Cinta Yang Halal

Cinta Yang Halal
42


__ADS_3

Sebab jika aku meniru keserakahan hujan yang menandaskan awan, maka kau hanya akan menjadi badai yang tidak ku harapkan.


*****


Malam mencapai puncak risik yang sunyi. Gemintang di hamburkan di pekatnya langit-langit malam. Tujuh, tiga, satu, sirius bersinar paling terang, Seolah ia adalah yang paling rupawan.


Samuel menyandarkan kepalanya di balik pilar. Matanya terpejam, sesekali ia menghela napas berat. Kepalanya penuh sesak dengan hal-hal yang carut marut. Dua gelas kopi hitam tandas dan hanya menyisakan ampas.


Sudah lebih dari sebulan, sejak terakhir kali Nisa memintanya untuk menjauh. Dan rasanya masih saja sama, ribuan kekacauan masih bergerumul di dalam kepalanya. Meski Samuel berusaha terlihat tenang, namun jauh di dalam hatinya, seperti ada batuan besar menghimpit yang tak mau hilang.


Samuel sudah berkali-kali mencoba untuk mengabaikan segala hal entang Nisa, namun nihil, bukannya menghilang, justru segala hal tentang gadis itu melekat abadi di ingatannya.


Melepaskan sesuatu yang membawa kita melangkah jauh dari zona nyaman bukanlah hal yang mudah. Tapi mempertahankan di saat ia bersikeras untuk melepaskan adalah sebuah kebodohan.


"Bro, besok ada aksi tolak reforma agraria, lu join?" Fathur mencoba memulai pembicaraan dengan Samuel setelah lebih dari satu jam rekannya tersebut terlihat tidak seperti biasanya.


Samuel hanya merespon dengan gumaman. Fathur yang merasa bahwa Samuel sedang dalam mode "Senggol bacok" lagi, akhirnya memilih mengabaikan dan bergabung kembali dengan anak-anak tongkrongan yang sedang membahas kesiapan aksi esok hari.


*****


"Nis, Samuel udah nggak pernah nemuin kamu?"


Nisa menoleh sekilas ketika merasa pertanyaan itu di lemparkan kepadanya. Setelahnya ia hanya melayangkan respon berupa gelengan kepala.


Melihat hal itu, Sarah mendengus. Ia sudah menduga, bahwa Nisa tidak akan pernah mau membahas perihal Samuel lebih jauh lagi. Sejak Nisa memutuskan untuk menjauhi Samuel, gadis itu tidak lagi pernah bersinggungan dengan masalah asmara. Sarah tidak tahu, apakah sahabatnya itu sudah menutup hati atau sedang memulihkan hatinya yang terluka. Yang ia tahu, Nisa masih menyukai Samuel, meskipun berkali-kali gadis itu enggan mengetahui apapun tentangnya.


"Jadinya kapan kamu nikah sama Alfian?" Nisa mengalihkan topik pembicaraan.


Sarah mengangkat kedua alisnya, seolah tak paham dengan kalimat yang baru saja Nisa lontarkan.


"Pertanyaanku salah, ya?" Nisa memasang wajah polosnya.


Sarah memutar kedua bola matanya, jengah. "Nggak usah ngalihin topik. Kita lagi bahas Samuel, bukan Alfian."


Nisa bangkit dari duduknya, ia benar-benar tidak ingin mendengar apapun tentang Samuel. Segala hal yang berkaitan dengan laki-laki itu hanya membuat lukanya semakin menganga.


"Samuel mau mengundurkan diri dari jabatannya."


Nisa menghentikan langkahnya. Sekeras apapun kepalanya menolak memikirkan Samuel, namun hatinya tidak bisa di bohongi. Masih ada secercah harapan, yang meskipun sangat redup, namun masih bisa ia lihat.


"Kamu nggak merasa kalau keputusannya itu ada kaitannya sama kamu?"


Nisa mematung. Jantungnya seperti di siram oleh setumpuk es yang di cairkan. Ia tidak menggigil, sungguh. Hanya saja jantungnya seperti mati rasa. Seluruh elemen tubuhnya mati rasa.


"Nis, coba kamu pikirkan masak-masak lagi keputusanmu." Sarah tahu-tahu sudah berdiri di samping Nisa.


"Aku tidak ingin cintaku kepada Allah terkalahkan karena adanya rasa cinta terhadap makhlukNya." Nisa bisa merasakan kedua kelopak matanya terasa memanas.


