Cinta Yang Halal

Cinta Yang Halal
34


__ADS_3

"Apa tidak bisa kamu memikirkannya lagi?"


Samuel menatap Nisa dengan sorot nelangsa. Sejak selesai rapat membahas proker BEM, Samuel langsung menghubungi Nisa. Menanyakan dimana keberadaan gadis itu. Seperti arahan Vika, ia harus meluruskan semuanya. Dan di sinilah mereka sekarang berada. Di sebuah Kafe bernuansa vintage, dengan sedikit sentuhan warna peach di plafonnya.


Nisa sebenarnya sedang menemani Sarah bertemu kliennya di Kafe tersebut. Namun tiba-tiba Samuel menelepon. Awalnya Nisa enggan mengangkat, tapi Sarah melempar tatapan membunuh jika Nisa tak mengangkatnya. Alhasil Samuel mengunjunginya. Dan seperti biasa, Sarah menemani, hanya saja ia berada agak jauh dari meja Samuel dan Nisa. Ia juga sedang mengobrol dengan kliennya, meski sesekali melirik ke arah Samuel dan Nisa yang nampaknya sedang terlibat percakapan serius.


"Kamu masih menyukai Alila?" Nisa tak menjawab pertanyaan Samuel, ia justru melempar pertanyaan lain.


Samuel menggeleng, wajahnya memelas. "Enggak, Nis." Ia mengusap wajah gusar. "Alila masa laluku. Dan kamu masa depanku. Jadi menurutmu mana yang harus ku perjuangkan?"


Nisa hampir tersedak ludahnya sendiri ketika Samuel dengan percaya diri menyebut dirinya adalah masa depannya.


Nisa berdehem, menetralkan degup jantungnya. "Bagaimana kalau seandainya Alila meminta kembali?"


Samuel terdiam. Namun setelahnya ia buka suara, "Aku tidak bisa menerimanya."


"Kenapa?" Nisa bertanya cepat.


Samuel membuang napas kasar, "Tidak ada alasan untuk kami kembali. Yang telah berlalu harus di tinggalkan. Karena hidup ini bergerak ke depan, bukan ke belakang."


"Apa kamu masih benci sama Alila?" Tanya Nisa lagi.


"Tidak." Ucap Samuel singkat.


"Karena kamu sudah mengetahui kebenarannya?" Nisa masih terus melempar pertanyaan.


Samuel terdiam cukup lama. Sebelum setelahnya ia buka suara. "Apa kamu percaya kalau Tuhan Maha membolak-balikkan hati manusia?"


Nisa mengangguk.


"Seperti itulah Tuhan bekerja pada hatiku. Kemarin memang saya benci sama Alila, karena merasa di khianati. Tapi ternyata setelah mengetahui kebenarannya, Tuhan melunturkan rasa benci itu sedikit demi sedikit."


Nisa tidak merespon. Otaknya sibuk mencerna ucapan Samuel dan mengaitkannya dengan beberapa kejadian.


Melihat Nisa yang diam mematung, Samuel kembali buka suara. "Kita masih bisa memperbaiki semuanya." Ucapnya kemudian.


Nisa menoleh, lalu setelahnya menunduk. "Abiku menyuruhmu untuk belajar dulu." Cicitnya.


Samuel menghela napas, "Iya, saya tau. Saya akan berusaha."


"Kalau memang aku harus menunggumu, kamu berencana menikahiku kapan?" Pertanyaan itu akhirnya tersampaikan, setelah sekian lama Nisa pendam sendiri. Baru hari ini ia memberanikan diri menyampaikan langsung pada Samuel.


Samuel tak menjawab, ia terdiam cukup lama.


Nisa harap-harap cemas. Tidak berani menebak-nebak apa yang kiranya menjadi jawaban Samuel.


