
Aku rasa hari ini sangat cerah entah mengapa tiba-tiba hatiku merasa sangat senang dan aku merasa sangat nyaman hari ini.
Saat aku sedang berfikir apa yang terjadi padaku tiba-tiba Ulva datang.
"Assalamualikum"
"Waalaikumsalam, eh Ulva ko baru datang sih?", Ulva adalah sahabatku kami saling mengenal ketika aku dan Ulva melamar pekerjaan di sini satu tahun yang lalu.
"Eh iyah Ran tadi ban motorku bocor jadi aku ke bengkel dulu deh, oh iya gimana kamu jadi buka toko kue Ran?" tanya Ulva kepadaku.
"Jadi ko Va cuman aku lagi bingung aja untuk memberi nama toko kueku apa". Aku memang akan membuka toko kue yah lumayan lah hasilnya untuk tambah-tambah uang tabunganku.
"Kamu kan orang sunda Ran, bagaimana kalau nama tokonya Toko Kue Neng Zahra saja?" saran Ulva kepadaku.
"Ya sudah Va aku terima saranmu itu" Aku sudah bingung mencari nama yang cocok, dan nama yang di tawarkan Ulva menurutku bagus lagipula Zahra'kan nama belakangku.
"Ya udah Ran ayo kita masuk jam kerja sebentar lagi di mulai" ucap Ulva
"Iya ayo, eh iya Va aku tadinya mau curhat eh malah lupa karena ngomongin soal toko". Niat awalku memang mau curhat ke Ulva saat Ulva datang tapi aku lupa.
"Ya sudah nanti saja pulang kerja curhatnya" ucap Ulva kepadaku
"Ya sudah, ayo masuk" ajaku kepada Ulva
Jam kini menunjukan pukul tiga dan jam kerja selesai, aku segera ke lobi untuk mengambil tasku dan menunggu Ulva di sana.
"Abis darimana dulu Va?". Tanyaku pada Ulva.
"Aku habis dari wc dulu ran". Jawab Ulva.
"Ya sudah ayo, kita ke masjid dulu untuk sholat ashar, baru setelah itu pulang". Kami memang sudah biasa pergi ke masjid setelah pulang kerja untuk melaksanakan sholat asar karena kalau sholat di rumah takutnya gak ke buru soalnya jalanan dari tempat kerja selalu saja macet.
"Iya ayo, eh Ran aku nginep yah di rumah kamu besokan libur, boleh gak?, sekalian katanya kamu kan mau curhat, biar curhatnya rileks kalau di jalan kan pasti gak asik karena kita beda arah jalan" cicit Ulva padaku panjang lebar
"Iyah boleh, kamu mau bareng sama aku sekarang atau mau pulang dulu?"
"Pulang dulu, aku kan belum pamit sama mamah papah"
"Ya udah aku duluan yah dah, Assalamualaikum"
"Iyah dah, waalaikumsalam"
Jalanan begitu macet, aku sungguh sudah sangat lelah padahal jika tidak macet dua puluh menit juga aku sudah sampai rumah, tapi karena macet sudah setengah jam lebih aku di jalan dan tak sampai-sampai, Andai saja tadi pagi aku bawa motor mengikuti saran Ulva untuk menghindari kemacetan ini mungkin sekarang aku sudah sampai di rumah.
Setelah turun dari angkot aku mampir dulu ke Alfamart untuk membeli cemilan dan minuman.
Huufth.. Aku menghela napas karena dari jalan raya tadi aku harus berjalan kaki ke rumahku dengan jarak dua ratus meter tidak terlalu jauh sih tapi tetap saja itu membuatku merasa lelah.
__ADS_1
Sekarang sudah lewat Isya tapi Ulva yang katanya mau menginap belum datang juga. Aku menunggunya sambil membaca novel di ruang tv.
Apakah mungkin dia tidak jadi menginap?, fikirku.
Tok tok tok
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam, Va aku kira kamu gak jadi nginep"
"Masa gak jadi, aku kan ingin dengar curhat sahabatku ini, tadi di rumah ada tamu, mamah dan papah menyuruh aku menemani mereka dulu" ucap Ulva
"Oh" ucapku ber oh ria
"Kamu tidak ingin tahu siapa tamunya Ran ? " tanya Ulva kepadaku
"Memangnya siapa Va?" yang aku pada Ulva
"Calon suamiku" jawab Ulva dan itu berhasil membuatku kagum, seorang Ulva sudah di pertemukan dengan jodohnya.
"Kamu ta'aruf'an Va?" tanya aku pada Ulva
"Bisa di bilang begitu tapi bisa juga tidak, karena aku di jodohkan oleh orang tuaku" jawab Ulva dengan datar
"Terus kamu terima?" tanyaku penasaran
"Oh, jangan lupa yah aku yang jadi pager ayunya Va" ucapku
"Tentu saja, eh iya katanya kamu mau curhat ko ini malah aku yang curhat ke kamu"
"Eh iyah Va, gini loh hari ini ko aku ngerasa aneh ya sama diri aku sendiri" aduku pada ulva
"Memangnya kenapa?" tanya ulva
"Hari ini tiba aku merasa senang dan tenang Va, Merasa bahagia tanpa sebab kan aneh Va, ada apa yah denganku?" aku mengatakan apa yang tadi pagi aku tanyakan pada diriku sendiri kepada Ulva.
