
Setelah memarkir motor N-Max miliknya di Garasi, Samuel langsung masuk Rumah. Ia pikir akan disambut hangat oleh penghuni Rumah, namun nyatanya Rumah justru kosong melompong tak ada satu pun anggota keluarganya. Samuel mengernyit heran, kemana semua perginya mereka? Sampai sebuah suara bising menghentikan langkahnya. Suara itu berasal dari teras belakang yang biasa digunakan Mamanya untuk menjemur pakaian.
“Bagaimana tidak, Harris sampai ketar-ketir macam anak tuyul ketahuan nyolong.”
Semua terbahak. Bahkan Nizar si bocah kelas 2 SD itu tertawa sampai memukul-mukul lantai. Sebegitu lucu kah?
“Pada ngapain, sih?”
Samuel tiba-tiba datang menginterupsi tawa anggota keluarganya.
“Eh, tumben pulang?” Harapan Samuel ingin disambut dengan hangat sepertinya harus pupus. Mamanya sendiri bahkan tak menanyai bagaimana kabar anak lelakinya tersebut, justru melempar pertanyaan yang seolah-olah tidak menginginkan kepulangannya.
Padahal hampir satu bulan lamanya Samuel tidak pernah pulang ke Rumah, sudah seharusnya kan mereka merindukannya?
Samuel mendengus, “Anak baru pulang nggak di sayang-sayang, malah ditanyain “tumben pulang?” Samuel menirukan gaya Mamanya berbicara.
__ADS_1
Semua yang ada di tempat tersebut saling pandang. “Ngapa lo baperan?” Harris yang pertama kali mulai menegur Samuel.
“Kalian pada jahat.” Samuel menunjukkan wajah cemberut yang dibuat-buat, sampai Nizar menunjukkan ekspresi ingin muntah.
“Sini gabung, Sam.” Suara itu berasal dari perempuan yang duduk disamping Harris.
Perempuan manis bergigi gingsul tersebut adalah pacar dari Kakak Samuel. Namanya Rani. Ia memang sering bertandang ke Rumah. Bahkan Mama sampai menganggap Rani sudah seperti anak kandungnya sendiri. Maklum, ngebet punya mantu.
Samuel tersenyum ramah. Ia juga cukup dekat dengan Rani. Perempuan itu sepertinya memiliki kemampuan bersosialisasi yang bagus.
“Mau mandi dulu, Kak.”
Udah sini gabung dulu.” Mama kembali menganalogikan sesuatu dengan sarkas.
Samuel berjalan gontai, separo dari wajahnya masih ia tekuk karena tak terima kedatangannya tak disambut. Laki-laki itu mencomot pisang goreng lalu memakannya dengan lahap, persis seperti orang yang kelaparan. Hal itu membuat semua pasang mata menatapnya dengan takjub.
__ADS_1
“Laper apa doyan?” Singgung Mamanya.
“Mama punya dendam apa sih sama Sam? Dari tadi sarkas bener kalo ngomong.”
Samuel bergumam tidak jelas karena mulutnya dipenuhi oleh pisang goreng.
Wanita yang umurnya sudah memasuki kepala empat tersebut tertawa. Tidak mengerti dengan kelakuan putranya yang selalu saja bersikap kekanak-kanakan saat berada dihadapannya. Padahal putranya tersebut adalah orang yang disegani beberapa Mahasiswa di Kampus. Ia menjadi wakil pemimpin dari puluhan ribu Mahasiswa.
“Sini sini peluk, Mama kangen.”
Samuel langsung tertawa penuh kemenangan, ia ndusel-ndusel di pelukan Mamanya persis seperti seorang balita. Bagi Mamanya, Samuel tetaplah putra kecil yang 21 tahun lalu ia lahirkan dengan penuh rasa bangga. Tidak peduli setinggi apapun jabatan yang di pangku laki-laki itu saat ini.
💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐
Hai hai pembaca Setia Cinta yang halal, author mau mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalakan dan semoga kalian selalu di berikan kesehatan di masa-masa pandemi ini, Jangan lupa untuk memberikan komentar dan like yang manis yah biar author tetap semangat melanjutkan chapter nya ...
__ADS_1
Mampir juga di karya author yang lain yah, di jamin ceritanya nggak bakal kalah seru dari yang ini..🤩
❤️