"Bukan seperti itu, Nis. Tapi coba kami lihat, seberapa jauh perubahan Samuel selama kenal kamu. Lagian aku yakin, kamu pasti bisa menempatkan rasa cintamu sesuai dengan porsinya." Sarah memegang kedua bahu Nisa, "Kamu membawa banyak hal positif dalam hidup seseorang. Kamu tidak bisa pergi begitu saja, karena seseorang itu sedang kehilangan arah. Kemarin Vika nyariin kamu, di nanya apa kamu sama Samuel ada masalah. Karena beberapa minggu terakhir, Samuel berubah. Kalau dulu dia mencari tahu arah terdekat untuk mencintai Tuhan, maka hari ini dia bersikeras untuk melupakan Tuhan."


Setetes air mata berhasil lolos dari mata Nisa. Hatinya nyeri luar biasa. Ia tidak ingin mempercayai bahwa penyebab Samuel berubah adalah dirinya. Bukankah ia harusnya bersyukur, karena telah di perlihatkan bagaimana sikap Samuel yang sesungguhnya sebelum ia mengenal lelaki itu lebih jauh? Harusnya ia lega, karena pertanyaan yang selalu berputar di kepalanya saat ini sudah terjawab. Samuel berubah bukan karena Allah, melainkan karena dirinya. Bukankah Nisa membenci sikap seperti itu? Tapi entah kenapa, hatinya justru seperti di cabik-cabik mengetahui hal itu. Nisa memang ingin meninggalkannya, tapi ia sama sekali tidak ingin melihat Samuel berubah. Ia tidak ingin melihat laki-laki itu tersesat lebih jauh dari sebelumnya. Sungguh, bukan itu yang ia harapkan.


"Aku tau, Nis. Kamu pasti bimbang. Sebagai sahabatmu, aku tidak bermaksud menjerumuskan. Hanya saja, aku mau memperlihatkan bahwa kamu adalah harapan sesorang. Meskipun aku tau, kamu pasti membenci hal itu, kamu benci karena akhirnya tau kalau Samuel berubah hanya karena dia mengharapkanmu. Tapi coba kamu lihat, dampak yang di timbulkan dari kepergianmu. Mungkin kamu bisa memperbaikinya sebelum kamu benar-benar mengambil keputusan."


"Kamu ingat kisah Nabi Yusuf dan Zulaikha, Rah?" Nisa berbicara sambil menekan seluruh rasa sakitnya.


"Ya?"


"Ketika Zulaikha mengejar cinta Nabi Yusuf, Nabi Yusuf justru berpaling darinya. Tapi ketika Zulaikha menjauhi Nabi Yusuf dan mendekatkan diri dengan Allah, Allah datangkan Nabi Yusuf untuknya." Nisa berusaha mengubur seluruh lukanya. Selama ini, apa yang ia yakini tidak pernah mengecewakannya. "Aku ingin menjadi Zulaikha, tapi di sisi lain, aku menginginkan Samuel seperti Nabi Yusuf terlebih dahulu. Bukan Samuel yang melupakan Tuhan."


*****


Pizza selalu menjadi makanan favorit Vika sejak dulu dan di tengah perasaan yang buruk karena ulah Samuel. Sejak mengetahui bahwa Samuel berencana untuk mengundurkan diri dari jabatannya, dan tidak menerima kabar kelanjutan apapun setelahnya, suasana hati gadis itu benar-benar memburuk. Kesibukan KKN yang menjerat, membuatnya tidak begitu tahu kondisi BEM dan seluruh yang terlibat di dalamnya. Sampai pada kemarin, ia di suguhkan kabar tentang Samuel yang memiliki niatan gila.


Gadis itu memutuskan untuk menaikkan mood dengan makan pizza di Mall dekat Kampus. Hari ini ia sudah membuat janji dengan Samuel untuk bertemu. Ia bersumpah akan melempar Samuel ke kolam piranha jika laki-laki itu tidak datang menemuinya. Bagaimana tidak, Vika sudah menurunkan harga dirinya dengan memohon-mohon pada Koordinator timnya agar di izinkan mabal di jam proker dengan alasan ada hal penting yang harus ia selesaikan. Sebenarnya Vika tidak berbohong, toh segala hal yang berkaitan dengan BEM adalah penting baginya, termasuk Samuel.


