Cinta Yang Halal

Cinta Yang Halal
38


__ADS_3

Cuaca hari ini terlihat begitu cerah. Bahkan tak menunjukkan sedikit pun tanda-tanda bahwa semalam hujan turun dengan lebat. Padahal Nisa berharap, hari ini hujan turun seharian agar ia bisa menunda kepergiannya.


Sudah lebih dari sepuluh kali Nisa mondar-mandir di depan cermin, mematut dirinya yang mengenakan gamis berwarna peach, di balut dengan jilbab segi empat panjang berwarna senada, dan wajah yang di buatnya terlihat lebih segar dengan sentuhan liptint yang berwarna sedikit kemerahan, tidak mencolok, hanya untuk menyamarkan warna pucat bibirnya. Berkali-kali gadis itu memastikan bahwa tidak ada yang salah dengan fashionnya hari ini. Tapi entah kenapa, ia kehilangan rasa percaya diri.


Suara dering telepon yang bergetar-getar di atas nakas mengalihkan perhatiannya. Ketika Nisa melongok, nama Samuel terpampang di sana. Jantun Nisa tba-tba bedegup dengan ritme ang tak beraturan. Dengan tangan sedikit gemetar, ia mengangkat teleponnya.


"Halo, Nis. Kamu dimana?" Tanya Samuel di seberang sana.


Nisa menarik napas panjang kemudian menghembuskannya perlahan. "Masih di rumah."


"Jadi kesini, kan?"


Nisa mengangguk, "Iya, ini udah siap-siap." Ucapnya.


Samuel terdiam sejenak, sebelum akhirnya ia kembali berbicara. "Kamu yakin mau kesini sendiri? Aku jemput, mau?"


Nisa menggeleng cepat, meski Samuel tak melihatnya. "Enggak. Nggak usah. Aku sendiri aja, nggak papa." Nisa berusaha agar nada bicaranya terdengar sesantai mungkin.


"Hmmm.. Biasanya kan emang gitu, Nis. Cowok selalu jemput ceweknya. Apalagi kalau si cewek mau berkunjung ke rumahnya."


Nisa menelan ludah susah payah. Merasa tak setuju dengan asumsi Samuel. "Sam, kita ini nggak terikat hubungan yang seperti itu." Nisa memperingatkan.


Samuel kembali terdiam. Namun tak lama, ia terkekeh. "Iya lupa. Yaudah, kamu cepetan kesini kalau sudah siap. Keluargaku udah nunggu. Ya, calis?"


Nisa menggeram di dalam hati. Ingin rasanya menampeleng kepala Samuel dengan batu-bata saat ini. Enak saja dia terlihat santai dan bercanda-canda seperti itu, di saat Nisa sedang mati-matian menahan nerveous.


Nisa tak merespon ucapan Samuel. Ia langsung mematikan sambungan secara sepihak.


Sekali lagi, Nisa mematut dirinya di depan cermin untuk yang terakhir kalinya. Ia menatap pantulan wajah yang ada di dalam cermin cukup lama. Sebelum akhirnya ia mengucap basmallah, kemudian meninggalkan kamarnya.


*****


Saat tiba di depan rumah Samuel, yang pertama kali Nisa tangkap adalah kesan asri. Sekitar rumah itu di tanami banyak tumbuhan hijau. Bahkan di samping rumah, ada kebun sayur-sayuran yang hampir lengkap. Ada tomat, cabai, terong, kacang panjang, kangkung darat, sawi, dan kalau tidak salah tanaman rambat labu.


Di sebelah selatan, terlihat berdiri dengan kokoh pohon jengkol yang begitu besar dan lebat buahnya. Nisa baru tahu, ternyata Samuel calon juragan jengkol.


Nisa berdiri di depan pintu. Tangannya menggantung di udara, sedang otaknya masih berpikir, mengetuk pintu atau tidak. Sebenarnya ia bisa saja kabur sekarang, mengingat tidak ada orang yang melihatnya. Tapi sepertinya, opsi kabur hanya akan memperburuk posisinya.


