
Kenapa aku harus emosi tadi malam, padah gadis itu benar aku yang menabraknya dan tak hatihati, lalu kenapa aku menyalahkannya, seharusnya aku minta maaf.
Ya Allah ada apa dengan diriku tidak biasanya aku seperti tadi malam, marah - marah gak jelas.
Oh ya gadis itu sangat cantik sayang sikapnya menyebalkan. Astagfirullah Al-Adzim aku malah memikirkan wajahnya, ingat Dit dosa.
Satu tahun kemudian.
"Adit". Mamah memanggilku.
"Iya mah ada apa?".
"Tolong Anterin mamah beli kue untuk pengajian ya dit".
"Ya sudah ayo mah".
Toko Kue NENG ZAHRA, melihat tulisan di toko itu kembuat hatiku bergelesir, entah mengapa ZAHRA yang tertulis di papan itu membuatku serasa mengingat seseorang.
Padahal aku belum pernah bertemu ataupun berkenalan dengan orang bernama Zahra.
Ah sudahlah mungkin ini hanya perasaanku saja.
"Ditya, ayo turun, bantu mamah memilih kue apa saja yang harus di beli". Mamah menyadarkanku dari lamunan.
"Eh iya mah, duluan saja ntar adit nyusul". Jawabku
"Permisi Ba, apakah ada roti gulung dan pancake". Tanya mamah pada penjaga toko.
"Oh iyah ada Bu tunggu sebentar yah, saya tanya dulu pada bos saya". Jawab penjaga toko tersebut.
Dia menelepon seseorang, mungkin dia menelepon orang yang disebut Bosnya itu.
"Hallo, assalamualailum Teh Ran, udah nyampe mana?, ada pembeli nih tapi kue di toko kan masih kosong, eh iya Teh ada roti gulung dan cupcake gak?". Tanya penjaga toko pada bosnya.
"Tunggu sebentar ya bu kuenya sebentar lagi nyampe ko". Ucapnya pada mamahku.
Tiba-tiba aku melihat seorang gadis masuk ke dalam toko dengan menggunakan niqab, entahlah menggapa hatiku jadi bergelisir lagi seperti ini.
"Ba Ica tolong bantu saya bawa kue ke dalam yah". Ucapnya pada pelayan toko tersebut.
"Iya teh Ran, oh iya teh ini tadi ibunya mau roti gulung sama cupcake teh".
"Ya sudah biar saya yang layani, Ba Ica tolong ambil kue aja yah di depan". Ucapnya
"Siap teh Bos". Ucap pelayan itu sambil tersenyum.
"Oh iya Bu cuma roti gulung dan cupcake saja atau mau yang lain juga?". tanya gadis itu kepada mamah.
__ADS_1
"Itu saja ba, ditya kamu mau beli kue gak?".
"Oh iya mah aku mau brownies coklat yah".
Saat aku bicara entah mengapa dia langsung melirik ke arahku.
Dan aku kembali merasa hatiku bergelesir dan jantungku kini berdetak lebih kencang.
Ya Allah ada apa denganku.
Rania pov.
Loh pria itu kan yang waktu itu berdebat denganku di pernikahan Ulva. Apakah dia mengenaliku, ah tidak mingkin akukan memakai niqab.
Eh kenapa hatiku bergelesir dan jantungku berdetak kencang.
Kenap setiap bertemu dia aku selalu seperti ini.
Aditya pov.
Aku tak tahu gadis itu, aku seperinya pernah merasakan perasaan seperti ini, dan itu 1 thn yang lalu, saat aku bertemu dengan teman Ulva, namanya sama tapi mana munkin orangnya juga sama teman Ulva sangat menyebalkan, dan dia, dia sangat sopan dan kalem.
Ya Allah aku tak tau apakah rasa ini salah, apa yang haarus aku lakukan ya Allah, aku bingung di saat wanita berjilbab itu mengisi hatiku aku tidak pernah bertemu dengannya lagi dan kini datang lagi wanita berniqab yang sama sepertinya akan mengisi hatiku.
"Ditya, bagaimana perempuan tadi?" mamah tiba-tiba bertanya padaku entah siapa yang di tanyakan perempuan, perempuan yang mana mba penjaga toko atau bosnya yang telah membuat hatiku bergelesir.
"Itu loh perempuan yang pake niqab, kamu suka tidak?". Apa-apaan mamah ini ko malah bertanya seperti ini, bagaimana aku harus menjawabnya.
