Cinta Yang Halal

Cinta Yang Halal
23


__ADS_3

Suara mesin ketik terdengar jauh lebih nyaring di selasar ruangan berukuran 3x3 tersebut. Seluruh penghuninya sedang sibuk menatap layar monitor di hadapannya masing-masing.


“Gue udah beres.”


Fathur menguap sambil merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku karena duduk beram-jam di depan layar monitor. Kehebohan Fathur yang memecah kesunyian, membuat pandangan mata dua orang disampning laki-laki tersebut tertuju padanya.


Samuel menyerahkan setumpuk kertas kearah Fathur.


“Jangan seneng dulu, masih banyak.”


Fathur mendesah frustasi, ia memandangi tumpukan kertas tersebut dengan pandangan anak kucing terbuang yang meminta pertolongan. Hal itu membuat Samuel tertawa puas dan Vika yang hanya berekspresi menaikkan satu alisnya.


Bukannya mengambil tumpukan yang diserahkan kepadanya untuk segera diselesaikan, Fathur justru mengambil posisi enak dengan berbaring di samping Samuel.


“Eh Sam, lo masih ingat anaknya Pak Kyai?”


Samuel menghentikan aktivitasnya, lalu menoleh kearah Fathur, “Masih. Kenapa?”


“Kata Pak Lek gue, dia itu perempuan idaman.”


Samuel mengerutkan kening dalam, “Maksud lo?”


Fathur bangkit dari posisi baringnya. “Dia hafidz Qur’an. Dan ternyata, dia salah satu Ustadzah yang ngajar di Pesantren. Dia ngambil jurusan bergengsi di sini. Psikologi, keren kan?”


“Terus?”


Fathur menoyor kepala Samuel, “Lo dari tadi nanya doang.”


“Ya karena gue nggak paham.” Protes Samuel.


“Bagian mana yang lo nggak pahami?”


“Kenapa lo tiba-tiba bahas anaknya Pak Kyai?” Samuel terlihat sentimen.


Fathur berpikir sejenak. “Melalui cerita Pak Lek gue, gue sepertinya tertarik.”


Spontan saja Samuel langsung berdiri, “Lo jangan macem-macem, ya!”


Fathur heran melihat tingkah Samuel yang tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba emosi. “Lo kenapa?”


Samuel melirik kearah Vika. Sedang gadis itu malah membuang pandangan kearah lain lalu kembali fokus pada monitor yang kursornya berkedip-kedip.


“Lo boleh tertarik sama perempuan lain, sipapun. Tapi jangan sama anaknya Pak Kyai.”


Fathur mencoba menelisik makna yang tersirat di wajah Samuel. Lalu sedetik kemudian, smirk menyebalkannya muncul, “Lo suka sama anaknya Pak Kyai.” Fathur tersenyum miring.


Samuel menatap Fathur dengan tatapan membunuh. “Awas aja lo kalau sampai anak-anak yang lain tau!”


“Kita nggak bisa bersaing secara sehat?”


Samuel menatap Fathur dengan tatapan yang seolah mengatakan, kalau lo masih mau lihat matahari esok pagi maka jangan pernah lakukan hal itu.


Fathur tertawa kencang sampai memegangi perutnya, “Nggak nyangka gue kalau lo bisa suka sama cewek. Kirain lo nggak ada waktu buat hal kayak gitu, karena waktu lo habis buat kencan sama buku dan proposal beserta ***** bengeknya.”


Samuel mendengus. Sedang Fathur masih belum puas menertawainya.


“Vik, lo diem aja kayak patung di kasih nyawa.”


Vika mengangkat kepalanya. Gadis itu sebenarnya sejak tadi menyimak perbincangan dua laki-laki dihadapannya. Bahkan ia sejak tadi hanya mengetik asal di dalam laptop karena tidak bisa fokus.


“Ya, gue mau komentar apa? Perihal jatuh cinta kan wajar. Lo aja yang terlalu bereaksi berlebihan.”