Tengah asyik menikmati potongan pizza ketiga, Vika di kagetkan dengan kehadiran seseorang yang tiba-tiba menarik kursi di hadapannya. Dia memandangi Vika dengan kedua matanya, sementara rambutnya yang gondrong itu di biarkan terurai membuat Vika ingin menjambaknya dalam sekali tarikan. "Lo ngapain ngajakin ketemu di tempat kayak gini? Fancy banget makan-makan lucu di Mall." Belum-belum di sudah berkomentar dengan suaranya yang membuat Vika cepat naik darah.


"Heh anak kuda, lo langsung jelasin aja semua. Nggak usah kebanyakan basa-basi." Vika melayangkan pukulan menggunakan sling bag miliknya ke bahu Samuel. Membuat laki-laki itu cengengesan tanpa makna.


"Wah parah lo, ngatain orang tua gue kuda." Samuel menggoda Vika yang terlihat bersungut-sungut.


Vika berdecak, "Lo kenapa mau mengundurkan diri?" Tanyanya tanpa tedeng aling.


Samuel membuang napas kasar, lalu tersenyum. Senyum yang justru terlihat sangat menjengkelkan di mata Vika. "Nanti aja, ya. Gue baru dateng nih. Haus. Pesenin minuman gih."


Vika mendengus. "Kata lo fancy makan-makan lucu di tempat ginian." Sindirnya.


Samuel terkekeh, "Tapi gue mau minum, bukan makan. Lagian di traktir. Rejeki nggak boleh di tolak."


Vika memutar kedua bola matanya dengan malas. Namun tak urung, ia menuruti kemauan Samuel juga.


"Udah tuh, cepetan cerita." Tagih Vika.


Samuel menyandarkan punggungnya ke kursi. Ia melipat kedua tangan di dada. "Cerita apa yang mau lo dengar? Kalau masalah pengunduran diri kayaknya udah jelas." Ucapnya polos.


"Jadi bener?"


Samuel mengangkat alis, lalu membuang napas kasar. "Gue ngerasa udah nggak bisa lagi pertahanin jabatan gue." Jeda sejenak, sebelum akhirnya Samuel kembali berbicara. "Banyak hal yang nggak bisa gue lakuin buat menjalankan tugas gue dengan benar. Lagian, menjadi wakil pemimpin juga harus kompeten. Bisa menjadi teladan untuk orang-orang yang di pimpin. Sementara gue?" Samuel tertawa. Lebih tepatnya menertawakan dirinya sendiri. "Teladan apa yang bisa gue kasih sama teman-teman yang gue pimpin? Kuliah aja berantakan. Dan rasanya, gue lebih layak jadi mahasiswa biasa ketimbang membantu Fatur memimpin kalian."


"Siapa yang bilang lo nggak kompeten selama ini? Lo udah ngejalanin tugas dan kewajiban lo dengan baik. Kalau masalah kuliah, it's okay, gue akuin lo paling bermasalah dengan itu. Tapi kalau untuk tugas lo sebagai wakil pemimpin, lo nggak pernah abai. Bahkan selalu menomor satukan diatas segalanya. Nggak usah berpikiran dangkal, lo itu sangat di butuhkan di BEM. Gue nggak tau, apa setelah ini BEM bisa nemuin pengganti yang sekompeten lo. Yang rela ninggalin urusan pribadi demi urusan banyak orang."


Samuel mengangkat kepala setelah beberapa detik tertunduk. Ia memamerkan senyuman ke arah Vika. "Banyak yang lebih baik dari gue. Gue yakin. Yang lebih kompeten, yang lebih hebat, dan tentunya sangat cocok menjadi partner Fathur."


Vika memicingkan mata ke arah Samuel. "Jangan bilang lo mau ngundurin diri karena ada masalah sama Fathur?!." Vika berdecak. "Kolokan banget sih lo, kayak bayi."


"Yang bilang ada masalah sama si Kunyuk itu siapa Zubaedah?" Samuel melempar gulungan tisu ke arah Vika, membuat gadis itu mendengus.


Perbincangan keduanya terhenti ketika seorang pramusaji datang membawakan nampan yang berisi segelas Cappucino.

__ADS_1


"Terima kasih." Ucap Vika ramah.


Pramusaji tersebut langsung pamit undur diri setelah mempersilahkan pengunjungnya menikmati hidangan yang ia sajikan.


"Lo coba deh, pikirin masak-masak lagi keputusan gila lo itu." Vika masih berusaha menyadarkan Samuel yang menurutnya sedang kehilangan arah saat ini.


