
Langit nampak cerah, gemintang bergemerlapan di atas sana. Udara malam juga terasa sejuk. Tidak sedingin malam-malam biasanya. Suara ramai para pengamen jalanan yang sedang bertugas, menambah meriahnya malam. Mereka bernyanyi dengan lepas, menghibur para pengunjung, meskipun suaranya terdengar sumbang. Ah, begitulah kehidupan Jakarta. Terlalu berat untuk di lalui orang-orang tak berada, namun begitu megah di nikmati orang-orang kaya.
Sarah mendesah lelah, ia mengamati para pengamen itu seolah-olah sedang mengamati dirinya sendiri. Ia pun sebenarnya susah seperti mereka. Dulu, Sarah tidak pernah memikirkan bagaimana orang tuanya bekerja untuk menghasilkan uang. Tapi setelah dewasa, dan tidak lagi hidup bersama orang tua, Sarah menjadi paham, bahwa mencari uang hanya untuk membeli sesuap nasi tidaklah mudah. Ia harus mati-matian membagi waktu dengan sebaik-baiknya antara kuliah dan kerja. Jangan di tanya, bagaimana capeknya. karena tentu saja Sarah merasa capek. Ia sebenarnya ingin juga seperti anak-anak lain yang hanya memfokuskan diri untuk kuliah, tanpa memikirkan darimana biaya UKT di dapatkan dan tanpa pula memikirkan biaya pendidikan saudaranya, serta tanpa memikirkan biaya hidup yang lain. Tapi Sarah harus bertahan, ia harus bisa terus berlari sampai di garis finish. Ia tidak boleh jatuh, karena pemenang yang sesungguhnya tidak akan pernah berhenti hanya karena batu kerikil menghalangi.
Sarah melirik jam yang melingkar manis di pergelangan tangannya. Pukul 8 tepat. Harusnya Alfian sudah berada bersamanya saat ini. Mengingat laki-laki itu yang membuat janji sendiri bahwa akan datang tepat di jam itu. Ah dasar, tak menghargai waktu. Desis Sarah.
Saat ini Sarah sedang berada di sebuah rumah makan lesehan yang tidak jauh dari rumahnya. Sarah memiliki kesempatan untuk memilih tempat, sedang Alfian yang menentukan waktunya. Tapi lihatlah, harusnya Alfian kan yang berada di tempat itu lebih dulu. Harusnya ia yang menunggu Sarah. Bukan malah sebaliknya, Sarah yang menunggunya.
"Hai, maaf telat. Macet."
Alfian mengambil tempat duduk tepat di depan Sarah. Laki-laki itu terlihat sedikit berantakan, dan napasnya tidak teratur, membuat sarah bisa menebak, bahwa Alfian datang dengan berlari.
Sarah berdehem untuk menetralkan suaranya, "Nggak papa. Saya juga baru setengah jam di sini." Ucap Sarah seolah sedang menyindir Alfian.
Alfian tidak merasa tersinggung sedikit pun. Ia justru terkekeh sambil mengelap keringat yang membasahi dahinya dengan sapu tangan miliknya. "jadi ada apa?" Tanya Alfian di sela-sela kegiatan mengelap keringat. Sial, bahkan hanya saat mengelap keringat saja, laki-laki itu masih tampak menawan. Astagfirullah, Sarah beristighfar di dalam hati. Ia tidak boleh terpesona, pokiknya tidak boleh.
Sarah kembali berdehem, "Mmm.. Jadi seperti ini, Saya menerima lamaran Mas."
Alfian mengehentikan pergerakan mengelap keringat.
"Tapi dengan satu persyaratan." Ucap Sarah lagi.
"Apa?" Alfian menatap intens ke arah Sarah.
"Kita harus melewati masa ta'aruf selama 40 hari."
Alfian mengerutkan kening, "Masa apa? Ta'a..."
"Ta'aruf." Sambung Sarah cepat.
"Maksudnya ta'aruf apa?" tanya Alfian tak mengerti.
Sudah Sarah duga, mana mungkin laki-laki seperti Alfian paham istilah seperti itu. "Ta'aruf itu artinya masa pengenalan. Di karenakan kita belum terlalu lama kenal, maka saya ingin kita ada waktu khusus untuk saling mengenal satu sama lain sebelum melangkah ke jenjang yang lebih serius." ucap Sarah.
Alfian mengangguk-anggukkan kepala, "Boleh. Hanya itu persyaratanya?"
