Cinta Yang Halal

Cinta Yang Halal
31


__ADS_3

Hujan masih mengguyur, bahkan kali ini intensitasnya lebih deras dari sebelumnya. Pukul 16:00 Nisa, Samuel dan Kahfi tiba di Bekasi. Jalanan tidak terlalu ramai, mungkin karena hujan yang turun sejak pagi, orang-orang menjadi enggan untuk beraktivitas di luar rumah.


Samuel menepikan mobil di bahu jalan. Sedang Nisa berbicara dengan Kahfi melalui telepon. "Kita masuk ke lorong itu." Begitu menutup telepon, Nisa menginstruksikan agar Samuel membelokkan mobil memasuki sebuah lorong yang tidak begitu lebar, tapi tidak juga terlalu sempit. Masih bisa untuk dilewati mobil.


Di dalam lorong itu berderet rumah-rumah yang hampir sama bentuknya. Membuat siapa saja yang melewatinya bisa menebak, bahwa tempat itu adalah daerah kos-kosan.


Samuel fokus mengemudi dan mengikuti laju mobil di depannya. Begitu mobil membelok ke arah selatan, Samuel tidak lagi melihat jalan yang bisa di lewati mobil. Hanya ada jalan buntu.


Kahfi keluar dari mobil, mencoba bertanya dengan orang-orang sekitar. Nisa hanya mengamati di dalam mobil. Samuel mencegahnya untuk keluar dengan alasan hujan.


Nisa bergegas membuka kaca mobilnya saat Kahfi datang tergopoh-gopoh. "Askar sudah lama pindah dari sini."


Nisa tahu siapa yang disebut Askar. Laki-laki yang sudah merusak Alila. Ia tidak tahu dimana sekarang laki-laki itu membawa Alila. Curah hujan yang tak kunjung reda menambah kekalutan.


"Sudah coba ceklok oake gps dari handphonenya?" Kali ini Samuel yang berbicara. Laki-laki iyu mencoba berpikir logis, karena ia satu-satunya orang yang tidak sedang memiliki perasaan kalut saat ini.


Kahfi seera merogoh kantong celana bahannya, lalu membuka handphonenya dengan gerakan cepat. "Bekasi, daerah sunan giri?" Kahfi mengerutkan kening.


"Dimana, Mas?" Nisa yang sejak tadi menunggu, menuntut jawaban dari Kahfi.


"Di daerah sunan giri." Kahfi menyodorkan ponselnya kepada Nisa. Di maps tertera bahwa keberadaan Alil ag


*****


"Selama ini saya mencari kamu."


Alila mengangkat wajah. Ia menatap laki-laki di hadapannya dengan pandangan nanar. Laki-laki itu tidak banyak berubah, hanya sedikit kumis dan cambang yang membuatnya terlihat sedikit dewasa.


"Kamu kemana saja?" Ia kembali buka suara.


Alila tak bergeming. Susah payah ia menahan agar air matanya tidak terjatuh di hadapan laki-laki itu.


Bertemu kembali dengan Askar adalah sebuah mimpi buruk. Ia bahkan lebih memilih terjaga sepanjang malam daripada mimpi itu harus masuk dalam tidurnya. Namun setitik kesadaran dalam hatinya yang membuat ia berada disini sekarang. Duduk berhadap-hadapan dengan Askar, dalam ruang tamu sebuah rumah yang tak begitu luas.


"Bagaimana keadannya?" Askar masih gencar melempar pertanyaan, meski Alila hanya membisu. Laki-laki itu menatap Alila dengan sorot lembut.


"Apa maksudmu menyuruhku datang kesini?" Alila akhirnya buka suara.


Askar tertunduk, tangannya memegangi janggut. "Masih ada yang belum selesai."


"Apa?"


Askar memutar tubuh, menatap Alila sepenuhnya, "Maaf." Suaranya benar-benar tulus. Siapapun yang mendengarnya pasti akan merasa kasihan, namun tidak dengan Alila.


Gadis itu tertawa getir. "Kalau kata maaf bisa mengembalikan hidupku yang dulu, maka akan ku terima maafmu." Suara Alila bergetar. Hawa dingin karena bajunya yang tadi basah hingga mulai setengah mengering, membuatnya menggigil.


"Saya tidak lari dari kenyataan. Saya mau bertanggung jawab waktu itu." Ucap Askar membela diri.