Fathur manggut-manggut berpura-pura paham. “Lo cemburu kan?”


Vika melempar Fathur menggunakan botol minuman kosong, “Sembarangan lo.”


Fathur kembali terkekeh, “Jujur aja, Vik. Gue tau semuanya kok.”


Wajah Vika berubah menjadi pias. Ia takut jika Fathur berbicara sembarangan.


“Alasan lo selama ini selalu peduli sama Sam, selalu diam-diam perhatiin si curut ini saat tidur, itu karena lo suka sama dia, kan?” Fathur menaik-naikkan alisnya menggoda Vika. Samuel menatap Vika dengan pandangan penuh tanya.


“Lo punya masalah apa sih sama gue?” Emosi Vika mulai tersulut.


“Gue ngelakuin itu murni sebagai temannya Sam.”


“Ya ampun, Vik. Orang minus aja bisa lihat, kalau sikap lo selama ini tuh menunjukkan lo suka sama Sam.”


Vika membanting mouse yang di pegangnya, sampai Samuel dan Fathur berjengit kaget. “Jangan sok tahu! Gue nggak pernah suka sama Sam, apalagi cemburu!” Vika meninggalkan Basecamp dengan emosi yang meledak-ledak.


“Vik! Vika!” Samuel berusaha menghentikan gadis itu.


Samuel geram dengan Fathur “Ah lo sih, sembarangan kalo ngomong.” Sedang Fathur menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia hanya bercanda mengucapkan kalimat yang ditujukan kepada Vika. Namun ternyata Vika menanggapinya serius.


\*


Nisa duduk di bangku Taman, memperhatikan para Santriwati yang berhamburan keluar Kelas. Setiap pagi sampai sore pintu gerbang Pesantren putri memang selalu terbuka selama anak-anak setempat belajar.


Pesantren tidak pernah mengenakan biaya apapun. Malah menanggung beberapa keperluan belajar seperti buku, pensil, pulpen, dan beberapa alat tulis lain. Anak-anak di Pesantren juga tak perlu mengenakan seragam, asal menggunakan pakaian yang sesuai syariat dan mengenakan hijab bagi santriwati.


Semilir angin berhembus memainkan kerudung –kerudung kecil yang berlarian di Taman. Tawa para bocah terdengar meneduhkan hati. Kerinduan terhadap masa kecil menyeruak mengulas kembali potongan memori yang masih tersimpan.


Dulu, Nisa hampir tidak pernah memiliki waktu di Rumah. Ia selalu menghabiskan waktunya di Pesantren, untuk mempelajari dan mendalami ilmu agama. Selain itu, ia juga harus menghafal. Hingga Nisa resmi dinyatakan sebagai santriwati. Berbaur dengan teman-teman sesama santri yang lain.


Di tempat tersebut juga lah dirinya dibesarkan. Tumbuh di tengah-tengah lingkungan yang religius membuat dirinya terbiasa dengan aturan-aturan agama. Ummi dan Abinya selalu berharap, lingkungan tempatnya tumbuh mampu menjadi pendukung impian mereka untukmenjadikan putri semata wayangnya hafidz Qur’an.


“Assalamu’alaikum.”


Sebuah suara berat menghentikan lamunan Nisa. Ia berbalik, dan dijumpainya wajah yang tidak asing sedang menatapnya.


“Apa kabar?”


“Alhamdulillah baik.”


Laki-laki itu tersenyum penuh makna. “Lama tidak ketemu, kamu banyak berubah.”


Nisa tersenyum simpul, “Ada perlu apa?”


Laki-laki itu mendudukkan diri di bangku panjang yang agak berjauhan dari Nisa.


“Saya ada perlu sama Pak Kyai. Beliau ada?”


“Ada. Mari ke Rumah.”

__ADS_1


Nisa berjalan terlebih dahulu menuju Rumahnya. Sedang laki-laki tadi mengikuti langkahnya di belakang.


