
Nisa berkali-kali melihat layar ponselnya. Memastikan apakah ada pesan masuk atau tidak. Namun sudah lebih dari satu jam, ponselnya tidak menunjukkan tanda-tanda adanya pesan.
"Heh, kenapa sih? Dari tadi gelisah banget. Ini laporan yang harus di ikuti cara kerjanya." Sarah menyerahkan setumpuk berkas yang isinya entah apa kepada Nisa.
Mau tak mau, Nisa meletakkan ponselnya, kemudian mengambil laporan tersebut, membacanya sekilas. Lalu menyalakan laptop, untuk membuat laporan berbeda dengan cara yang sama persis dengan tumpukan kertas yang di serahkan padanya tadi.
Baru 5 menit jemarinya sibuk menari-nari di atas keyboard, suara denting ponsel miliknya menginterupsi. Ada sebuah pesan masuk. Buru-buru Nisa membacanya.
From: Samuel
Aku di depan
Nisa mematikan laptopnya, menyusun tumpukan kertas di atas meja dengan gerakan acak. Lalu ia berlari keluar, sebelum Sarah mendapatinya.
Nisa berjalan tergesa-gesa. Tadi ia hanya mengirimkan SMS kepada Samuel apakah mekiliki waktu luang, jika ya, dirinya ingin membicarakan sesuatu. Dan SMSnya tersebut tidak mendapatkan balasan apapun lebih dari satu jam. Nisa pikir, Samuel tidak akan menjawabnya. Tapi sekarang, justru laki-laki itu tiba-tiba mengatakan sudah berada di depan tempat magangnya. Benar-benar tidak bisa di tebak. Pikirnya.
Nisa kembali mempercepat langkahnya menyusuri koridor, hingga matanya menangkap sosok yang sedang berdiri di depan pintu Rumah Sakit. Jarak keduanya berkisar 7 meter. Nisa berhenti sejenak untuk menetralkan detak jantungnya.
*****
"Katanya mau ngomong?" Samuel mulai berbicara setelah membuang putung rokok ke dalam asbak.
Saat ini mereka sedang berada di Cafe seberang Rumah Sakit tempat Nisa magang. Sejak tadi hening melingkupi keduanya. Nisa tidak tahu harus memulai pembicaraan darimana.
"Maaf sebelumnya kalau saya menyita waktumu." Alih-alih bicara to the point, Nisa justru berbasa-basi.
Samuel mengangkat kedua alisnya, lalu bersikap sok santai dengan melipat kedua tangan di atas meja, seolah bersiap mendengarkan dengan hikmad apa yang ingin Nisa sampaikan.
"Kenapa kamu mau mengundurkan diri dari jabatanmu?" Nisa ingin merutuki kebodohannya. Harusnya ia menggunakan kalimat pembuka yang pas sebelum melempar pertanyaan itu.
Samuel mengangkat kepala, menatap lurus ke arah Nisa. Di tatap seperti itu, Nisa merasa sekujur tubuhnya hampir beku. Buru-buru ia membuang pandangan ke sembarang arah.
"Kalau kamu menanyakan ini karena ada seseorang yang menyuruhmu, maka saya tidak mau menjawab. Karena kamu pasti sudah tau jawabannya." Tatapan Samuel masih tak lepas dari sosok yang sedang duduk dengan kaku di hadapannya.
Susah payah Nisa menetralkan detak jantungnya. Tatapan Samuel seolah mengintimidasi. "Saya mau tau langsung dari kamu." Ucapnya kemudian.
Samuel memperbaiki posisi duduknya. "Menurutmu mana yang lebih bermanfaat antara akar dan daun?" Tanyanya.
Nisa mengerutkan kening, tak paham dengan ucapan Samuel yang tiba-tiba membahas akar dan daun. Ibaratnya seperti ini, Nisa menanyakan perihal apa itu kipas angin, tapi Samuel malah menyebutkan jenis-jenis kipas angin.