Sarah buru-buru menambahkan, "selama masa ta'aruf itu, saya berhak meminta apapun dari anda. Maksud saya, saya bebas menyuruh anda untuk melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan. Seperti sholat, mengaji, dan lain-lain. Dan saya sendiri yang memantau perkembangannya. Saya tidak mau, jika saya memiliki seorang imam yang tidak paham dengan agama. Karena seorang imam tugasnya adalah memimpin, maka saya menginginkan pemimpin yang tidak hanya cakap akan dunia, tapi juga cakap dalam akherat." Tutur Sarah.
Alfian terdiam sejenak, setelahnya sebuah senyuman terbit dari kedua ujung sudut bibirnya. Saat ini entah mengapa, ada sebuah kehangatan yang melingkupi hatinya. Kehangatan itu berasal dari Sarah yang begitu baiknya mau mengajak Alfian menuju kebaikan.
Tapi lain halnya dengan Sarah, gadis itu justru berkali-kali mengucap istighfar di dalam hatinya. Ia meminta maaf pada Allah, juga Alfian, namun maaf untuk Alfian tidak bisa ia sampaikan secara langsung. Sarah merasa berdosa, karena dalam pernikahan yang ia rencanakan, ia justru mengambil asas manfaat di dalamnya. Ia menyetujui lamaran Alfian bukan karena ia menyukai laki-laki itu. Tapi semua demi Arini, dan kelanjutan hidupnya. Arini sebentar lagi akan menyelesaikan pendidikan jenjang SMA nya dan sebentar lagi adiknya itu akan menginjak bangku perkuliahan. Dan Arini mengatakan ingin sekali mengambil jurusan kedokeran. Jurusan kedokteran adalah jurusan yang tidak main-main, dan tentu saja Sarah membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Tidak mungkin ia tega membiarkan Arini tidak melanjutkan pendidikannya. Ia tidak akan pernah sanggup membunuh mimpi adik satu-satunya tersebut. Dan setelah berpikir panjang serta mengalami pergolakan batin yang cukup lama, akhirnya Sarah menerima lamaran Alfian. Hanya dengan mengorbankan diri hidup bersama Alfian, ia bisa mewujudkan cita-cita Arini, dan tentu saja membuat hidupnya dan adiknya tersebut menjadi layak.
Alfian tersenyum, sebuah senyuman yang begitu tulus. Sarah tidak pernah melihat jenis senyuman Alfian yang seperti itu sebelumnya. Dan justru senyuman itu terasa mencabik-cabik hati Sarah. Ia sungguh merasa sedang berbuat dosa saat ini. Allah, maafkan Sarah yang sudah memanfaatkan ketulusan seseorang. Sarah tertunduk, tidak lagi sanggup menatap mata Alfian. Sarah menyadari satu hal, tidak ada kebohongan di dalam mata itu. Yang Sarah lihat hanyalah ketulusan.
*****
Samuel berkali-kali menghela napas lalu membuangnya dengan kasar. Dengan tekad penuh, laki-laki itu berjalan menuju rumah Nisa. Ia sudah berekad, bahwa akan meminta maaf dengan gadis itu dan memilih dirinya sepenuhnya. Ia berjanji akan benar-benar menghapus Alila dari hati, ingatan, juga hidupnya.
Samuel mengetuk pintu rumah Nisa yang nampak sepi. Namun ia yakin, bahwa Nisa ada di dalam. Ia bahkan sudah hafal jadwal Nisa. Saat pagi ia mengajar di Pesantren, saat siang hingga sore, ia di sibukkan dengan urusan Kampus. Saat malam selepas maghrib, ia sibuk muroja'ah bersama Ustadzah Hanum, atau santri-santri lain. Dan selepas Isya, ia akan berada di rumah, mengurus Aya dan mengerjakan tugas-tugas kuliah.
Samuel kembali mengetuk pintu. Dan suara kenop pintu yamg di buka membuat Samuel berbalik. Di lihatnya Nisa yang menatap ke arahnya dengan ekspresi kaget, namun tak berlangsung lama. Karena setelahnya gadis itu langsung mengubah ekspresinya menjadi datar.
"Assalamu'alaikum." Sapa Samuel.
Nisa menjawab Salam Samuel dengan suara kecil, bahkan nyaris tak terdengar.
"Maaf aku kesini tiba-tiba. Soalnya sejak tadi siang aku telepon kamu nggak jawab." Ucap Samuel.
Nisa menghela napas pelan, ia berdehem untuk menetralkan suasana hatinya. "Ada apa?" tanyanya langsung.