Samuel meletakkan gelas Cappucinonya. "Gue udah membuat pertimbangan yang paling masak sebelum memutuskan hal ini." Ucapnya.


Vika mendesah frustasi, "Lo kenapa sih?! Gue nggak tau lo punya masalah apa. Tapi tolong jangan kaitkan masalah lo itu sama BEM. Pofesional, Sam!"


Samuel melipat kedua tangan di dada, "Justru karena gue mau bersikap profesional, makanya gue lepas jabatan."


Vika meminum lemon teanya untuk mendinginkan hatinya yang panas. Samuel benar-benar membuatnya naik tensi.


"Ini ada kaitannya sama Nisa?"


Samuel melempar tatapan tajam ke arah Vika. Namun hanya berlangsung sepersekian detik, setelahnya ia tersenyum miring. "Lo kenapa sih, hobi banget mengaitkan sesuatu yang nggak ada korelasinya?"


"Gue nggak pernah dengar kabar lo sama Nisa setelah lo cerita tentang dia ke gue. Lalu tiba-tiba ada berita nggak enak sampai di telinga gue. 3 tahun lebih gue kenal lo, nggak pernah ada satu pun perempuan yang bisa buat lo ketawa dan uring-uringan nggak jelas selain Nisa."


"Lo nyalahin Nisa, Vik?" Tanya Samuel.


Vika gelagapan, ia tidak bermaksud menyalahkan Nisa, sungguh. "Enggak, gue cuma nanya, buat memastikan."


Samuel menghela napas berat. "Ini nggak ada kaitannya sama Nisa. Gue sama dia emang udah nggak kayak dulu lagi. Tapi kalau menurut lo penyebab gue ngundurin diri dari jabatan itu karena dia, lo salah besar. Gue nggak se baperan itu." Ucapnya.


Vika membuang napas kasar. Ia tahu, berbicara dan meyakinkan Samuel di saat laki-laki itu kekeuh dengan argumennya tidak akan menghasilkan apa-apa. "Oke, terserah lo aja. Tapi lo harus bisa cari pengganti lo sebelum lo resmi mengundurkan diri. Dan jangan pernah mengosongkan posisi lo sebelum pengganti itu datang." Vika berdiri. Ia tidak mau terlalu lama bersama Samuel, yang ada, tensinya benar-benar naik.


*****


Langit-langit kamar yang hitam pekat tanpa adanya sedikit penerangan, membuat Samuel terpaku. Selama hidup, ia bukanlah manusia tipe imajinatif bin perasaa seperti Vika. Juga bukan manusia yang terlalu mengikuti aliran hidup seperti Fathur. Ia hanya manusia berotak penuh analogi karena terlalu sering menelan bacaan yang mengajaknya untuk berpikir kritis dan bertindak rasional. Jika mereka semua adalah bintang, maka ia adalah yang paling redup di antara keduanya, namun tetap indah bersinar ketika berkumpul bersama.


Samuel menghela napas berat, terlalu banyak hal-hal yang bercokol di kepalanya saat ini. Ia berusaha menyekesaikan dan menghilangkan satu persatu, namun bukannya hilang, semua justru semakin bersorak sorai menertawakan kelemahannya.


Keinginannya untuk mengundurkan diri dari jabatan bukanlah hal iseng semata yang hanya ia lakukan karena merasa bosan. Ia benar-benar sudah mempertimbangkan semuanya sebelum mengambil keputusan. Lalu kenapa semua orang seolah-olah tidak percaya dengan keputusan tersebut?


Samuel bangkit dari kasur. Ia berniat bergerak mengambil surat pengunduran diri yang ia buat tiga hari lalu. Matanya tak sengaja tertuju pada sebuah benda yang tidak lagi pernah di sentuhnya.


Ia tersenyum miris ketika benda itu sudah berada di tangannya. Dulu benda itu tidak sekalipun pernah ia tinggalkan. Kemana pun ia pergi, benda itu selalu nangkring dengan terhormat di dalam tasnya. Apalagi saat pikirannya kacau dan gelisah seperti sekarang ini, benda itu selalu menjadi pelariannya untuk menenangkan diri. Tapi itu dulu. Saat Tuhan terasa begitu dekat di hidupnya. Katakan saja, dirinya munafik. Samuel tidak pernah keberatan di juluki seperti itu. Karena memang benar. Tuhan tidak pernah berada di hatinya. Selama ini ia hanya berpura-pura. Dan bodohnya, ia baru menyadari hal itu sekarang.