"Jujur, kuliahku terbengkalai. Bayak mata kuliah yang harus ku ulang. Dan kemungkinan besar, saya tidak bisa lulus tepat waktu." Samuel membuang napas kasar. "Ilmu agamaku pun masih tidak seberapa, bahkan saya baru belajar. Sudah tentu bisa di pastikan, saya tidak bisa membimbingmu. Saya kadang tahu diri, saya tidak pantas buatmu. Tapi di sisi lain, saya cinta sama kamu. Saya tidak ingin kehilangan sosok sepertimu." Samuel tertawa getir.


Nisa terdiam, tak menyangka bahwa Samuel akan mengatakan hal itu. Ia mengira bahwa gosip yang selama ini beredar tentang Samuel yamg jarang mengikuti perkuliahan tidak benar. Tapi hari ini ia mendengar sendiri pengakuan langsung dari Samuel.


"Mungkin hal itu juga yang membuat Abimu mempertimbangkan saya. Saya tidak sepadan denganmu, Nis. Bahkan sangat jauh berada di bawahmu."


"Tapi Abiku tidak tau hal itu." Jawab Nisa. Seingatnya ia tidak pernah bercerita apapun tentang Samuel kepada Abinya sebelum Samuel datang berkunjung tempo hari. Bahkan ia sendiri tidak tahu, bahwa ternyata Samuel mengabaikan kuliahnya. Jadi bagaimana mungkin, Abinya lebih tahu?


"Kamu ingat, waktu Abimu menyuruhku untuk belajar dulu?"


Nisa mengangguk ragu-ragu.


"Tidak mungkin kan, Abimu mengatakan hal itu hanya karena beberapa pertanyaan yang beliau lontarkan. Bahkan beliau tidak menanyakan perkuliahanku. Beliau tidak banyak mengulik tentangku waktu itu." Samuel membasahi bibirnga yang kering. "Itu karena beliau sudah mengenalku."


Nisa mengerutkan kening dalam, Abinya mengenal Samuel? Sejak kapan? Nisa pikir Abinya hanya mengenal laki-laki itu sebatas karena ia mahasiswa yang pernah mengadakan kegiatan di Pesantren saja.


Seolah peka dengan ekspresi Nisa yang menunjukkan kebingungan, Samuel kembali menjelaskan. "Beliau pernah menemuiku dan membahas perihal masalah pribadiku."


Nisa terbelalak. Ia tak percaya, bagaimana mungkin Abinya melakukan hal itu? Abinya bukanlah tipe orang yang seperti itu.


"Feeling orang tua terhadap apa yang terjadi dengan anaknya tidak pernah salah, Nisa." Ucap Samuel lagi. "Begitu pun dengan Abimu. Di kali pertama pertemuanku dengannya, beliau sudah bisa membaca perasaanku sama kamu."


Otak Nisa kali ini bekerja sangat lambat. Ia berusaha mengingat-ingat apa yang di katakan Abinya waktu itu. Kalau tidak salah, Abinya memang pernah mengatakan hal serupa seperti yang Samuel katakan tadi.


"Abiku menanyakan apa saja?" Nisa bertanya dengan nada gugup. Takut kalau kalau Abinya mengucapkan sesuatu yang menyakiti hati Samuel.


Samuel tersenyum, "Beliau hanya menanyakan perihal kuliahku dan pengetahuan ilmu agamaku. Berasa di tes masuk pesantren." Samuel terkekeh.


Nisa mendengus, di saat-saat seperti ini Samuel masih saja bisa bercanda.


"Kalau kamu tidak percaya, coba nanti kalau pulang tanyakan dengan beliau." Samuel menyeruput kopi robusta yang sejak tadi tak di sentuhnya di atas meja.


"Kenapa kamu tidak pernah cerita ke saya kalau kamu bertemu Abiku?"

__ADS_1


Samuel menyunggingkan sebuah senyuman, "Untuk apa? Nanti di kira saya ngadu ke kamu lagi kalau pernah di interogasi sama beliau." Suara kekehan samuel kembali terdengar. "Bukannya saya mau merahasiakan dari kamu, hanya saja saya merasa tidak perlu memberitahumu, karena saya punya urusan dengan Abimu, bukan kamu."\=


"Tapi yang kalian bahas adalah aku." Nisa menyela cepat.