"Nisa? Ngapain berdiri disitu?"


Sosok Samuel menyembul di balik pintu. Nisa secara refleks mundur ke belakang, bahkan hampir menabrak pot besar di belakangnya. Ia terlihat gugup. Samuel datang tanpa aba-aba. Bahkan Nisa tak mendengar suara kenop pintu yang di putar dari dalam.


"Nis! Ayo masuk."


Nisa masih berdiri mematung. Meski Samuel sudah mengajaknya masuk ke dalam rumah.


"Tenang aja, calon mertuamu nggak galak." Samuel mengedipkan sebelah matanya menggoda Nisa. Gadis itu berkedip-kedip lucu seperti sedang kelilipan.


Begitu memasuki rumah, Nisa di buat takjub dengan indahnya rumah tersebut. Warna hijau yang mendominasi ruangan, membuat Nisa yakin bahwa Mama Samuel menyukai warna sejuk tersebut. Di ruang tengah terdapat tiga sofa besar yang tersusun rapi mengelilingi sebuah meja kaca. Foto-foto menggantung di dinding sebelah kanan. Sedang hiasan-hiasan dinding menjadi satu di dinding sebelah kiri yang di bawahnya terdapat rak-rak panjang berisi miniatu-miniatur lucu, seperti mobil-mobilan antik, pesawat, dan miniatur-miniatur lain yang Nisa tidak ketahui bentuknya tetapi tertera beberapa nama negara di sana.


Tidak hanya sampai di situ, di sudut ruangan terdapat sebuah lemari besar, dengan berbagai macam penghargaan. Piala besar menjulang menjadi yang paling menonjol, dengan tulisan Juara 1 debat politik I am the President 2014. Selain itu ada banyak piala-piala kecil dan piagam, mulai dari piagam perunggu, perak sampai emas.


"Mama Papa di dalam. Ayo!"


Nisa kembali mengalihkan fokusnya. Ia berjalan mengikuti Samuel, melewati ruang tengah. Masih di dominasi warna hijau. Ruangan itu terlihat nyaman. Ada sebuah karpet bulu terhampar di lantai, di depannya sebuah televisi besar. Kemudian beberapa kamar. Ada 4 kamar di ruangan tersebut. Dan satu ruangan yang tidak memiliki pintu, tetapi sebuah tirai-tirai menggantung di atasnya. Di dalam terdapat satu rak susun besar tanpa pintu yang berisi banyak buku. Sepertinya itu adalah mini library.


"Eh, ini yang namanya Nisa?"


Seorang wanita paruh baya mengenakan jilbab merah marun datang menghampiri Nisa. Wajahnya begitu hangat. Meski terlihat kerutan-kerutan halus di wajahnya, tapi ia masih terlihat cantik dan energik.


Nisa menyalami wanita tersebut, mencium telapak tangannya. "Iya, tante." Jantungnya seperti sedang loncat-loncat saat ini.


"Tangannya dingin. Jangan grogi sayang." Wanita itu terkekeh sambil mengusap bahu Nisa.


Nisa tersenyum canggung. Wanita di hadapannya begitu frontal. Nisa salah tingkah di buatnya.


"Eh yaudah, sini duduk. Mau duduk dimana nih? Di ruang tengah atau di ruang tamu?" Tanyanya lagi.


"Ruang tengah aja, Ma. Dia kan bukan tamu." Samuel ikut menyela.


Wanita yang di panggil Samuel dengan sebutan Mama tersebut tertawa. Bahkan senyuman terus tersungging di wajahnya.


"Yaudah sini, sayang. Tante ambilin minum dulu." Wanita itu bergegas masuk ke dapur.


"Santai aja, Nis. Mamaku aja santuy banget, kan?" Ucap Samuel.