"Mmm... Kita ngobrolnya sambil duduk, boleh?"
Tanpa banyak bicara, Nisa langsung mengambil tempat duduk di depan rumah. Saat Samuel berkunjung, Nisa memang tidak pernah mengizinkan laki-laki itu masuk ke dalam rumah, kecuali jika ada Abinya. Tapi kalau di hitung-hitung, Samuel jarang berkunjung ke rumahnya, hanya beberapa kali saja. Bahkan kadang ia tak mampir, hanya sekedar berkunjung ke Pesantren, belajar mengaji bersama Ustadz Agam.
"Nisa. Saya minta maaf." Kalimat itu menjadi pembuka setelah beberapa lama hening melingkupi keduanya. "Saya akui, saya salah. Tidak seharusnya saya membiarkan wanita yang bukan mahram memeluk saya."
Nisa masih tak bergeming. Ia justru menunduk, menghitung semut-semut kecil yang melintas berjejer-jejer.
"Nisa." Panggil Samuel.
Nisa bergumam, tanpa mengangkat pandangan sedikit pun.
__ADS_1
"Kamu nggak mau ngomong sesuatu?" Tanya Samuel lagi.
Nisa membuang napas berat, lalu mengangkat kepalanya. "Saat mendaki, rasanya tidak ada yang lebih tinggi dari gunung yang di daki. Tapi setelah menengok pada satu hal, ternyata tidak ada yang lebih tinggi dari ego wanita." Nisa malah berteka-teki. "Ego wanita itu sangat tinggi, bahkan saking tingginya, Sayyidah Aisyah saja bahkan pernah memecahkan mangkuk di hadapan istri Rasulullah yang lain karena ia merasa cemburu."
Samuel terdiam, sebelum akhirnya ia mulai kembali buka suara. "Lalu apa yang di lakukan Rasulullah saat itu?"
"Rasulullah memanjakan Sayyidah Aisyah kemudian mencubit hidung istrinya tersebut. Maka Sayyidah Aisyah pun luluh."
"Apa maksudmu saya juga harus melakukan hal itu?"
Nisa kembali menghela napas, kemudian membuangnya dengan kasar, "Kamu tidak bisa melakukan hal itu. Karena aku bukan Sayyidah Aisyah, dan kamu bukan Rasulullah."
Samuel tersenyuam getir, "Apa itu artinya kamu tidak mau memaafkan saya?"
Nisa menggeleng, "Aku memaafkanmu, bahkan jauh sebelum kamu memiliki niat meminta maaf padaku."
"Nisa." Panggil Samuel lembut.
"Saya tidak ingin bertele-tele, Sam. Sekarang aku sudah memutuskan, bahwa aku tidak lagi mau menerima ajakanmu untuk berkomitmen. Pilihlah wanita yang jauh lebih baik dariku."
Samuel menggeleng cepat, "Nggak, Nis. Semua masih bisa di perbaiki. Jangan terburu-buru mengambil keputusan."
"Aku hanya tidak ingin menjadi wanita egois. Aku tidak bisa terus menutup mata dengan sengaja. Alila membutuhkanmu, Alila lebih mengharapkanmu, Alila lebih mencintaimu." Nisa membasahi kerongkongannya dengan susah payah. "Dan jangan berkhianat dari perasaanmu sendiri."
"Nis, saya bahkan baru saja membuat pilihan. Saya memilihmu." Ucap Samuel. Nada suaranya sarat akan luka.
Nisa mati-matian menahan air mata yang sejak tadi mendesak keluar. "Buat hidup Alila lebih layak lagi. Dia pantas untuk bahagia. Maaf, jika aku banyak menyulitkamu selama ini." Nisa mengucapkan kalimat itu dengan bibir bergetar. Ia bahkan merasa tidak sanggup lagi berlama-lama bersama Samuel. Laki-laki itu tidak boleh melihatnya menangis, laki-laki itu tidak boleh melihat lukanya.
Nisa berdiri, lalu mengambil langkah memasuki rumah kemudian menutup pintunya dengan rapat. Setelahnya gadis itu luruh ke lantai, bahunya bergetar hebat. Tangisnya pecah seiring dengan luka hatinya yang kian menganga. Meski berkali-kali ia meyakinkan diri, bahwa apa yang ia lakukan sudah benar, namun masih saja, sebagian besar dari hatinya terasa sakit luar biasa. Bukankah seharusnya ikhlas karena Allah tidak seperti ini? "Allah maafkan hatiku yang jauh darimu. Maafkan hatiku yang lebih mencintai hambaMu di bandingkan Engkau. Maafkan aku yang lebih dulu merampas takdirku sebelum Engkau menyerahkannya."
