Cinta Yang Halal

Cinta Yang Halal
20


__ADS_3

“Kak Nis, ada yang nungguin di ruang Mulaqot.”


Nisa masih setengah jalan mengajar tajwid saat seorang santriwati mendatanginya untuk mengataka n bahwa ada seseorang yang menunggu dirinya di ruang Mulaqot.


Siapa yang bertamu di jam belajar seperti ini?


Biasanya yang datang berkunjung adalah orang tua atau kerabat santri yang hendak mengunjungi anaknya. Tapi kebanyakan mereka akan berkunjung di hari libur saja. Hal itu dikarenakan Pesantren tidak menerima kunjungan selain di hari libur, kecuali jika memang ada hal mendesak.


Dan tumben-tumbenan ada yang mencari dirinya. Biasanya saat orang tua santri yang datang akan mencari Abinya, Ustadzah Hidayah untuk perwalian santri putri, dan Ustadz Gafur sebagai perwalian santri putra.


Nisa melangkah memasuki ruang Mulaqot, saat tiba di depan pintu, gadis itu berhenti sejenak ketika dilihatnya seseorang yang duduk manis sedang tersenyum kearahnya.


Nisa mendekat. Lagi-lagi jantungnya tidak bisa diajak kompromi. Gadis itu berdzikir di dalam hati bahkan sampai membaca ayat kursi. “Ada perlu apa?” Tanyanya langsung.


Samuel mesam mesem tidak jelas, “Anu, mau nagih jawaban.


” Laki-laki yang biasanya terlihat berwibawa karena pembawaannya yang tegas dan keras kepala itu, kini berdiri malu-malu karena rasa grogi yang menguasai dirinya.


Samuel tidak tahu pasti apa alasannya bertandang ke Pesantren hari ini. Sepertinya alibi ingin menagih janji tidak cukup kuat untuk meyakinkan lubuk hatinya bahwa hal itu yang benar-benar ia inginkan. Setelah berpikir puluhan kali, dan sibuk berperang dengan pikirannya sendiri, ia memutuskan untuk mengunjungi Nisa. Dan disinilah dirinya sekarang, di ruang Mulaqot bersama dengan seorang gadis yang sejak beberapa hari belakangan menguasai pikirannya.


“Aku tidak yakin alasanmu kesini hanya untuk itu.” Menyadari bahwa ucapannya terdengar ambigu, Nisa kembali menambahkan, “Maksudku, aku pikir permintaanmu yang kemarin itu hanya sekedar basa-basi saja.”


Samuel terdiam sejenak sebelum merespon Nisa. “Seharusnya sekarang kamu percaya bahwa permintaanku kemarin bukan sekedar basa-basi, karena buktinya aku sampai jauh-jauh datang kesini.” Samuel memutar kata-kata Nisa untuk kemudian dikembalikan kepada gadis itu.


Nisa tak menunjukkan reaksi apapun, nampak tenang seperti biasa. Padahal sejak tadi dzikir tak pernah putus ia gumamkan dalam batinnya. “Baik. Saya sudah memutuskan.”


Kalimat Nisa barusan bagai sebuah kejutan yang diberikan secara mendadak. Samuel yang tadinya menunduk langsung mengangkat kepala penasaran. “Jadi?”

__ADS_1


“Aku akan mengajarimu.”


Sejenak Samuel merasa bahwa kedatangannya di Pesantren ini hanyalah mimpi di siang bolong. Mungkin saja tadi ia tertidur, dan sebelum tidur ia memang sedang mengingat-ingat Nisa, jadinya terbawa mimpi. Laki-laki itu mencubit keras lengannya hingga mengaduh sendiri. Membuat Nisa kaget.


“Kenapa?”


Samuel hanya menggeleng, bagaikan orang bodoh. Dirinya terlihat cengo. Luntur sudah jiwa idealisme dan karismatiknya di hadapan Nisa. Entah kenapa sejak pertama kali bertemu dengannya, Samuel selalu nampak sperti orang bodoh . Akalnya selalu saja tiba-tiba mandek ketika sudah berhadapan dengan gadis itu. Singkatnya, Nisa mencuri akal sehatnya.


Namun ajaibnya, ia justru terlihat lebih apa adanya, tanpa perlu memasang pencitraan apapun agar dirinya terlihat sempurna.


“Boleh saya minta nomor teleponmu?”


Nisa menyebutkan beberapa digit nomor yang langsung Samuel salin ke ponselnya.