Nisa menoleh ke samping. Lalu kembali membuang muka ketika manik matanya tak sengaja bertemu pandang dengan manik mata Samuel.


"Sam, buku gue mana yang lo…"


Seorang laki-laki yang wajahnya hampir mirip dengan Samuel batu saja keluar dari dalam kamar. Rambutnya klimis, sepertinya ia memakai banyak pomade. Laki-laki itu menghantungkan ucapannya begitu melihat Nisa.

__ADS_1


"Bang, lo bisa sopan nggak sih kalau ada yang berkunjung?" Protes Samuel.


Laki-laki tadi melempar senyum hangat ke arah Nisa. Membuat Nisa membalasnya dengan senyuman canggung.


"Ada tamu toh. Sorry ya!"


Nisa mengangguk, mengisyaratkan jawaban 'tidak apa-apa'. Laki-laki itu kembali masuk ke dalam kamarnya lalu menutup pintu.


"Tamunya sudah datang dari tadi?" Kali ini seorang pria paruh baya yang muncul dari arah dapur. Sebenarnya ada berapa banyak penghuni di rumah ini? Batin Nisa.


Laki-laki itu membawa koran di tangan kiri, dan kopi di tangan kanan. Kacamata yang bertengger di hidung terlihat ssdikit melorot.


"Udah, pa." Samuel mengucapkan kalimat barusan sambil matanya melirik Nisa, mengisyaratkan gadis itu agar menyapa Papanya.


"Iya, Om. Saya Nisa." Nisa menangkupkan kedua telapak tangan di dada, sambil melempar sebuah senyuman sopan.


Papa mengangguk-angguk paham.


"Eh sini sini, Nisa. Duduk sini, kita cerita-cerita dulu." Mama keluar dari arah dapur. Membawa minuman lengkap dengan cemilan di atas nampan.


Nisa mengangguk canggung. Ia melirik ke arah Samuel, tatapannya seolah meminta tolong agar di keluarkan dari situasi canggung. Namun Samuel justru melempar senyum menenangkan, seolah mengatakan, 'udah nggak papa. Jalanin aja.'


Merasa tak punya pilihan, Nisa duduk di karpet. Tepat di samping Mama.


"Mama teh baru tau, kalau Samuel punya temen cewek kayak Nisa. Berhijab, cantik." Mama tersenyum hangat.


"Iya. Biasanya juga yang sering kesini cuma anak-anak BEM, sama si Alila." Papa ikut menambahi.


Mendengar nama Alila di sebut, sesaat raut wajah Nisa berubah.


"Kalau cowok udah ngajakin cewek buat di kenalin sama keluarganya, tandanya laki-laki itu serius."


Tiba-tiba ucapan Sarah terngingang di telinga Nisa. Apakah Alila juga dekat dengan keluarga Samuel? Apakah Samuel juga menganggap hubungannya dengan Alila serius? Atau begini saja, Alila juga pernah ada di posisinya sekarang?


"Masa lalu, udah nggak usah di bawa-bawa." Melihat ekspresi Nisa yang berubah, Samuel berusaha mencairkan suasana.


Papa berdehem, lalu mencebik. Paham dengan tabiat anaknya yang memang selalu naik tensi tiap membahas Alila, mantan calon mantunya. Bahkan istrinya kemarin mengatakan, bahwa saat Alila bertandang ke rumah, Samuel justru memanas-manasi gadis itu dengan mengatakan bahwa ia akan membawa calon mantu baru untuk Mamanya. Dasar, fuckboy anaknya itu, menyakiti hati wanita tanpa merasa bersalah sedikit pun.


"Eh iya, Nisa teh katanya se-letting sama Samuel, ya? Berarti sudah semester tua? Sibuk dong sekarang ngurusin persiapan menuju wisuda?" Mama gencar melempar pertanyaan kepada Nisa. Bahkan ia terlihat begitu bersemangat.


