
Matahari tepat di atas kepala ketika Sarah turun dari Taxi. Ia nyengir ketika panasnya sengatan matahari mengenai wajahnya. Harusnya sekarang ia berada di Kantin, menikmati semangkuk mie ayam dan dinginnya AC sambil menunggu kuliah jam ke tiga di mulai. Namun keinginannya itu pupus, ketika Alfian meneleponnya agar segera ke Kantor. Terpaksa ia harus mengorbankan makan siang dan kuliahnya demi memepertahankan pekerjaannya.
Sarah tidak mengerti, tugas apa yang akan di berikan oleh Alfian. Seingatnya, ia sudah menyelesaikan semua kerjaan. Entah kenapa, sejak jabatannya naik, Sarah merasa Alfian memperlakukannya dengan semena-mena. Laki-laki itu sering tiba-tiba menyuruhnya ke Kantor di saat jam kuliahnya belum berakhir. Hei, hidup Sarah tidak hanya berputar dalam satu poros saja, kan? Maksudnya, ia memiliki kesibukan lain selain kesibukan Kantor, termasuk kuliah. Memangnya Alfian mau tanggung jawab jika Sarah tidak bisa wisuda tepat waktu?
Sarah mendesah malas. Ia bergerak memasuki lift kemudian menekan tombol menuju lantai 5. Tidak ada siapa-siapa di dalam lift, hanya dirinya. Membuat Sarah bisa berekspresi apapun tanpa ada yang melihat. Eh, tapi ada Cctv yang mengintainya. Tapi bodo amat, ia justru akan dengan sengaja berulah di depan Cctv tersebut. "Hei, siapa pun yang melihat ini. Saya hanya mau curhat, bahwa saya membenci Alfian dengan sangat. Laki-laki angkuh itu tidak tau cara memperlakukan orang lain dengan baik. Dasar orang kaya sombong." Sarah terus mengomel. Berdiri menatap nyalang ke arah Cctv sambil mulutnya komat-kamit mengatai Alfian. Siapa pun yang melihat tingkahnya saat ini pasti menyangka bahwa Sarah sudah tidak waras.
Pintu lift terbuka setelah bunyi 'Ting' terdengar. Sarah segera membenahi jilbabnya yang agak miring lalu bergegas keluar. Beberapa karyawan terlihat tersenyum ke arahnya dengan ramah, sebagian dari mereka membungkukkan badan untuk menyapa Sarah. Sarah tersenyum canggung ke arah mereka. Sejak menjadi sekretaris dari Alfian, orang-orang di Kantor terlihat bgitu hormat kepadanya. Bahkan yang dulu hanya menganggapnya sebutir upil, saat ini bersikap begitu manis di depannya. Ah, di depan ya. Tidak tahu kalau di belakang bagaimana.
Sarah mengetuk pintu sekali sebelum membuka kenop pintu. Alfian memang memerintahkan agar menganggap ruangan miliknya seperti ruangan Sarah sendiri. Jadi, tidak perlu terlalu canggung ketika akan memasukinya.
Begitu Sarah masuk, Alfian sedang fokus mengetikkan emtah apa di layar monitor. Matnyaa menatap lekat layar sampai-sampai Sarah khawatir matanya akan menempel di sana.
"Permisi, ada apa Mas panggil saya kesini?" Tanya Sarah dengan nada sopan.
Alfian mengangkat pandangan. Ia menatap Sarah sejenak sebelum kembali fokus pada monitor. "Duduk." Perintahnya.
Mau tak mau Sarah mengikuti instruksi Alfian. Biar bagaimana pun juga, Alfian adalah atasannya. Jadi ia harus tetap terlihat hormat ketika berada di hadapannya.
"Nanti malam kamu ada acara?"
"Hah?" Sarah refleks mengatakan kata itu karena mungkin saja telinganya salah dengar.
"Saya kira telingamu masih berfungsi dengan normal." Ucap Alfian datar.
Sarah menggeram dalam hati. "Saya ada tugas kuliah yang harus saya kerjakan malam ini." Sarah tidak sepenuhnya berbohong ketika mengucapkan kalimat itu. Ia memang memiliki tugas yang berniat ia kerjakan malam ini, yah meskipun deadlinenya masih minggu depan. Setidaknya itu bisa jadi alibinya untuk menghindari bertemu dengan Alfian.
"Tugasmu tentang apa?" Tanya Alfian.
Sarah tersenyum miring. "Memangnya kenapa, Mas? Kalaupun saua bilang, Mas juga tidak bakalan bisa membantu saya mengerjakannya." Ucap Sarah sedikit sinis.
Alfian tertawa kecil. "Bagaimana kalau saya bisa menyelesaikannya?"
'Tidak mungkin. Sehari-hari kau hanya berkutat dengan laporan keuangan, surat kontrak dan sekawanannya, mana mungkin bisa mengerjakan tugas mahasiswa jurusan psikologi.' Sarah mengucapkan kalimat itu dalam hati. Ia kemudian tertawa miring, "Kalau bisa menyelesaikannya, saya bersedia menemani Mas malam ini?"
"Memangnya aku mengajakmu kemana?" Percayalah, saat mengucapkan kalimat itu, wajah Alfian terlihat begitu menyebalkan.
Ingin sekali rasanya Sarah menabok mulutnya yang kurang ajar. Jelas-jelas Alfian belum mengatakan maksud dan tujuannya menanyakan kesibukan Sarah nanti malam, ia justru mengatakan hal seperti itu. Ah dungu memang. Percuma jadi mahasiswa semester tua, tapi mengontrol ucapan saja tidak bisa. Berkali-kali Sarah merutuk dalam hati.
Alfian berusaha mati-matian agar tidak meledakkan tawanya saat ini. Sarah terlihat merona, bola matanya kesana-kemari, ia salah tingkah dan cemas dalam waktu bersamaan. "Biasanya ketika seorang laki-laki menanykan hal yang Mas tanyakan tadi, berarti ia punya tujuan untuk mminta lawan bicaranya menemaninya, ke suatu tempat misalnya."
Luar biasa Sarah ini. Ia mudah sekali menguasai keadaan. Padahal baru beberapa detik yang lalu terlihat salah tingkah, kali ini ia sudah bersikap seperti biasa. Bertanya seolah menuntut pembenaran asumsinya. Ia tidak ingin terlihat salah, menarik sekali, pikir Alfian.
Alfian berdehem. "Deal! Saya terima tantanganmu. Sekarang bilang, tugas apa yang akan kau kerjakan nanti malam?"
Sarah melengos. Sombong sekali makhluk di hadapannya ini. Merasa sok pintar. Merasa tau segalanya. Ia yakin bahwa Alfian tidak lebih dari sosok yang hanya menguasai satu bidang. Ya, apalagi memangnya yang ia kuasai selain masalah bisnis dan antek-anteknya? "Tugas mata kuliah Konstruksi Alat Ukur Psikologi." Ucap Sarah sombong. Ia yakin, pasti laki-laki itu akan membatalkan niatnya.
"Oke." Ucap Alfian singkat.
