Nyet!"
Suara itu berhasil mengalihkan perhatian Samuel dan beberapa orang yang di sekitarnya.
Fathur bersama dengan rombongan yang memakai emblem Badan Eksekutif Mahasiswa di pdh nya sedang berjalan ke arah Samuel. Nisa tidak asing dengan wajah-wajah mereka. Bahkan ia juga melihat ada Vika di sana yang sedang tersenyum dan melambaikan tangan ke arahnya.
"Assalamu'alaikum Nisa." Fathur menangkupkan kedua tangan di dada dan mengangguk sopan untuk menyapa Nisa.
Nisa tersenyum sekilas dan menjawab salam Fathur.
Melihat hal itu, Samuel melempar tatapan membunuh kepada Fathur yang di balas dengan senyuman mengejek oleh laki-laki berbadan tegap tersebut.
"Nis, jangan mau di ajak berduaan sama si Samuel. Ingat, yang ketiganya setan loh." Fathur sok-sokan mengusap dada sambil merapalkan istighfar.
"Iya setannya lo." Ucap Samuel kesal.
Sontak semua orang yang ada di area tersebut tertawa melihat banyolan garing antara Samuel dan Fathur. Kedua partner tersebut kadang terlihat kompak, tapi kadang juga menjadi seperti Tom and Jerry dalam waktu-waktu tertentu. Seperti saat ini. Samuel sedang memelintir leher Fathur kemudian memasukkan kepala laki-laki tersebut ke keteknya. Fathur megap-megap dibuatnya.
Nisa berkedip takjub melihat aksi konyol dua orang di hadapannya yang menurutnya seperti anak-anak. Mereka bahkan lebuh cocok di sebut anak Tk ketimbang Presiden dan Wakil Presiden BEM.
"Santai aja, Nis. Mereka emang kayak gitu. Udah mahfum kita mah." Vika mensejajarkan posisinya dengan Nisa.
__ADS_1
"Eh, Vika." Nisa tersenyum hangat. Mengalihkan perhatian dari pergelutan dua laki-laki di hadapannya ke arah Vika. "Lama nggak ketemu. Apa kabar?" Sapanya ramah.
"Kamu kalo ketemu aku seneng banget nanyain kabar, ya?" Vika terkekeh. "Aku baik. Kamu sendiri gimana?"
Nisa ikut terkekeh, "Alhmadulillah baik."
"Nis, kita duluan ya."
Belum sempat Nisa ngobrol lebih jauh dengan Vilka, tau-tau Fathur sudah menarik lengan gadis itu dan menyeretnya ke arah koridor. Kangkah Fathur tergesa-gesa seperti ada yang mengejarnya.
"Tungguin gue di Basecamp. Awas lo kabur!" Teriak Samuel.
Oh pantas saja Fathur lari terbirit-birit macam habis ngeliat setan. Ternyata Samiel yang mengejarnya.
Laki-laki itu mengibaskan rambut panjangnya yang berantakan, kemudian menggelungnya asal. "Ah dasar si Fathur, bikin rusuh aja." Samuel masih mengomel, hingga ia menyadari bahwa Nisa sedang menatapnya saat ini.
"Jangan kaget, Fathur emang kayak gitu orangnya." Ucap Samuel.
"Aku justru kaget lihat kamu yang kayak gitu. Kayak anak-anak." Ucap Nisa polos.
Samuel merengut seketika. Ia pikir Nisa akan menanyakan perihal sikap Fathur, ternyata gadis itu malah memprotes sikapnya. Namun ekspresi Samuel berubah lagi, "Aku apa adanya di depan calis, nggak mau pencitraan sok jaim." Samuel menggoda Nisa kembali.
Nisa membuang napas jengah, namun tak urung wajahnya kembali memerah. Samuel kali ini tak bisa lagi menahan tawanya. Laki-laki itu terbahak sampai mengelap air di sudut matanya.
Nisa merengut kesal. Gadis itu berlalu meninggalkan Samuel yang masih tertawa. Mungkin melihat rona merah di pipi Nisa atau melihat gadis itu salah tingkah adalah hal yang lucu. Tapi tidak bagi Nisa. Samuel tidak tahu saja bahwa saat sedang berhadapan dengan dirinya, hati Nisa berdetak mengalahkan suara bedug yang di tabuh.