Nisa hanyalah perantara. Perantara yang mendekatkan dirinya dengan Tuhan. Ia mengatakan bahwa ia merasa dekat dengan Tuhan, karena ia bisa melihat Tuhan dalam diri Nisa. Maka ketika gadis itu memutuskan untuk pergi, maka hilanglah juga Tuhan dari pandangannya.


Samuel menertawakan diri sendiri. Terlalu picik memang rasanya, jika ia berubah hanya karena seseorang, bukan Tuhan. Tapi apa hendak di kata, jika memang benar begitulah adanya.


Lihatlah dulu, betapa ia bersemangat mendekatkan diri dengan Tuhan. Dan lihatlah sekarang, bagaimana semangat itu memudar bahkan hilang tak tersisa. Ia memang makhluk paling berdosa. Tapi adakah dosa itu di sebabkan karena Tuhan yang mudah memainkan takdir hidup seseorang? Bagi Samuel, esensi Tuhan layaknya dongeng belaka.


*****


+628012345678


Ting..


Layar ponsel Nisa menyala, dan langsung menunjukkan notifikasi sebuah pesan masuk. Sarah yang sedang menemaninya makan di Kantin Rumah Sakit kepo seketika. Apalagi Sarah sempat melirik ponsel Nisa yang terletak di atas meja. "Ada SMS, Nis. Kayaknya sih bukan dari provider atau Mama minta pulsa." Ujarnya santai tapi menjurus.


+628012345678


Ting…


Ponsel Nisa kembali menyala, dan masih menunjukkan notifikasi dari nomor yang sama.


"Dari siapa sih? Kayaknya penting, sampai ngehubungin lewat sms." Sarah masih saja kepo.


Akhirnya Nisa mengalah, kemudian mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja.


+628912345678


Halo Nisa. Ini aku Vika. Kamu kapan ada waktu kosong? Kalau boleh aku mau ketemu.


+628012345678


Ada sesuatu hal yang mau aku bahas sama kamu.


"Vika ngapain ngajak ketemu?" Tahu-tahu Sarah sudah bedada di dekat Nisa. Kepalanya ikut melongok membaca isi SMS yang ada dalam ponsel Nisa.


Buru-buru Nisa mematikan layar ponselnya. Ia meletakkan kembali ponsel tersebut ke tempat semula, lalu kembali sibuk dengan makanannya.


"Kamu mau nemuin dia?" Sumpah demi seluruh dunia dan seisinya, Sarah benar-benar sangat menyebalkan ketika sindrom keponya sedang kumat.


Nisa malas menanggapi. Ia hanya mengendikkan bahu tak acuh.


Sarah akhirnya mengalah. Ia membuang napas kasar, lalu kembali fokus pada es dogernya. "Eh Nis, besok proker cuma sampai jam 12. Siangnya kosong. Kamu nggak mau bimbingan?"


Nisa melirik Sarah sekilas, "Boleh." Ucapnya singkat.


Sarah yang merasa di acuhkan langsung memanyunkan bibir seketika. Ia merasa bahwa Nisa sedang dalam mode "Irit ngomong." Yang artinya nggak bisa di ajak bercanda.


*****


Nisa baru saja melangkahkan kaki keluar dari ruangan Pak Arif, saat tiba-tiba Sarah manarik tangannya dan berjalan tergesa-gesa.


"Rah, kenapa sih?" Nisa mencoba protes. Namun protesan itu tak di hiraukan sama sekali oleh Sarah. Gadis itu tetap menyeret Nisa.


Sarah membawa Nisa menuju pagar utama Kampus. Di sepanjang jalan, beberapa orang terlihat berlarian. Apalagi ketika jarak mereka sudah dekat dengan pagar utama. Suasana benar-benar kisruh di kuar pagar. Beberapa mahasiswa baik yang mengenakan jaket almet maupun tidak, berbondong-bondong melempari polisi dengan batu atau apapun. Hal yang sama di lakukan oleh oknum polisi yang sedang menangkis serangan ersebut sambil sesekali berusaha menumbangkan para mahasiswa. Pemandangan tersebut begitu mengerikan. Yang bisa Nisa lihat, ada tiga pihak yang erlibat di sana, yakni mahasiswa, polisi, dan para pedagang kaki lima.


