Cinta Yang Halal

Cinta Yang Halal
salah paham


__ADS_3

Aku sedang membuatkan rujak pesanan ka Adit tadi malam.


Sungguh aneh biasanya juga ka Adit tidak suka buah yang masam, tapi kali ini dia meminta aku membuatkan rujak memakai mangga muda dan kedondong yang banyak.


Tapi ta apalah mungkin dia sedang merasa pusing, kan jika orang pusing kadang pengennya makan yang pedes dan yang masam. Itu sih menurutku.


Rujaknya sudah siap, aku tinggal ganti baju dan bersiap-siap saja, setelah itu langsung berangkat.


Ku ambil tasku dan kunci mobil di atas nakas, ku lajukan mobil keluar dari halaman rumahku.


Jalanan tidak begitu ramai karena sekarang bukan hari wekend.


Aku menyalakan qiro Al-Qur'an surah Ar-Rahman untuk menghilangkan rasa jenuhku di mobil.


Biasanya jika aku mendengar lantunan ayat Al-Qur'an aku merasa damai, dan surah Ar-Rahman adalah salah satu Surah kesukaanku.


Tak terasa aku sudah sampai lagi di parkiran RS, langsung saja aku mencari tempat parkir yang kosong.


Aku memasuki lorong rumah sakit, ku langkahkan kaki menuju ruangan Ka Adit.


Aku sangat risih dengan orang-orang di sini, menatapku seolah aku ini aneh, apakah memakai niqab aneh di mata mereka.


"Maaf bak ruangan dokter Aditya nugraha sebelah mana ya?". Tanyaku pada seorang resepsionis.


"Oh itu sebelah sana bak?" jawabnya sambil menunjuk sebuah ruangan.


Ku percepat langkah kakiku agar segera sampai di ruangan suamiku.


Aku memasuki ruangannya tapi aku tidak menemukan ka Adit di sini, apakah dia sedang ada pasien.


Terdengar suara langkah kaki aku kembalikan badan, aku kira ka Adit tapi ternyata itu seorang suster.


"Maaf bak, ada perlu apa ya memasuki ruangan dokter Aditya". Tanyanya padaku, ya ka Adit memang bukan dokter sembarangan.


"Saya mencari dokter Adit sus". Jawabku.


"Oh, mbak pasiennya dokter Adit ya, maaf bak tapi dokter Aditnya tadi keluar". Jelasnya padaku. Aku hanya tersenyum di balik niqabku saat suster itu berkata aku pasiennya Ka Adit.


"Oh begitu ya sus, kira-kira dokter Aditya'nya kemana ya sus?. Tanyaku padanya.


"Saya kurang tau bak, tapi kalau mbak pasiennya dokter Aditya, mba bisa menemui dokter pendamping nya dokter Adit ba".


"Tidak terima kasih, saya menunggu dokter Adit saja".


Sudah setengah jam aku menunggu Ka Adit, ruangan ka Adit dekat sekali dengan pintu masuk jadi sesekali aku melihat pintu masuk, siapa tau ka Adit datang.


Saat aku melihat pintu masuk untuk yang kesekian kalinya, aku melihat seseorang berlari ke arah suster dengan tergesa-gesa.

__ADS_1


Ah bukankah itu ka Adit tapi ada apa dengannya, ku ikuti dia bersama suster itu, mereka menuju mobil Ka Adit.


Aku melihat ka Adit membukakan pintu mobil, dan suster membantu seseorang untuk keluar. Aku hanya melihat punggung orang itu.


Tunggu bukankah itu wanita yang ka Adit temui di rumahnya kemarin.


Kecewa sudah pasti aku sangat kecewa, tapi tunggu wanita itu terlihat memegangi perutnya, apakah dia akan melahirkan.


Ku lihat mereka mulai memasuki rumah sakit, langsung saja aku langkahkan kakiku menuju ruangan Ka Adit.


Aku mendengar ka Adit berbicara pada suster.


"Sus, tolong jaga dia ya, jangan sampai dia dan bayinya kenapa-napa, saya tidak bisa menemaninya" . ucapnya kepada suster yang membawa wanita itu ke ruang persalinan.


Aku dapat mendengarnya karena aku mengintip dari pintu ruangan ka Adit.


Aku duduk di kursi yang suka di duduku pasien saat konsultasi, aku melihat pintu terbuka, dan ternyata itu ka Adit.


"Sayang, kamu udah nyampe sini". Ucapnya padaku, dia terlihat sedang kawatir.


"Iyah, udah dari tadi malah setengah j yang lalu". Jawabku sambil menghampirinya dan mencium tangannya.


"Maaf yah lama menunggu, tadi kakak ada perlu". Ka Adit mengusap kepalaku dan tersenyum.


"Tidak apa, ini rujak pesanan kakak ayo di makan dulu". Aku mengurungkan niatku untuk bertanya.


Biarkan ka Adit memakan rujaknya dulu, karena aku sangat ingin sekali melihatnya memakan rujuk buatanku ini.


"Bagaimana ka rujaknya enak ga". Tanyaku pada ka Adit yang terlihat begitu lahap memakan rujak buatanku itu.


"Enak, sayang  kamu mau?" tanya nya sambil mengarahkan garpu berisi buah kedongdong ke mulutku.