Sarah melongo. Tidak mungkin kan Alfian bisa mengerjakan tugasnya? Kalau orang yang bukan dari kalangan psikologi pasti baru mendengar mata kuliahnya saja ia langsung garuk-garuk kepala. Ah tenang, palingan Alfian hanya sedang pencitraan saja agar kelihatan keren dan serba bisa.
"Mana tugasnya?" Tanya Alfian lagi.
Sarah mengedip-ngedipkan mata. Otaknya mendadak tidak merespon tindakan yang akan ia lakukan selanjutnya. "Jangan sok sokan deh." Kalimat itu meluncur tanpa Sarah sadari.
Alfian melempar tatapan tajam yang membuat Sarah gelagapan. Ah, lagi-lagi mulutnya tidak bisa di kontrol. Ia membungkuk, "Maaf, Mas. Nggak sengaja." Lalu segera berpura-pura sibuk mencari agendanya yang berisi tugas di dalam tas.
"Ini." Sarah menyodorkan agenda berwarna peach ke arah Alfian. Agenda itu sudah terbuka, sehingga menampilkan tulisan di dalamnya yang berisi angka-angka.
-
Alfian memgambil pen▪▪▪▪▪a yang tergeletak di atas meja, dan mulai menggoreskan pena tersebut ke dalam agenda.
Sarah yang penasaran sesekali melongokkan kepala mengintip sesuatu yang Alfian tulis di dalam agendanya. Laki-laki itu nampak serius. Wajahnya sepuluh kali lebih tampan ketika sedang berpikir seperti sekarang ini. Sarah memukul kepalanya, apa yang baru saja ia pikirkan? Mengagumi Alfian? Oh tidak, tanda bahaya menyala-nyala di kepalanya.
Sarah menunggu selama kurang lebih 20 menit sampai terkantuk-kantuk di tempat duduknya.
"Ini. Silahkan di cek." Alfian menyodorkan agenda yang sejak tadi menjadi titik fokusnya kepada Sarah.
Sarah sempat melirik Alfian sebelum memeriksa pekerjaan laki-laki itu. Dan selanjutnya Sarah di buat terngang Daebak!!! Alfian mengerjakan soal-soal yang rumit tersebut persis dengan contoh soal yang ia pelajari di Kampus tadi pagi. Sarah tidak percaya ini, tapi ini nyata. Bahkan ia kembali mencocokkan cara kerja soal itu dengan catatan yang di tulisnya di halaman sebelah. Dan, ya. Memang benar, seperti itulah cara kerjanya. Bagaimana bisa laki-laki itu melakukan hal yang tidak mungkin dia lakukan. Apa sekarang Sarah harus menarik kata-katanya yang mengatai laki-laki itu sok-sokan?
"Saya mengambil dua jurusan saat S1. Bisnis dan Psikologi." Seolah paham dengan kebingungan Sarah, Alfian menjelaskan hal itu.
Sarah masih melongo. Lupa cara menutup mulut sesaat. Laki-laki macam apa yang ada di hadapannya ini? Si jenius yang tidak pernah ia jumpai sebelumnya. Laki-laki itu baru saja mengatakan bahwa ia mengambil dua jurusan selama S1. Sarah saja yang hanya mengambil satu jurusan, rasanya masih kelabakan dan hampir mokad untuk sampai di garis finish. "Apa kamu menyelesaikan keduanya tepat waktu?" Tanya Sarah kemudian. Ia bahkan lupa menggunakan bahasa formal.
Alfian mengangguk. "Bahkan saya menyelesaikan S1 bisnis tidak sampai 4 tahun. Kemudian di susul Psikologi."
Ajarkan Sarah cara menutup mulut yang benar. Gadis itu masih ternganga sampai saat ini.
Alfian terkekeh, sebelum akhirnya kembali buka suara. "Jadi bagaimana? Sudah tidak ada tugas yang harus kamu selesaikan malam ini, kan?"
Sarah ksmbali di tarik menuju kesadaran. Ia menghela napas, kemudian mengangguk. Mau tak mau ia harus mengakui bahwa ia sudah kalah dari Alfian. Jadi ia harus menepati janjinya.
"Ini." Alfian menyodorkan sebuah paper bag yang lumayan besar. "Pakai ini untuk nanti malam. Saya mengundangmu makan malam di rumahku hari ini. Persiapkan dirimu. Pukul 8 malam saya jemput."
Sarah nyaris saja jatuh karena tiba-tiba berdiri tanpa keseimbangan yang bagus. Laki-laki di hadapannya ini tidak bisa di tebak. Ia bisa membuat Sarah terkena serangan jantung dadakan di usia yang masih muda.
*****
Alila sedang terbaring di ranjang UKS saat ini. Matanya menatap langit-langit ruangan yang di tutupi plafon. Sejak kemarin, ia belum di izinkan kembali ke Kamar oleh Ustadzah Hanum.
Setelah insiden kesurupan, Alila langsung di bawa ke UKS untuk mendapat perawatan, karena tiba-tiba gadis itu terserang demam tinggi sampai kejang-kejang. Beruntung, petugas kesehatan Pesantren dengan sigap menyelamatkan gadis itu.
Pikiran Sarah saat ini sedang tertuju pada Nisa. Iin bilang, saat ksurupan kemarin, ia mencaci maki Nisa dengan kata-kata yang tidak seharusnya. Tapi saat Alila bertanya apa yang ia katakan, Iin enggan menjawab. Ia ingin meminta maaf langsung pada Nisa. Ia ingin menjelaskan bahwa kemarin ia dalam kondisi tidak sadarkan diri.
"Jangan ngelamun, Lil." Suara Iin membuyarkan lamunan Alila.
Gadis itu membawakan makan siang untuk Alila. Sejak Alila datang di Pesantren ini, Iin memang orang yang paling perhatian terhadapnya. Gadis itu dengan tulus menemani Alila meskipun Alila tidak begitu baik meresponnya. Tapi Iin sama sekali tak menyerah, ia tetap terus mengajak Alila berteman hingga Alila merasa nyaman.
"Dimana Nisa?" Tanya Alila kemudian.
"Mbak Nisa?" Iin malah balik bertanya. "Oh kalau jam begini beliau di Kampus."
"Kapan pulang?"
Iin mengendikkan bahu. "Nggak tau. Soalnya jadwal kuliahnya nggak menentu. Tapi biasanya dia pulang sebelum maghrib."
Alila tak menjawab. Ia kembali larut dalam lamunannya. Entah kenapa akhir-akhir ini Alila suka sekali melamun tanpa tahu tempat dan waktu. Dan Ustadzah Hanum bilang, bahwa kebiasaan melamun itulah yang menyebabkan Alila kesurupan kemarin. Beliau mengatakan, bahwa jin menyukai jiwa-jiwa yang hati dan pikirannya kosong serta jauh dari Allah.
"Kamu ada masalah apa sama Kak Nisa?" Iin mengambil posisi duduk di samping Alila, membuat gadis itu mengalihkan fokusnya.
"Kenapa memangnya kamu bertanya begitu?" Alila melempar balik pertanyaan pada Iin.
"Kamu kemarin bilang, maksudku, jin yang kemarin memasukimu bilang kalau Kak Nisa sudah membuat kamu sakit hati. Memangnya benar?"