"Akar." Namun tak urung, Nisa akhirnya menjawab juga pertanyaan Samuel.
"Kenapa akar?" Samuel kembali melempar pertanyaan.
"Akar mengandung garam mineral yang mengantarkan makanan pada pohon. Tanpa akar, pohon tidak akan bisa hidup."
Samuel mengangguk-angguk. "Tapi akar hanya memberikan manfaat bgi tanaman itu sendiri."
"Lalu?"
"Kalau menurutku yang lebih bermanfaat adalah daun."
Nisa semakin mengerutkan kening mendengar jawaban Samuel. Namun ia masih tidak berniat buka suara, menunggu Samuel melanjutkan kalimatnya.
"Akar hanya memberi manfaat pada pohon. Ketika pohon itu mati, maka akar ikut mati. Dan habislah sampai disitu jasanya. Sementara daun tidak pernah menunggu dewasa untuk nermanfaat. Daun tidak egois. Dia menghasilkan oksigen untuk kehidupan. Bahkan energi yang di hasilkan melalui proses fotosintesis tidak di simpan di daun, tetapi di serahkan pada buah, pada akar untuk tumbuhan tertentu. Kemudian waktu gugur itu datang, ia pun jatuh dan menerima takdirnya. Bahkan meski sudah gugur dan membusuk, humus bisa di gunakan untuk pupuk."
Nisa terdiam sejenak, berusaha mencerna ucapan Samuel. "Jadi, kamu akan meniru prinsip daun?" Tebaknya.
Samuel tak menjawab, ia hanya mengendikkan bahu, lalu meminum espresso miliknya.
Samuel meletakkan gelas espressonya, "Saya ingin meniru prinsip daun, tapi sepertinya sulit."
"Apa itu ada kaitannya dengan kamu yang berniat melepas jabatan?" Tambak Nisa tepat sasaran.
Samuel menghela napas berat. "Bisa saja seperti itu kalau memang kamu menilainya begitu. Saya ingin berkonstribusi untuk rakyat, ummat yang jauh lebih banyak di bandingkan mahasiswa yang ada di Kampus kita. Kamu tahu? Berapa banyak rakyat di negeri kita ini yang haknya di rampas dengan paksa? Dan hanya segelintir orang saja yang mau memperjuangkan mereka. Saya mau menjadi bagian orang yang memperjuangkan mereka." Samuel menyandarkan punggungnya di kursi. "Menjadi wakil presiden BEM hanya membuat saya di tuntut untuk terus menjaga citra baik, padahal saya adalah seburuk-buruknya manusia." Samuel tertawa sumbang. "Ketika saya menjadi aktivis luar yang berusaha memperjuangkan hak rakyat, saya tidak perlu repot-repot menunjukkan citra baik yang palsu. Saya menjadi diri saya sendiri, menjadi apa adanya saya. Di sukai atau tidak, itu tidak akan akan mengkhawatirkan saya untuk mencoreng nama baik sebuah lembaga."
Nisa terdiam. Kali ini ia benar-benar tahu apa yang di inginkan Samuel. Dan satu hal yang harus ia sadari, bahwa tidak ada siapa pun yang bisa menghentikan niat Samuel. Keputusan ada di tangannya. Toh, melepas jabatan bukanlah sebuah dosa besar.
Entah kenapa, ada sedikit kelegaan yang menyusup ke dalam hati Nisa. Sebagian dari hatinya mensyukuri bahwa Samuel melepas jabatan karena sebuah niat yang baik. Setidaknya hal itu tidak ada kaitannya dengan dirinya.
"Oh iya, tolong kalau kamu ketemu Vika, jangan sampaikan apa yang saya sampaikan tadi ke dia. Dan lain kali, jangan suka berlebihan menaruh belas kasih kepada orang. Sekali-kali kamu harus bilang tidak, kalau memang kamu merasa tidak nyaman."
