
Cuaca berubah-ubah di langit Jakarta. Kemarin hujan deras, hari ini panas tak terkira. Samuel mengelap keringat di wajahnya dengan ujung baju futsal yang ia kenakan. Dahaga tak kunjung hilang ia rasakan, padahal sudah habis empat botol air mineral sejak permainan futsal di mulai.
"Bro, babak kedua bentar lagi di mulai. Siap-siap."
Samuel mengangguk. Ia menghabiskan air di dalam botol terakhirnya. Begitu habis, ia segera berlari ke lapangan. Melakukan pemanasan untuk merenggangkan otot-ototnya.
Hari ini pertandingan olahraga yang di adakan oleh club TIMPARAGA sedang berlangsung. Samuel mewakili fakultas Ilmu Sosial. Laki-laki itu memang gemar bermain futsal sejak kecil. Bahkan ia selalu berhasil menjadi juara dan membawa timnya sampai ke pertandingan tingkat nasional.
Pertandingan di mulai. Lihatlah, bagaimana lihainya Samuel menguasai bola. Ia menggulir bola, mengopernya, kemudian menggiring menuju gawang. Tendangan pertama berhasil di tangkis oleh penjaga gawang.
Suara sorak sorai penonton mendominasi lapangan futsal. Menambah riuhnya lokasi tersebut. Diantara ramainya suara sorakan, yang paling kentara adalah suara Fathur. Laki-laki itu bahkan mengikuti setiap pergerakan Samuel, sambil berteriak memberi semangat. Berkali-kali ia di tegur Vika karena terkadang laki-lak berteriak di samping telinganya, sampai sampai rasanya telinga Vika mau budek saja.
"Go Samuel go Samuel go!!!"
"Cayo Samuel, cayoooo!!"
"Semangat calon imaaaam!!"
Diantara puluhan pemain, rata-rata penonton hanya menyemangati Samuel. Dan jangan lupa, bahwa yang berteriak seperti itu adalah gadis-gadis yang berdiri heboh di pinggir lapangan.
"Sini sini, ayo sini. Nah kan, apa aku bilang. Samuel lagi tanding futsal." Sarah berseru heboh. Gadis itu bahkan rela berlari-larian dari kelas menuju Perpustakaan hanya untuk mencari Nisa agar sahabatnya itu bisa melihat Samuel bertanding futsal.
"Apa sih, Rah. Ini rame banget lo." Protes Nisa.
"Nggap papa sekali-kali, demi Samuel. Udah sana, maju. Kalau dia ngeliat kamu ada disini, pasti tambah semangat." Ucapnya girang.
Nisa bergidik geli melihat tingkah Sarah. Kadang ia berpikir, sahabatnya itu kelebihan kadar kelincahan, sehingga ia bisa seharian terlihat penuh energik. Nisa bahkan hampir tak pernah mekihat Sarah erlihat lelah, lunglai, atau tak bersemangat.
"Misi ya, mbak. Ini calonnya Samuel mau ngasih ssmangat juga sama Samuel." Sarah membelah kerumunan gadis-gadis yang sedang meinton di pinggir lapangan.
Nisa mendelik. Bisa-bisanya Sarah mengatakan hal itu. Mau di taruh dimana muka Nisa sekarang. Lihat, bagaimana ekspresi gadis-gadis itu yang saat ini tengah menatap Nisa dengan tatapan 'Lo halu.' "Rah, apaan sih." Nisa menyenggol lengan Sarah yang hanya di balas cengiran oleh gadis itu. Nisa melempar anggukan sebagai permintaan maaf kepada gadis-gadis yang direcoki kenyamanannya oleh Sarah.
"Samuel! Samuel! Samuel!" Suara melengking Sarah mengalihkan fokus Samuel dari bola. Entah kenapa suara itu terdengar aneh di telinganya, seperti suara seriosa gagal atau kucing kecekek, ah entahlah, yang pasti suara itu tidak ada enak-enaknya di dengar.
Ketika Samuel menoleh, pandagan matanya langsung bertemu dengan manik mata hazel milik Nisa. Gadis itu tersenyum canggung. Di sampingnya, Sarah memaksa menaikkan tangan gadis itu ke udara seolah memberi semangat pada Samuel. Samuel tersenyum melihatnya. Ia melambai, lalu kembali fokus menggiring bola.