Alila terdiam. Sorot matanya melemah. Ia tidak tahu bahwa makhluk Allah yang lain bisa mengetahui isi hatinya. "Bilang semua apa yang ku katakan selama saya kesurupan kemarin."
Iin menghela napas. "Nggak perlu. Itu malah buat kamu kepikiran. Jawab aja pertanyaanku."
Alila menggeleng, "Nggak. Kamu harus bilang dulu."
"Kamu bilang Kak Nisa munafik, sampah, dan…" Iin menggantungkan ucapannya.
"Dan apa?"
Iin menggigit bibir bawahnya. Ia sebenarnya ragu mengucapkan hal ini, "Kamu bilang Kak Nisa sudah merebut orang yang kamu cintai." Kalimat itu berhasil lolos. Setelah ini, mungkin Iin akan menyesali ucapannya.
Kepala Alila serasa di hantam oleh benda berat. Dasar hatinya ngilu luar biasa. Ia benar-benar tak menyangka makhluk itu mengutarakan semua isi hatinya. Sekarang apa yang akan ia katakan pada Nisa? Apakah ia masih memiliki muka untuk menemui gadis itu? Jin kurang ajar. Dia membuat runyam segalanya.
*****
"Nggak usah. Aku bisa pulang sendiri." Nisa masih kekeuh menolak tawaran Samuel untuk mengantarnya pulang. Hari ini ia mengikuti sebuah pelatihan terapi mental yang diadakan sampai pukul 8 malam. Biasanya ia akan pulang bersama Sarah, mengingat jalan pulang mereka searah. Namun Sarah bahkan sudah pulang sejak siang dan membatalkan niatnya mengikuti pelatihan tersebut karena tiba-tiba mendapat panggilan dari Alfian yang menyuruhnya agar segera ke Kantor. Dan tidak baiknya, Samuel tiba-tiba menghubunginya untuk menanyakan dimana keberadaan Nisa saat ini. Nisa yang memang tidak pandai berbohong akhirnya mengatakan yang sebenarnya. Dan jadilah, Samuel membuntutinya seperti ini.
"Nisa, ini sudah malam. Kalau kamu kenapa-kenapa di jalan bagaimana?" Nada suara Samuel penuh kekhawatiran.
"Nggak usah. Saya juga sudah biasa pulang sendiri." Ucap Nisa.
"Kamu tahu, dua hari yang lalu ada pembegalan di jalan Pahlawan. Korbannya perempuan, katanya sih Mahasiswa yang pulang malam kayak kamu ini."
Nisa mendelik, "Nggak usah nakut-nakutin deh."
"Serius. Kalo nggak percaya cek aja beritanya."
Nisa memutar bola mata jengah. Ia menyalakan mesin lalu mulai menjalankan motornya.
Samuel mengikuti dari belakang. Nisa tidak pernah mau di bonceng olehnya. Makanya Samuel berinisiatif mengikutinya dari belakang seperti itu. Tidak apa-apa yang penting ia bisa memastikan Nisa aman dan sampai di rumah tanpa kurang satu apapun. Suasana jalanan ibukota memang selalu ramai, namun jalan memasuki lorong ke rumah Nisa yang cukup sepi. Hal itu yang membuat Samuel tidak tega membiarkan gadis itu pulang sendirian di malam hari.
Rumah Nisa erletak 5 km dari jalanan beaar ibukota. Tidak begitu jauh, namun tetap saja, ketika di lalui di malam hari saat sendirian rasanya agak mencekam, apalagi jika perempuan yang lewat seorang diri.
Saat memasuki lorong, hanya ada beberapa kendaraan yang terlihat sesekali melintas. Udara dingin terasa menusuk kulit. Samuel merapatkan jaket parasut yang ia kenakan. Di sepanjang lorong memang masih banyak terdapat peswahan dan pohon-pohon besar yang masih rindang. Pesantren memang sengaja di bangun di daerah yang tidak begitu padat penduduk dan tentunya bukan di tengah-tengah pusat kota. Hal ini di tujukan agar para santri tidak mudah berkeliaran di luar.
Motor matic Nisa berhenti tepat di depan halaman Parkir. "Udah sampai sini saja. Kamu bisa balik."
Samuel terkekeh, "Nggak di suruh masuk dulu?" Godanya.
"Ngapain?" Jawab Nisa cepat.
"Ya minum-minum teh atau apa gitu."
"Nggak. Tehnya lagi habis." Ucap Nisa cuek.
Samuel terkekeh. Nisa memang selalu begitu, cuek kadang juga sinis. Tapi Samuel sayang. Eh, bukan mahram.
Suara keributan yang berasal dari UKS Peaantren putri menginterupsi Nisa dan Samuel. Jarak antara UKS Peaantren putri dan parkiran memnag tidak begitu jauh. Mengingat bangunan tersebut memang berada di bagian paling depan.
__ADS_1
"Itu kenapa?" Tanya Samuel.
"Nggak tau. Nggak biasanya mereka kayak gitu. Saya kesana dulu." Nisa mmelepas helm lalu berlari menuju UKS.
Samuel yang tadinya hendak memutar motor untuk pulang mengurungkan niatnya ketika melihat kunci motor Nisa yang masih menggantung. Gadis itu lupa mengambil kunci motornya. Samuel berinisiatif untuk membawakan kunci motor tersebut kepada Nisa.
"Pergi!!!"
"Pergi atau akan ku bawa gadis ini mati bersamaku!!!"
Alila menghunuskan pisau di depan wajahnya sendiri, membuat beberapa orang yang melihatnya memekik. Iin terlihat menangis, tidak ada yang bisa ia lakukan saat ini.
Alila kembali kesurupan setelah di marahi Ustadzah Hanum. Gadis itu kena hukuman karena tidak sholat. Padahal Istadzah Hanum sudah memperingatkan agar tetap melaksanakan sholat meskipun dalam keadaan sakit. Namun Alila kelupaan, ia tertidur dari sore sampai selesai maghrib. Ketika di tanya apa alasannya tidak sholat, ia mengatakan sedang malas. Karena hal itu, Ustadzah Hanum memarahinya.
Ketika waktu makan malam, Iin mengirimkan makan malam untuk Alila. Dan betapa kagetnya ia saat melihat Alila sedang memainkan pisau di tangannya. Pisau itu di bolak-bolak, dengan tatapan aneh Alila yang terlihat menyeramkan.
"Hai. Apa kabar? Sudah ku bilang kan aku akan kembali." Alila menyeringai ke arah Nisa.
Nisa tak merespon. Ia menatap tajam ke arah Alila, namun sosok yang ada dalam diri gadis itu justru tertawa cengengesan. "Saya akan terapi dia pake terapi adzan. Iin ikut saya mengambil air wudhu." Nisa bergerak ke belakang kemudian di susul oleh Iin.
*****
Samuel baru saja menginjakkan kaki di pintu utama Pesantren putri saat di dengarnya sebuah suara yang melengking.
"Kenapa kalian semua melihat saya seperti itu?! Dasar sekumpulan iblis!"
