Cinta Yang Halal

Cinta Yang Halal
25


__ADS_3

Layar monitor menyala terang. Sebuah halaman software pengolahan kata aktif dan pointer berkedip-kedip di tengah paragraf. Keyboard di lupakan, tak tersentuh sejak beberapa menit lalu. Tak ada yang bergerak kecuali cahaya dari mouse. Cahaya merah dari bagian bawah mouse hitam berpendar menerangi sebuah benda tipis persegi panjang. Salah satunya tercetak sidik jari samar-samar berwarna abu-abu.


“Hmmm.” Terdengar suara seorang gadis berdehem yang berasal dari pintu.


Samuel yang duduk di depan PC berjengit. Anak rambutnya jatuh menutupi pelipisnya. Laki-laki itu baru sepenuhnya sadar dari lamunannya, saat Vika mendekat dan duduk disampingnya. “Gimana hubungan lo sama Nisa?”


Samuel menarik napas pasrah. “Ya gitu.”


“Ya gitu gimana? Bukannya kalian pacaran?”


Samuel menggeleng, “Tidak ada pacaran dalam Islam. Dia bilang gitu.”


Vika mengernyit heran, “Bahkan Islam tidak membolehkan pacaran? Kenapa?”


“Katanya Islam tidak pernah menawarkan solusi untuk dua insan yang saling jatuh cinta selain komitmen.” Jawab Samuel.


Vika masih merasa tak puas dengan jawaban Samuel. “Bukannya pacaran juga sebuah komitmen?”


Samuel mengendikkan bahu. “Ilmu gue ke arah sana masih dangkal. Gue nggak mau salah ngasih pengertian. Kalau mau tau lebih jelasnya, temui Nisa.”


“Gue nggak pernah ketemu dia sejak acara Safari Ramadhan selesai.”


“Gue bisa nemenin lo ketemu dia.” Ucap Samuel.


Vika melirik Samuel sekilas lalu memutar bola matany. “Modus kan, lo?”


Samuel tertawa, “Gue cuma berniat baik.”


Suara derit pintu yang di dorong dari luar menghentikan percakapan Samuel dan Vika.


“Gue capek, capek banget, ngurus kayak ginian.” Fathur membanting amplop tebal ke lantai.


Samuel dan Vika hanya menatap jengah kelakuan Fathur.


“Semua pembicara pada sibuk. Kagak ada tuh mereka di ruangannya.” Fathur mengambil posisi duduk di samping Samuel. “Prof. Nurman nggak bisa jadi pembicara tahun ini. Kalian pikirin, siapa yang cocok jadi pengganti beliau.”


“Pak Saher?” Vika akhirnya buka suara.


Ide Vika disambut dengusan dari bibir Fathur. “Lo yakin? Ini bakalan ngisi sambutan loh. Bisa dua jam kalo beliau yang ngisi.”


“Untuk yang ngisi sambutan kan udah ada rektor I sama rektor II. Kita juga sudah punya public influencer, gimana kalau penulis? Mereka bisa sharing ilmu kepenulisan sekaligus menumbuhkan minat baca.” Samuel yang sejak tadi juga diam, kali ini ikut menanggapi.


Vika menjentikkan kedua jarinya, “Ide bagus. Tapi nggak gampang buat janji sama penulis. Ini sudah H-6 loh.”


“Kita cari penulis asli asal Jakarta. Biar gue yang urus.”


Seperti mendapat suntikan semangat kembali, Fathur berdiri dengan penuh semangat. Seolah-olah lupa, bahwa ia tadi datang dengan raut putus asa.


*****


“Ada apa?”


Nisa berdiri di depan Gazebo, memghadap menyamping dari posisi berdiri Samuel. Gadis itu baru saja menyelsaikan Kuliah jam terakhir, bahkan ia baru saja selangkah keluar dari pintu kelas, saat Samuel tiba-tiba berdiri di depan kelasnya dengan senyuman maut yang biasa ia gunakan untuk meluluh lantakkan hati wanita.


“Mau balik bareng?”


Nisa melirik ke arah Samuel. Antena waspada menyala-nyala di kepalanya.


“Eh maksudku, aku naik motor sendiri, kamu naik motor sendiri. Aku mau ke Pesantren. Sekalian bareng, begitu.” Samuel membenahi ucapannya saat dilihatnya Nisa yang sudah merubah ekspresi wajahnya.


“Kamu duluan saja. Saya masih ada urusan.”


“Saya tungguin.” Sela Samuel cepat.


“Saya masih lama.”


“Nggak papa. Tetap saya tungguin.”