“Tunggu disini, saya panggilkan Abi.”


Laki-laki itu mengangguk. Sembari menunggu Pak Kyai, ia melihat-lihat medali yang disusun rapi di dalam lemari kaca. Medali itu milik Nisa. Hasil dari beberapa perlombaan dan kegiatan-kegiatan yang di ikutinya sejak kecil hingga sekarang. Sejak dulu, Nisa memang selalu menarik perhatian laki-laki tersebut.


“MasyaAllah, Kahfi. Apa kabar?”


Laki-laki yang dipanggil Kahfi itu berdiri begitu melihat Pak Kyai. Ia membungkuk dengan sopan, lalu mencium tangan laki-laki tua tersebut dengan penuh rasa takzim.


“Alhamdulillah baik, Pak Kyai.”


Pak Kyai tersenyum sambil menepuk-nepuk bahu pemuda tersebut.


“Ayahmu sehat?”


“Nggih, sehat Pak Kyai.”


Nisa muncul membawa senampan cemilan lengkap dengan teh hangat untuk menyambut tamunya. Pandangan Kahfi tertuju pada Nisa yang sedang menyuguhkan hidangan. 10 tahun tidak bertemu, membuatnya pangling dengan gadis itu. Nisa banyak berubah, mulai dari pakainnya, yang dulu hanya mengenakan jilbab segi empat biasa, kali ini jilbabnya terjulur lebih lebar, dan ia nampak lebih anggun.Wajahnya yang dulu lugu dan hitam khas anak-anak, sekarang jauh lebih bersih dan bercahaya.


“Kalau boleh tau, Nisa kuliah dimana?” Kahfi buka suara setelah hening beberapa saat.


“Universitas Guna Dharma.” Jawab Nisa.


“Kuliahmu sudah selesai, ya? Sudah kerja?” Kali ini Pak Kyai yang buka suara.


Kahfi mengangguk, “Nggih. Baru selesai residen tahun lalu, alhamduliih sekarang lagi magang di Rumah Sakit Gatot Subroto.”


Pak Kyai mengangguk-angguk. “Kebetulan Nisa tahun ini magangnya di RSJ dekat situ juga.”


Mata laki-laki itu berbinar, “Oh ya? Kalau begitu bisa lah nanti saya bantu-bantu disana.” Ucapnya.


“Terima kasih sebelumnya, tapi nggak perlu repot-repot, Mas.” Nisa menolak halus niatan baik Kahfi.


Mahfum dengan sifat Nisa yang sejak dulu selalu merasa tidak nyaman meminta bantuan orang lain, laki-laki itu tidak ingin memaksakan lagi niatan baiknya kepada Nisa. Ia tak boleh membuat Nisa merasa tidak enak hati dengannya.


\*


Cuaca cerah di luar sana. Tapi mendung menggantung di dalam hati seorang gadis yang sedang menelungkupkan wajahnya di pojok Perpustakaan tempatnya menyembunyikan diri. Mendung itu adalah perpaduan antara mendung kesedihan dan kekonyolan. Ya, Vika yang terlihat menyedihkan dan mendung yang lebih konyol disekitarnya.


Jam di dinding seberang menunjukkan angka dua belas dengan jarum pendeknya dan angka sembilan dengan jarum panjang. Waktu ishoma bagi karyawan Univeristas akan dimulai. Sebentar lagi, petugas akan mengusir satu persatu pengunjung, termasuk Vika. Namun gadis itu masih enggan beranjak dari tempat tersebut.


Ia terlalu malas kembali ke Basecamp. Ia malu bertemu dengan Samuel, dan rasanya niatan ingin mencabik-cabik wajah Fathur masih juga belum hilang. Ia menyesali reaksi spontannya tadi.


Harusnya ia bisa profesional dan tetap terlihat tenang. Bukan justru tersulut emosi sesaat akibat ucapan Fathur. Seharusnya ia bisa lebih mengontrol emosinya. Seharusnya ia tidak lari dari Basecamp. Vika mengacak-acak rambutnya frustasi.