Nisa mengerjap. Ia tak menyangka bahwa Samuel tahu rencananya dengan Vika. Ia tidak mau bertanggung jawab, jika Vika kena marah setelah ini.
*****
"Tadi jalan kesini barengan sama siput?" Wajah tertekuk Alfian berikut dengan kalimat sarkasmenya langsung menyapa Sarah begitu tubuhnya mendekat ke lahan parkir Rumah Sakit. Mukanya ruwet parah, seperti sedang kelelahan dan pusing. Sumpah demi konoha, ini adalah pertama kalinya Sarah melihat muka Alfian yang biasanya ganteng jadi kusut seperti kain pel yang baru saja di peras sampai kering.
Sarah memasang seyum di bibir meski di semprot kalimat sarkasme ala Alfian Fatah Situmorang. "Tadi ada berkas yang harus di kerjain dulu." Ucap Sarah, masih berusaha mempertahankan senyum manisnya.
__ADS_1
Alfian mengabaikan perkataan Sarah. Dia bergegas berjalan menuju tempat dimana mobilnya di parkirkan, memaksa Sarah untuk sedikit berlari mengejar langkahnya yang panjang. Sarah menggerutu di belakang.
Begitu sampai di dalam mobil, Alfian tidak segera melajukan mobilnya. Ia justru duduk diam menyandarkan punggung ke kursi lalu memejamkan mata. Sarah yang melihat hal itu tidak ambil pusing. Ia memilih memainkan gadget miliknya dan mulai sibuk menggulir-gulir feeds instagram.
"Kamu kapan wisuda?"
Setelah senyap melingkupi keduanya, tiba-tiba Alfian melempar pertanyaan sebombastis itu.
Sarah mendengus, ia hanya melirik ke arah Alfian sekilas lalu kembali sibuk dengan gadgetnya. "Pertanyaan retoris." Jawabnya.
Alfian membuka mata, lalu menatap ke arah Sarah. "Papa minta pernikahan kita di percepat."
Sarah hampir saja menjatuhkan ponsel kesayangannya kalau saja gerakan tangannya tidak sigap. "Bukannya kita sepakat menikah setelah saya wisuda?!" Sarah mulai naik pitam. Nada bicaranya tidak terdengar santai sama sekali.
Alfian menatap ke arah Sarah dengan tatapan yang sulit di artikan. Sarah membuang pandangan ke luar jendela. Enggan menatap manik mata hitam Alfian yang hari ini terlihat redup.
"Saya pikir juga begitu. Tapi Papa minta semuanya di percepat, atau kalau tudak..."
"Kalau tidak apa?!" Potong Sarah.
"Saya akan di jodohkan dengan perempuan lain."
Ada sebuah gelanyar aneh yang tiba-tiba menyusup ke dalam hati Sarah. Entah apa namanya, yang jelas Sarah tidak suka itu. "Beri saya waktu untuk berpikir."
*****
Hari ini tanggal merah, Samuel menghembuskan napas di batas kesal dan lega karena tidak perlu beralasan untuk pergi ke Kampus. Papa dan Harris juga libur, sejak pagi mereka sudah berkaraoke bersama di ruang keluarga hingga membuat Samuel terbangun. Dengan kesal ia berdiri, menyibak selimut hangat yang masih melilit badannya, lalu bergegas menghampiri keluarganya.
"Tenang banget pagi ini, sampai siulan burung di pagi hari nggak kedengaran." Samuel menegur anggota keluarganya dengan sarkas lalu mengambil tempat duduk di antara mereka.
"Burung berkicau kali bukan bersiul. Kamu UN Bahasa Indonesia pakai contekan ya?" Mama menyahut tak kalah sarkasnya.
Samuel memicing menatap Mama, merasa tak terima dengan ucapannya yang mengatai bahwa dirinya mencontek saat UN. "Ma, orang kalau nyontek itu pasti nilainya tinggi. Lah aku, nilai standar banget kayak gitu masih di tuduh nyontek."