Nisa menghembuskan napas kasar. Ia tadi sempat lupa, siapa yang ia hadapi sekarang. Samuel adalah makhluk paling keras kepala. Bahkan semua orang tahu akan hal itu.


“Memangnya ada perlu apa mau ke Pesantren?” Nisa bertanya dengan nada tenang.


Samuel meneggakkan punggung setelah sejak tadi bersandar di balik pilar. “


“Mau belajar ngaji. Kamu yang nyuruh, kan?”


Nisa seperti hendak merutuki dirinya sendiri. Selain keras kepala, Samuel adalah penuntut ulung. Laki-laki itu tidak pernah melupakan ucapan orang-orang terhadapnya yang dianggap penting, apalagi jika itu sebuah janji, maka sampai mati ia akan mengingatnya. Dan sayangnya, Nisa baru mengetahui hal itu.


“Kalau begitu silahkan menunggu.” Nisa melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. “Sekitar setengah jam lagi saya akan kembali.”


Samuel mengangguk. Senyum manisnya tersungging. Jika tak segera memalingkan wajah, maka Nisa akan terhipnotis dengan senyuman tersebut. Gadis itu mengucap istighfar berkali-kali di dalam hati.


“Hati-hati.” Samuel melambaikan tangan saat Nisa pamit hendak pergi. Dan lagi-lagi jantung Nisa berdetak-detak tak sewajarnya.


*****


Ketika sampai di Pesantren, hal yang pertama kali Samuel lihat adalah pemandangan para Santri yang sedang sibuk mempersiapkan diri untuk memasuki sholat maghrib. Ada yang sudah duduk-duduk di emperan Masjid, ada yang memakai pakaian sholat lengkap tapi masih sibuk kesana-kemari, ada pula yang masih heboh berebut giliran wudhu.


Samuel sendiri hanya berdiri menyaksikan kebisingan tersebut. Sampai seorang santri yang berlarian tidak sengaja menabraknya. “Eh, maaf, Bang, maaf.” Ucap santri tersebut sambil menunduk-nundukkan kepalanya.

__ADS_1


Samuel tersenyum. Ia tidak pernah melihat anak-anak seumuran mereka yang begitu sopan terhadap orang yang lebih tua, sampai-sampai tiap santri yang melewatinya selalu menunduk dengan mengucap kata “permisi” saat lewat. Dan santri di hadapannya sekarang ini sedang meminta maaf layaknya orang yang baru saja melakukan kesalahan besar. Padahal ia hanya tak sengaja menabrak Samuel.


“Santri disini memang diajarkan untuk hormat kepada orang yang lebih tua dari mereka. Adab diatas ilmu.”


Seseorang yang memakai jubah serta kopiah berwarna putih menghampiri Samuel. Wajah laki-laki itu bersih dan bercahaya. Nampak dua tanda hitam di pelipisnya.


Melihat penampilannya yang berbeda, membuat Samuel bisa menebak, bahwa laki-laki di hadapannya bukan seorang santri. Karena wajahnya yang masih terlihat muda, jika ditaksir usianya masih sekitar 28 tahunan.


“Saya Naim. Salah satu tenaga pengajar di Pesantren ini.” Laki-laki itu terlebih dahulu memperkenalkan diri.


Samuel mengulurkan tangannya, nampak bersahabat.


“Ada perlu apa, ya?” Naim kembali buka suara.


“Saya ada perlu sama Ustadz Agam.”


Naim tersenyum. “Oh Ustadz Agam. Beliau lagi persiapan sholat maghrib. Lebih baik kita sholat berjamaah dulu, ya.”


Samuel mengangguk seraya tersenyum ramah. Ia mengikuti Naim untuk melaksanakan sholat berjamaah di Masjid Pesantren.


*****


Nisa sejak tadi menunggu di Ruang Mulaqot untuk Pesantren putra, guna menunggu kedatangan Samuel. Laki-laki itu tadi mengatakan hendak menunaikan sholat maghrib terlebih dahulu, namun sudah lewat waktu sholat maghrib sejak tadi, ia sama sekali belum menunjukkan batang hidungnya di hadapan Nisa.


“Ngapain disini, Nduk?”


Nyaris saja Nisa terjengkang ke belakang kalau saja keseimbangannya tidak bagus. Suara yang begitu familiar tersebut mengejutkannya. Ketika ia mendongak, di dapatinya wajah Abinya yang penuh tanya.


“Nunggu temen Nisa, Bi.” Jawab Nisa ragu-ragu.