“Mau pinjam semua?” tanya petugas Perpustakaan yang tiba-tiba menghampiri meja Vika.


Membuat Vika mengangkat kepala dan baru menyadari ada beberapa tumpukan buku yang ia gunakan untuk menutupi kepalanya.


“Maksimal empat sekali pinjam, masa lupa? Sana keluar dulu, Dek. Seperti biasa, habis istirahat pinjamnya. Bukunya biar disini dulu.”


Petugas itu menunjuk tumpukan lima-lima buku yang memenuhi meja Vika.


Vika melayangkan sebuah anggukan refleks. Padahal dirinya tidak memiliki niat untuk meminjam buku. Serta merta, dirinya berdiri dan membalas sunggingan senyum petugas dengan senyum yang dipaksakan.


Vika keluar dari Perpustakaan. Suara keroncongan perutnya yang memberi alarm bahwa ia lapar, menarik dirinya untuk menuju Kantin saat itu juga.Ia memilih untuk menghabiskan jam makan siang di Kantin Fakultas Sastra yang lebih dekat.


Gadis itu memesan semangkok mie ayam dan jus alpukat kesukaannya. Sembari menunggu pesanannya datang, Vika mengamati etalase. Melihat satu persatu jajanan yang berderet disana. Ada risoles, tahu isi, perkedel, peyek udang, ikan bakar, yang semuanya terlihat nikmat saat sedang lapar.


Baru sendokan kedua yang masuk kedalam mulut Vika, saat cuping hidungnya menangkap aroma vanilla bercampur mint yang sangat ia kenali, karena aroma tersebut bukanlah aroma umum yang mudah ditemui di Guna Dharma. Hanya ada satu orang yang memakai parfum dengan aroma tersebut.


Vika mengendus udara. Aroma itu makin tajam merambati bulu hidung. Ia menangkap sumber aroma tersebut. Otot lehernya menegang dan bergerak memutar kearah pintu masuk Kantin. Suara dentuman terdengar konstan di telinga. Bukan suara drum yang membahana sambut kemunculan sumber aroma, melainkan dentum jantung Vika yang meningkat.


Lalu dengan gerakan lambat mirip di film-film memantul di penglihatan Vika. Sepasang kaki jenjang yang dibalut jeans belel yang warnanya terlihat memudar dan sepatu converse buluk muncul bergantian. Tap, tap, tap! Kaki kanan… kaki kiri… kaki kanan… kaki kiri… terhenti.


Vika mengangkat mata dari ujung sepatu Converse abu-abu. Menjelajah keatas, ke tumit, ke lutut, Vika menarik matanya sebelum bersitatap dengan pemilik sepatu tersebut. Sebab tanpa melihat wajahnya pun, Vika tahu siapa dia.


“Lo kabur disini rupanya.” Samuel menarik kursi kosong dihadapan Vika.


Vika menundukkan kepalanya dalam. Dimainkannya sendok di dalam mangkuk mie ayam dihadapannya. Melihat hal tersebut, Samuel terkekeh.


“Bu sekretaris yang gue kenal nggak pernah nunduk malu-malu kayak gini. Biasanya dia selalu tegas, menaikkan dagu dengan angkuh.”


“Lo percaya apa yang dibilang Fathur?” Suara itu hanya berupa cicitan kecil. Beruntung Samuel masih memiliki pendengaran yang bagus.


“Lo tenang aja, gue nggak percaya sama si Kunyuk.”


Vika mengangkat wajahnya perlahan. Didapatinya tatapan tulus Samuel.


“Seorang Vika yang bar-bar ini, nggak mungkin bisa jatuh cinta diam-diam.” Samuel terkekeh.


Vika menggeplak bahu laki-laki tersebut dengan kesal, hingga ia menghentikan tawanya. “Sorry sorry. Habisnya nggak masuk akal banget kalo lo jatuh cinta sama gue.”