"Hei! Sudah ku bilang jangan mendekat atau saya akan membunuh gadis ini!"
Samuel membeku di tempat ketika melihat sosok yang ada di depan sana. Jantungnya berdetak dengan ritme yang tak karu-karuan.
Di depan sana, gadis yang saat ini ia lihat tengah menggenggam sebuah pisau sedang menatap nyalang ke arah orang-orang yang mengelilinginya. Sesekali gadis itu tertawa, sesekali juga menangis histeris.
"Alila." Hanya satu kata tersebut yang sanggup Samuel gumamkan.
Nisa datang dengan sedikit berlari dari arah belakang. Kerumunan membuka jalan saat gadis itu hendak lewat. Ia mengambil posisi duduk di hadapan Alila.
"Heh wanita murahan! Pergi kau! Saya tidak sudi melihat wajah munafikmu!" Alila menunjuk-nunjuk Nisa menggunakan pisau yang ada di tangannya.
Nisa tak mempedulikan ucapan Alila. Ia tetap mengambil ponsisi nyaman untuk duduk. "Mulai." Perintahnya.
Adzan di kumandangkan, Alila berteriak-teriak murka. Ia hendak menggoreskan pisau yang di pegangnya ke pergelangan tangan. Namun pergerakannya terhenti ketika seseorang tiba-tiba datang merampas pisau tersebut. Semua orang yang melihatnya memekik kaget.
"Lo sudah gila?!" Suara itu berupa bentakan yang sarat akan emosi.
Wajah Alila pias. Tatapan matanya tajam menusuk siapapun yang bersitatap dengannya. Rambut panjangnya berantakan. Jilbab yang sempat ia kenakan tadi saat ini raib entah mencelat kemana. Giginya bergemelatuk dan saat ini dua bola matanya sedang menatap Samuel dengan tatapan benci.
"********!!!" Alila mencengkeram tangannya sendiri hingga buku-buku jarinya memutih. "Manusia hina sepertimu tidak pantas menghalangiku!!" Gadis itu berteriak murka.
"Lebih baik kamu pergi." Nisa menghampiri Samuel dan menyuruh laki-laki itu pergi secepatnya sebelum Alila berkata yang tidak-tidak lagi. Jika dengan Nisa saja ia berkata yang tidak sepantasnya, apalagi dengan Samuel. Yang notabenenya adalah orang yang Alila cintai.
"Untuk apa kau menghalangiku?! Kau tau, luka yang akan ku buat pada tubuh gadis ini rasanya tidak seberapa dengan luka yang sudah kau goreskan di hatinya!!"
Samuel mengerutkan kening dalam. Ia tak paham mengapa Alila bisa sebuas itu. Gadis yang biasanya lemah lembut, dan hampir tidak pernah berbicara keras, hari ini justru ia nampak sangat kasar.
"Sam, pergi dari sini. Dia bukan Alila." Nisa masih berusaha mengusir Samuel.
Alila tersenyum miring. "Lihat, betapa munafiknya kalian!! Kalian menyakiti gadis ini dengan tidak tau malu!!"
Nisa memejamkan matanya rapat-rapat. Ia berusaha mengabaikan ucapan Alila yang membuatnya hatinya nyeri. Apakah itu yang selama ini Alila rasakan? Nisa tidak bermaksud menyakiti hati Alila. Tidak pernah.
Alila menangis lagi. Kali ini ia meraung-raung dan suara tangisannya benar-benar menyayat hati. "Kalian jahat!! Kalian menyakitinya!! Apa salah dia?!"
Samuel berusaha mendekat, ia menggenggam tangan dingin Alila. "La, maaf. Aku tidak bermaksud menyakitimu dengan sengaja. Jangan seperti ini."
Alila menghentikan tangisannya. Ia bergerak medekati Samuel lalu beringsut memeluk laki-laki itu. Membuat seluruh santriwati yang mengelilingi mereka mengucap istighfar.
Dasar hati Nisa nyeri luar biasa. Ini bukan kali pertama ia melihat Alila dan Samuel berpelukan. Harusya ini menjadi alasan, bahwa ia meragukan Samuel bukan? Tapi justru bukan itu yang Nisa rasakan. Ada sebuah ketidakrelaan yang meguasai perasaannya saat ini.
"Kak Nis, ayo ruqyah Alila sekarang. Sebelum dia bertindak lebih aneh lagi." Iin menarik lengan Nisa. Tapi gadis itu menepis perlahan dan justru berjalan menjauh.
Nisa tidak mengerti apa yang ia rasakan saat ini. Yang jelas, ia tidak ingin berlama-lama di sana menyaksikan Alila yang memeluk Samuel dan Samuel yang tidak menolaknya sama sekali. Rasanya ada godam yang tiba-tiba menghantam relung hatinya. Ia tidak bisa profesional saat ini, ia harusnya mengobati Alila. Bukan malah lari seperti ini. Tapi hatinya menolak. Jiwa kemanusiaannya telah di kalahkan dengan api cemburu yang menyala-nyala di dalam sana.
*****
Sarah mematut dirinya di depan cermin, sesekali ia berputar sehingga gaub yang di kenakannya mengembang.
"Mbak, centil banget sih?" Protes Arini. Gadis itu sedang mengerjakan tugas, namun fokusnya terpecah karena Sarah yang mondar-mandir dan berputar-putar di depan cermin yang berada tepat di hadapannya.
Sarah duduk di kasur, "Cocok nggak ini baju di pake sama, Mbak?"
Arini tampak meneliti sejenak, matanya naik turun memperhatikan Sarah dari ujung kaki sampai ujung rambut. "Bagus sih, tapi warnanya terlalu mencolok." Ucap Arini.
"Ih serius?! Nggak bagus dong?" Sarah kembali berdiri di depan cermin memperhatikan penampilannya.
Sarah kembali duduk. "Ada acara."
"Sama Kak Nisa?"
Sarah menggeleng, "Enggak."
Arini memicingkan mata, tidak biasanya kakaknya itu bepergian tanpa Nisa. Biasanya dimana ada Nisa disitu pasti ada Sarah, kecuali ketika Sarah di Kantor. Selebihnya mereka nempel terus kemana-mana seperti lem sama perangko. "Kok tumben?"
Sarah menghela napas, "Urusan Kantor. Udah ah, Mbak pulangnya nggak sampai larut malam kok." Gadis itu malas jika harus di tanya-tanya oleh adiknya. Jika ia mengatakan yang sebenarnya, maka Arini pasti mendudukkannya di mena hijau untuk mengnterogasinya.
Pipp pipp
Suara klakson mobil di barengi dengan notifikasi panggilan masuk menginterupsi percakapan Sarah dan Arini.
"Saya sudah di luar." Kalimat itu yang pertama kali menyapa telinga Sarah ketika ia mengangkat telepon. Bahkan saat Sarah belum mengucapkan sepatah kata pun, sambungan sudah di putus secara sepihak.
"Headuh, dasar songong!!" Rutuk Sarah.