"Kamu pikir perbuatan bejatmu itu bisa di bereskan hanya dengan pertanggung jawabanmu?!" Alila mulai naik pitam. Hatinya nyeri. Luka yang masih basah rasanya seperti di basuh kembali.


Askar bergerak mendekat, mempersempit jarak dengan Alila. Ia berusaha merengkuh bahu Alila untuk menenangkan. Namun bukan merasa tenang, Alila justru menepisnya dengan kasar.


"Alila, saat itu saya khilaf. Harus dengan apa saya menebus kesalahanku? Saya pun mengajukan diri untuk bertanggung jawab kamu tidak mau."


Alila tersenyum miring. "Persetan dengan tanggung jawab. Saya minta semua yang hilang dari saya saat ini di kembalikan. Kamu bisa?!"


Askar memegang pergelangan tangan Alila, lagi-lagi gadis itu menepisnya.


"Sekarang apa yang kamu mau?" Air mata yang jatuh tidak terhitung lagi jumlahnya. Alila mencoba mengumpulkan pasokan oksigen sebanyak mungkin, namun rasanya masih saja sesak. Bersinggungan dengan hal-hal yang terkait dengan masa lalunya memang selalu menyakitkan.


"Beri saya kesempatan untuk menebus kesalahanku." Askar menatap Alila, pandangannya meneduhkan, namun bagi Alila, pandangan itu tak ubahnya sebuah pedang yang menyayat-nyayat luka di hatinya.


"Menikah denganku, Alila."


Alila menghapus air mata menggunakan punggung tangan dengan kasar. "Saya tidak mau." Alila berdiri, hendak meningalkan Askar. Namun Askar menarik lengannya dengan kasar, hingga Alila kembali terhempas ke sofa.


"Bagaimanapun juga, anak itu butuh ayah!" Askar berteriak, matanya memerah.


Alila sejenak terhenyak. Ia tidak pernah melihat Askar seperti ini. Selama ia mengenal Askar, laki-laki itu begitu lembut padanya. Bahkan saat Alila memilih meninggalkannya dulu, Askar tak pernah memarahinya.


Satu persatu air mata jatuh di atas dinginnya permukaan lantai marmer. Ingatan Alila terputar pada kejadian 2 tahun lalu. Ada nyeri yang meradang di dalam sana. Ada sakit yang tidak bisa di definisikan dengan kata-kata. Dengan bibir bergetar, Alila mencoba mengucapkan kalimat yang begitu ia benci, "Dia sudah mati."


Askar membeku di tempat. Mendung di luar sana tak bisa mengalahkan mendung di hatinya. Batinnya seolah berteriak-teriak memaki diri sendiri.


"Sejak kapan?" Ucapnya lirih. "Sejak kapan Alila?!" Suara lirih itu berubah menjadi bentakan.


Alila tergugu. Inilah alasan, mengapa Alila sangat membenci masa lalunya. Ia kehilangan segalanya. Bahkan anak yang seharusnya mendapat kasih sayang dari seorang ibu, justru enggan menetap dengannya.


"Kamu membunuhnya?!" Suara Askar menggelegar. Derasnya air hujan yang menghantam atap tak sedikit pun berpengaruh untuk meredam teriakannya.


Alila mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Hatinya begitu nyeri, badai luar biasa tengah menghantam di dalam sana. Ia tidak suka di sebut pembunuh, tidak pernah suka.


"Saya bsuksans pembunuh!" Teriakannya melengking. Ia jatuh terduduk, kakinya teraaa sepertj jelly, lemas dan rasanya tidak sanggup lagi berdiri.

__ADS_1


Askar mengacak rambutnya frustasi. Matanya memerah, entah menahan tangis atau amarah. "Lalu kenapa dia bisa mati?" Laki-laki itu berjongkok, mensejajarkan posisinya dengan Alila.


Bahu Alila bergetar, tangannya dingin. Gadis itu menangis histeris sambil memeluk dirinya sendiri. "Semua salahku. Semua salahku." Bibirnya yang pucat terus menggumamkan kata-kata itu.


Askar membawa Alila ke dalam pelukannya. Kali ini Alila tak memiliki kekuatan untuk menolak, ia justru luruh dalam dekapan Askar.


"Pergi sejauh mungkin." Alila memukul dada Askar dengan sisa-sisa kekuatannya. "Jangan pernah muncul dalam kehidupanku lagi."