Nisa tersenyum, lalu mengangguk. "Masih sibuk ngurusin buat magang, Tante. Semester ini insyaAllah fokus kesitu dulu." Ucapnya lembut.


Nisa mengangguk. Takjub, ternyata Mama Samuel banyak tahu tentang dirinya. Seberapa banyak hal yang sudah Samuel ceritakan kepada Mamanya? Atau jangan-jangan waktu Abi menolaknya dulu, ia juga ceritakan? Nisa menggeleng. Membuang prasangkanya.


"Iya tante."


"Nggak usah heran ya, kenapa tante banyak tahu tentang kamu. Samuel tuh, gencar banget nyeritain kamu ke Tante." Ia mengarahkan dagunya menunjuk Samuel. Sedang laki-laki itu hanya melempar seringaiannya.


"Kamu pasti rajin kuliahnya, ya? Ah, nggak kayak Samuel. Udah semester tua tapi masih banyak nilainya yang nggak beres. Banyak banget tuh mata kuliahnya yang mengulang." Ucap Mama bersungut-sungut.


"Tenang aja, Ma. Sam pasti wisuda juga kok." Ucap Samuel enteng. Hal itu membuat Mama mendengus jengkel.


"Iya emang wisuda. Tapi nggak tau waktunya kapan. Bosen Mama sama Papa nunggu kamu sama Abangmu wisuda. Kuliah nggak selesai-selesai, nggak ada yang beres emang." Mama justru kali ini marah-marah. Wajahnya berubah galak, persis seperti tokoh antagonis di film-film.


Samuel cengengesan. "Ma, nggak baik marah-marah di depan calon mantu."


"Nggak papa kan, Nis? Supaya kamu tau juga gimana sifat buruk Samuel, biar nggak nyesel nantinya." Ucap Mama.


"Ma, biasa orang tuh puji-puji anaknya, supaya kelihatan baik di depan calon mantu, nah Mama, justru ngebuka aib anak sendiri." Samuel memasang wajah yang sok memelas.


"Lagian apa yang mau di puji dari kamu?" Sarkas sekali Mamanya ini, batin Samuel.


"Yaudah. Daripada kita ribut di sini, mending makan. Papa laper. Ayo, Nis!" Papa menengahi. Jika tak di hentikan, maka perdebatan antara Samuel dan Mamanya tak akan pernah menemukan ujung. Samuel akan terus menimpali dengan candaan, sementara Mamanya dengan kata-kata Sarkas yang dapat menyebabkan hati siapa pun terluka ketika mendengarnya.


*****


Sarah menautkan jarj-jemarinya menjadi satu. Ia bergerak-gerak gelisah. Pandangannya sendu, seolah-olah hujan deras akan segera turun dari pelupuk matanya.


"Lil, muroja'ah, ayo." Ajak Iin, salah satu teman kamarnya.


Saat ini mereka sedang berada di kamar. Sore hari menjelang maghrib adalah waktu muroja'ah. Menghafal kembali surah-surah dalam Al-Qur'an yang sudah di hafal sebelumnya.


Alila hanya mengangguk. Gadis itu duduk menghadap jendelanya. Tatapannya kosong, seolah menggambarkan pikirannya.


"Jangan suka duduk sendirian, Lil. Apalagi sambil ngelamun kayak gini. Nggak baik." Ucap Iin.


Gadis itu tak bereming. Bahkan Iin tak yakin, apakah ucapannya tadi di dengar oleh Alila.


Iin menggelengkan kepala. Percuma saja, sejak dua hari yang lalu, Alila seperti itu. Hanya duduk termenung sendirian. Pandangannya kosong, tapi matanya berkaca-kaca. Ia bahkan tak ikut program dan sholat berjamaah. Ia mengaku sholat sendiri di kamar, entah hal itu benar atau tidak. Hanya saja Iin idak ingin bersu'udzon. Dirinya juga sudah berkali-kali menanykan kondisi gadis iti, tapi jawaban Alila selalu sama, ia hanya menggeleng tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Iin berinisiaitif, jika Alila masih terus seperti itu, maka ia akan melaporkannya kepada Ustadzah Hanum, agar segera di tangani.