Mama tertawa kecil. "Yakali, kamu **** banget, udah nyontek tapi masih aja dapat nilai rendah."
"Ma…" Samuel memasang wajah dongkol setengah mati. Membuat Mama tidak lagi melanjutkan ucapannya.
"Tumben lo nggak ke Kampus?" Suara itu berasal dari Harris yang sejak tadi bernyanyi mengikuti lirik lagu Band Stinky padahal suaranya nggak ada bagus-bagusnya.
Samuel menyandarkan punggungnya ke sofa, "Tanggal merah." Jawabnya singkat.
"Tumben. Biasanya kamu nggak kenal tanggal merah." Kali ini Papa yang berbicara.
Merasa di sudutkan, Samuel semakin menenggelamkan kepala di punggung sofa. "Aku mau mengundurkan diri jadi wakil ketua BEM."
"Apa?!" Pertanyaan itu berbarengan di lontarkan oleh Mama, Papa dan Harris.
Samuel hanya memasang wajah tak berdosa. Setelahnya ia melengos, merasa bahwa respon anggota keluarganya sangat berlebihan. Samuel baru berniat mengundurkan diri jadi wakil ketua BEM, bukan wakil Presiden.
"Ada masalah apa? Cerita sama Mama!" Mama mengatakan itu sambil mencubit lengan Samuel. Membuat Samuel mengaduh kesakitan.
"Lo habis di demo suruh turun jabatan, ya?" Harris ikut menebak-nebak. Dan lihatlah, tebakannya sangat tidak berakhlak. Bagaimana bisa dia mengira kalau adiknya kena demo untuk turun jabatan?
"Apapun alasanmu, coba pertimbangkan dulu semuanya dengan matang." Satu-satunya orang yang masih bisa bersikap rasional ketika sedang kaget adalah Papa.
Samuel melirik satu persatu anggota keluarganya. Merasa di lemparkan tatapan intimidasi, akhirnya Samuel mengalah. Ia membuang napas kasar, "Sam ngerasa udah nggak pantes aja memangku jabatan itu."
"Ya emang dari dulu lo nggak pantes." Sahut Harris cepat. Membuat Mama geram, hingga memukul mulut putra sulungnya tersebut dengan spontan.
Samuel memutar bola mata malas. Namun tak urung kembali melanjutkan ucapannya setelah mendapat instruksi dari Mama. "Jadi wakil ketua BEM itu selalu mendapat sorotan dari mana-mana, dan hal itu memaksa aku untuk tampil dengan citra baik yang ku buat-buat. Dan aku yakin kalian paham apa maksudku, toh kalian yang paling paham baik buruknya aku. Aku nggak mau menjalani sesuatu yang ku anggap tidak sejalan dengan diriku. Aku nggak mau dengan adanya jabatan yang ku pegang, aku di anggap orang baik-baik. Padahal sebenarnya masih jauh dari kata baik. Lebih baik aku jadi mahasiswa biasa, tidak perlu tampil menjaga citra diri. Dan tentunya beban pemimpin tidak lagi memberatkan."
Mama memicingkan mata curiga. Wanita yang lebih mengenal Samuel dari siapa pun itu merasa bahwa masih ada hal yang di tutupi oleh putranya. "Kamu yakin? Bukannya jadi wakil ketua BEM itu impianmu sejak dulu?"
Samuel mengangguk, "Hanya dulu. Setelah mencoba, ternyata biasa saja. Maka sekarang sudah tidak lagi."
"Gini deh, coba lo pikirin baik-baik. Melepas jabatan sebelum masa jatuh tempo itu bukan hal yang bisa di benerin. Apalagi alasan lo nggak jelas kayak gitu. Gue yakin lo pasti punya alasan lain." Harris ikut berkomentar.
Papa menghela napas berat, "Sejak kapan kamu lari dari tanggung jawab seperti itu?"