*****
Samuel berjalan meninggalkan rumah Nisa dengan perasaan yang tak menentu. Ia merasakan patah, separah-parahnya patah. Ia merutuki diri sendiri dengan kata-kata makian. Namun bukan ketenangan yang ia dapat, justru setumpuk perasaan bersalah yang kian menampar dirinya. Puluhan ribu jarum yang di lemparkan secara paksa dan mengenai hatinya, terasa begitu ngilu. Ada luka yang tak kasat mata, namun efeknya sungguh luar biasa. Samuel baru saja kehilangan, kehilangan cinta, kehilangan penuntun arah, kehilangan kesempatan, kehilangan segalanya. Dan buruknya, membunuh perasaan bukanlah hal yang mudah.
"Sam."
Samuel mendongak, dan di dapatinya Alila yang sedang menatapnya dengan sorot lembut.
Gadis itu mendekat, "Maaf." Ucapnya kemudian.
"Maaf karena membuatmu harus berpisah dengan Nisa." Alila menghela napas panjang, sebelum akhirnya melanjutkan kalimatnya, "Tapi bukankah itu yang terbaik?"
Samuel mengerutkan kening dalam. Ia tak mengerti dengan maksud Alila. Sedetik lalu ia meminta maaf, namun detik berikutnya ia justru terlihat seolah-olah sedang mensyukuri kemalangan yang terjadi pada Samuel.
"Aku tau, Kyai Abdulah tidak pernah menyukaimu. Ia bahkan tidak pernah merestui hubunganmu dengan putrinya. Itulah sebabnya, kenapa aku berusaha menjauhkanmu dari Nisa. Aku mengasihanimu. Aku mengasihanimu karena mengejar seseorang yang rumit. Karena kadang dalam mencintai pun, kita perlu tau diri. Seperti halnya aku, aku cukup tau diri untuk tidak memaksamu mencintaiku, meski aku tau, perasaan itu masih bersemayam di dalam hatimu. Begitu pun denganku. Tidak sedikit pun perasaanku yang dulu terkikis. Rasaku masih utuh untukmu. Setiap sujudku masih melangitkan namamu. Hanya saja aku malu padamu, aku malu jika harus memaksamu menetap denganku. Cukup sudah tugasku menjauhkanmu dengan Nisa. Setelah ini aku tidak akan lagi mengganggumu. Aku berjanji, tidak akan pernah muncul di hadapanmu."
Samuel mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa ngilu di dalam palung hatinya semakin hebat terasa. Kilatan emosi menyala-nyala di dalam tatapan tajamnya. "Apa maumu?"
"Sederhana. Carilah kebahagiaan yang sesuai dengan dirimu. Jangan mencintai seseorang yang begitu rumit. Karena aku tidak suka melihatmu di remehkan oleh orang lain. Aku terlihat jahat? Ya, mungkin seperti itulah kelihatannya. Tapi jika kamu melihat ke dalam dasar hatiku, aku tidak sejahat yang ada dalam pikiranmu."
Alila pergi, meninggalkan Samuel yang masih bergelut dengan ribuan tanya di kepala. Laki-laki itu termenung, menatap ke arah langit. Gemintang yang berkelap-kelip seolah sedang mengejeknya dari atas sana. "Tuhan, adilkah Kau membagikan takdirMu untukku? Mengapa Engkau mengabaikanku di saat aku baru mulai belajar mendekatiMu?"
Dan malam itu semilir angin membawa pesan, menerbangkan rerimbunan anak pohon yang baru saja tumbuh. Gugur satu persatu daunnya mencium tanah. Keyakinan yang baru saja di tanam, seolah ikut di terbangkan oleh angin. Dan lihatlah, bagaimana semesta ini bekerja. Tuhan Maha membolak-balikkan hati manusia. Maka janganlah pernah menyalahkan kuasaNya jika kau melihat seorang yang alim kehilangan hidayah hingga ia menjadi pendosa yang hina.
*****
"Kenapa Islam melarang pacaran?"
Vika meloloskan pertanyaan tersebut di hadapan Naim. Ia ingat, bahwa saat itu Samuel mengatakan bahwa tidak ada pacaran dalam Islam, tapi ketika Vika bertanya pada laki-laki tersebut tentang sebabnya, ia mengatakan bahwa ia tidak tahu menahu, dan justru menyuruh Vika untuk menanyakannya kepada orang yang jauh lebih paham. Dan sepertinya Vika telah menemukan orang itu.