Abi mengambil posisi nyaman dengan duduk di hadapan Nisa. “Temen? Siapa? Sarah? Kok di Pesantren putra?” Abi memberondongi Nisa dengan beberapa pertanyaan, membuat ia kelabakan hendak menjawab yang mana terlebih dahulu.


“Ehm, anu Bi…”


“Assalamu’alaikum.”


Nisa tidak sempat menyelesaikan kalimatnya saat dua orang terlihat masuk ke dalam ruang Mulaqot. Baru saja hendak bernapas lega, Nisa dibuat kembali kaget sekaligus was was melihat kehadiran Samuel.


Samuel mencium tangan Abi Nisa dengan penuh takzim. “Apa kabar Pak Kyai.”


Abi masih mengamati pemuda di hadapannya tersebut. Diam-diam Nisa melirik interaksi kedaunya.


“Alhamdulillah, baik. Kamu yang kemarin ngadain safari Ramadhan disini, kan?”


Samuel mengangguk, plus dengan senyum andalannya yang menampilkan deretan rapi gigi giginya. “Nggih Pak Kyai. Saya Samuel.” Ucapnya sopan.


Pak Kyai manggut-manggut. “Ada perlu apa, nak?”


Nisa memainkan ujung jilbabnya, ia gelish. Ia sedang memastikan bahwa saat ini Abinya pasti sedang meliriknya dengan lirikan penuh tanya yang biasa beliau lemparkan ketika sedang curiga dengan Nisa.


“Oh, kalau begitu apa sudah ketemu dengan Ustadz Agam?” Alih –alih menunjukkan ekspresi tidak suka, Abi justru melempar pertanyaan kepada Samuel dengan nada bersahabat.


Samuel mengangguk. “Sudah, Pak Kyai.”


“Kalau begitu, apa urusanmu sudah selesai?”


Samuel kembali mengangguk, “Sudah, Pak Kyai.”


“Yasudah, silahkan selesaikan urusan kalian dulu.” Abi melirik kearah Nisa, membuat Nisa seperti kucing yang ketahuan nyolong ikan. “Saya permisi dulu. Ayo, Im.”


Nisa melongo, takjub dengan perangai Abinya yang biasa super over protective, namun saat ini ia justru memberikan kesempatan kepada Nisa untuk menghabiskan waktu dengan Samuel.


Selepas kepergian Abi, Nisa masih berdiam diri di tempatnya. Bahkan matanya masih memperhatikan punggung Abi yang bergerak semakin menjauh.


“Kenapa Nis?”


Samuel membuyarkan lamunan Nisa.


“Nggak papa. Jadi bagaimana? Sudah ketemu Ustadz Agam?” Seperti biasa, Nisa tampak tenang.


Samuel akhirnya mendudukkan diri di kursi rotan yang berada tepat di hadapan Nisa. “Sudah. Saya harus rutin kesini buat belajar ngaji, kata beliau.


Nisa mengangguk. “Kalau begitu kamu boleh pulang.”


“Kamu ngusir aku?” Samuel tersinggung dengan ucapan Nisa yang terkesan menuyuruhnya untuk segera pergi.


Nisa tertawa. Tawa pertama yang ditunjukkan gadis itu selama mengenal Samuel. Nisa hampir tidak pernah tersenyum atau tertawa di hadapan Samuel, paling banter menganggukkan kepala atau memasang wajah polosnya. Ia lebih banyak menunjukkan wajah dingin serta serius yang dimilikinya.


*****


Waktu mengejar dan menuntut agar Alila lekas meninggalkan cermin. Namun hingga detik ini, ia masih mematut diri di depan cermin. Menyetubuhi bayangan yang terpantul dan menampilkan sosok gadis yang memandang sayu. Ia menambahkan maskara pada bulu mata dan memulas eyeshadow cokelat pada kelopak mata.


Suara dering handphone yang berbunyi nyaring diatas nakas membuat perhatian gadis tersebut teralihkan.


“Halo, Alila, aku sudah di depan.”


Alila mengangguk. Ia tahu jelas laki-laki di seberang sana pasti tak melihat anggukannya. Namun ia hanya sedang malas berbicara, bahkan ketika sambungan di putus secara sepihak. Untuk terakhir kali, Alila mengamati diri sendiri, sekedar memeriksa apakah ada yang tertinggal. Ia menutupkan sebuah tudung abu-abu yang hanya di selampirkan serabutan di atas kepalanya. Menghela napas panjang, ia memejamkan mata selama sepersekian detik, lalu melangkah keluar.


“Sudah siap?”

__ADS_1


Alila mengangguk, kemudian melangkah masuk ke dalam mobil.


“Rileks aja, nggak papa. Disana nggak akan ada orang yang bakalan bully masa lalu lo.”