Nisa mencoba biasa saja, saat beberapa pasang mata mengarah padanya. Samuel melambai ke arahnya, dan hal itu sukses membuat para gadis fans garis keras Samuel mengikuti arah lambaian tangan Samuel. Dan tepat berhenti di Nisa. Tak sedikit yang berbisik-bisik, tak sedikit pula yang berbicara terang-terangan mengatainya, 'Oh itu pacarnya Samuel?' 'Kok mau sih Samuel sama cewek nggak tau fashion kayak gitu,' 'Cantikan gue kemana-mana.'
"Heh, Mbak. Jangan iri dong. Kalau mau ghibah jangan di belakang, sini-sini di depan kita. Jita jabanin kok."
Gadis-gadis itu langsung kicep ketika Sarah mengatainya seperti itu. Bahkan sebagian dari mereka langsung pergi sambil berbisik-bisik.
"Rah, kamu nih, bikin orang nggak nyaman aja." Ucap Nisa.
Sarah berdecih, "Mereka juga bikin kamu nggak nyaman. Sekali-kali bales ucapan pedes orang nggak papa kan? Jangan mau di injak-injak, Nis."
Nisa tak menanggapi. Percuma berdebat dengan Sarah. Gadis itu akan mengutaakan seribu satu pembelaan untuk memenangkan argumentasinya.
Nisa kembali fokus pada Samuel yang sedang menggiring bola di depan sana. Rambut gondrong laki-laki itu di ikat ke belakang. Keringat yang membasahi wajahnya justru membuatnya terlihat sepuluh kali lebih ganteng. Pantas saja, cewek-cewek itu kenyinyilan macam sapi gila kalau melihat Samuel sedang bermain futsal.
Samuel saat ini tengah mengejar bola dari kaki lawan. Bola itu di opor kesana-kemari, seolah mempermainkannya, tapi begitulah cara bermain futsal, sistem rebutan. Samuel berhasil mengambil alih bola yang di opor oleh rekan timnya. Ia berlari menggiring bola itu sendirian, terus berlari, meliuk-liuk menghindari lawan, ketika jarak antara dirinya dan gawang hanya tersisa kurang lebih 2 meter, Samuel mengambi ancang-ancang, lalu kemudian menendang bola dengan sekuat tenaga, dan daaaaang!!! Bola berhasil masuk ke dalam gawang. Seluruh tim Samuel berhigh five merayakan goal mereka. Poin di papan yang di pegang oleh sasit menunjukkan angka 3:1. Tim Samuel lebih unggul dari tim lawan. Sementara pertandingan hanya tersisa 10 menit lagi.
Nisa mengamati setiap pergerakan Samuel. Hanya di saat-saat sepeti inilah Nisa bisa melihat dengan bebas ke arah laki-laki tersebut, di saat ia tidak menyadarinya. Karena saat berhadap-hadapan, Nisa tidak pernah berani menatapnya. Yang ia lakukan hanyalah menunduk. Sampai-sampai Samuel pernah menanykan perhila dirinya yang tidak pernah mau menatap Samuel ketika di ajak berbicara. Namun Nisa hanya menjawab, bahwa ia tidak terbiasa menatap ke arah lawan bicara apabila lawan bicaranya itu kaki-laki yang bukan mahram.
Suara membahana dari penonton yang meneriakkan kata "GOAL!" seolah menarik Nisa dari lamunannya. Samuel berhasil mencetak goal lagi di menit-menit terakahir. Harus Nisa akui, bakat futsal Samuel memang patut di acungi jempol.
Samuel di tengah lapangan sedang tersenyum ke arah Nisa. Nisa balas tersenyum. Laki-laki itu berbicara menggunakan isyarat mulutnya karena suara bising di sekitar yang mustahil untuk bisa mendengar suara Samuel dari kejauhan. Samar-samar Nisa mengetahui apa yang Samuel katakan. Ia menggerakkan bibir mengatakan "Tunggu saya di Kantin belakang." Refleks Nisa mengangguk.
"Uuuhh tootwiitt." Goda Sarah yang di hadiahi dengan cubitan kecil di lengannya oleh Nisa.