Vika terdiam, entah kenapa kalimat Samuel barusan menyentil hatinya. Seakan-akan ia memang tidak pantas bersanding dengan laki-laki dihadapannya tersebut. Sebenarnya bukan jatuh cintanya Vika terhadap Samuel yang tidak masuk akal, insan Tuhan yang jatuh hati kepada lawan jenisnya adalah hal yang normal bukan? Tetapi khayalan Vika yang berharap Samuel memiliki perasaan yang sama dengannya yang tidak boleh dibenarkan. Gadis itu tersenyum, menutupi kerapuhannya dan berniat untuk menata kembali hatinya yang hancur berantakan.


\*


Jalanan Jakarta saat sore seperti lautan kendaraan yang tidak ada putusnya. Apalagi jika musim penghujan datang seperti ini. Kepulangan menjadi hal paling syahdu sekaligus bikin kesal. Warna orange bercampur gelap yang menggelayut manja diatas sana seolah memanggil-manggil orang yang suka mengabadikan foto-foto senja untuk kemudian diramaikan di sosial media. Tuhan suka menyeimbangkan sesuatu yang gelap dengan sentuhan-sentuhanterang yang menenangkan, membawa setiap orang kembali untuk tenang.


Samuel memacu kendaraan roda duanya lebih cepat. Adzan maghrib terdengar mulain bersahutan dari pengeras suara Masji-Masjid pinggir jalan. Tepat di depan sebuah Masjid yang lumayan besar, Samuel menepikan motornya.


Laki-laki berusaha mewujudkan i’tikad baiknya yang mengatakan ingin membenahi diri. Kemarin, Nisa sempat memberikan buku tuntunan sholat yang katanya bisa Samuel jadikan pedman ketika ada niat atau bacaan sholat yang terlupakan. Sejak saat itu, Samuel yang biasa membaca buku-buku non fiksi, selama satu minggu full beralih konsumsi bacaan ke buku tuntunan sholat. Hal tersebut memicu tanda tanya besar diantara teman-temannya. Bahkan Fathur si mulut nyinyir sampai mengira bahwa Samuel akan mati.


Setelah mengambil air wudhu, Samuel masuk kedalam Masjid mengerjakan sholat sunnah, lalu disusul sholat Maghrib. Awalnya ia merasa asing dan kesusahan untuk membagi waktu. Karena kadang saat kerjaannya sedang nanggung, adzan sudah berkumandang. Beruntung ada Fathur yang selalu mengajaknya sholat. Meskipun Fathur si mulut nyinyir dan pencibir abis, tapi laki-laki itu sangat perhatian dengan teman-temannya.


Saat hendak memakai sepatu, Samuel di kejutkan dengan sepatunya yang tidak ada di tempat. Ia mengelilingi seluruh pelataran Masjid, namun nihil, ia tak menemukannya. Samuel baru saja berniat mengikhlaskan sepatunya, saat tiba-tiba seorang laki-laki yang turun dari mobil berlari tergopoh-gopoh sambil menenteng sebuah sepatu.


Laki-laki itu terlihat celingukan. Saat Samuel memperhatikan sepatu yang di pegang laki-laki tersebut, ia mendekat. “Mas, maaf itu sepatu saya.”


Laki-laki tadi menelisik Samuel dari atas sampai kebawah, dan dilihatnya kaki ceker ayam Samuel tanpa alas kaki. “Maaf, Mas. Saya salah pakai sepatu. Habisnya mirip, dan kebetulan saya terburu-buru jadi kurang memperhatikan. Ini saya kembalikan.


” Laki-laki tersebut menyerahkan sepatu butut milik Samuel.


Samuel mengangguk dan tersenyum, “Nggak papa, Mas. Terima kasih.”