*****
Sarah sedang menunggu go car yang di pesannya melalui aplikasi. Namun sudah lebih dari 1 jam angkutan umum online tersebut tak juga muncul. Ia mendesah malas. Di luar sedang hujan. Dan saat ini ia masih terjebak di Kantor karena go car yang di pesannya tak kunjung tiba. Ia berinisiatif untuk membatalkan pesanannya saja, namun ia tak enak hati apabila sopir go car yang di pesannya sedang dalam perjalanan. Ia tidak mau merugikan orang lain.
"Belum pulang?"
Suara bariton seseorang menginterupsinya. Sarah menoleh, dan di dapatinya wajah bosnya yang berdiri sambil memasukkan kedua tangan dalam saku celana bahannya. Wajah itu terlihat masih segar, meskipun ia sudah bekerja sejak pagi-pagi buta sampai hampir waktu maghrib menjelang.
Sarah larut dalam pikirannya sampai suara itu kembali smenegurnya. "Halo."
Sarah terperanjat. "Eh iya, Pak. Ini lagi nunggu Go car." Ucapnya cepat.
Sarah salah tingkah. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal di balik jilbab. "Eh iya Pak, eh maksud saya Mas. Iya, Mas. Mas Alfian hehe." Sarah tertawa canggung.
"Mau ku antar pulang?"
Sarah melongo. Jantungnya berdegup cepat tanpa aba-aba.
"Kamu diam. Berarti ku anggap kamu setuju."
Sarah kembali melongo. Jangan tanyakan bagaimana raut wajahnya saat ini. Ia nampak cengo.
Alfian berjalan mendahului Sarah. Bahkan meninggalkan gadis itu yang masih berdiri mematung di belakang.
Setelah Sarah sadar, ia berlari mengejar Alfian, mensejajarkan langkah pendeknya dengan langkah panjang Alfian. "Pak, eh maksud saya Mas, nggak usah di anterin. Saya bisa pulang sendiri." Kilahnya.
Alfian tak merespon. Ia justru mempercepat langkahnya hingga sampai di parkiran. "Masuk." Perintahnya.
Sungguh, otoriter sekali, batin Sarah dalam hati.
Begitu masuk, Sarah di buat tercengang dengan suasana mobil mewah milik Alfian. Bahkan gajinya 5 tahun bekerja pun rasanya tak sanggupuntuk me,beli mobil seperti ini.
"Udah kagumnya?"
Sarah terperanjat. Tak sadar, sejak tadj tangannya menelusuri setiap inchi mobil. Ia menarik tangan cepat. Merasa malu karena kelakuan noraknya.
"Maaf, Mas." Ucapnya malu.
Alfian hanya menggeleng melihat tingkah polos wanita yang duduk di sampingnya. Menurutnya Sarah seperti anak-anak. Ia pun mengulum senyum yang tak di biarkan kelihatan oleh Sarah.
Kalau ada julukan the absurd man in the world, maka Alfian ini yang pantas mendapatkan kategori tersebut. Bagaimana tidak, ia bahkan tak menanyakan dimana alamat Sarah, tau-tau menjalankan mesin mobil dan membawanya melaju membelah jalanan begitu saja. Bahkan saat ini Sarah tidak tahu akan di bawa kemana. Tidak mungkin kan Alfian akan berbuat jahat padanya? Sarah menggeleng. Menepis pikiran gilanya. Kalau sampai Alfian macam-macam dia memiliki kekuatan berteriak yang mengalahkan suara Tarzan, jadi tenang, Alfian akan budek duluan mendengarkan teriakan Sarah sebelum laki-laki itu menyentuhnya. Lagipula jika ingin macam-macam Alfian harusnya mencari gadis yang pas. Secara Sarah ini hanya gadis biasa. Wajah tak begitu menarik, badan kurus tidak ada bahenol-bahenolnya sama sekali. Maka Alfian pasti rugi. Jika mau, Alfian bisa membayar wanita mana pun untuk memenuhi hasratnya. Uangnya bahkan tidak akan habis hanya untuk membayar mereka. Lagi pula wanita mana yang akan menolak jika di ajak berkencan dengan Alfian. Secara dia tajir melintir seperti sultan, gagah rupawan, dan terkenal dimana-mana.
"Astaghfirullahaladzim." Sarah beristighfar. Ia merutuki kebodohan otaknya yang berpikir tidak-tidak tentang Alfian.
__ADS_1
Alfian menoleh, "Ada apa?"
Sarah nyengir kuda, menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Eh itu, kita mau kemana? Rumahku bukan ke arah sini."