*****

__ADS_1


Nisa tertawa ketika Harris melempar bayolan yang receh namun mampu mengocok perut. Laki-laki itu jika di lihat sekilas, nampak seperti berwibawa, tapi setelah mengenalnya lebih jauh, ia tak jauh berbeda dengan samuel. Sama-sama gesrek.


"Dulu, Papa pas muda itu termasuk cogan yang di gilai banyak perempuan. Asal Papa senyum ke mereka, beuuhh mereka langsung histeris meneriakkan nama Papa." Ucap Papa jumawa. Laki-laki itu tak mau kalah dengan kedua putranya yang sejak tadi melempar guyonan sampai membuat seluruh orang yang berada di meja makan gertawa terpingkal-pingkal.


"Mama termasuk nggak, Pah?" Samuel menimpali.


Papa tersenyum kecut, "Kecuali Mamamu. Dia itu sok jual mahal. Kalo ada yang bahas ketenaran Papa, dia langsung ngejelek-jelekin Papa. Pernah ya, Mamamu ini ngehina Papa di depan umum. Dia bilang gini, 'Modal tampang doang, tapi akhlak nggak bener. Nol dalam pelajaran. Lo kira gue bakal tertarik sama lo. Amit-amit jabang bayi. Kalau pun sisa lo satu-satunya laki-laki di dunia ini yang tersisa, maka gue lebih pilih perawan tua seumur hidup daripada harus nikah sama lo!' Papa menirukan gaya bicara Mama.


Rona merah menjalar di pipi Mama. Perempuan itu komat-kamit sambil mencincang-cincang daging di piringnya menggunakan sendok dengan sadis.


Tawa Samuel dan Haris pecah seketika. Bahkan Nizar yang masih kecil pun ikut tertawa ngakak. Seolah-olah begitu puas mendengarkan ada satu kekurangan Mama yang di ketahuinya. Sebab, selama ini, Mamanya selalu terlihat benar.


Nisa hanya mengulum senyum. Keluarga Samuel begitu hangat. Baru hari ini ia mengenal mereka, tapi rasanya sudah seperti bertahun-tahun. Merela begitu menerima Nisa dengan tangan terbuka, dan memperlakukan gadis tersebut bukan seperti orang asing. Bahkan Mama seolah menyambutnya seperti anak sendiri yang baru pulang dari negeri rantau. Tidak ada rasa canggung sama sekali. Hal itulah yang membuat Nisa juga terlihat lebih rileks. Ternyata bertemu dengan keluarga Samuel tidak semenyeramkan yang ada dalam bayangannya. Bahkan rasanya ia ingin lebih lama bersama mereka. Kehangatan seperti ini sudah lama tidak Nisa dapatkan, sejak Umminya meninggal. Dulu ia juga seperti ini. Waktu apapun terasa berkesan ketika Ia, Abi, Ummi sudah berkumpul bersama. Bedanya, Samuel memiliki saudara yang menambah keramaian, sedang dirinya anak tunggal.


Nisa membantu Mama membereskan dapur setelah makan siang selesai. Ia mengambil piring-piring kotor, lalu membawanya ke wastafel dan mencucinya. Mama bahkan sudah melarang, agar Nisa tak melakukan hal itu. Tapi Nisa masih kekeuh, sehingga Mama membiarkannya. Dan tinggalah mereka berdua di dapur seperti sekarang ini.


"Nisa. Apa Samuel pernah cerita tentang Alila sama kamu?" Mama tiba-tiba buka suara, ia menanyakan hal tersebut dengan sangat hati-hati agar Nisa tak salah paham.