Pipi Nisa bersemu merah. Efek magis dari setiap hal yang Samuel lakukan dan ditujukan untuk dirinya selalu berhasil membuat ribuan kupu-kupu menari seolah merayakan ketakberdayaannya.
*****
__ADS_1
Seperti yang Samuel katakan tadi, ia meminta Nisa untuk menunggunya di kantin belakang. Dan di sinilah mereka berdua. Duduk berhadap-hadapan dengan jarak kurang lebih satu meter. Dengan Sarah yang seperti biasa, duduk di bangku lain yang agak jauh. Sebenarnya Sarah jengah harus menjadi obat nyamuk seperti itu. Tapi demi Nisa. Sahabatnya itu tidak mau bertemu Samuel jika tak di temani oleh dirinya. Jadilah Sarah merelakan diri sebagai obat nyamuk, toh Samuel juga dengan baik hati mentraktirnya setiap kali ia menemani Nisa.
"Aku mau ngajak kamu ke Rumah."
Nisa tersedak es milonya ketika kalimat itu lolos dari bibir Samuel. Gadis itu terbatuk-batuk. Dengan sigap Samuel mengambil sebotolnair mineral lalu menyodorkannya ke arah Nisa yang langsung di minum gadis itu. Nisa mengambil selembar tissue untuk mengelap mulutnya.
"Sorry, kaget ya?" Samuel menggaruk kepalanya.
Nisa berdehem untuk menetralkan degup jantungnya. "Sedikit. Kenapa mendadak ngajak saya ke rumahmu?" Tanya Nisa. Gadis itu mulai terlihat sedikit santai.
"Mau ngenalin kamu sama keluargaku." Ucap Samuel penuh keyakinan.
Nisa melongo. Sesaat otaknya bekerja dengan lemot. Tunggu, maksud Samuel apa? Mengenalkan dirinya dengan keluarganya? Apa Nisa tidak salah dengar? Atau ini hanya mimpi? Nisa mencubit lengannya diam-diam, ternyata sakit. Berarti ini bukan mimpi. Benar, barusan Samuel mengajaknya berkunjung ke rumahnya lalu mengatakan ingin mengenalkan Nisa dengan keluarganya. Nisa berkedip-kedip lucu. Memikirkan pertemuannya dengan keluarga Samuel membuat hormon adrenalinnya di pacu gila-gilaan.
"Gimana, Nis?" Tanya Samuel lagi. Memastikan bahwa Nisa benar-benar mendengar ucapannya. Mengingat gadis itu sedang melamun saat ini.
"Kamu serius?" Wajah Nisa masih cengo ketika melempar pertanyaan tersebut.
Samuel mengangguk yakin. "Seribu seratus rius." Ia memamerkan sederet gigi-gigi putihnya.
"Kenapa tiba-tiba?" Nada suara Nisa terdengar khawatir.
Samuel memperbaiki posisi duduknya. "Nggak tiba-tiba Nisa. Aku juga nggak maksa harus sekarang. Kapan pun kamu siap." Ucapnya kemudian.
Nisa menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Aku nggak bakalan pernah siap." Nada khawatir masih tak kunjung hilang.
Samuel terkekeh. "Manis banget si calis kalo lagi khawatir gitu."
Nisa menurunkan telapak tangan secara spontan. Ia merengut. Entah kenapa setiap kali Samuel menggunakan julukan itu untuk dirinya, rasanya begitu geli.
"Keluargaku nggak makan orang, kok. Aku yakin, kamu pasti langsung akrab sama mereka nanti." Ucap Samuel.
"Bukan itu. Aku tanya dulu, kamu mau ngenalin aku sebagai apa di sana?"
"Ya sebagai teman." Ucap Samuel polos.
"Kenapa? Kamu kira aku bakal ngenalin kamu ke mereka sebagai calon istri, ya?" Samuel menaik-naikkan kedua alisnya menggoda Nisa.
Nisa membuang wajah ke sembarang arah. Rasa malu menguasai dirinya. Kenapa ia bisa sebodoh itu melempar pertanyaan yang justru menjebaknya sendiri.
Samuel terkekeh. Merasa puas karena berhasil menggoda Nisa hingga gadis itu salah tingkah.