"Siapa Mbak?" Arini sedikit kepo dengan gelagat Kakaknya yang di nilai tidak seperti biasa. Ia pun curiga dengan orang yang saat ini membunyikan klakson di depan rumahnya. Tanpa menunggu jawaban Sarah, Arini bergegas meninggalkan Kakakknya. Gadis itu berlari ke luar kamar menuju ruang tamu hanya untuk melihat siapakah gerangan yang sedang berada di luar menunggu kakaknya.
"Arini!!! Jangan kepo!!" Teriak Sarah. Ia mengambil tas jinjingnya lalu berlari mengejar lengkas Arini yang begitu gesit.
"***** di depan rumah ada Alphard."
Sarah memukul bibir Arini secara tak manusiawi. "Language, please!"
Refleks Arini memgangi bibirnya sambil menggaruk kepala. "Lupa. Eh, Mbak, itu gebetan Mbak, ya? Gila, tajir banget." Ucapnya heboh.
Sarah menggeleng-gelengkan kepala. Melihat Arini yang norak karena melihat mobil mewah Alfian, ia jadi teringat, waktu memasuki mobil itu dia juga terlihat sama noraknya dengan Arini. "Udah sana masuk kamar. Mbak mau pergi dulu. Jangan lupa kunci pintu." Perintahnya, mengabaikan pertanyaan dari Arini. Mengingat Alfia di luar sanasudah mebunyikan klaksonnya sejak tadi. Ia tidak ingin membuat laki-laki itu murka.
Ketika memasuki mobil, pemandangan yang pertama kali Sarah lihat adalah Alfian yang memakai pakaian kasual. Baju kemeja flanel berwarna merah maroon dan Celana bahan berwarna hitam. Sesaat otak Sarah jadi blank. Ia harus mengakui, bahwa Alfian begitu tampan. Apalagi saat berpakaian santai seperti sekarang ini.
"Santai aja ngeliatinnya. Saya tau saya ganteng." Ucap Alfian pongah. Laki-laki melempar senyum miring ke arah Sarah.
Sarah memutar bola mata jengah. Ia sepertinya menyesal telah mengakui laki-laki di hadapannya ini tampan. Walaupun gak bisa di pungkiri bahwa ia memang tampan, kemeja berwarna merah maroon itu begitu pas melekat di badannya. Tunggu dulu, kemeja berwarna maroon? Tidakkah warna itu sama dengan warna gaunnya malam ini? Ah sial, Alfian ternyata sengaja membelikannya gaun dengan warna yang sama dengan kemejanya, agar terlihat seperti pasangan-pasangan gemes lainnya yang sukai memakai pakaian couple.
Alfian mulai menjalankan mesin mobilnya meninggalkan halaman rumah Sarah. Yang membuat Sarah dongkol sepanjang jalan adalah laki-laki itu terus-terusan memamerkan senyum menyebalkannya. Dan kabar buruknya, Sarah merasa tidak nyaman dengan senyuman itu, karena jantungnya terus berdetak dengan cara yang ganjil.
Ketika mobil memasuki daerah perumahan elit, Sarah sudah bisa menebak, bahwa rumah Alfian pasti lebih elit dari rumah-rumah yang di lewatinya di daerah tersebut. Dan benar saja, Sarah kembali di buat takjub ketika mobil berhenti di depan gerbang yang menjulang tinggi. Bahkan baru sampai di depan gerbangnya saja, Sarah sudah di buat ternganga duluan. Pintu gerbang itu menjulang tinggi menutupi bangun yang ada di dalamnya. Perpaduan warna gold dan silver yang membuat pintu tersebut kelihatan menawan. Di tambah dengan ukiran-ukiran patung kuda yang menghiasi bagian tengahnya.
Ketika mobil sudah sepenuhnya berhenti di depan gerbang, seorang laki-laki memakai seragam satpam berlari tergopoh-gopoh membukakan pintu. Sarah mendecih melihatnya, betapa orang kaya selalu di hormati dengan berlebihan di dunia yang fana ini.
Asyik dengan pikirannya, Sarah sampai tak menyadari bahwa mobil sudah sepenuhnya berhenti bahkan mesin sudah di matikan.
"Turun. Atau menunggu saya yang bukakan pintu?" Alfian melempar tatapan meremehkan pada Sarah. Membuat gadis itu ingin mencabik-cabik wajah Bosnya tersebut.
Buru-buru Sarah turun. Gadis itu terlihat gugup, apalagi saat melihat bangunan super megah yang berdiri kokoh di hadapannya. Bangunan itu persis seperti rumah-rumah dalam film Indosiar yang sering di nontonnya dulu saat kecil, rumah-rumah yang biasa di gunakan syuting oleh Temy Rahadi dan kawan-kawan. Pilar-pilar yang menjulang berwarna putih, di padukan dengan cat di dinding yang dominan berwarna silver. Serta jendela-jendela yang super besar dan panjang di beberapa sudut. Sarah menelan ludah, entah kenapa ia jadi merasa seperti rakyat jelata yang berkunjung di istana raja.
"Ayo masuk!" Alfian berjalan lebuh dulu, di ikuti Sarah yang juga turut melangkahkan kaki memasuki rumah Alfian.
Sudah sarah bilang, kan, saat ini ia merasa seperti berkunjung di istana raja. Lihat saja, saat ia dan Alfian akan memasuki rumah, para pelayan yang memakai pakaian seragam berdiri di depan pintu untuk menyambutnya. Jumlah mereka terdiri dari 4 orang, yang kesemuanya adalah perempuan. Mereka membungkuk saat Alfian dan Sarah melewatinya. Sarah yang tidak biasa, merasa keki di perlakukan seperti itu.
Ketika Sarah memasuki rumah, pemandangan yang ia dapatkan jauh lebih mengagumkan di bandingkan pemandangan yang ia lihat di luar. Bagaimana tidak, bangunan di dalam jauh berlipat-lipat kali lebih indah. Ruang tamu membentang luas, bahkan Sarah memperkirakan ruang tamu tersebut jauh lebih luas dari rumahnya. Sofa-sofa harga ratusan juta berjejer dengan manis. Tak lupa hiasan-hiasan dinding dengan berbagai macam bentuk nangkring di dinding ruang tamu tersebut. Dan jangan lupakan, sebuah foto yang begitu besar di balut dengan bingkai emas pun menempel di sana. Di dalam foto tersebut terlihat laki-laki paruh baya yang sedang duduk penuh wibawa, di sampingnya seorang perempuan yang Nisa kenali sebagai Ibu dari Alfian tengah tersenyum. Dan di belakang keduanya berdiri dua orang laki-laki dan dua orang perempuan. Salah satunya Alfian, kemudian dua saudara perempuan Alfian yang ikut makan malam bersamanya tempo hari dan juga seorang anak kecil laki-laki, yang Sarah taksir usianya masih sepantaran anak SD.
"Tuan muda, Nyonya dan Tuan sudah menunggu di meja makan."
Seorang wanita paruh baya menghampiri Alfian. Wanita itu terlihat membungkuk penuh hormat, dan berbicara tanpa berani menatap Alfian. Ah dasar, padahal wanita itu lebih tua darinya, pikir Sarah.
Alfian mengajak Sarah menuju ruang makan. Dengan langkah yang di paksakan, Sarah mengikuti langkah Alfian, sambil sesekali matanya mengagumi bangunan yang di pijakinya saat ini.