"Mungkin kau sedang jatuh cinta Ran" jawab Ulva padaku, jelas aku tertawa mendengar jawabannya, aku jatuh cinta, jatuh cinta pada siapa coba.
"Hahaha..Kamu ada-ada aja Va, aku jatuh cinta, jatuh cinta pada siapa Va, wong jodohku aja belum muncul".
"Tapi yang aku tahu, yang tadi kamu ceritain itu seperti orang yang tengah jatuh cinta, tiba-tiba merasa senang, sama sepertiku saat ini hatiku berdesir karena tadi memandang wajahnya"
"Astagfirullah al-adzim, kau sekarang sedang memikirkan wajahnya Va, istigfar Va itu sama saja kau sedang zina perasaan dan fikiran" ucapku, temanku ini memang begitu sedikit melihat yang kinclong saja selau di bayangkan.
"Tidak-tidak Ran aku cuma becanda, apa mungkin Ran kamu merasa seperti itu karena doa'mu kemarin tersampaikan kepada jodohmu, dan dia membalas doa'mu Ran" aku berfikir dengan jawaban Ulva apa mungkin benar doa'ku tersampaikan pada jodohku dan dia membalasnya.
"Kamu ada-ada aja Va" jawabku
__ADS_1
"Bisa saja kan Ran" jawab Ulva
"Ah sudahlah, sekarang sudah malam ayo kita tidur, besok aku harus ke toko untuk membereskan barang-barang". Aku menghentikan percakapan kami dan mengajak Ulva untuk tidur, ya sekarang sudah jam sepuluh dan besok aku harus bangun pagi untuk sholat subuh dan setelah itu langsung pergi ke toko untuk membereskan tokoku.
"Iya baiklah, besok juga aku akan membantumu, selamat malam Ran" jawab Ulva
"Selamat malam Va, jangan lupa baca doa dulu sebelum tidur"
"Iyah Ran, kau selalu mengingatkanku itu kau kira aku anak kecil yang harus selalu di ingatkan, hanya untuk membaca doa sebelum tidur" ucap Ulva terlihat kesal, dan bibirnya di manyunkan, temanku ini sangat menggemaskan saat marah.
"Ya sudah jangan marah dong aku kan cuma mengingatkan" ucapku sambil tersenyum.
,,__________________________,,
Aku mendengar suara adzan berkumandang, langsung saja aku membuka mataku, dan membangunkan Ulva yang tengah tertidur pulas di sebelahku.
"Va bangun, ayo kita sholat subuh dulu" ucapku sambil menepuk-nepuk pipinya.
"Sebentar lagi ya Ran aku masih ngantuk" jawabnya dengan yang mata masih tertutup rapat.
"Va ayo bangun, masa kalah sama ayam sih ayam aja udah pada bangun, ayo Va bangun katanya kamu mau bantuin aku beres-beres di toko" Aku masih mencoba membangunkannya kini aku mengoyankan bahunya.
"Aku masih ngantuk Ran ayolah sepuluh menit saja biarkan aku tertidur lagi". Dia bergumam sambil menutup wajahnya dengan selimut.
"Baiklah Va aku beri waktu sepuluh menit, tapi jika dalam waktu sepuluh menit malaikat maut menjemputmu dan kau belum sholat subuh jangan salahkan aku" Aku mengancam Ulva karena biasanya dia akan segera bangun dan berwudhu setelah aku mengancamnya dengan kata-kata ini.
"Baiklah-baiklah aku bangun, kau selalu saja menggunakan kata-kata itu untuk membangunkanku, kau tau Ran kata-kata itu menyeramkan" Lihat benarkan kataku dia akan segera terbangun jika sudah aku peringatkan dengan kata-kata jituku itu.
"Kau yang jadi imam yah Va" ucapku pada Ulva
"Baiklah" jawab Ulva
Tokoku tidak terlalu besar hingga kami tidak terlalu lelah untuk membersihkannya dan membereskan barang.
"Ran kapan kamu mulai jualan, dan siapa yang akan menjaga tokomu saat kamu kerja?" tanya Ulva padaku.
"Mungkin lusa, yang akan menjaga toko Ba Ica tetangga sebelah rumah" jawabku
"Oh, ya sudah aku pulang dulu Ran, aku harus ke butik tante sinta untuk fiting baju buat nikahanku" ucap Ulva
"Oh ya, terimakasih ya Va sudah membantuku" Tidak terasa sahabatku akan segera menikah.
"Iya sama-sama, nanti pas malem H1 pernikahanku kamu menginap ya di rumahku, kamu kan harus jadi pagar ayunya Ran"
"Iyah Va pasti" Ah aku akan sangat kesepian nanti setelah Ulva menikah mungkin kami tidak akan sedekat ini lagi, karena ulva sudah punya kehidupan barunya.
"Dah,, Assalamualaikum ran".
__ADS_1
"Waalaikumsalam".