“Nggak usah bilang terima kasih, saya yang salah. Kalau begitu saya duluan. Assalamu’alaikum.” Laki-laki itu mengambil sepatu miliknya, lalu buru-buru masuk kedalam mobilnya kembali.


Samuel menjawab salam tersebut didalam hati. Ia tak begitu mempedulikan laki-laki tadi. Setelah memakai sepatunya, ia bergegas mengambil motor lalu meneruskan perjalanannya.


\*


“Nduk, ini ada yang nelepon, katanya dosenmu.”

__ADS_1


Nisa yang sedang mengerjakan tugasnya tiba-tiba berhenti begitu Abinya menyerahkan ponsel kearahnya. Ia sedikit heran, dosen siapa yang meneleponnya malam-malam begini? Memangnya ada perlu apa?


Ia menempelkan ponsel tersebut ke telinga, “Assalamu’alaikum.”


Hening. Tidak ada jawaban.


Nisa coba mengulangi salamnya.


“Assalamu’alaikum.”


Masih juga tak ada suara yang menyahut.


“Maaf ini dengan siapa?”


Suara helaan napas yang terdengar.


“Wa’alaikumsalam.”


Suara laki-laki. Seingat Nisa, tidak ada dosen laki-laki yang pernah menghubunginya. Tiba-tiba ia merasa parno. Ia hendak mengakhiri panggilan saat seseorang diseberang telepon kembali berbicara.


“Ini saya, Samuel. Jangan dimatikan dulu.”


Nisa menghembuskan napas lega. Namun tiba-tiba Nisa teringat sesuatu. Waktu itu ia sengaja memberikan nomor ponsel Abinya kepada Samuel, agar laki-laki itu tidak bisa menghubunginya. Tetapi sekarang justru Samuel menghubungi Abinya dan dengan lihainya ia mengaku sebagai dosen Nisa. Nekat sekali si Samuel ini.


“Kamu ngapain nelepon disini?!” Nisa berbisik-bisik takut Abinya yang sedang diluar mendengar.


“Ada yang mau ku tanyakan.” Jawab Samuel polos.


“Iya, tapi kenapa harus disini neleponnya? Kan besok bisa ketemu di Kampus.” Nisa geregetan dengan laki-laki diseberang sana.


“Nis, lupa ya? Kan katamu kalau ada perlu aku bisa hubungi kamu di nomor ini. Kamu sendiri kan yang ngasih nomornya Abimu?”


Nisa merutuki kebodohannya.


“Oke, itu salahku. Jangan lagi nelepon di nomor ini. Catat nomorku.” Nisa mulai menyebutkan sederet angka nomor ponselnya.


Samuel tersenyum puas sekarang. Ia membayangkan wajah panik Nisa.


“Aku bisa hubungi kamu di nomor itu?”


“Jangan telepon! Tanyakan apa yang mau kamu tanyakan melalui personal chat.


Assalamu’alaikum.” Nisa mengakhiri panggilan secara sepihak. Nyaris saja jantungnya melompat tadi. Ia benar-benar tak menyangka bahwa Samuel akan senekat itu menghubunginya.


Nisa mengembalikan ponsel milik Abinya dengan takut-takut. Ia berusaha menetralkan raut mukanya agar Abinya tak curiga.


“Ada apa dosenmu nelepon malam-malam begini, Nduk?”.


“Katanya ada tugas Nisa yang belum lengkap di mata kuliahnya beliau, Bi.” Nisa mengucapkan kalimat tersebut dengan nada bergetar. Ia takpandai berbohong. Ia bahkan tidak pernah berbohong kepada Abinya. Nisa meminta maaf kepada Abi didalam hati karena merasa bersalah.


Abinya mengangguk paham.


“Tapi suara dosenmu kedengaran masih muda sekali, Nduk.”


“Ah itu karena memang beliau masih muda.” Nisa tertawa canggung menutupi kebohongannya.


Abi memperhatikan putri semata wayangnya intens, “Bener?”


Nisa salah tingkah, keringat dingin jatuh membasahi dahinya.