Alila kembali memejamkan mata. “Apa gue masih pantas?” Suara itu terdengar lirih.


Laki-laki di sampingnya justru terkekeh, “Tentu.” Ucapnya optimis.


“Kahfi, gue takut dihakimi atas masa lalu gue.” Suara itu terdengar bergetar.


Kahfi tersenyum, berusaha menyalurkan kekuatan pada sepupunya tersebut. “Disana bukan tempat-tempat pergunjingan yang sering lo jumpai. Disana tempat suci, dimana semua orang menghargai privasi dan menjaga rapat-rapat aib orang lain.”


Alila menghela napas pelan. Ia mengamati jalanan padat di luar kaca jendela. Selalu ada pintu pertaubatan, untuk mereka yang kotor di masa lalu. Selalu ada kesempatan, selagi napas masih bisa di hela dengan bebas. Gadis itu terdiam, merenungi nasibnya yang begitu malang. Beruntung, masih ada orang yang mau menerimanya, saat dirinya di tolak, bahkan oleh ibunya sendiri. Kahfi adalah sepupunya yang selama ini memberikan bantuan kepada Alila di masa-masa sulit gadis itu. Sejak lost communication dengan keluarga intinya, Alila tidak lagi pernah mendapat sepeser pun uang untuk memenuhi kebutuhannya dari orang tuanya. Beruntung ia memiliki Kahfi, yang selama 2 tahun terakhir menjadi sosok kakak yang tidak pernah meninggalkan Alila. Bahkan Kahfi adalah orang yang menyarankan Alila untuk mengasingkan diri di tempat yang tidak di jumpai oleh orang-orang yang di kenalinya. Ia mengirim Alila ke luar negeri, atas persetujuan gadis tersebut.


“La, bengong sih. Diajak ngomong juga.”


Alila mendongak, “Hah? Kenapa?”


Kahfi kembali memfokuskan pandangan ke arah jalanan. “Gue bilang, apa lo yakin mau tinggal disana?”


Alila mengangguk ragu-ragu, “Yakin?” Pernyataannya justru lebih mirip pertanyaan.


Kahfi membelokkan mobil ke arah lorong yang jauh lebih lengang di bandingkan jalanan Ibukota. Begitu sampai di depan pintu gerbang besar, Kahfi mematikan mesin. “Disini.”


Alila mengamati setiap inchi wilayah tersebut. Terdapat banyak pepohonan di depan, termasuk pohon mahoni besar yang terletak di samping gerbang.


“Ayo masuk.”


Alila memperbaiki posisi tudungnya yang dikibarkan oleh angin. Dengan gerakan rikuh dirinya melangkah memasuki pintu gerbang.


Setelah melewati gerbang, pemandangan yang dapat di tangkap oleh kedua netra Alila adalah sekelompok anak kecil yang sedang bermain, ada yang berlarian kesana-kemari, ada yang bermain petak umpet, ayunan, bola bekel, engkleng, dakon, wajah-wajah mereka tampak gembira. Melihat pemandangan itu, Alila mengelus perutnya yang ramping.


“La, ayo.”


Suara Kahfi memecah lamunannya. Ia kembali pada kesadarannya, lalu bergerak mengikuti langkah panjang Kahfi.


“Assalamu’alaikum.”


Seorang gadis yang sedang menyiram tanaman di taman yang ditumbuhi banyak sekali bunga menoleh, saat Kahfi mengucapkan salam. Buru-buru gadis itu melepas selang di tangannya ke tanah, lalu menghampiri Alila dan Kahfi yang berdiri tak jauh dari area taman.


“Wa’alaikumussalam. Abi lagi di Pesantren putra, Mas.” Ucapnya lembut.


Kahfi tersenyum. Alila dapat menangkap jenis senyuman berbeda yang di lemparkan Kahfi kepada gadis di hadapan mereka.


“Kalau begitu biar saya yang kesana temui beliau. Sebelumnya, kenalin dulu, dia Alila. Sepupuku yamg ku ceritain dulu.”


Gadis itu menatap kearah Alila, ia tersenyum ramah. Ada dua lesung pipi samar yang tercetak di kedua pipinya. Cantik sekali. Ia memakai jilbab hitam panjang yang menutupi dada, dipadukan dengan gamis berwarna biru navi polos. Begitu sederhana, namun ia terlihat anggun. Bahkan Alila sempat berpikir, bahwa ia adalah malaikat yang menjelma menjadi manusia.


Gadis itu mengulurkan tangan. “Aku Nisa. Kamu pasti Alila?”