Nisa mengangguk. "Iya, Tante. Nisa juga kenal sama Alila." Ucapnya di barengi dengan senyuman yang menghias sudut bibirnya.


Mama menghentikan aktivitas mengelap meja. Wanita paruh baya itu berdiri menghadap Nisa saat ini. "Samuel pernah kecewa sekali dengan Alila. Dia merasa di khianati. Bahkan dia benci banget sama Alila. Hatinya begitu keras untuk membuka pintu maaf buat gadis itu. Tapi Alila, justru gencar mendekati Samuel setelah 2 tahun menghilang. Tante nggak ngerti, gimana menyikapi mereka berdua. Karena setiap kali Samuel marah pada Alila, gadis itu langsung curhat ke Tante, padahal tante tau, anak tante tersakiti karena dia." Mama menghela napas. "Tapi tante begitu lega waktu tau, Samuel naksir seseorang selain Alila." Mama menatap Nisa dengan pandangan memohon. "Tante bisa minta tolon sama kamu?" Tanyanya.


Nisa mengangguk spontan, "Minta tolong apa tante?"


"Tolong bertahan sama Samuel. Jangan biarkan Alila masuk dalam kehidupannya lagi. Sudah cukup Samuel memendam sakit hati. Saatnya dia menyambut bahagia yang baru, cinta yang baru, dengan orang yang berbeda."


Nisa mematung di tempat. Mama Samuel baru saja memintanya untuk bertahan bersama Samuel. Apakah dia bisa? Sedang permasalahan bsarnya adalah Abinya tidak menyetujuinya. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Jawaban apa yang harus ia berikan kepada wanita yang sedang bermohon kepadanya saat ini?


"Bagaimana, Nisa?" Tanyanya lagi.


Nisa mengangguk pelan. "Akan saya coba, tante. Tapi saya tidak bisa janji. Karena perihal jodoh ada di tangan Allah. Allah bisa saja mendekatkan saya dengan Samuel saat ini, tapi Ia juga bisa memisahkan saya darinya"


Mama tersenyum tulus. Ia mengangguk. Ia kagum dengan cara berpikir Nisa yang bijaksana. Gadis itu menyerahkan segala urusan kepada Sang Maha Kuasa. Jarang sekali di dapati seseorang yang seperti Nisa ini, batinnya.


*****


Nisa tiba di Pesantren setelah Ashar. Ia tadi sempat melaksanakan sholat ashar di rumah Samuel. Dan ia juga memilih untuk pulang sendiri, walau Samuel dan keluarganya meyakinkan Nisa berkali-kali agar Samuel mengantarnya. Namun gadis itu kekeuh untuk tetap pada pendiriannya. Ia tidak menghindari sesuatu hal buruk yang mungkin saja terjadi jika pulang bersama laki-laki yang bukan mahramnya.


Begitu tiba, Nisa tidak langsung menuju ke Rumah. Ia melihat suasana Pesantren putri yang begitu ramai. Para santri berlarian menuju ke arah selatan, kamar para santri. Nisa memutuskan menuju Pesantren putri terlebih dahulu, untuk melihat apa yang sedang terjadi.


"Mundur kalian!!! Atau aku akan menyakiti tubuh wanita ini!!!"


Nisa hampir saja berteriak ketika melihat Alila sedang memegang gunting dan bersiap menancapkan gunting tersebut ke perutnya sendiri.


"Diam kamu, sok suci!!" Alila membentak Ustadzah Hanum yang sedang mengaji di sampingnya. Setelahnya gadis itu tertawa cekikikan. Tawa yang tidak pernah Nisa dengar sebelumnya. Seingat Nisa juga, suara Alila berubah. Gadis itu memikiki suara lembut, bukan melengking seperti yang ia dengar sekarang ini.


"Alila kenapa?" Nisa bertanya pada santriwati yang berada di sampingnya.