Samuel mengangguk paham, gadis di hadapannya sedang tak terima di nomor duakan. "Saya harus berurusan dengan orang tuamu dulu untuk bisa dapatkan kamu."


Rona merah menjalar di wajah Nisa. Gadis itu nampak salah tingkah. Samuel manahan tawanya agar tak meledak saat itu juga. Nisa selalu menggemaskan ketika sedang malu-malu seperti ini. Dan Samuel menyukai itu. Ah, sepertinya bukan hanya saat Nisa sedang merona seperti ini Samuel menyukainya, tapi ia menyukai segala yang ada pada diri Nisa. Nisa sempurna. Cocok menjadi ibu dari anak-anaknya. Samuel terkekeh menyadari pikirannya yang mulai ngawur.


*****


Awal Agustus terlihat begitu cerah, secerah hati Samuel saat ini. Setelah beberapa hari mendung menggelayuti hatinya, akhirnya hari ini matahari bersinar terang kembali. Menyinari tanaman-tanaman hingga kembali subur. Samuel tersenyum geli memikirkan analoginya yang terkesan lebay. Laki-laki itu menggeliat di ranjang sewaktu suara televisi di putar keras-keras di ruang tengah. Setelah subuh, ia memilih untuk tidur kembali. Meskipun kebiasaan ngebonya masih juga tak bisa hilang, setidaknya sekarang ia sudah mulai terbiasa bangun pagi-pagi buta untuk melaksanakan sholat subuh.


Samar-samar Samuel mendengar suara televisi yang bergema nyaring, acara kartun anak-anak. Jadi Samuel bisa menebak hari ini adalah hari minggu. Dan yang menonton kartun di pagi hari seperti ini tak lain tak bukan adalah adiknya.


Samuel jarang sekali menggunakan hari libur untuk pulang ke Rumah. Tapi entah kenapa, sejak kemarin ia merindukan rumah. Merindukan keluarganya, merindukan masakan Mamanya, menjadi alasan paling utama untuk kembali setelah penat menghampiri.


Samuel beranjak dari ranjang, sempat bercermin, melihat dirinya dalam balutan kaus pollo hitam dan sarung gajah duduk yang menggantikan celana, serta rambut yang masih berantakan. Kalau seperti ini, Samuel terlihat seperti gembel jalanan yang tak pernah mandi.


Samuel membuka pintu kamar, berjalan menuju ruang makan, dan menguap, namun spontan menutup lagi saat matanya menangkap sosok yang sedang duduk manis di ruang tengah sambil mengobrol dengan Mamanya.


Laki-laki itu mengucek mata, berharap ia salah lihat atau sedang berhalusinasi. Namun mau di kucek sampai matanya berdarah pun, sosok itu masih tetap di sana. Ia mengenakan tudung berwarna merah maroon. Dari arah samping Samuel bisa melihat sosok itu sedang tertawa.


Mama tak sengaja melihat Samuel yang berdiri mematung. Ia khawatir anaknya itu akan murka melihat kehadiran Alila di rumahnya.


"Ya ampun, Sam. Sana mandi dulu! Ndak malu apa dilihat Alila. Anak perjaka kok kayak kebo bangunnya siang." Mama berteriak untuk mencairkan suasana.


"Nggak apa tante, santai saja." Alila menanggapi.


Bukannya mengikuti instruksi Mamanya yang menyuruhnya mandi, Samuel justru berjalan ke arah ruang tengah. "Ngapain disini?" Tanyanya datar.


Alila berusaha menetralkan ekspresi wajahnya agar tetap terlihat santai. Meski jantungnya sudah berdetak gila-gilaan di dalam sana. "Aku cuma mau silaturahmi sama Tante saja."


Samuel mengerutkan kening dalam. Ia tak mengatakan apapun, namun tatapannya tajam ke arah Alila.