Alfian kembali memusatkan perhatian ke jalanan di depan, "Kita makan malam dulu." Ucapnya.
Sarah melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah hampir jam 6, sebentar lagi memasuki waktu sholat maghrib. "Oh, kalau begitu kita mampir sholat maghrib di Masjid dulu, ya."
Alfian menoleh, "Sholat?"
Sarah mengangguk.
"Maaf saya tidak sholat. Tapi kalau kamu mau sholat saya bisa menunggu."
Dahi sarah berkerut heran. Setaunya, Alfian adalah seorang muslim. Tapi mendengar ia mengucapkan kata sholat, laki-laki tersebut kelihatan asing dengan kata tersebut.
"Kamu… tidak sholat?" Tanya Sarah takut-takut. Ia pikir laki-laki itu akan marah.
Alfian justru tertawa, "Tidak. Saya sudah lama meninggalkan kebiasaan itu."
Apa katanya? Kebiasaan? Ia hanya menganggap sholat sebagai kebiasaan? Ah laki-laki macam apa Alfian ini. Segala pujian yang tadi Sarah layangkan untuk laki-laki di sampingnya tersebut raib entah kemana. Sekarang justru yang Sarah lihat hanyalah kekurangan yang ada pada dirinya. Ia memiliki nilai minus dalam hal beragama, dan itu cukup menghapuskan segala kebaikan yang ia miliki yang bahkan nyaris sempurna.
"Sholat itu kewajiban. Bukan kebiasaan." Ucap Sarah sebelum ia keluar dari mobil.
Alfian tersenyum samar. Barusan ia melihat ada bawahan yang berani berkata seperti itu padanya. Sekarang, rasa tertariknya pada Sarah semakin membuncah. Ia ingin menelusuri lebih jauh bagaimana kehidupan gadis itu.
Selepas sholat, Sarah kembali ke dalam mobil. Ia tak mengatakan apapun, masih dongkol dengan sikap bosnya yang meremehkan sholat. Ia bisa memaklumi sifat buruk seseorang, hanya saja ketika seseorang itu meremehkan Tuhan, rasanya ia tidak bisa untuk tidak membencinya. Apalagi jika ia seorang laki-laki. Tuhan saja di remehkan, apalagi pasangannya nanti.
"Jadikita makan malam di O'Resto saja, ya." Suara bariton Alfian memecah keheningan di dalam mobil.
Sarah hanya menanggapinya dengan gumaman.
Melihat tingkah anak buahnya yang berubah 180 derajat. Alfian jadi merasa bahwa ada hal yang salah yang telah ia lakukan. Namun ia berusaha menepisnya, ia ingin fokus berkendara dulu.
Tak butuh waktu lama untuk sampai di O'Resto. Buktinya mereka hanya perlu menemouh perjalanan 10 menit untuk sampai di sana. Hmm tapi memang, perjalanan tadi di mulai dari Masjid yang memang letaknya tak jauh dari Restoran bintang lima tersebut.
Sarah melwpas seatbelt, lalu bergegas keluar setelah Alfian menginstruksikan untuk keluar terlebih dahulu dan menunggunya sembari ia mencari tempat parkir.
Begitu Alfian sudah menemukan tempat Parkir, laki-laki itu dengan gagahmya turun dari mobil Alphard miliknya. Tatapan memuja dari gadis-gadis pengunjung restoran membuat telinga Sarah geli. Gadis itu berdecih. "Mereka sudah di butakan dengan kemewahan dunia, sehingga biji jagung terlihat seperti mutiara di mata mereka." Gumamnya.
"Ayo."
Alfian sudah tiba di hadapannya. Laki-laki itu memasang kacamata hitam yang menurut Sarah juustru terlihat norak. Yakali, ini mau berkunjung ke restoran loh, bukan Pantai. Lagi pula ini sudah malam, apa gunanya kacamata hitam itu? Sarah bergidik geli di dalam hati.
Gadis-gadis yang tadi sempat berbisik-bisik memujanya sudah pergi begitu melihat Alfian menghampiri Sarah. Mungkin mereka mengira Sarah adalah pasangannya. Sarah tertawa jahat di dalam hati mengingat hal itu.