Askar menggenggam tangan Alila. Ia mencium kedua telapak tangan tersebut. Kehangatan yang berasal dari bibir Askar menghangatkan dinginnya tangan Alila.


"Aku tidak akan meninggalkanmu."


"Aku tidak mau hidup denganmu." Desis Alila.


Seolah baru saja tersadar, Alila berdiri. Menepis kasar lengan kokoh Askar yang melingkar di pinggangnya. "Menjauh dari kehidupanku!" Teriak Alila.


Askar menggeleng. "Tidak." Ia tertawa. Tawa itu hambar, tak sarat makna apapun.


"Tidak ada alasan yang membuatmu untuk menetap."


"Bagaimana kalau ku bilang, aku mencintaimu? Terlepas dari rasa tanggung jawab, aku benar-benar mencintaimu."


Alila tertawa. Tawa itu terdengar sarat akan luka. "Apa masih ada arti cinta untuk seseorang yang sudah terlebih dahulu merusak orang yang di cintainya?"


"Harus berapa kali ku bilang 'Maaf'?!" Askar kembali berteriak.


Alila menatap nyalang. Tak sedikitpun gentar karena teriakan Askar. "Saya tidak butuh maafmu. Dan ingat, saya tidak mencintaimu!"


Askar mendekat. Mengunci pergerakan Alila. Matanya menatap tajam, seolah hendak menguliti Alila hidup-hidup. "Tidak masalah kalau kamu tidak mencintaiku. Karena aku tidak perlu persetujuan darimu untuk mencintaimu."


Seperti singa kelaparan, Askar mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Alila. Tatapannya fokus pada manik mata coklat Alila yang masih menatap nyalang.


Askar menahan tangannya pada kedua pipi Alila. Ia terus menggiring Alila, hingga punggung gadis itu membentur tembok. "Cinta bisa tumbuh setelah pernikahan."


Alila berusaha agar tidak goyah. Tubuhnya menegang saat Askar mendekatkan bibirnya. Laki-laki itu mengunci pergerakannya. Kini, tidak lagi ada sekat antara dirinya dan Askar.


Bibir Askar menyentuh permukaan bibir ranum Alila. Sekuat tenaga Alila berusaha berontak. Ia menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Udara yang tadi dingin, kali ini terasa panas. Mati-matian Alila mengumpulkan semua tenaganya, lalu mendorong mundur Askar. Begitu berhasil, ia menampar Askar hingga telapaj tangannya terasa panas.


"Lo brengsek! Gue nggak pernah suka sama lo! Karena lo hidup gue hancur. Keluarga, pacar, dan bayiku, satu-persatu hilang karena lo. Gue sering berangan-angan, seandainya gue nggak pernah kenal sama lo, maka hidup gue nggak akan semengenaskan saat ini. Lo merenggut semuanya dari gue. Gje benci sama lo. Banget." Alila tertawa miring. "Apalagi sampai suka sama lo? Jangan mimpi."


Askar berusaha kembali mendekat. Namun Alila dengan gerakan cepat mengambil sebuah vas bunga, lalu membuang vas tersebug hingga pecah berantakan di lantai. Alila memungut pecahan tersebut, lalu mengambil salah satu pecahannya dan mengancam Askar agar tidak lagi berjalan mendekat.


"Gue nggak pernah suka sama lo! Satu-satunya lelaki yang gue suka adalah Samuel. Tapi karena lo, gue harus terpaksa menyuruh Samuel angkat kaki dari kehidupan gue. Dan sekarang, dia benci gue melebihi apapun. Dan ya, ingat, gue nggak pernah bunuh bayi itu. Bayi itu meninggal sejak dalam kandungan karena gue di vonis stress. Bahkan gue pernah sampai punya inisiatif untuk bunuh diri, tapi gue ingat, gue nggak sendirian, kalau gue mati, anak yang tidak bedosa juga akan mati. Dan karena pikiran itu, gue mengurungkan niat gila gue."


"Jadi tolong, menjauh dari kehidupan gue. Jangan pernah muncul lagi. Karena tidak ada lagi hal apapun yang mengikat kita."


Alila berbalik, hendak keluar melalui pintu utama. Namun niatnya itu ia urungkan. Ia justru berdiri mematung sambil tatapannya fokus pada laki-laki yang sedang berdiri di teras.


Laki-laki itu menatapnya dengan pandangan tak terbaca. Dengan langkah rikuh, Alila berjalan mendekat. Di pandanginya sosok itu dengan sorot yang penuh kerinduan. Jika ini mimpi, maka tolong, jangan pernah bangunkan ia.