"Emangnya kenapa mah, aku kan baru melihat dia sekarang masa aku langsung suka sih".
"Dia itu sebenarnya anak temen papah kamu dit di kampung, mamah sengaja ajak kamu ke tokonya hanya untuk membuat kamu dan dia saling beretemu". Ucap mamah dengan santainya.
"Mah, mamah apa-apaan sih". Aku sedikit kesal.
"Loh dit mamah cuma mau tau apakah kamu suka sama dia atau tidak, mamah sama papah sebenarnya sudah menjodohkan kamu dengan dia dit 6 bulan yang lalu". Jelas mamah, dan itu membuatku kaget.
"Mamah apa-apaan sih melakukan sesuatu tanpa kompromi dulu sama adit".
"Dit tolong lah, mamah kasihan sama perempuan itu adiknya sudah menikah dan dia sampai sekarang belum menikah juga dit, mamah kasihan sama orang tuanya dit"
"Ya Allah mah". Ucap ku geram, mengapa mamah mementingkan perasaan orang lain di bandingkan aku anaknya.
"Dit kamu kan udah dewasa, gak baik lama sendiri, lagi pula kamu gak mau pacarankan ya sudah langsung khitbah dan nikahi saja dia". Ucap mamah padaku. Aku memang sudah siap menikah tapi ya aku belum bertemu saja dengan jodohku.
Mungkin ini jalan Allah mempertemukan aku dengan jodohku, bisa sajakan dia memang gadis yang telah Allah jodohkan denganku. Akhirnya aku mengiakan permintaan mamah.
"Baiklah mah Adit akan menerima perjodohan ini". Sebenarnya ada rasa senang juga dalam hatiku tapi entahlah aku masih memikirkan teman Ulva itu.
__ADS_1
"Alhamdulillah, kalau begitu mamah akn menyuruh papah pulang besok dan lusa kita akan kerumahnya untuk mengkhitbahnya". Ucap mamah bersyukur dan penuh semangat.
Aku melihat rajut kebahagiaan di muka mamah saat ini, senyumnya terus terukir di bi ir indahnya.
Bukankah menyenangkan hati orang tua juga mendapatkan pahala, makanya aku akan mencoba menerima perjodohan ini, dan melupakan teman Ulva yang bernama Ran itu.
Hari ini aku bersiap untuk kerumahnya bersama mamah papah.
"Ayo Ditya, kamu jangan gugup gitu dong". Ucap papah kepadaku.
"Iyah Dit ga usah tegang gitu dong". Sela Mamah.
Entahlah kenapa tiba-tiba aku jadi tegang dan gugup ya.
Begitu sampai kami di sambut oleh teman papah itu. Namanya Om Davit dan tante Rini.
"Silakan masuk mas bak, nak Adit" ucap tante Rini kepada mamah papah dan aku.
"Dimana Dav anakmu" ucap papah bertanya pada om Davit.
"Sebentar mas aku panggilin dulu" ucap tante Rini.
__Rania pov___.
Aku tak tau ada acara apa di rumah tiba-tiba ada tamu dan aku di suruh bersiap siap oleh mamah.
Tiba-tiba aku mendengat Ibu mengetuk pintu dan memanggil namaku.
"Iya Bu masuk saja tidak di kunci ko" sahutku.
"Za kamu udah siap sayang?" tanya ibu kepadaku, aku celingak-celinguk bingung.
"Memangnya ada apa sih Bu?". Tanyaku.
"Keluarga Om Ardi sama Tante Resa sudah datang" jawab ibu.
"Siapa mereka bu?" tanyaku lagi.
"Calon mertuamu ran, mereka akan mengkhitbahmu ". Ucap ibu membuatku kaget.
Ibu tiba-tiba memberi tahuku akan di khitbat. Aku kecewa kenapa Ibu gak membicarakan dulu ini kepaku.
"Apa maksud ibu?". Tanyaku dengan nada kesal.
"Ibu dan bapak sepakat menjodohkan kamu Ran, dan sekarang mereka sudah datang untuk mengkhitbahmu".
"Ibu kenapa gak memberi tahuku dari kemarin - kemarin bu". Ucap ku dengan nada gusar.
__ADS_1
"Ibu mohon Za terima perjodohan ini, kau tahu bapamu sedang sakit dan ibu gak mau melihat bapamu tambah parah karena penolakanmu Za" ucap ibu dengan berlinang airmata, aku sungguh tidak tega melihatnya akhirnya aku hanya mengangguk.