Samuel terdiam. Mencerna pertanyaan Papanya.
"Kalau kamu mau mengundurkan diri, kamu harus memastikan kalau lembaga yang pernah kamu pimpin bersama rekan-rekanmu itu tidak akan mengalami masalah apapun ke depannya."
Samuel mengangguk mantap. "Aku bahkan sudah menyiapkan calon pengganti yang kompeten." Ucapnya semangat.
Mama, Papa dan Harris saling berpandangan. Baru kali ini mereka melihat ada orang yang sangat bersemangat akan mengalami penurunan jabatan.
*****
__ADS_1
"Nis, makan apa nih kita? Kelar diskusi ngebakso, yuk!" Sarah berbicara pada Nisa di tengah bisingnya Aula di saat mode diskusi forum di lakukan. Seharusnya Nisa dan Sarah saat ini ikut membahas tentang kelanjutan proker dan beberapa kendala yang terjadi bersama dengan teman-teman magang yang lain. Tapi tak ada satu pun dari mereka yang tertarik dengan bahasan itu. Sarah sibuk memainkan game Onet di ponsel Nisa, sedang Nisa hanya duduk sambil mencoret-coret isian bindernya.
"Nis," Sarah menyikut pinggul Nisa. "Ada whatsApp dari Mas Kahfi buat kamu." Sarah menyodorkan ponsel tersebut kepada sang empunya.
Nisa termenung sebentar, lalu meraih benda pipih tersebut. Sejak magang di RSJ yang tidak jauh dari tempat kerja Kahfi, laki-laki itu gencar melakukan pendekatan pada Nisa. Kadang muncul dengan menawarkan bantuan, kadang juga muncul menawarkan makan bersama seperti saat ini. Namun Nisa sangat jarang sekali menerima tawaran tersebut. Kalau pun menerima, ia pasti mengajak Sarah untuk menemaninya.
Nisa tidak mengetikkan balasan apapun, ia hanya membaca sekilas isi pesan tersebut lalu kembali memberikan ponselnya pada Sarah.
"Kenapa?" Tanya Sarah.
"Mas Kahfi ngajakin makan pas ishoma nanti di resto seberang sana."
"Kok nggak di balas?"
Nisa hanya melirik Sarah sekilas, lalu matanya sibuk melihat hasil coretannya. "Nanti aja." Jawabnya singkat.
Sarah mendengus. Sejak memutuskan menjauhi Samuel, Nisa terlihat tidak lagi membuka pintu hatinya untuk siapa pun. Bahkan Sarah khawatir, jika sahabatnya tersebut mati rasa.
*****
Vika baru saja menyelesaikan proker paginya setelah mendapatkan chat dari Fathur yang mengatakan bahwa laki-laki itu sedang menunggu dirinya di depan Posko.
Dengan langkah gontai, Vika berjalan keluar untuk menemui Fathur. Jujur saja, hatinya masih dongkol membahas masalah BEM dan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Apalagi setelah mendapat kabar dari Nisa, bahwa gadis itu tidak bisa berbuat banyak untuk membantunya meyakinkan Samuel. Rasanya Vika ingin mencabik-cabik wajah Samuel sejak kemarin.
"Kenapa lo kesini?"
Fathur mendongak setelah sejak tadi fokus berjibaku dengan ponselnya.
Laki-laki itu memasukkan ponsel miliknya ke dalam saku celana jeans dengan gerakan luwes. "Kita mau ada rapat membahas lengsernya Samuel."
Vika melipat kedua tangan di dada. "Ah males gue. Sejak berita itu sampai di telinga gue, mood gue memburuk tiap harinya."
"Lo jangan kayak gitu dong. Hargai keputusan Sam."
Vika memicingkan mata, "Lo setuju kalau si Sam bener-bener lengser?"