"Sam." Alila menggumamkan nama tersebut. Sebuah nama yang selalu menari-nari menjarah pikirannya selama ini.


Melihat Samuel yang tidak menghindarinya seperti biasa, Alila menghambur ke arah laki-laki itu, memeluknya dengan erat. Alila merindukan hangatnya dada bidang Samuel saat memeluknya.


Samuel berdiri mematung. Tak di balasnya pelukan Alila. Seuatu yang hilang rasanya telah kembali. Namun entah kenapa, sesak itu tak kunjung hilang, justru bertambah parah. Selama ini ia sudah salah menilai Alila. Ia pikir Alila adalah gadis bejat yang rela ditiduri lelaki mana pun. Nyatanya ia salah. Alila adalah korban. Selama ini ia banyak menanggung beban derita yang di simpannya seorang diri. Sekarang, justru ia yang merasa bodoh.


*****


Nisa terdiam tak berkutik saat dilihatnya Alila memeluk Samuel. Alila memeluk Samuel? Alila memeluk laki-laki yang baru saja beberapa hari lalu mengungkapkan perasaan padanya? Laki-laki yang bahkan sudah mengunjungi rumahnya dan bertekad menyampaikan i'tikad baiknya kepada Abi. Salahkah jika saat ini ia merasa sakit hati?


Alila nampak rikuh sekaligus nyaman berada dalam posisi itu. Ia semakin mengeratkan pelukannya tatkala Samuel mengelus punggungnya dengan lembut. Suara isakan gadis itu terdengar sesekali.


Dari jarak yang tak begitu jauh, Kahfi melirik Nisa yang sedang mengamati Samuel dan Alila. Nampak jelas guratan kecewa di wajah ayu gadis tersebut. Seperti memahami situasi, Kahfi mengajak Nisa pergi dari tempat itu, setelah memastikan bahwa Alila aman bersama Samuel.


Nisa berjalan gontai, saat memasuki mobil, gadis itu tidak menunjukkan ekspresi apapun. Pandangannya kosong, bibir yang biasa melengkungkan senyum itu, kali ini benar-benar terkatup rapat.


Bahkan sepanjang perjakanan Nisa hanya diam. Tak satu pun suara lolos dari bibirnya. Matanya fokus pada jalanan di seberang jendela, namun pikirannya jauh melanglang buana.


"Nis, kita langsung pulang?"


Tak ada jawaban. Nisa masih sibuk dengan pikirannya.


"Nisa!"


Seolah baru saja di sedot oleh kenyataan, Nisa kembali tersadar. Kali ini matanya menatap lelaki yang sedang mengemudikan mobil di sampingnya.


"Kenapa?"


Nisa menggeleng. Ia membuang napas kasar.


"Ada kaitannya dengan Samuel?"


Mendengar nama itu di sebut, hatinya merasa dicubit. Namun logikanya masih bekerja, ia menggeleng sebagai jawaban.

__ADS_1


Nisa beristighfar. Mengingat kejadian tadi, dimana ia sendiri melihat betapa Alila mencintai Samuel, dan sorot mata Samuel yang tidak bisa berbohong. Laki-laki itu masih mencintai Alila juga. Siapa pun akan melihat hal itu.


Rasanya seperti ada api yang membakar hatinya. Nisa mencoba menangkan diri dengan merapalkan dzikir di dalam hati.


Nisa memilih pulang bersama Kahfi. Laki-laki itu dengan sigap membawa pulang Nisa meski gadis itu tak memintanya. Meski ia tidak tahu ada hubungan apa antara Nisa dan Samuel, tapi yang pasti ia menyadari satu hal, mereka bukan hanya sekedar partner biasa.


*****


Alila melirik ke arah Samuel takut-takut. Pandangan laki-laki itu lurus ke depan. Seolah-olah hanya jalanan yang menarik perhatiannya saat ini. Hujan di luar sana sudah mereda, namun masih menyisakan hawa dingin. Ditambah dengan AC yang suhunya entah berapa, namun terasa menusuk kulit.


Alila masih memakai bajunya yang lembab. Sesekali ia menggigil. Namun perasaannya menghangat, melihat Samuel yang tidak lagi menolak kehadirannya. Bahkan laki-laki itu sudi mengantarnya pulang dan berada salam satu mobil yang sama.