"Islam memuliakan wanita. Sadarkah kamu, pihak yang paling merugi ketika pacaran itu adalah wanita. Mungkin kamu bertanya-tanya, kenapa? Jawabannya mudah, karena wanita memiliki kehormatan yang harus ia jaga. Selain itu, Islam juga mengatur pergaulan antara laki-laki dan perempuan. Pacaran adalah kegiatan maksiat yang dapat mengarah pada zina. Dan zina yang di maksudkan disini adalah zina mata, yang dengannya ia melihat sesuatu yang tidak halal, zina tangan, menyentuh yang tidak halal, zina pikiran, memikirkan yang tidak seharusnya ia pikirkan. Islam juga dengan keras menegaskan, bahwa lebih baik di tusuk kepala seseorang dari besi panas di bandingkan harus menyentuh seseorang yang tidak halal baginya."
Vika terdiam. Otaknya sedang bekerja untuk mencerna kata-kata Naim.
"Apa islam hanya memberi solusi pernikahan untuk dua insan yang saling jatuh cinta?" Tanya Vika lagi.
Naim mengangguk.
"Bagaimana jika belum mampu?" Sela Vika cepat.
"Berpuasa. Puasa bisa menjinakkan hawa nafsu. Kamu tau, cinta itu fitrah. Tapi jangan sekali-kali menyalah gunakan fitrah itu untuk sesuatu yang mengarah pada maksiat."
__ADS_1
"Apa kamu pernah jatuh cinta?"
Naim tertawa, "Tentu saja. Bukankah sudah ku bilang tadi, cinta adalah fitrah. Fitrah yang di berikan pada tiap-tiap hati manusia."
"Lalu apa yang kamu lakukan saat jatuh cinta?"
Naim terlihat berpikir sejenak, "Aku memendamnya. Tidak ku biarkan perasaanku itu di ketahui oleh orang yang ku cintai."
"Apa kamu tidak memiliki niatan utuk mengungkapkannya? Bagaimana kalau dia memilih orang lain?"
"Ya sederhana saja. Berarti dia bukan jodohku. Allah Maha mengatur segalanya. Ia tidak mungkin salah alamat dalam menentukan takdir seseorang, termasuk jodoh."
Vika menghela napas panjang. Baru kali ini ia menemui sosok seperti Naim. Laki-laki itu begitu teguh. Begitu kuat berpegang pada agamanya. Di saat pemuda zaman sekarang lebih mengunggulkan perasaan, ia justru memilih menjadi pemuda yang tidak seperti kebanyakan.
"Naim, bolehkah aku belajar Islam denganmu?"
Naim menoleh, dan mendapati sorot ketulusan dari kedua bola mata Vika. Gadis itu terlihat bersungguh-sungguh. Sebelum akhirnya, Naim membuang pandangan ke arah lain. "Apa kamu mau masuk ke dalam Islam?"
Vika terdiam. Lalu kemudian menggeleng ragu. "Tidak. Aku hanya penasaran saja dengan Islam setelah mendengar penuturanmu." Ucap Vika.
Naim tersenyum. Ada sebuah titik terang yang baru saja ia dapatkan. Entah Allah merencanakan apa terhadap pertemuannya dengan gadis di hadapannya ini.
*****
Langit-langit kamar itu gelap. Tidak ada seberkas cahaya pun yang di biarkan masuk. Tampak suram. Tapi gadis yang membaringkan tubuh di tempat tidur sama sekali tidak terganggu dengan kegelapan. Ia tidak merasa takut. Sama sekali tidak merasa takut. Ketakutannya seolah menguap dari tubuhnya karena perasaan yang saat ini sedang ia rasakan.
Sudah hampir tiga jam ia ada di posisi itu. Berbaring dengan posisi telentang. Pandangannya menatap ke langit-langit kamar, menerawang, diam. Membeku. Terbius oleh pikirannya sendiri. Memikirkan perasaan yang berkecamuk di dalam dada. Namun tak satu pun ia mendapat jawaban.
Merasa muak, gadis itu bangkit, menuju kamar mandi. Mengambil air wudhu. Lalu mendirikan sholat. Sesungguhnya tidak ada satu pun penolong, pendengar yang baik, pemberi ketentraman, selain Allah.