Alila dengan ragu-ragu mengangguk lalu turut mengulurkan tangan untuk kemudian berjabat dengan Nisa.


“Kalau gitu, saya permisi dulu.”


Alila menahan lengan Kahfi. Ada sorot khawatir di dalam mata gadis itu. Nisa yang melihat hal itu buru-buru meyakinkan. “Gimana kalau kita masuk dulu? Mas Kahfi mau ketemu sama Pak Kyai dulu.”


Perlahan Alila melepaskan gengamannya pada lengan Kahfi.


“Gue Cuma bentar. Dan dia gadis baik.” Bisik Kahfi kepada Alila.


Begitu punggung Kahfi sudah tak terlihat, Nisa menggandeng tangan Alila memasuki Rumah. Nisa tahu persis, ada rasa tak nyaman yang saat ini Alila rasakan. Nampak dari gerak-gerik gadis itu yang bergerak-gerak gelisah, dan raut wajahnya yang menunjukkan keasingan.


“Tunggu disini.”


Nisa berlalu meninggalkan Alila seorang diri. Setelahnya ia kembali membawa sebuah teh hijau yang aromanya menenangkan. “Kata orang, green tea bisa membuat pikiran tenang.” Nisa memamerkan seulas senyum cantik miliknya.


Alila tersenyum, kali ini jauh lebih rileks dari sebelumnya. Gadis itu meminum green tea buatan Nisa sambil menghirup aromanya dalam-dalam.


“Aku baru tau, kalo Mas Kahfi punya sepupu perempuan secantik ini.” Nisa masih berusaha membangun obrolan.


Alila kembali tersenyum. “Memangnya dia nggak pernah cerita?”


Nisa menggeleng, “Mas Kahfi jarang cerita masalah pribadi sama saya. Paling banter, dia cerita kerajaan khayalan versi dia.” Nisa terkekeh mengingat kenangannya dengan Kahfi kurang lebih 10 tahun yang lalu.


Alila ikut tertawa. “Kalian deket sejak kapan?”


“Sejak kecil. Waktu itu Mas Kahfi sering datang kesini karena Om Sahar donatur tetap yayasan ini. Dia sering ikut, alasannya mau ketemu sama adik-adik panti, padahal kalau sudah sampai sini, yang dicariin aku. Suka ngerecokin kalau aku lagi muroja’ah, sampe-sampe Ustadzah yang bertugas nyimak hafalanku pernah ngejar dia sampai depan pintu gerbang sana, gara-gara aku digangguin sampai nangis.”


Alila tidak bisa menyembunyikan tawanya. Gadis itu nampak bersahabat sekarang. “Dulu aku nggak deket sama Kahfi, meskipun kami sepupuan. Mama Papaku jarang ikuti pertemuan keluarga, karena rumahku di Tasikmalaya, sedang keluarga besar di Jakarta. Tapi pas aku mulai masuk SMP, orang tuaku pindah ke Jakarta, tapi tetap aja aku nggak deket sama Kahfi, karena aku anaknya butuh adaptasi lama baru bisa akrab sama orang.”


“Tapi sekarang kalian malah kelihatan kayak adik kakak.” Ucap Nisa.


Alila menunduk, mencoba menyembunyikan kesedihan di matanya. Namun tak berlangsung lama, karena setelahnya ia nampak biasa lagi. “Oh ya? Mungkin karena aku nggak punya saudara kali, ya.” Alila mengakhiri kalimatnya dengan tawa.


Perbincangan keduanya diakhiri setelah melihat kedatangan Kahfi bersama dengan Pak Kyai. Begitu mereka duduk, Kahfi langsung menyampaikan maksud dan tujuan kedatangannya.


“Jadi begini Pak Kyai, Alila ini mau mondok disini. Dia mau belajar agama lebih dalam, mohon bimbingannya.”


Pak Kyai tersenyum, “Kami membuka pintu untu siapa saja yang mau belajar agama dengan sungguh-sungguh. Untuk Alila, kamu di terima disini. Tuntutlah ilmu sebanyak mungkin disini, nak.”

__ADS_1


Mendengar ucapan Pak Kyai yang begitu lembut, layaknya seorang ayah berbicara kepada putrinya, membuat Alila teringat mendiang ayahnya. Dulu, ayahnya juga adalah sosok lembut yang hampir tidak pernah berkata kasar padanya. Ayahnya begitu menyayangi dirinya, hingga apapun yang ia inginkan akan langsung terwujud dalam sekejap mata. Namun perasaan cinta yang berlebih dari ayahnya terdap dirinya jugalah yang menyebabkan lelaki yang ia sayangi tersebut meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya.


__ADS_2