Melihat situasi yang sepertinya sebentar lagi akan terjadi perang ketiga, Mama berusaha kembali mencairkan suasana agar tidak begitu tegang. "Yuk, makan dulu. Kamu pasti belum sarapan.


Mama menggandeng tangan Alila menuju dapur. Membuat gadis itu mau tak mau bangkit mengikutinya.


Samuel berdecak sebal. "Dasar calon mantu dan mertua gagal." Bisiknya lirih.


"Sam, kamu mau jadi manekin berdiri terus disitu?" Mama menegur Samuel yang masih tak bergeming dari posisi semula. Namun akhirnya laki-laki itu mengalah. Ia berjalan dengan gontai kembali ke dapur dan duduk manis di meja makan bersama anggota keluarganya dan juga Alila.


Di meja makan hanya ada Samuel, Mama, Nizar dan juga Alila. "Papa pergi pagi-pagi sekali, katanya ada urusan kantor, padahal hari minggu. Dan Mama sudah masak banyak." Mama menjelaskan tanpa Samuel minta.


"Ayo Nak, makan." Mama menyodorkan piring kosong ke arah Alila, membuat gadis itu dengan sigap menerimanya.


Samuel masih saja mengamati keduanya. Dulu, saat berkumpul seperti ini adalah pemandangan yang paling Samuel sukai. Melihat Mamanya bisa akur dan kompak dengan gadis yang ia cintai, membuatnya benar-benar merasa bahagia.


Mama memukul tangan Samuel menggunakan sendok. "Heh, udah di meja makan masih aja ngelamun."


Samuel tak menjawab, ia langsung mengambil piring kemudian mengisinya dengan nasi dan lauk pauk yang ada di meja. Mama heran melihatnya, biasanya Samuel yang paling banyak bicara saat di meja makan, yang protes masakan Mamanya keasinan lah, sampai bercerita asal-usul nasi lengkap beserta penggagas butiran putih itu di jadikan sebagai makanan pokok.


"Kamu sudah lama nggak kesini, Lil." Mama kembali buka suara, tak betah dengan keheningan yang melingkupi di meja makan. "Walaupun kalian sudah putus, tapi kan nggak ada salahnya kalau masih saling menjalin silaturahmi."


Samuel melirik Mama, namun diabaikan. Mama malah kembali melanjutkan basa-basinya. "Kamu sekarang lagi sibuk apa?"


"Mondok tante."


"Oh ya? Alhamdulillah kalau begitu. Berarti sekarang udah pinter ngaji dong?"


Alila tersenyum malu-malu, "Masih baru belajar juga tente."


"Ya nggak papa. Samuel juga tuh, lagi belajar. Dia sekarang juga udah mulai rajin sholat, Lil. Islamnya udah bener-bener di hati, bukan hanya sekedar di KTP." Mama terkekeh.


Samuel merasa jengah dengan Mamanya yang terlihat sok biasa saja sekarang ini. Ia bahkan terlihat tidak pernah terjadi apa-apa. Padahal ia tahu, bahwa dulu putranya sudah di khianati oleh sosok di sampingnya. Entah karena menjaga image atau sekedar kasihan kepada Alila, makanya Mama rela pencitraan seperti sekarang ini.


"Ma.."


Sesaat semua orang yang ada di meja makan menatap ke arah Samuel. Mama mengangkat alis, seolah bertanya 'kenapa.'


"Kapan-kapan aku mau ngajak seseorang ke sini, boleh?"


Mama menghentikan pergerakan menyendok, "Ya boleh. Memangnya siapa yang mau kamu ajak? Fathur dan kawan-kawan? Udah biasa mah kalo mereka. Ajak aja." Ucap Mama santai.


"Nisa." Samuel menyebutkan nama tersebut sambil melirik ke arah Alila.


Alila mematung. Mendadak oksigen di sekitarnya terasa tak memadai untuk di hirup. Samuel baru saja menyebutkan satu nama yang ia kenali.


"Nisa teh saha atuh?" Mama bertanya dengan bahasa Sunda, padahal asli orang Jawa. Ia yang memang belum mengenal Nisa pun tak mengerti.