Kebanyakan mahasiswa yang berteriak-teriak adalah mereka yang sering nongkrong di tepian trotoar depan kali. Sepertinya mereka hanya sedang melindungi kepentingan pribadinya saja. Bohong sekali jika mereka sedang memperjuangkan para pedagang kaki lima agar ak kehikangan pekerjaannya. Tentu saja, apalagi para pedagang kaki lima itu pergi, mereka akan kehilangan tempat tongkrongan.


Beberapa mahasiswa yang mengenakan jaket alamamater dengan emblem Badan Eksekutif Mahasiswa terlihat sedang berusaha menenangkan keadaan. Namun instruksi mereka tidak di hirauan sama sekali.


Lebih kurang 5 menit kemudian, ketika Nisa dan Sarah masih sibuk mengamati dari tempat teraman di dekat pos Satpam, Nisa melihat suasana mulai berbeda. Ada suara-suara menggelegar penuh amarah yang meminta seluruh mahasiswa mundur ke belakang dengan tertib. Suara itu berasal dari tubuh jangkung Samuel yang mulai menyisir jalanan bersama dengan rekannya yang Nisa ketahui sebagai ketua BEM. Keduanya memakai almet yang sama dengan berhiaskan emblem Badan Eksekutif Mahasiswa.

__ADS_1


"Balik woy! Balik! Rapat di dalam! Kalian ini mahasiswa, jangan kayak orang tidak berpendidikan main kekerasan seperti ini! Balik semua!!!"


Segerombolan mahasiswa yang Nisa lihat paling menggebu-gebu melempari oknum polisi tadi kini salah satu dari mereka angkat bicara, "Diam lo anjing! Lo bela oknum polisi?! Lo juga suka nongkrong disini, terus karena lo mau tunduk sama pemerintah sekarang lo belain polisi dan biarin para pedagang kaki lima ini di usir dari sini?"


Alih-alih marah, Nisa melihat Samuel justru berjalan mendekat ke arah para mahasiswa tersebut, kemudian membicarakan entah apa. Dan mereka terlibat diskusi panjang yang berakhir dengan jabat tangan, lalu para mahasiswa tersebut berjalan nergerombol masuk ke dalam kampus. Nisa masih memperhatikan dengan seksama proses tersebut.


Seorang satpam yang kini ikut berdiri di samping Nisa dan Sarah ikut mengomentari, "Akhirnya kelar juga ini masalah. Coba dari tadi Mas Samuel datang, para keamanan Kampus nggak akan kualahan. Baru kali ini Kampus ricuh kayak gini."


"Emang yang mulai duluan siapa, Pak?" Sarah dan jiwa keponya mulai beraksi.


"Anak yang sering nongkrong di kedai para pedagang kaki lima sama BEM Fisip. Mas Samuel kebeneran anak Fisip, dia juga suka nongkrong disana, jadi emang paling pas bangt kalo dia yang menenangkan keadaan." Satpam itu terlihat memuja Samuel.


"Lah kalian ngapain disini? Ikut berantem juga sama Satpol pp?" Tiba-tiba satpam tadi bertanya dengan nada menghakimi kepada Nisa dan Sarah.


Sarah buru-buru menggeleng, "Enggak, Pak. Cuma nonton aja. Habisnya penasaran." Jawab Sarah sambil menampilkan cengiran khasnya.


"Ah dasar perempuan, suka banget kalau ngeliat ada keributan kayak gini. Terus ntar di jadiin bahan gosip." Sindir satpam tersebut. Lalu setelahnya ia sibuk menuliskan entah apa di buku catatan. Mungkin laporan kejadian hari ini.


Nisa baru saja akan kabur meninggalkan Sarah, ketika sebuah suara yang terdengar sangat tidak bahagia menegurnya. "Nisa?"


"Ya?" Nisa menatap si empunya suara yang ternyata tak lain tak bukan adalah Samuel. Laki-laki itu menggelung rambut gondrongnya hingga menyerupai tokoh Wiro Sableng.


Samuel berjalan mendekat, membuat jantung Nisa bertalu-talu dengan hebat. Sarah yang sejak tadi memperhatikan hanya bisa memasang wajah cengonya.


"Ngapain disini?" Suara itu bagaikan setumpuk es yang di cairkan. Begitu dingin.


Nisa menelan ludah susah payah. Ia tak menjawab, justru membuang pandangan ke arah lain.


"Tadi nontonin orang tawuran." Jawaban itu berasal dari Sarah.