"Jadi, kapan kamu siap?" Tanyanya lagi.
Nisa terdiam sejenak. Otaknya sibuk berpikir. Jadi kapan dirinya siap? Kalau boleh ia ingin mengatakan bahwa dirinya tidak akan pernah siap. Berkunjung ke rumah orang yang kita sukai adalah hal paling menegangkan yang pernah di alami Nisa. For the first time. Gadis itu mendesah lelah. "Boleh saya pikirin lagi?"
Samuel melipat tangan di dada. "Of course. Kamu bisa hubungiaku kalau udah siap." Samuel bagkit dari duduknya. Ia henda membayar makanan yang di pesannya. Tapi sebelum itu, ia sempat membisikkan sesuatu pada Nisa. "Jangan lama-lama mikirnya. Ingat, calon mertuamu nunggu kamu." Setelah itu Samuel melenggang meninggalkan Nisa dengan suara kekehannya yang masih terdengar jelas.
Nisa merutuk dalam hati. Samuel selalu bisa membuatnya salah tingkah dan menyebabkan rona pipinya terbakar seperti kepiting rebus.
*****
"Tadi Samuel ngomong apa?" Sarah bertanya di sela-sela perjalanan menuju kelas.
"Nggak ngomong apa-apa." Jawab Nisa cepat.
"Bohong. Orang kamu aja sampai kesedak gitu tadi. Pasti ada sesuatu, kan?" Sarah masih bertanya penasaran.
"Enggak, Rah. Udah deh jangan budayain sifat kepo."
"Ah kamu mah emang suka banget main rahasia-rahasiaan. Kalo gini, akujuga mau cerita sesuatu ke kamu jadinya males."
Nisa melirik Sarah, "Cerita apa? Cerita aja, aku demgerin kok."
__ADS_1
Sarah melioat kedua tangan di dada, "Tentang seseorang yang ngajak akau makan malam dan ketemu keluarganya."
Nisa menghentikan langkahnya mendadak. "Serius kamu?! Siapa?" Kali ini justru Nisa yang terlihat kepo.
"Jangan budayain sifat kepo." Ucap Sarah menirukan gaya bicara Nisa.
"Ya ampun, Rah. Jangan baperan dong. Ayo cerita." Pintanya.
"Aku mau cerita, kalo kamu duluan yang cerita." Tawarnya.
Nisa akhirnya mengalah. "Oke oke." Ia memulai ancang-ancang untuk menutup telinga, karena setelah ini, Sarah pasti akan berteriak dengan suara lengkingannya yang membahana. "Jadi, tadi Samuel ngajak aku ke rumahnya buat ketemu sama anggota keluarganya." Nisa mengucapkan kalimat itu dalam satu kali tarikan napas.
"Demi apa?!" Benar tebakan Nisa. Sarah berteriak sampai beberapa orang yang lewat menatap ke arahnya. Untung Nisa sudah menutup telinga. "Terus terus, kamu jawab apa?" Tanyanya lagi. Kali ini suaranya sudah kembali normal.
"Aku jawab mau pikirin dulu."
Sarah memukul lengan Nisa keras, sampai gadis itu mengaduh. "Kamu tuh ya, emang kebanyakan mikir. Sisa bilang iya aja apa susahnya, sih?"
"Aku nggak siap, Rah." Ucap Nisa memelas.
"Apa yang ngebuat kamu nggak siap? Malu? Nggak pd? Udah lah Nis. Iyain aja. Dengerin nih ya, kalau cowok udah berani ngajakin cewek ketemu sama orang tuanya itu tandanya dia serius." Ucap Sarah berapi-api.
Nisa mengerutkan kening, "Emang iya?" Tanyanya polos.
"Iya. Udah kamu jangan raguin kalo masalah gituan ke aku. Meskipun nggak pernah pacaran, tapi aku lumayan berpengalaman." Ucap Sarah jumawa.
Nisa hanya berdecih. Sarah memang tidak pernah pacaran, tapi entah kenapa gaya bicara gadis itu kalau membahas soal cinta seolah-olah sudah pakar. "Nanti aku sampein ke Samuel." Ucap Nisa kemudian.