"Halo Sarah."
Sarah mengangguk canggung saat Ibu Alfian menyapanya. Wanita itu nampak cantik hari ini. Ia mengenakan dress selutut dengan motif bunga-bunga yang warnanya tidak mencolok. Di sampingnya ada seorang anak laki-laki yang wajahnya mirip dengan Alfian tapi versi junior. Dan mungkin ia adalah adik Alfian yang ada dalam foto tadi. Di kursi utama ada laki-laki yang nampaknya usianya lebih tua dari Ibu Alfian. Membuat Sarah bisa menebak, bahwa ia adalah Ayah Alfian. Kemudian di meja seberang ada Alesha dan Ameera. Ameera menyapa Sarah dengan melambaikan tangan, tetapi Alesha justru melengos dan berpura-pura mengalihkan perhatian. Kentara sekali ia tak menyukai Sarah. Padahal seingat Sarah, dirinya tidak pernah melakukan kesalahan apapun pada adik Alfian tersebut. Tapi entah mengapa, ia begitu tidak menyukai Sarah.
Mama Alfian berdiri dan mempersilahkan Sarah untuk duduk. "Apa kabar?" Tanyanya.
"Baik tante." Sarah tersenyum canggung. Saat ini ia merasa seluruh pasang mata sedang menatap ke arahnya. Entah kenapa jantung Sarah rasanya seperti di pompa gila-gilaan. Ia bahkan tak bisa untuk sekedar bernapas seperti biasanya.
Semua orang di meja makan menkmati makanananya dengan khikmat. Suara denting sendok dan piring yang saling beradu terdengar nyaring. Susah payah Sarah menelan makanannya. Saat ini gadis itu tengah takut jika membuat kesalahan. Padahal seharusnya ia tak perlu mengkhawatirkan hal itu, toh Alfian dan keluarganya bukan siapa-siapa untuknya.
"Jadi, kapan rencananya pesta pertunangan kalian akan di adakan?"
Sarah tersedak makanannya sendiri. Gadis itu terbatuk-batuk saking kagetnya. Alfian menyodorkan air minum, yang langsung di minum oleh Sarah sampai tandas.
Apa tadi yang ayah Alfian katakan? Pertunangan? Pertunangan siapa yang ia maksud? Bukankah saat ini orang asing yang berada di ruangan tersebut hanya Sarah? Oh mungkinkah? Bagaimana bisa? Otak Sarah menjerit-jerit untuk menebak apa sebenarnya maksud Ayah Alfian mengatakan hal itu.
"Are you okay?" Tanya Mama Alfian.
Sarah mengangguk lalu mengambil selembar tissue untuk mengelap bibirnya. Tangannya terasa dingin. Mendadak oksigen di sekitar seperti tak memadai untuk di hirup.
__ADS_1
Alfian berdehem, sebelum kemudian mulai berbicara. "Kami belum membicarakannya. Biar nanti saya berunding dulu dengam Sarah, baru kemudian saya sampaikan."
Sarah di buat ternganga. Apa Alfian sudah tidak waras? Berapa lama sih laki-laki itu mengenal Sarah? Kenapa ia berani mengatakan hal itu kepada orang tuanya tanpa Sarah ketahui? Oh apakah karena ini ia mendekati Sarah belakangan ini? Sampai-sampai mengangkat Sarah menjadi sekretaris pribadinya. Apa sebenarnya yang ia inginkan dari keputusan itu? Sarah memotong daging di piringnya dengan sadis. Gadis itu sedang marah besar kepada Alfian. Tapi tidak mungkin kan ia melampiaskan kemarahannya saat ini juga? Bisa-bisa ia di usir oleh satpam yang berjaga di depan pintu gerbang tadi.
"Kalau bisa jangan lama-lama. Papa harus mempersiapkan semuanya jauh-jauh hari."
Rasanya Sarah ingin menangis saat ini. Ia tidak mengerti dengan rencana Alfian. Dan tiba-tiba ia harus di seret dalam kondisi yang bahkan tidak sampai pada nalarnya. Ia tidak pernah membayangkan hal ini sebelumnya. Tapi entah kenapa, sejak Alfian menyentuh hidupnya, hidupnya berubah menjadi berantakan. Banyak hal yang tidak bisa Sarah selesaikan tepat waktu karena harus mendahulukan pekerjaannya pada Alfian. Sarah ingin berkomentar atau sekedar melayangkan protes, namun bibirnya justru bungkam. Ia takut jika berbicara nanti ada perkataan yang mungkin saja salah ia ucapkan.
"Kami akan langsung membahasnya nanti." Ucap Alfian.
Ingatkan Sarah untuk meninju Alfian nanti setelah ia keluar dari rumah ini. Sarah benar-benar geram dengan laki-laki itu.
"Sarah, Nak, apa kamu sudah menyampaikan hal ini sama orang tuamu?"
Sarah seperti di tarik dari lamunannya saat Mama Samuel ikut buka suara. Ia tersenyum getir, "Saya sudah tidak memiliki orang tua." Ucapnya nelangsa.
Sesaat hening. Sebelum akhirnya Mama Alfian kembali buka suara, "Oh maf, saya tidak tau. Jadi selama ini kamu tinggal dengan siapa?" Ia tersenyum ramah.
"Adikku. Semenjak orang tua saya meninggal saya tinggal bersama dia." Sarah berusaha mempertahankan senyum di kedua sudut bibirnya.
"Kalau begitu, bagaimana pendidikanmu?" Kali ini Papa Alfian yang bertanya.
"Saya mahasiswa semester tua di Universitas Guna Dharma, mengambil jurusan psikologi." Ucap Sarah tanpa mengurangi sedikitpun rasa sopan dalam nada bicaranya. Meskipun ia kesal dan merasa tidak nyaman, namun ia tetap harus terlihat sopan sebagai gadis yang beradab dan berpendidikan.
Papa Alfian menggut-manggut. Sejak tadi laki-laki itu hanya menunjukkan ekspresi datarnya. Dan Sarah terganggu akan hal itu, padahal seharusnya ia tak peduli, toh tidak ada untungnya juga buat Sarah, kan?
Makan malam selesai. Di tutup dengan Papa Alfian yang melempar pertanyaan tak terduga kepada Sarah, "Apa kamu tulus mencintai Alfian? Bukan karena apa yang dia miliki sekarang?"
Sarah melongo di buatnya. Ia tidak tahu harus memberikan jawaban apa. Pasalnya ia sama sekali tidak memiliki perasaan terhadap Alfian. Ia pun tidak tahu alasan jelas di balik motif yang Alfian lakukan sekarang ini. Tapi kenapa seolah-olah Sarah yang terlihat mengejar-ngejar Alfian?
Alfian berdehem. "Sepertinya waktu sudah lewat. Sarah tidak boleh pulang terlalu larut malam."
Sarah menghembuskan napas lega. Ia tidak perlu repot-rwpot menjawab pertanyaan dari laki-laki yang sedang menatap ke arahnya dengan tatapan yang sulit di artikan.