"Di rumah kalian nggak ada tv? Sampai tawuran seperti itu kalian anggap tontonan dan hiburan." Sarkas. Samuel merogoh sesuatu di dalam kantongnya. Begitu benda yang keluar dari kantong laki-laki itu tertangkap oleh mata Nisa, betapa terkejutnya ia. Yang Samuel keluarkan adalah rokok. Selama ini Samuel tidak pernah merokok. Yang Nisa tahu, Samuel bahkan sangat membenci asap rokok.


"Nyebat, Pak?" Ia menyodorkan rokok tersebut ke arah satpam yang berada di dalam pos. Satpam itu nyengir, kemudian menerima dengan senang hati.


Sementara itu, Samuel justru kembali mengacuhkan Nisa. Ia mengambil korek di dalam kantung jas almamaternya, kemudian membakar rokok yang sudah berada dalam tangannya. Sekali hisap, dan asapnya langsung mengebul di udara. "Mending kalian balik ke tempat magang. Atau kalian masih berharap kalau sekarang ini lagi iklan, kemudian menantikam episode kelanjutannya?"


Nisa tidak mengatakan apapun. Ia tidak ingin mendebat kalimat sarkas yang Samuel lontarkan. Tanpa membuang waktu lama, ia bergegas meninggalkan Samuel tanpa beruluk salam atau sekedar pamit.


*****


Perokok. Itu adalah salah satu hal yang bisa Nisa pastikan dari sosok Samuel. Mungkin saja selama ini Samuel hanya berpur-pura membenci benda yang mengandung zat adiktif tersebut. Ataukah memang Nisa tidak tahu kebenaran yang di sembunyikan oleh Samuel selama ini.


"Aku masih nggak percaya. Masa sih Samuel ngerokok." Sarah memutar badan tepat di hadapan Nisa. Saat ini keduanya sedang berada di Halte yang tak begitu jauh dari Kampus. "Setahuku nih, ya. Samuel bukan perokok. Bahkan temenku yang anak Fisip bilang, kalau Samuel itu yang paling bawel kalau ada orang ngerokok di dekatnya. Katanya, orang itu merenggut oksigennya."


Nisa tak bergeming. Ia tidak ingin membahas apapun tentang Samuel dengan Sarah. Meskipun jauh di dalam hatinya ia juga bertanya-tanya, namun bukan hal yang tepat jika membicarakan laki-laki itu saat ini juga.


"Nis, sekarang kamu percaya kan, kalau Samuel itu berubah?"


Nisa membuang pandangan ke sembarang arah.


Sarah membuang napas kasar. Paham, bahwa sahabatnya sedang berada dalam mood buruk. Ia tidak lagi melanjutkan ocehannya, karena tahu bahwa hal itu justru akan memperburuk suasana hati Nisa.


Nisa merogoh ponsel di dalam tasnya. Ia terlihat mengetikkan sesuatu di dalam sana.


To: +628012345678


Sore ini aku ada waktu. Kita ketemu dimana?"


*****


Setelah mengantarkan Sarah kembali ke tempat magang, Nisa kembali melajukan motornya ke PIM. Tadi ia sempat mengirimkan sms kepada Vika tentang persetujuannya untuk menemui gadis itu. Dan Vika memintanya untuk datang ke PIM berhubung tempat tersebut tidak begitu jauh dari poskonya.


Nisa memarkirkan kendaraan di tempat parkir, lalu segera bergerak cepat memasuki Mall besar tersebut. Tak butuh waktu lama, karena dengan cepat Nisa langsung bisa menemukan keberadaan Vika yang melambai ke arahnya.


"Apa kabar, Nis?" Sapa Vika.


Nisa tersenyum, sebelum akhirnya menjawab, "Baik."


Keduanya terlibat percakapan basa-basi sebelum akhirnya makanan dan minuman yang mereka pesan datang.


"Jadi, ada apa?" Tanya Nisa langsung.


Vika memperbaiki posisi duduknya, "Mmm begini, maaf sebelumnya, bukannya aku mau ikut campur, tapi aku mau nanya, kamu ada masalah sama Samuel?"


Nisa berusaha untuk tetap terlihat tenang, meskipun jauh di dalam sana hatinya sedang dongkol setengah mati. Kenapa semua orang membahas tentang Samuel hari ini?


"Kami tidak ada masalah." Nisa menjawab sekenanya. Yang ia tahu, Vika tidak mengetahui perihal kedekatanya dengan Samuel selama ini. Ia tidak ingin membeberkan hal seperti itu kepada orang lain.


Vika tersenyum canggung, ia paham, Nisa pasti enggan menjawab pertanyaannya dengan jujur. "Nis, aku minta maaf. Tapi aku tau kedekatan kalian."