Srah menoleh, "Apaan?"
"Aku mau berkunjung ke rumahnya dan ketemu sama orang tuanya sesegera mungkin. Puas anda?"
Sarah tertawa puas. Akhirnya jalan pikiran Nisa yang polos teracuni juga.
"Sekarang giliranmu cerita. Jadi, siapa laki-laki yang ngajakin kamu ketemu sama keluarganya? Eh ngomong-ngomong, kok bisa pas samaan gini, ya?"
Sarah mengendikkan bahu. "Kebetulan kali." Ucapnya sambil meloyor pergi.
Nisa yang tak terima menarik tangan Sarah untuk menghentikan langkahnya. "Jangan coba-coba larri, ya. Cerita dulu!" Perintahnya.
Merasa tak punya pilihan akhirnya Sarah mulai bercerita. Mereka mecari tempat yang nyaman, dan pilihannya jatuh pada rerumputan di bawah pohon akasia.
"Pak Alfian. Bosku." Ucap Sarah memulai ceritanya. "Dia ngajak aku makan malam, eh tau-taunya malah ngajak mama sama adik-adiknya juga. Mana pas mukaku kucel banget lagi, gara-gara udah sore dan belum mandi." Ucap Sarah memelas. Mengingat kejadian semalam, membuat dirinya harus merutuk beberapa kali. Penampilannya yang nggak banget itu harus di lihat oleh anggota keluarga Alfian yang semua mukanya pada kinclong dan bening-bening. Beruntung mereka tidak menyinggung masalah penampilan. Meskipun salah satu adiknya menatap tak suka pada Sarah waktu itu.
"Kok kamu bisa di ajak makan malam sama Pak Alfian? Kalian… pacaran?"
"Enggak, ih. Pak Alfian tuh yang keganjenan. Dia nawarin buat ngamtar pulang. Eh tau-taunya malah aku di bawa ke restoran mewah. Mana pilih ruang VIP lagi. Dan aku keliatan norak banget pas itu, Nis." Sarah menelungkupkan wajahnya diantara lekukan tangan.
Nisa tertawa. Ia membelai lembut kepala Sarah. "Udah nggak papa. Kan kamu sendiri tadi yang bilang, kalau laki-laki sudah ngajakin cewek ketemu sama orang tuanya, tandanya laki-laki itu serius. Berarti Pak Alfian serius dong."
Sarah mengangkat wajahnya. "Nggak tau. Bahkan dia nggak pernah deket sama aku sebelumnya. Baru kali itu, dan gilanya dia langsung ngajak aku ketemu sama keluarganya."
"Yaudah, kamu minta kejelasan aja." Ucap Nisa santai.
"Kejelasan apa? Orang dia aja tadi pagi pas ketemu aku mukanya biasa aja. Seolah-olah ggak ngenalin aku." Sarah merengek. "Dia punya niat buruk kali ya ke aku? Atau cuma sekedar mau mainin aku?"
Nisa memukul lengan Sarah pelan. "Jangan su'udzon. Mungkin aja dia nunggu waktu yang tepat."
Sarah tak menjawab. Ia kembali menenggelamkan wajah di antara lekukan lengan. Hatinya sebenarnya sedang gelisah saat ini. Hanya saja ia ingin terlihat profesional. Ia tidak ingin terihat seperti ABG yang baru mengenal cinta.
*****
"Di negara kita ini udah banyak banget ketidakwajaran yang terjadi. Lo lihat aja, gimana para tikus berdasi itu di beri hukuman yang tak masuk akal, sementara orang miskin yang mencuri karena kelaparan di hukum dengan berat. Geram sendiri gue lihatnya, hukum di negara kita selalu tajam ke bawah tumpul ke atas." Fathur bersungut-sungut ketika membaca sebuah postingan di sosial media.
__ADS_1
"Ya gitulah negara kita tercinta. Keadilan seolah tinggal nama saja." Nawir ikut menimpali. Laki-laki berbadan tambun tersebut mengambil posisi duduk yang nyaman di samping Fathur.
"Ya maka dari itu, gunanya kita sebagai mahasiswa harus bergerak menegakkan kembali keadilan yang tinggal nama itu." Kali ini Vika juga ikut menimpali.