Alila berdehem membuang rasa canggung. "Sam." Panggilnya takut-takut.


Samuel tidak menoleh, fokusnya masih tertuju pada jalanan di depan. Tiba-tiba laju kendaraan berubah. Yang tadinya bergerak wajar, kali ini berada di batas normal.


Alila sampai terhempas ke belakang karena kecepatan di tambah secara tiba-tiba. Ia melirik angka yang tertera di balik kemudi, 100 km/jam. "Sam. Pelanin mobilnya!" Alila berusaha menghentikan aksi gila Samuel. Bukannya di turunkan, Samuel justru semakin menaikkan kecepatan. Alila mencengkeram seatbelt kuat-kuat. Melihat kendaraan-kendaraan yang di lambung secara brutal oleh Samuel membuat adrenalinnya seperti di pacu. Ia memjamkan mata rapat-rapat.


Samuel melirik Alila. Ia menepikan mobil di bahu jalan dengan mengerem mendadak hingga menimbulkan decitan yang menggelitik telinga.


Napas Samuel memburu, dadanya terasa sesak. Ia mengacak rambutnya frustasi. Lalu menelungkupkan wajah di atas kemudi.


Alila masih berusaha menetralkan debar jantungnya yang berdetak gila-gilaan. Bagaimana tidak, beberapa detik yang lalu nyawanya di pertaruhkan akibat ulah gila Samuel.


Setelah merasa tenang, Alila mencoba melihat apa yang terjadi dengan Samuel, "Sam." Panggilnya.


Laki-laki itu tak bergeming.


Alila berusaha menyentuh lengan Samuel perlahan. Masih juga tak ada reaksi. "Sam, are you okay?"


Samuel mengangkat wajah perlahan. Matanya memerah, ekspresinya tidak bisa di baca. Sorot mata tajamnya menatap ke arah Alila. "Kenapa kamu nggak pernah cerita semua dari awal?" Tanyanya lemah.


Alila menahan tangisnya agar tak meledak saat itu juga. Samuel sudah mau berbicara dengannya menggunakan kata 'Aku Kamu', itu artinya ia tidak lagi di kuasai emosi. Rasa haru menyeruak di dalam hatinya.


"Aku benci situasi ini. Kamu bikin aku seolah menjadi orang bodoh."


Alila mengenggam tangan Samuel. Setetes air mata lolos dari pelupuk matanya. "Maaf. Aku hanya tidak ingin membuatmu berada dalam kebingungan saat itu." Ucap Alila lembut.


Samuel menunduk, lalu memberanikan diri menatap Alila. Melihat sorot lemah gadis itu membuat hatinya berdenyut nyeri. Betapa banyak derita yang sudah di tanggungnya selama ini? Samuel beringsut, membawa gadis itu ke dalam pelukannya. Seolah melepaskan kerinduan yang sudah mati-matian ia singkirkan. Tapi satu hal yang mengganjal di dalam hati Samuel saat ini, pikirannya tertuju pada seorang gadis yang saat ini sedang bersama laki-laki lain. Seorang gadis yang lebih memilih pulang bersama laki-laki itu di banding dirinya.


Alila merasa bebannya yang selama ini ia pikul sendirian terangkat. Samuel memeluknya. Ia bahkan berkali-kali mencium puncak kepala Alila. Ada sesuatu di dalam hati Alila yang bersorak sorai. Dan ya, benar kata Nisa tentang sabda Allah yang di bacakannya tempo hari. Sesudah kesulitan selalu ada kemudahan. Hari ini Alila menyaksikannya sendiri, betapa Allah begitu adil padanya.


*****


Sarah memainkan bolpointnya, mengetuk-ngetukkannya di atas meja. Pikirannya jauh mekanglang buana. Ia sedang memikirkan, bagaimana cara membayar UKT untuk semest depan. Sedang gajinya bulan ini hanya cukup untuk membiayai sekolah Arini, adiknya.


Sejak menjadi yatim piatu, Sarah mengambil alih tugas kedua orang tuanya menjadi tulang punggung untuk menghidupi Adik satu-satunya. Orang tua Sarah mengalami sebuah kecelakaan pesawat yang terjadi 5 tahun silam.


Saat itu orang tuanya hendak menuju Pangkal Pinang untuk sebuah pekerjaan. Mereka menaiki pesawat Rute Jakarta-Pangkal Pinang. Namun na'as, pesawat kehilangan kendali di atas perairan Karawang.