Nisa tersentak. Ia tak mengira bahwa Vika mengetahuinya. Selama ini yang ia pikir Sarah adalah satu-satunya orang yang tahu kedekatannya dengan Samuel.


"Aku pernah maksa Samuel buat cerita." Ucap Vika lagi. "Aku tau, seharusnya aku nggak boleh ngelakuin hal itu. Tapi dulu aku sempat suka sama Samuel, jadi aku berusaha mencari tau hal apapun tentang dia. Termasuk hubungan kalian."


Nisa tak bergeming. Ia tidak kaget mendengar pernyataan Vika yang dengan sangat terbuka mengaku menyukai Samuel. Karena sejak dulu pun, ia sudah tahu.


"Dan melihat perubahan Samuel yang sekarang, ngebuat aku khawatir." Vika menghela napas panjang, "Kamu sudah tau, kalau Samuel mau mengundurkan diri dari jabatannya?"


Nisa hanya mengangguk pelan.


"Dulu sewaktu masih MABA, Samuel selalu bilang, kalau dia punya impian menjadi wakil Ketua BEM. Pas aku nanya, kenapa bukan jadi ketua? Dia bilang, kalau jadi ketua, tanggung jawabnya lebih berat. Beban yang mengahruskan diri menjadi teladan yang baik dua kali lebih besar. Dan dia bilang, kalau sosok dirinya mugkin saja tidak akan sanggup melakukan hal itu. Dengan menjadi wakil, ia bisa membantu memimpin tanpa harus memikul tanggung jawab sebesar tanggung jawab ketua. Ia bisa membantu menghandle segalanya, meski harus bersembunyi di belakang punggung ketua. Ia tidak perlu mati-matian menunjukkan citranya sebagai orang baik-baik di depan banyak orang." Vika menarik napas sejenak. "Selama ini, semua orang melihat Fathur yang paling bekerja keras dalam BEM. Padahal, semua kerja keras itu di lakoni oleh Samuel. Hanya saja, dia tidak mau menonjolkan hal itu sampai di akui banyak orang. Meskipun Fathur berkali-kali meminta tukar jabatan, tapi Samuel menolak, dengan dalih tidak mampu. Padahal kami semua tahu, dia lebih dari mampu. Tidak ada orang yang selalu rela meninggalkan seluruh urusan pribadinya demi mendahulukan kepentingan banyak orang selain Samuel."


Vika tersenyum miris. "Dan kemarin, dia bilang akan mengundurkan diri dari jabatannya. Kami semua tidak mendapat alasan yang pasti di balik keputusannya itu. Aku juga sudah cari tahu, apakah ada masalahnya di BEM selama aku jarang bergabung dengan mereka, tapi mereka bilang tidak ada." Vika mengenggam tangan Nisa, "Aku minta tolong sama kamu, Nis. Tolong bantu kami semua dengan meyakinkan Samuel, kalau keputusan yang dia ambil itu salah. Dan kalau pun ada masalah antara kalian, tolong sampaikan sama Samuel, untuk tidak membawa-bawa masalah itu ke dalam BEM. Kami tidak mau dia berhenti sebelum masa jabatannya habis."


Nisa melepaskan genggaman tangan Vika perlahan. "Aku sudah tidak memiliki alasan apapun untuk menemui Samuel. Mungkin ada baiknya kamu sampaikan sendiri."


"Nis, aku nggak akan minta tolong ke kamu kalau saja Samuel mau dengerin aku." Vika berusaha mengontrol nada suaranya agar tetap terdengar normal. "Selama ini yang aku tahu, kamu adalah orang yang selalu dia dengarkan."


Nisa memejamkan matanya. Jujur saja, pikirannya bercabang-cabang saat ini. Bagai buah simalakama, ia tidak ingin bersinggungan dengan hal apapun yang berhubungan dengan Samuel, tapi ia juga tidak ingin melihat banyak orang kesulitan karena keputusan sepihak yang Samuel buat.

__ADS_1


"Aku mohon. Aku tidak akan menggantungkan sepenuhnya harapan kalau Samuel bisa berubah pikiran karena kamu. Tapi aku mau kamu coba bicara saja sama dia."


Oke, Nisa tidak bisa melihat orang lain memohon-mohon meminta bantuannya. Dan yang ia lakukan setelahnya adalah mengangguk, kemudian menyetujui permintaan Vika.


__ADS_2