Mereka berjalan beriringan memasuki restoran. Begitu memasuki pintu utama, mata Sarah di manjakan dengan suasana mewah O'Resto. Kesan gold mendominasi seluruh ruangan yang tak terhingga lebarnya tersebut. Kursi-kursi tinggi di balut penutup warna silver yang begitu mempesona. Bahkan bohlam lampu yang menggantung hampir di setiap balkon terlihat begitu mewah. Sarah menelan ludah, adalah sebuah keburuntungan besar seorang rakyat jelata seperti dirinya bisa masuk dan menikmati makanan di restoran semewah ini.
"Anda mau makan di kelas mana?" Seorang pramusaji yang memakai gaun pendek diatas lutut berwarna emas di padu warna silver yang anggun datang menghampiri Alfian dan Sarah. Pramusaji itu tersenyum ramah. Lipstick merah darah yang di pakainya seolah-olah begitu menarik perhatian.
"VIP."
Eee buseeet. Sarah spontan menoleh ketika Alfian memesan tempat makan di ruang VIP. Apa tidak berlebihan? Mereka kan hanya berdua. Setaunya ruang VIP hanya di gunakan untuk rapat atau pertemuan--pertemuan besar lainnya. Dan untuk makan malam romantis? Otaknya yang lemot seolah baru mencerna pemikirannya yang terkahir. Apakah ini pertanda bahwa Alfian mengajaknya makan malam romantis? Ah tidak, tidak. Jangan mimpi kamu Sarah. Kamu beda kasta dengan Alfian. Lagipula Alfian bukan lelaki baik-baik. Ia berani mengabaikan Tuhan, bagaimana nanti denganmu?
"Kenapa? Kepalamu pusing?" Suara Alfian menyadarkan lamunan Sarah. Laki-laki itu melihat Sarah memukul-mukul kepalanya sendiri.
"Hah? Tidak tidak. Ayo kita segera kesana. Dimana ruang VIPnya, Mbak?" Tanya Sarah kepada sang pramusaji.
Pramusaji itu nampak kikuk, namun tak urung ia menunjuk ke arah selatan. Tepatnya ke sebuah pintu besar dengan tulisan VIP di atasnya.
"Baik. Mari Pak." Sarah berjalan lebih dulu. Meninggalkan Alfian yang teeheran-heran melihat sikap gadis itu yang berubah-ubah layaknya bunglon. Namun tak urung ia berjalan mengikuti Sarah. Mensejajarkan langkah panjangnya dengan langkah pendek gadis itu. Tak begitu sulit.
Begitu memasuki ruang VIP, Sarah di buat tiga kali lebih takjub. Suasana di ruangan tersebut sepuluh kali lebih indah di bandingkan ruang utama yang ia lihat waktu pertama memasuki O'Resto. Jendela besar yang menghadap langsung ke laut menambah cantiknya ruangan tersebut. Jika tak sedang bersama Alfian, maka Sarah pasti sudah menari-nari kegirangan di ruangan itu. Hanya saja ia tak ingin kelihatan norak di hadapan bosnya.
Tak sampai disitu saja Sarah di buat takjub. Begitu pramusaji datang membawakan makanan, gadis itu di buat melongo sepenuhnya. Pasalnya mereka hanya berdua, namun makanan yang di pesan Alfian seperti hendak di makan oleh sepuluh orang. "Ini tidak berlebihan? Kita hanya berdua loh." Sarah mencoba protes.
Alfian menggeleng, "Siapa bilang kita hanya berdua? Sebentar lagi ibu dan adik-adikku akan kesini. Mereka sudah di perjalanan. Jadi bersiap, ya?" Alfian mengakhiri kalimatnya denga mengedipkan sebelah matanya genit.
Sarah mengumpat di dalam hati. Sialaaaaan banget si Alfian ini. Kenapa coba dia tiba-tiba membawa Sarah ke restoran Sultan seperti ini lalu mengajak anggota keluarganya untuk makan bersama? Jangan-jangan dia mau melamar lagi. Sarah menggeleng frustasi. Tenang Sarah, tenang. Tarik nafas dalam-dalam, buang. Oke sekarang kamu harus terlihat santai. Jangan maunkalah terlihat berkelas dengan laki-laki di hadapanmu ini. Sarah bergukat dengan suara batinnya sendiri.
__ADS_1
Alfian tertawa melihat tingkah Sarah. Gadis itu benar-benar menarik perhatiannya. Mungkin pencariannya selama ini sudah berakhir. Ia kini telah menemukan sosok yang di carinya. Gadis polos dan apa adanya seperti Sarah jauh lebih menarik dibandingkan gadis bermakeup tebal dengan aksesoris mewah dan fashion glamour yang menyilaukan mata.