Tidak ada untungnya jika ia terus-terusan merenung. Karena hidup sejatinya adalah perjuangan. Maka biarkan ia berjuang melawan perasaannya. Mencegah agar ia tidak tumbuh subur seperti sebelumnya.
Sebab ia tidak ingin menjadi wanita menye-menye yang galau hanya karena cinta. Sebab ia adalah al-madrasatul'ula. Yang tidak boleh bersikap lemah, yang tidak boleh berhati hello kitty, terlalu gemulai dan rapuh menghadapi kesedihan. Sebab ia adalah calon ibu dari generasi-genarasi hebat. Maka apa yang akan ia katakan nanti pada anak-anaknya, jika mereka bertanya tentah kisah cinta ibunya? Haruskah ia menceritakan adegan ini? Menangis dan merenung sepanjang malam hanya untuk seorang laki-laki yang tidak halal. Tentu saja tidak kan?
Duhai diri, ingatlah. Bahawa Al-madrasatul'ula tidak boleh lemah. Sebab the next Al Fatih tidak lahir dari rahim seorang ibu yang ecek-ecek, tidak lahir dari seorang ibu menye-menye yang galau memikirkan kegagalan cintanya.
*****
Matahari bersinar terang pagi ini. Cuaca nampaknya sedang bersahabat. Ada sebuncah kebahagiaan yang orang-orang rasakan. Tidak terkecuali Nisa. Gadis itu terlihat lebih bersemangat dan begitu energik hari ini. Ia bahkan terus mendedangkan shalawat dari bibirnya.
"Hayo loh. Lagi seneng ya. Mukanya berseri-seri gitu." Sarah menepuk bahu Nisa. Ah, ternyata bukan hanya Nisa yang nampak berseri-seri, tapi juga Sarah. Gadis itu nampak lebih segar dari biasanya.
"Meskipun lagi nggak seneng, tapi hidup harus selalu di syukuri, kan?" Nisa mengembangkan senyumnya.
"Hmm.. iya sih. Eh pekan depan kita udah mulai magang, kan?"
Nisa mengangguk sebagai jawaban.
"Jadi gimana, kamu jadinya magang di mana?"
"Bareng dong."
"Ih serius?! Nggak bilang-bilang. Aku seneng banget ada temen ngeghibah di sana."
Nisa mencubit pinggang Sarah pelan. "Mau magang buat bikin skiripsi atau buat bahan ghibah?"
Sarah nyengir, "Dua duanya hehe."
"Kumpul kumpul kumpul di lapangan sekarang!!"
Suara teriakan yang penuh dengan amarah terdengar menggema. Membuat Sarah dan Nisa seketika berbalik mencari sumber suara tersebut. Ketika menoleh, di dapatinya sosok yang sangat familiar. Sosok itu berjalan menyusuri kelas kelas yang pintunya terbuka. Meneriaki setiap mahasiswa yang berada di dalam.
"Keluar!! Di luar ada panggilan untuk aksi! Ini demi kemajuan kampus kita juga! Jadi jangan ada yang bersikap apatis!" Suara itu berupa nada bentakan.
Ketika sosok yang sangat familier itu lewat di depa Nisa. Gadis itu berusaha untuk menetralkan detak jatungnya. Ia berusaha untuk terlihat sebiasa mungkin.
Sosok itu melewatinya. Tanpa sedikit pun melirik ke arah Nisa. Ada luka yang tak bisa di jabarkan dengan kata-kata.
"Nis, itu bukannya Samuel? Songong banget dia nggak noleh-noleh." Sarah bersungut-sungut. Pasalnya gadis itu tahu, bagaiamana watak Samuel. Apalagi ketika bertemu dengan Nisa. Laki-laki itu tidak pernah absen menyapa Nisa. Tapi hari ini ia justru nampak berbeda. Berjalan dengan angkuhnya seolah-olah tidak mengenali Nisa.
"Udah biarin aja, ke kelas yuk." Nisa menarik tangan Sarah. Tak ingin berlama-lama melihat perubahan sikap Samuel.
__ADS_1
Entah kenapa Nisa bisa melihat perbedaan yang mencolok dari laki-laki itu. Samuel tidak pernah berteriak kasar kepada orang-orang yang tak bersalah. Bahkan saat menyerukan untuk mengikuti aksi, laki-laki itu mengajak dengan seruan yang bersahabat, bukan mengintimidasi seperti tadi.
Namun Nisa tidak tahu, jika laut yang tenang pun akan mengamuk ketika ada ombak datang. Dan itulah yang di alami Samuel sekarang.