“Bener, Bi.”


“Abi kira pacarmu loh.”


Nisa menggeleng cepat. “Enggak, Bi. Bukan. Astaghfirullah kan nggak boleh pacaran.”


Abi tertawa melihat kelakuan Nisa yang terlihat lucu di matanya.


“Abi jangan mikir yang macem-macem.” Nisa cemberut sekarang.


Seperti biasa, Abinya memang suka menggoda dirinya. Melihat putrinya cemberut seperti itu, akhirnya Abi mengalah.


“Iya iya Abi percaya.”


Nisa segera berbalik kedalam kamarnya. Ia menutup pintu, lalu bernapas lega. Kalau sampai Abinya tahu bahwa dirinya berbohong, habislah ia.


Suara dering gawai yang bergetar membuat Nisa cepat-cepat mengambil benda pipih tersebut. Ketika membuka aplikasi whatsapp, ada satu pesan baru berasal dari nomor yang tidak kenal.


“Apa hukumnya orang dewasa yang tidak tahu mengaji dengan benar?”


Nisa menepuk jidat. Merasa gemas dengan Samuel. Laki-laki itu selalu saja mempertanyakan hal-hal mendasar untuk memulai pecakapan. Bahkan menurut Nisa, tanpa dirinya menjawab pun Samuel sudah tahu apa jawabannya.


Nisa mengetikkan sesuatu sebagai balasan. “Berkunjung ke Pesantren, nanti saya kenalkan dengan Ustadz Agam. Beliau yang InsyaAllah akan mengajarimu mengaji.”


Nisa menonaktifkan ponselnya. Tidak ingin repot-repot menunggu balasan dari Samuel. Kupu-kupu nakal sedang menari-nari didalam perutnya, seolah turut menertawakan tingkah Nisa malam ini.


\*


Samuel meletakkan ponsel miliknya setelah membalas pesan Nisa. Ceklis satu. Gadis itu sudah aktif. Samuel tersenyum dibuatnya. Pasti saat ini Nisa sedang mengumpat kesal kepadanya. Entah mendapat keberanian darimana, Samuel tiba-tiba mendapat ide gila agar bisa berbincang dengan Nisa.


Mungkin Nisa berpikir, ketika memberikan nomor telepon Abinya, Samuel tidak akan pernah berani menghubunginya. Namun bukan Samuel namanya jika tak melakukan hal-hal antimainstream untuk mewujudkan keinginannya.


“Jatuh cinta lo, ya?” Harris yang sejak tadi memperhatikan tingkah laku adiknya akhirnya angkat bicara.


Samuel masih tersenyum-senyum, “Emang lo doang yang boleh jatuh cinta?”


Harris merasa miris melihat Samuel yang sudah seperti orang gila, “Sudah move on?”


Samuel mengendikkan bahu tak acuh.


“Siapa sekarang?”


Samuel mengalihkan fokusnya pada layar ponsel kearah Harris yang saat ini sedang memasang wajah keponya.


“Seseorang yang mampu mengubah dunia gue.” Samuel menaikkan satu alisnya.


“Najis.” Desis Harris. Sesaat kemudian ia teringat sesuatu, “Ini penyebabnya lo rajin ibadah akhir-akhir ini?”


Samuel hanya melirik sekilas sambil menunjukkan senyumnya kembali, membuat Harris berdecih.


“Ibadah itu karena Tuhan, bukan karena manusia. Salah niat lo.” Protesnya.


“Gue ibadah karena dan untuk Tuhan kok. Denger ya, abangku yang tercinta, Dia memang menjadi penyemangatku beribadah, tapi niatku masih murni lillahi ta’ala. Gue nggak mau riya’.” Ucap Samuel.

__ADS_1


Harris melempar bantal kearah Samuel dengan tak manusiawi. Niat hati ingin menasehati, justru ia mendapat kultum balik dari adiknya tersebut.


__ADS_2