Langsung saja aku membuka mulutku dan ka Adit memasukan potongan kedondong itu.


Ini sangat masam, tapi ka Adit terlihat biasa-biasa saja memakannya.


Ku lihat wadah rujak yang aku bawa tadi sudah kosong, isinya tentu sudah di lahap habis oleh ka Adit.


Aku biarkan dia minum dulu setelah itu aku akan bertanya tentang siapa perempuan itu, aku tidak ingin ka Adit terus bohong padaku dan membuatku suudzon padanya.


"Ka habis dari mana tadi ". Tanyaku pada ka Adit.


"Aku habis dari Alfamart". Jawabnya berbohong, sungguh aku sudah sangat kesal mendengar kebohongannya.


"Ke Alfamart selama itu ka, jangan berbohong". Ucapku mulai geram pada suamiku.


"Aku tidak berbohong sayang tadi aku membeli makanan ringan, tapi aku lupa makanan ya tertinggal di mobil". Sungguh ka aku tidak ridho kamu berdosa karena selalu saja berbohong padaku.

__ADS_1


"Aku mohon ka jujur padaku, bohong itu dosa, jangan terbiasa oleh kebohonganka". Aku mulai merasa sangat ingin menangis, saat ka Adit terus saja berbohong.


"Siapa perempuan itu ka, siapa?". Tanyaku dengan mata yang sudah memanas.


"Maaf Ran, Maafkan aku". Ka adit hanya menjawab perkataanku dengan kata maaf saja.


Adit pov.


Aku tahu kebohongan yang aku mulai pasti akn berlanjut, tapi aku sudah terlanjur berjanji pada Ziya bahwa aku tidak akan memberitahukan masalahnya apa ibu dan bapak serta pada Rania sebagi kakaknya.


Ya Allah aku tahu aku telah berdosa karena selalu membohongi istriku, dia yang tak pernah berkata setinggi itu kepadaku sekarang menaikan suaranya menjadi seperti membentakku.


Aku melihat matanya yang penuh kesakitan, apa kenapa dia seperti sangat terluka, apa yang Rani pikirkan, apa mungkin dia berpikir aku selingkuh.


Saat ia bertanya aku hanya mampu meminta maaf.


Aku akan memberitahunya setelah Ziya lahiran, aku tidak ingin Rania kawatir, dan akan tambah marah padaku karena telah menyembunyikan sebuah fakta tentang adik kesayangannya.


Astagfirulloh aku sudah membentak suamiku, apa yang aku lakukan, sungguh ini di luar kendaliku.


Bukan maksudku membentaknya aku terbawa emosi, aku melihat ekspresi penuh penyesalan di raut muka ka Adit.


"Maaf ka Aku tidak bermaksud membentakku". Ucapku, sungguh aku sangat menyesal.


"Tidak apa aku yang salah kau hanya menginginkan sebuah kebenaran kan" jawabnya dengan nada suara yang sepertinya menahan luka yang telah aku beri.


"Maaf, aku hanya ingin kejujuran kakak, siapa perempuan itu, bila kakak ada hubungannya dengan dia atau kakak mencintainya kenapa kakak tidak bicara langsung padaku, kakak bisa membawanya kerumah jika kakak mau aku tidak keberatan bila memang dia itu maduku, tapi aku mohon kejujuran kakak". Ucapku mengatakan semuanya yang ingin aku katakan.


"Ya Allah, apa yang kamu pikirkan Ran, kamu satu-satunya wanita yang aku cintai, aku hanya menolongnya Ran percayalah padaku, aku tidak bermaksud membohongimu". Jawab ka Adit.


"Lalu apa yang selama ini kakak lakukan pagi sore selalu mengunjunginya, jika dia bukan mahram kakak kenapa kakak selalu menemuinya ka sungguh bukankah itu perbuatan yang tidak baik".


"Maaf ran tapi dia membutuhkan pertolongan kakak".


"Terserah kakak aku sudah mengingatkan kakak, aku merasa lelah aku akan pulang".


Kepalaku terasa sangat pusing percuma berdebat jika ka Adit sulit sekali untuk jujur.


"Biar aku antar Ran". Ucap ka Adit.


"Tidak usah ka, kakak temani saja dia, diakan sedang lahiran". Jawabku entahlah aku menjadi sinis seperti ini.


"Ku mohon Ran percayalah padaku aku hanya menolongnya, besok aku akn membawamu padanya Ran biar kau tidak marah terus seperti itu padaku". Ka adit meninggikan suaranya entah dia mungkin sudah merasa kesal padaku karena aku terus memaksanya untuk berkata jujur.


"Aku pamit ya ka, maaf bila aku marah padamu dan membuatmu marah padaku, assalamualaikum". Ucapku sambil  mencium tangan ka Adit dan berjalan ke arah pintu.


"Waalaikumsalam,Jangan lupa berwudhu, kamu sedang emosi Ran". Ka Adit melembutkan kembali suaranya.

__ADS_1


Tiba-tiba penglihatanku sangat gelap, dan kakiku sangat lemas sebelum mencapai pintu aku sudah ambruk.


Dan aku merasakan ka Adit menangkap tubuhku.


__ADS_2