__ADS_1


"Calon mantu Mama."


Mama hampir saja menyemburkan minumnya. Anaknya baru saja menyebut nama seorang gadis dan mengatakan bahwa gadis itu adalah calon menantunya. Tentu saja ia kaget, karena selama ini Samuel tidak pernah bercerita apa-apa. Gadis yang pernah datang ke rumahnya pun bisa di hitung jari. Termasuk Alila. "Kamu teh sembarangan kalo ngomong, bikin Mama kaget aja." Ia mengambil selembar tissue untuk mengelap mulut.


"Jadi nggak percaya?" Tanya Samuel.


Mama menggeleng cepat, "Enggak. Udah ah, nggak usah ngaco." Mama mencoba mengakhiri obrolan seputar calon mantu, karena biar bagaimana pun saat ini ada Alila, gadis itu saat ini pasti sedang sakit hati mendengar pernyataan Samuel. Mama tidak ingin suasana berubah menjadi menegangkan.


"Namanya Sayyidah Annisa. Mahasiswi semester tua jurusan psikologi. Dia seorang penulis, pengajar di Pesantren, dan yang paling menarik dia hafidz Qur'an. Jadi bukan hanya sekedar pinter ngaji, tapi juga paham Al-Qur'an beserta isinya."


Alila menundukkan kepala dalam. Jika di bandingkan dengan Nisa, maka dirinya bukanlah apa-apa. Nisa adalah gadis yang nyaris sempurna dan masa depan yang cerah. Tidak seperti dirinya. Tapi selama ini ia tidak tahu bahwa hubungan Nisa dan samuel ternyata sudah sejauh itu. Padahal, beberapa hari lalu, ia sempat bertanya pada Nisa, dan gadis itu mengatakan bahwa dirinya dan Samuel hanya sebatas teman.


Mama terdiam. Pandangannya tertuju bergantian pada Alila dan Samuel. Setelahnya ia berdehem, berusaha mencairkan suasana. "Ah mimpi kamu. Mana ada perempuan yang nyaris sempurna begitu mau sama kamu yang begajulan nggak jelas." Sarkas. Mamanya memang suka menyentil hati Samuel tanpa memikirkan perasaan anaknya tersebut.


Samuel mendengus. "Kalo Mama nggak percaya ya udah. Jangan kaget kalo nanti aku kenalin dia di keluarga besar kita." Samuel tertawa. Ekor matanya masih meilirik Alila yang saat ini tertunduk dalam diam.


Baru kemarin rasanya, Alila merasa lega karena Samuel tidak lagi membencinya. Baru kemarin ia di peluk oleh Samuel, bahkan laki-laki itu mencium puncak kepalanya tanpa henti. Tapi hari ini, Samuel justru memberinya kabar yang tak di harapkan. Rasanya seperti baru saja di ajak menari di langit tertinggi namun secara tiba-tiba di hempaskan ke bumi. Hancur? Iya. Begitulah saat ini perasaan Alila.


*****


"Kamu serius sama ucapanmu tadi?"


Mama duduk di sofa ruang tengah, berhadap-hadapan dengan Samuel. Wanita paruh baya itu masih tidak percaya dengan pernyataan anaknya tadi.


Samuel mengangguk santai. Laki-laki itu duduk manis di sofa melipat kaki sambil tangannya sibuk membuka ciki milik Nizar.


"Mama teh serius." Mama memukul lengan Samuel keras sampai menimbulkan bunyi 'plak' yang kentara.


"Iyaaa Mama ku sayang, aku serius." Samuel memamerkan sederet giginya.


"Terus Alila?"


Samuel mengangkat alis. "Kenapa?"


"Mama kira kalian udah baikan."


"Siapa yang bilang?"


Mama menggaruk kepala yang di tutupi oleh jilbab abu-abu. "Alila?" Ia justru tidak yakin dengan ucapannya barusan.


"Dia bilang apa?"