“Terima kasih.” Ucapnya tulus.


Nisa mengangguk, “Itu nomor telepon Abiku, kalau ada perlu kamu bisa hubungi beliau. Nanti beliau sampaikan ke saya.”


Nisa ini benar-benar mempermainkannya, pikir Samuel. Yang benar saja ia memberikan nomor Abinya kepada Samuel dan dengan entengnya menyuruh dirinya untuk menghubungi nomor tersebut bila ada perlu. Yang ada ia akan dibacakan ayat-ayat ruqyah dan khotbah panjang yang mengalahkan panjangnya khotbah sholat dua hari raya. Gadis itu memang benar-benar unik.


\*


Samuel sedang membantu Ibunya menggoreng Ikan saat Harris tiba-tiba masuk ke dapur. “Gimana masalah asmara lo? Udah dapat pengganti Alila?”


Mendengar nama itu disebut Samuel menegang. Bukan karena ia masih mencintainya, melainkan rasa benci yang membuncah di dalam dadanya.


“Selain bayangan dan kenangan, masa lalu serupa abu-abu yang harus di tinggalkan.” Samuel menggumamkan kata tersebut sambil tangannya masih jeli membalik ikan di wajan.

__ADS_1


Harris terkekeh, “Sejak kapan lo jadi makhluk puitis? Mau jadi the next Fiersa Besari lo, ya?”


Samuel mengabaikan Harris, ia tahu persis bahwa kakaknya tersbut hanya ingin meledek dirinya. Mentang-mentang sudah taken, batinnya.


Mama masuk ke Dapur membawa seikat petai yang masih segar. “Hari ini kita pesta.” Ucapnya girang.


Karena ketiga anaknya laki-laki, wajar jika di dapur hanya dirinya seorang perempuan. Dengan cekatan tangannya memisahkan kulit petai dari bijinya lalu mencuci bersih. Samuel dan Harris hanya tertawa melihat tingkah Mamanya yang masih saja terlihat ekspresif di usianya yang bisa dibilang tidak lagi muda.


Dengan lihai Mama mulai mencampur bumbu-bumbu semur yang begitu menggugah selera, hingga aromanya merebak kemana-mana. “Sam, Mama denger Alila balik lagi, ya?” Sambil mengaduk-aduk petai, Mama bertanya hati-hati kepada Samuel.


Samuel terdiam. Sudah ia duga, Alila akan melakukan hal ini. Dia pasti sudah menghubungi Mama.


“Dia hubungi Mama?”


Mamanya menggeleng, “Dua hari yang lalu dia kesini.”


Samuel mencengekeram sodet di tangannya dengan kuat. Bahkan Mama sampai khawatir kalau kalau sodet itu patah. “Dia ngomong apa aja?” Raut wajah Samuel berubah.


“Dia suruh Mama bujuk kamu buat kembali sama dia.”


Habis sudah kesabaran Samuel. Laki-laki itu meletakkan sodet dengan kasar lalu melenggang meninggalkan dapur.


Samuel gemas melihat panggilannya tak kunjung di jawab oleh seseorang di seberang sana. Sampai pada bunyi panggilan terakhir, suara seorang wanita terdengar.


“Halo.”


“Gue udah pernah bilang, jangan lagi datang di kehidupan gue! Jangan pernah ganggu orang-orang disekitar gue dengan wajah medusa lo itu! Kita sudah berakhir, bahkan saat gue belum tahu kebusukan lo. Lo mengkhianati gue dengan gampangnya, lalu berharap kembali dengan cara yang sama? Hah.

__ADS_1


” Samuel tersenyum getir. “Kenapa lo ngotot mau balik lagi ke gue? Apa sudah habis laki-laki yang mengantri di ranjang lo? Dan sekarang lo mau jadiin gue sebagai salah satu pria yang mau ngangkangin lo? Jangan mimpi!” Samuel memutus sambungan telepon secara sepihak.


Sarkas. Apakah ucapan Samuel tadi terlalu kasar? Bahkan baginya kalimat itu tidak ada apa-apanya dibanding dengan pengkhianatan yang ia terima. Hatinya telah dipenuhi lautan emosi yang sulit disurutkan. Ada kilatan amarah dan luka yang tersirat sekaligus di mata laki-laki tersebut. Baginya Alila hanyalah masa lalu atau setara mimpi buruk yang harus ia singkirkan jika tak ingin mentalnya terganggu.


__ADS_2