Sarah pamit undur diri, dan berlalu menyusul langkah panjang Alfian yang sudah terlebih dahulu meninggalkan ruang makan. Satu jam lebih duduk dan bergaul bersama keluarga Alfian rasanya seperti setahun.
*****
"Maksud ini semua apa?" Sarah langsung melempar pertanyaan yang sejak tadi di pendamnya. Bahkan ketika mobil belum sepenuhnya meninggalkan rumah Alfian.
Alfian tersenyum miring menanggapi pertanyaan Sarah, membuat gadis itu menggeram kesal. Iya memang dirinya menawan saat tersenyum, tapi tidak perlu juga kan terus-terusan memamerkan senyumnya itu di hadapan Sarah? Ia pikir Sarah tertarik? Sarah menggerutu sendiri di dalam hati.
"Saya tidak mengerti kenapa Mas Alfian yang terhormat melakukan ini." Sarah menekan setiap penggal kata yang ia ucapkan, membuat siapa pun bisa menebak bahwa gadis itu benar-benar kesal saat ini.
Alfian menghentikan mobil ketika rambu lalu lintas menunjukkan warna merah. "Mungkin saya harus meminta maaf terlebih dahulu. Saya tahu ini mendadak."
Sarah mendengus. Apa katanya tadi? Mungkin harus meminta maaf? Kenapa juga harus di sertai kata mungkin. Bukankah memang seharunya ia meminta maaf. Kalau perlu ia harus mengucapkan kata maaf dengan setulusnya. Laki-laki itu benar-benar memiliki ego yang tinggi. Nilai minus lagi dari seorang Alfian.
"Saya hanya meminta bantuanmu." Ucapnya datar. Khas Alfian yang memang hanya memiliki sedikit ekspresi. "Saya di paksa menikah dengan gadis pilihan Papaku." Ia membelokkan mobil, pandangannya lurus ke depan. Bahkan ia nampak tenang sekali.
Sarah membiarkan Alfian bercerita. Ia memilih diam dan tidak menyela dulu.
"Dia anak politikus. Ayahnya seorang menteri, memiliki beberapa perusahaan pusat dan cabang yang semuanya aktif. Dia cantik, wajahnya tidak kalah dengan artis-artis pemain sinetron. Dan dia juga berpendidikan. Seorang anggita dewan parlemen."
Sesaat Sarah jadi merasa kerdil. Ia membandingkan dirinya dengan gadis yang Alfian sebutkan tadi. Gadis itu seperti benda mahal yang di elu-elukan banyak orang, sedang dirinya hanyalah seperti remahan biskuit yang tak ternilai harganya.
"Papaku ingin menikahkanku dengan gadis itu karena urusan bisnis. Penggabungan dua perusahaan." Alfian tersenyum getir.
"Jadi? Anda menolaknya?" Sarah angkat bicara setelah di rasanya Alfian tidak lagi melanjutkan ceritanya.
Alfian mengangguk mantap.
"Kenapa? Bukankah ada untungnya juga buat anda. Maksudku selain perusahaan Papa Mas Alfian yang di kembangkan Mas juga kan mendapatkan istri yang cantik, kaum elit, terpelajar bahkan menjadi wakil rakyat. Bukankah calon istri yang seperti itu lebih membanggakan?"
Alfian tertawa. Tawanya seperti kerupuk yang baru di goreng, renyah. "Justru saya tidak tertarik dengan wanita seperti itu. Wanita yang selalu menerima kemudahan dalam hidupnya, hingga ia lupa bagaimana itu rasanya kesulitan. Wanita yang selalu mendapatkan apa yang dia inginkan bahkan tanpa pernah merasakan perjuangan."
Sarah mengerutkan kening. Apa maksud Alfian mengucapkan hal itu? Seolah-olah laki-laki itu membandingkan gadis yang ia sebutkan tadi dengan Sarah. Sarah memang tidak memiliki segalanya seperti yang di miliki saat itu. Ia bahkan hampir selalu menemui kesulitan dalam hidupnya. Berjuang mati-matian untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Singkatnya, Sarah adalah kebalikan dari ucapan Alfian barusan.
"Bukankah lebih bagus juga jika dua keluarga terhormat saling bertemu, menurut saya cocok sekali." Sarah mengalihkan topik pembicaraan.
Alfian lagi-lagi tertawa. Sarah curiga laki-laki itu kelebihan sindrom tawa.
"Tidak ada bagusnya. Buat mereka, pernikahan hanyalah sebatas pencitraan. Kamu tidak tahu saja, pernikahan atas dasar keserakahan itu tidak pernah menemui kebaikan di dalamnya. Tidak ada keberkahan di dalamnya."
Sarah tertegun. Laki-laki di sampingnya tersebut adalah Alfian. Alfian yang lebih memilih menunggu Sarah di depan Masjid ketimbang ikut melaksanakan sholat, dan sekarang ia mengatakan perihal keberkahan? Wow, rasanya Sarah tak percaya.
"Lalu kenapa anda menyeret saya dalamu kasus anda tersebut?" Sarah langsung masuk pada titik poin yang ingin ia tanyakan sejak tadi.
"Karena saya tertarik denganmu." Ucap Alfian enteng.
Sarah tersenyum miring, "Dusta. Anda hanya memanfaatkan saya." Simpulnya.
Alfian menepikan mobilnya di bahu jalan. Ia menatap Sarah intens, tepat di manik mata gadis itu. Membuatnya tidak berkutik, bahkan oksigen di sekitar rasanya mulai berkurang.
"Silahkan lihat di kedua mata saya. Apakah ada sorot kedustaan? Ku pikir kamu seorang psikolog, jadi seharusnya kamu tahu itu." Ucap Alfian sambil matanya menatap lekat Sarah yang saat ini sedang berkedip-kedip lucu.
"Tapi... Tapi, kenapa tiba-tiba?" Tanya Sarah di tengah-tengah kegugupannya.
"Mungkin buatmu terasa tiba-tiba, tapi buatku inilah waktu yang saya tunggu-tunggu. Sejak pertama kali kamu mendaftar jadi karyawan, kamu menarik perhatianku."
Ingatkan Nisa cara berkedip. Gadis itu membeku di tempat. Kata-kata Alfian berhasil menghipnotisnya. Sarah tidak mengerti, bagian mana dari dirinya yang menarik perhatian Alfian.
"Ini terlalu tiba-tiba." Gumam Sarah. Wajah gadis itu saat ini memerah, seperti baru saja di siram saus tomat seember.
Alfian yang melihat hal itu tertawa. "Kenapa? Apa kau tidak menyukaiku?"
Sarah menggeleng pelan. Membuat Alfian kembali tertawa. "Kenapa? Apa alasanmu tidak menyukai pria sekeren saya? Ada puluhan gadis di luar sana yang mengantre untuk memiliku. Kenapa kamu tidak menjadi salah satunya?" Tanyanya pongah.
Sarah melirik sekilas, "Mas Alfian tidak masuk dalam kategori laki-laki impianku."
Alfian menghentikan mobil tepat di halaman rumah Sarah.
"Memangnya bagaimana tipe laki-laki impianmu?" Tanya Alfian.
"Hanya satu, punya iman."