"Katanya kamu sudah mau nganterin dia pulang." Ucap Mama serius.


Samuel tertawa, "Ma, nganterin anak orang pulang bukan berarti ada hubungan khusus sama dia. Sam juga sering tuh nganterin temen cewek di Kampus pulang, tapi B aja."


"Ya kan beda, temen cewek kamu sama Alila. Secara kamu itu benci banget sama dia, sampai-sampai ngeliat mukanya aja nggak sudi, tapi terus tiba-tiba mau nganterin dia pulang. Kan aneh."


Samuel tak menanggapi ucapan Mamanya. Ia hanya mengendikkan bahu yang mendakan 'tidak tahu'.


"Terus Nisa itu siapa? Anak mana?" Mama mengalihkan topik pembicaraan.


Merasa tertarik dengan topik pembahasan yang baru, Samuel memusatkan perhatian pada Mamanya. "Anaknya Pak Kyai. Dia cantik, Ma. Sempurna, dan cocok menjadi ibu dari anak-anakku kelak." Ucap Samuel jumawa.


Mama melempar bantal ke muka Samuel, msmbuat laki-laki itu protes. "Kalo ngimpi jangan ketinggian. Entah kenapa Mama ragu."


Samuel mengerutkan kening, "Ragu kenapa?" Tanyanya.


"Kamu nggak sebanding sama dia. Apa orang tuanya setuju?" Samuel merasa tertohok dengan pertanyaan Mamanya barusan. Memanglah benar, bahwa naluri seorang ibu terhadap anaknya tidak pernah salah. Mama bisa merasakan apa yang Samuel rasakan. Bahkan wanita itu bisa menebak sesuatu yang memang benar terjadi.


.


.


Kuy mampir di karya teman author yang lain, di jamin recomended..


I Want To You Love Me Now


Crystal mengalami patah hati yang amat sangat dalam sejak Cinta pertamanya memilih wanita lain. Luhan sahabatnya datang di waktu yang tepat mengobati luka itu, Status persahabatan yang mereka jalani sejak kecil awalnya biasa-biasa saja hingga perasaan Cinta itu muncul entah sejak kapan. Tapi apakah Crystal dapat melupakan Cinta pertamanya itu dan memilih Luhan sebagai Cinta berikutnya????


The Way I Love You


Hani Aulia adalah siswi SMA Mahadewa yang berusaha terlihat keren di depan teman-teman nya dengan cara berbohong agar mereka mau berteman dengan Hani, Saat SMP Hani merupakan siswi cupu yang tidak memiliki banyak teman sehingga ketika dia masuk SMA, Hani pun memutuskan untuk merubah dirinya agar dapat populer seperti orang-orang. Suatu ketika teman-teman Hani mulai memerkan pacar mereka dan hal itu membuat Hani harus berusaha mencari pacar agar tidak di katakan cupu lagi, Hani yang tak dapat berpikir lagi akhirnya mengenalkan pacar bohongannya yang dia sendiri tidak mengenal siapa pria itu, Hingga suatu saat pria yang di akui Hani sebagai pacarnya tiba-tiba pindah ke sekolah mereka. Apakah yang akan terjadi selanjutnya? Akankah cowok itu mau menjadi pacar Hani??


hello Cinderella


"Cantik itu apa sih? kata orang cantik itu relatif, kata orang cantik dilihat dari kepribadian atau inner beauty. Tapi menurut Li Ling Qi "TIDAK".


Cantik di mata orang lain itu ketika seorang wanita punya badan langsing, kulit putih, rambut lurus, dan berpenampilan menarik" begitu pikir Li Ling Qi

__ADS_1


Li Ling Qi adalah gadis yang tidak pernah mempedulikan penampilannya, tapi ia berubah drastis ketika jatuh cinta pada Deng Lun. Senior di kampusnya yang juga cinta pertama Li Ling Qi.


Tapi apakah dengan penampilan Li Ling Qi yang baru bisa menaklukan hati Deng Lun.?


__ADS_2