Fathur menghela napas berat, "Sama sekali enggak. Tapi ya mau gimana lagi kalau dia masih tetap kekeuh sama keputusannya itu. Lo tau sendiri kan, gimana Sam. Kalau dia meyakini sesuatu yang di anggap benar, maka dia bakalan terus partahanin keyakinannya itu."
"Terus gimana? Apa gunanya rapat kalau semua udah jelas kayak gitu."
"Ini membahas kandidat pengganti Sam." Ucap Fathur.
Vika membelalak, "Emang udah ada?!"
Fathur mengangguk mantap. "Udah. Dan ini atas usul Sam langsung."
"Oh ya? Siapa?" Vika semakin penasaran.
"Lo." Fathur menunjuk Vika. Membuat gadis itu melongo sepenuhnya.
*****
Setelah mendapat kabar mencengangkan dari Fathur yang mengatakan bahwa Samuel menunjuk dirinya sebagai kandidat pengganti wakil ketua BEM, mau tak mau Vika akhirnya memasrahkan diri duduk di jok belakang motor Fathur menuju Kampus untuk mengikuti rapat.
Berkali-kali Vika mengumpat kepada Samuel dan bersumpah akan mencincang-cincang tubuh laki-laki tidak waras itu. Bisa-bisanya ia melakukan hal itu, bahkan tanpa meminta persetujuan apapun dari dirinya.
Setibanya di Kampus, Vika langsung bergerak cepat menuju Basecamp, tidak lagi peduli dengan suara teriakan Fathur yang memanggil-manggil namanya.
"Samuel mana?!"
Seto yang sedang rebahan di Basecamp terlonjak kaget melihat kedatangan Vika yang langsung membuka paksa pintu sambil menanyakan keberadaan Samuel dengan aura yang menyeramkan.
"Gue tanya Samuel mana?!"
Seto menelan ludah susah payah. "Anu.. Lagi tanding futsal." Ucapnya gagu.
Vika tidak mengatakan apapun setelahnya, ia langsung bergegas menuju lapangan futsal.
"Woy Vik, dinginin kepala lo dulu. Jangan pake emosi!" Fathur berteriak dari jarak jauh, namun tak di gubris oleh Vika sama sekali.
Ketika sampai di lapangan futsal, Vika mendapati suasana riuh yang berlangsung seperti biasanya. Samuel dengan rambut yang di cepol ala Wiro Sableng itu mendapatkan sorak sorai heboh dari penonton. Sepertinya groupies dia tidak berkurang, tapi semakin bertambah.
Vika mendengus. Enak saja dia santai-santai menikmati permainan futsal sementara ia baru saja menimpakan masalah untuk Vika. Tapi mau tak mau, Vika harus tetap menunggu sampai pertandingan selesai. Tidak mungkin kan, dirinya tiba-tiba menyerobot masuk ke dalam pertandingan. Bisa-bisa ia di seret keluar degan tidak terhormat.
"Ah, untung aja si Sam lagi main." Fathur datang dengan ngos-ngosan. Ia berusaha mengatur napas. "Eh dengerin gue ya, Vik. Lo harus tetap bicarain masalah ini pake kepala dingin. Jangan terbawa emosi."
Vika melengos. "Emang kenapa? Wajar kan kalau gue marah. Secara dia ngambil keputusan yang melibatkan gue tanpa minta persetujuan gue terlebih dahulu." Ucap Vika bersungut-sungut.
Fathur menggaruk kepalanya yang tak gatal, "Iya, tapi semua bisa di bicarain baik-baik. Itulah kenapa kita mau ngadain rapat. Tolong lo jangan memperkeruh suasana."
__ADS_1
"Lo apaan sih. Lo nggak tau aja posisi gue gimana. Gue bener-bener nggak terima di jadikan kandidat pengganti wakil ketua BEM. Lo kira perkara mudah memangku jabatan itu?!"
Fathur tidak lagi mengatakan apapun. Tahu diri bahwa saat perempuan sedang emosi, maka yang harus di lakukan oleh laki-laki adalah diam.