Sejak saat itulah, kehidupan Sarah rasanya seperti di jungkir balikkan. Semuanya berubah. Hidup tanpa orang tua dan harus membiayai kebutuhan hidup dan pendidikan adiknya bukanlah hal yang mudah. Meski Sarah masih memiliki keluarga lain, seperti Pakde dan Budenya, tapi ia tidak ingin menyusahkan mereka. Biar bagaimana pun, mereka juga memiliki keluarga sendiri. Dan akan sangat berbeda rasanya, jika Sarah dan adiknya menumpang di sana.


"Karyawan disini di bayar untuk bekerja. Bukan melamun."


Sarah gelagapan ketika suara bariton tiba-tiba masuk ke indra pendengarannya. Betapa kagetnya ia, ketika mendongak di dapatinya wajah bosnya yang sedang menatap ke arahnya dengan tatapan setajam elang. Sesaat Sarah merasa akan di kuliti hidup-hidup.


Sarah menelan ludah susah payah. "Ma..maaf Pak." Ucapnya.


"Kamu ingat. Uang perusahaan tidak untuk di hamburkan secara percuma buat pekerja magang yang malas." Nada suara itu dingin, sedingin sikapnya. Banyak karyawan yang menganggap Bosnya tersebut galak. Tak jarang juga yang menyebut laki-laki yang baru berusia 25 tahun itu dengan sebutan 'The ice prince' karena sikapnya yang begitu dingin dan juga tegas.


Sarah mengangguk. Tapi dalam hatinya ia sedang merutuk. Enak saja laki-laki itu menyebut dirinya sebagai pemalas. Memangnya seberapa kenal ia dengan Sarah? Yang Sarah lakukan juga cuma melamun, bukan bermalas-malasan tidur di meja kerja. Lagipula tugas Sarah sudah selesai, bahkan ia sudah hampir meminta izin atasan di timnya untuk kembali ke Kampus. Namun sepertinya peraturan absurd yang mengatakan bahwa poin 1, bos selalu benar. Poin 2, apabila bos salah maka kembali ke poin 1. Rasa-rasanya Sarah ingin menggeplak kepala orang yang sudah membuat peraturan ngawur tersebut.


Bosnya berbalik, hendak kembali ke ruangannya, tapi ia menghentikan langkah. "Dan ingat, jangan pernah lagi memanggilku dengan sebutan 'Bapak.' Kau menuakan umurku dengan ilegal." Ia hanya mengatakan itu. Hal yang menurut Sarah tidak penting. Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Bosnya berlalu.


Kadang Sarah tak yakin, bisa betah bekerja di Perusahaan yang bosnya sedingin batuan beku di Kutub Utara. Sebelumnya Sarah tak pernah sekali pun bersinggungan dengan Bosnya tersebut. Hal ini di karenakan Sarah hanyalah karyawan magang. Dan bosnya jarang sekali berkunjung ke ruangannya. Tapi entah kenapa, setelah lebih dari 6 bulan Sarah bekerja di Perusahaan tersebut, tadi adalah kali pertama Bosnya berkunjung ke ruangan pegawai magang. Merasa hal yang di pikirkan tak penting, Sarah menggeleng. Ngapain juga mikirin si manusia es. Lebih sekarang ia bersiap-siap menuju Kampus. Dua jam lagi kelasnya akan di mulai.


.


.


.


.


Mampir juga di karya teman author yang iji yah guys


When We Meet Again


Bagi Freya, masa lalu adalah benang kusut yang tak kasat mata. Ia berjuang untuk tidak lagi menoleh kebelakang. Hingga suatu hari ia bertemu dengan seseorang yang mengembalikan hidupnya. Dunianya yang tadi hanya sebatas hitam, putih, dan abu abu, kini kembali menjadi mejikuhibiniu.


Menjadi seorang dokter bukan impian Freya yang sesungguhnya, tetapi tak ada yang bisa memungkiri, saat ini ia jatuh cinta dengan profesi tersebut karena seseorang yang selalu meyakinkannya.


Akan tetapi Freya melupakan satu hal, bahwa semua orang yang ia temui berpotensi menyebabkan patah hati. Hingga ia memutuskan melarikan diri melalui profesinya saat ini. Ia tak pernah berharap dipertemukan dengan orang-orang yang menabur luka dimasa lalu. Namun semesta suka bercanda. Mereka kembali bertemu.

__ADS_1


__ADS_2