"Kesurupan, Kak." Ucap gadis itu. Nada suaranya bergetar, seperti orang yang sedang ketakutan.


"Kalian semua sok suci, padahal munafik!!!!" Tatapan mata Alila nyalang. Menatap satu persatu orang yang mengelilinginya. Begitu melihat Nisa dari jarak jauh, ia kembali berteriak. "Terutama kamu!!" Tunjuknya. "Kamu munafik! Sifatmu lebih rendah dari pekerja malam! Kau bersembunyi dari sifat burukmu di bawah pakaian syar'i yang kau kenakan! Padahal sifatmu jauh lebih busuk dari busuknya sampah!" Ia terus berteriak.


Semua mata langsung tertuju pada Nisa. Apa maksud Alila mengucapkan kalimat-kalimat itu? Ah ya, mungkin saja yang sedang menguasai tubuh itu saat ini bukan Alila, tapi apa salahnya ia terhadap makhluk halus Allah yang tak di kenalnya itu?


"Sok suci, cuih." Alila meludah seolah jijik. "Kamu menyakiti hati gadis ini begitu dalam. Kamu mengaku beragama, tapi merebut orang yang dia cintai!"


Nisa tersentak. Tak menyangka bahwa kalimat itu keluar dari bibir Alila. Dia bukan perebut. Samuel yang memintanya untuk bertahan. Alila hanyalah masa lalu Samuel. Gadis itu tidak berhak menuduh Alila merebut orang yang ia cintai. Karena bagaimana pun kisah mereka sudah lama berakhir.


Nisa menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Ia berusaha


untuk tetap tenang. Gadis itu mencoba melangkah mendekat. "Ambilkan saya segelas air." Perintahnya.


Seorang santriwati dengan tergopoh-gopoh berlari lalu menyodorkan segelas air ke arah Nisa.


"Jangan mendekat!! Dia membencimu." Dia yang di maksud adalah Alila. Makhluk itu menolak Nisa mendekati Alila.


Nisa mencoba membacakan ayat-ayat ruqyah ke dalam air tersebut. "Diam kamu!! Tutup mulutmu!! Kamu tidak suci untuk merapalkan mantra-mantra itu!!" Alila terus bereriak dan belingsatan seperti sapi gila.


Nisa tak mempedulikan ucapan Alila lagi. Gadis itu terus membaca lagi ayat-ayat ruqyah. Gunting yang di pegang berhasil di lepaskan oleh Nisa. Nisa menyerahkan gunting tersebut pada Iin, dan menyuruhnya membawa sejauh mungkin.


"Naruddu bikal a'da min kulli wijhatin, wabil ismi narmihim minal bu'dhi bi syathat. Fa'anta roja'iyya ilahi wasyaidhi."


"Diam atau aku akan merobek mulut kotormu!!!" Alila terus berteriak. Ia menjambak-jambak rambutnya sendiri. Beberapa santriwati berusaha memeganginya, namun tenaga gadis itu begitu kuat.


Nisa berjalan mendekat. Memegang gelas yang berisi air, lalu kembali membacakan ayat ruqyah. Kali ini ia membaca ayat kursi, di susul tiga qul, kemudian, meniupkannya di dalam air tersebut.


Begitu selesai, Nisa meminumkan dengan paksa air tersebut kepada Alila. Gadis itu menggelengkan kesana kemari kepalanya untuk menghindari air ruqyah yang akan di minumkannya. Tapi Nisa berhasil. Dengan bantuan beberapa santriwati, air itu berhasil masuk ke dalam mulut Alila, dan di telannya.


"Aku akan kembali lagi! Ingat itu!!!"


Tubuh Alila luruh ke lantai. Tubuhnya begitu lemas. Ia memuntahkan sesuatu ke dalam baskom yang memang sudah disediakan tiap kali menghadapi santriwati yang kesurupan.

__ADS_1


__ADS_2