Alfian terdiam. Ia merasa bahwa dirinya sudah memiliki segalanya selama ini. Wajah yang tampan, pendidikan yang layak, pekerjaan yang bagus, harta melimpah. Jika di pikir secara rasional, maka tidak akan ada yang menolak laki-laki seperti dirinya. Tapi Sarah berbeda, di saat banyak wanita yang mengejar laki-laki seperti Alfian, ia justru menolak laki-laki tersebut.
"Apa iman bisa menjamin kebahagiaanmu?"
Sarah menatap Alfian beberapa saat, hingga kemudian ia menjawab pertanyaan laki-laki tersebut. "Jika seorang laki-laki beriman, ketika senang ia akan membahagiakan, ketika marah pun ia masih memuliakan. Seorang imam haruslah paham agama, agar jamaah yang di pimpinnya tidak tersesat,
Alfian benar-benar bungkam sepenuhnya. Ia tak memiliki alasan lagi untuk membantah ucapan Sarah.
"Kalau Mas Alfian hanya menganggap pernikahan adalah ajang permainan, maka tolong jangan libatkan saya." Ucap Sarah tegas. Gadis itu membuka pintu mobil lalu bergegas masuk ke dalam rumah. Meninggakkan Alfian yang masih tenggelam dalam ribuan tanya di kepalanya.
*****
Samuel menyelipkan anak rambut Alila di balik jilbabnya yang terpasang asal-asalan. Gadis itu masih tak sadarkan diri. Sudah lewat dari setengah jam Alila pingsan. Dan sampai saat ini, tidak ada tanda-tanda bahwa gadis itu akan sadar.
Samuel mengamati wajah tidur Alila. Wajah itu terlihat tirus, dengan kantong mata yang kentara dan bibir pucat. Sesaat Samuel merasa iba. Sudah berapa banyak derita dan luka yang di tanggung oleh Alila selama ini? Dan seberapa jauh ia mencoba bertahan? Samuel merasa dirinya sudah menorehkan luka begitu banyak pada gadis itu. Namun mirisnya, Alila tidak pernah sekali pun membencinya. Ia bahkan masih menyimpan cinta yang utuh untuk Samuel. Cinta yang sama sekali tak terkikis sedikit pun meski Samuel menyakitinya. Samuel merasa saat ini ia adalah laki-laki paling brengsek yang pernah ada.
Alila adalah masa lalunya. Meski tak bisa di pungkiri, masih ada sebagian dari diri Samuel yang kadang meminta untuk kembali. Tapi Nisa adalah tameng. Tameng yang melindunginya dari perasaan itu. Nisa membuatnya selalu bisa menepis perasaan Samuel terhadap Alila.
Samuel harus mengukuhkan perasaannya untuk Nisa. Tidak ada nama lain yang boleh mengisi hatinya selain nama gadis itu. Kalau pun ada yang harus di ikhkaskan antara Alila atau Nisa, maka Samuel akan lebih memilih mengikhlaskan Alila. Tapi melihat bagaimana rapuhnya gadis itu saat ini, niat itu perlahan-lahan goyah.
"Sam?"
Alila menggumamkan kata tersebut saat pertama kali membuka mata di lihatnya Samuel yang sedang duduk di sampingnya sambil menundukkan kepala.
Laki-laki itu mengangkat kepala.
Alila tersenyum. Senyum yang begitu tulus namun juga rapuh. "Kenapa kamu bisa ada di sini?" Tanyanya kemudian.
"Aku tidak sengaja lewat, saat lihat kamu pingsan. Dan aku membawamu ke sini." Ucap Samuel.
Senyum masih menghiasi kedua sudut bibir Alila. "Kamu peduli?"
Samuel menghela napas lalu membuangnya dengan kasar, "Lebih baik kamu istirahat. Aku harus balik ke Kampus." Samuel berdiri dari tempat duduknya, hendak melangkah keluar, namun pergerakannya terhenti saat Alila menarik lengannya.
"Jangan pergi. Ku mohon. Kali ini saja." Gadis itu menatap Samuel nanar.
Samuel melepaskan genggaman Alila dari lengannya, lalu kembali duduk. "Lil, kita sudah…"
"Aku tau. Tapi tidak bisakah kamu menemaniku untuk hari ini saja. Aku merindukanmu." Alila menundukkan kepalanya, menghindari tatapan mata Samuel yang saat ini terarah padanya.
"Aku tau hubunganmu dengan Nisa. Aku tidak bermaksud menjadi perusak. Tapi bukankah ini tidak adil, Sam? Aku menjaga utuh perasaanku, bahkan setelah beberapa tahun berlalu. Tidak sekalipun ada nama lain yang ku sebut dalam doaku selain namamu. Tapi kenapa kamu justru membuka hati untuk perempuan lain? Aku tau, aku tak sesuci Nisa, tapi apakah salah jika aku mengharapkanmu?" Nisa mengakhiri kalimatnya dengan setetes air mata yang jatuh bebas membasahi pipinya.
Samuel membuang pandangan ke arah lain. "Semua sudah berakhir saat kamu menyuruhku pergi waktu itu."
"Kamu tau? Bagaimana hancurnya aku saat itu. Aku kehilangan arah, kehilangan kendali, kehilangan pegangan hidup, lalu menurutmu di saat seperti itu aku bisa berpikir jernih? Semua manusia pernah melakukan kesalahan, dan ya, aku menjadi orang yang telah mekakukan kesalahan yang bahkan sangat fatal di hari itu."
"Kamu masih bisa mencari orang lain, yang lebih bisa mencintaimu daripada aku."
"Siapa? Alila tersenyum getir. "Tidak ada yang mencintaiku dengan baik selain kamu. Bahkan meskipun saat ini kamu sudah membuka hati untuk orang lain, cintamu padaku masih bersemayam di dalam sana. Dan kamu, hanya tidak ingin mengakuinya."
Samuel terdiam. Ia tidak memiliki pembelaan apapun untuk menyangkal ucapan Alila. Bagaimana mungkin ia bisa menyangkal, jika yang di ucapkan gadis itu adalah kebenaran? "Apa yang kamu mau saat ini?"
"Tinggalkan Nisa, dan kembali denganku. Kita perbaiki segalanya. Kita mulai semuanya dari awal lagi. Aku janji, tidak akan pernah meninggalkanmu lagi."
Samuel terdiam. Hatinya berada dalam jurang kebimbangan. Seakan pula berada di antara dua persimpangan, pilihannya menentukan akan kemana ia melanjutkan perjalanan.
Di sisi lain, seorang gadis sejak tadi mencuri dengar percakapan dua insan yang berada di dalam UKS. Ribuan jarum seperti menusuk-nusuk ulu hatinya. Air mata yang menganak mengaliri kedua pipinya seolah sedang menggambarkan bagaimana luka itu begitu dalam menghujam perasaan. Rasa percaya yang baru saja ia bangun, seolah runtuh tak tersisa. Komitmen yang di tawarkan seolah tak berarti apa-apa. Dan setelah ini, yang harus ia lakukan adalah memadam paksakan perasaan yang sedang menyala-nyala.
__ADS_1