
"Sayang bangun hey". Ka Adit menepuk-nepuk pipiku pelan, aku bisa mendengarnya tapi kepalaku masih terasa pusing.
Adit pov.
Aku sungguh kawatir Rania tiba-tiba pingsan, sungguh aku sangat merasa bersalah, saking paniknya aku hanya bisa menepuk-nepuk pipinya untuk membangunkannya.
Dasar Adit bodoh padahal aku ada di Rumah sakit tapi sungguh aku melupakan hal itu, aku malah kepanikan tanpa membawa Rania ke dokter untuk memeriksanya.
Tunggu aku juga dokter tapi saat istriku yang seperti ini, aku malah sulit untuk menolongnya.
Ku tepuk-tepuk terus pipinya hingga Rania tersadar.
Sungguh ini salahku jika saja kami tidak berdebat hari ini rania pasti tidak akan merasa lelah dan pingsan.
"Dokter, Istrinya sudah selesai melahirkan, mari ikut saja untuk mengadzani bayinya". Seorang suster masuk ke ruanganku memberi tahu bahwa Ziya sudah lahiran.
Tapi apa dia bilang Istriku, ah sial, pasti Rania akan salah paham lagi.
Ku lirik Rania dia terlihat bingung atas pernyataan suster itu.
"Oh iyah terima kasih sus, saya akan kesana, tapi maaf sus dia bukan istri saya". Jawabku agar Rania tidak salah paham padaku.
"Loh dok kalau bukan istri siapanya, ko setiap periksa diakan sama dokter ". Tanya suster itu kepo.
"Dia Adik saya sus, yang istri saya tuh ini". Jawabku sambil merangkul Rania.
Aku baru saja sadar dari pingsan, lalu seorang suster masuk mengatakan bahwa wanita itu telah melahirkan.
Dan suster berkata itu Istri ka Adit, tentu saja Aku kaget, tapi sebelum aku bertanya ka Adit sudah meralatnya.
Suster itu bertanya pada ka Adit jika ka Adit bukan suaminya kenapa ka Adit selalu mengantar perempuan itu.
Aku juga penasaran dengan jawaban ka Adit,yang membuatku kaget adalah ketika ka Adit mengatakan bahwa itu adiknya.
Tunggu bukankah ka Adit tidak memiliki adik, lantas apa maksud ka Adit mengatakan bahwa perempuan itu adiknya.
"Ayo sayang kita ke sana" ucap ka Adit padaku.
"Aku tidak mau, jika kakak mau kesana maka kenalan sendiri". Jawabku karena aku merasa sangat sulit untuk bangun, kepalaku masih terasa pusing.
"Sayang jangan seperti itu, aku hanya ingin meluruskan kesalah pahaman kita" iya itu memang benar jika aku ikut dengannya aku bisa tau siapa wanita itu.
__ADS_1
"Bukan apa ka tapi kepalaku masih terasa sangat pusing, aku sulit untuk berjalan". Jawabku jujur karena memang aku menolaknya bukan karena tak mau tapi aku sulit untuk bangkit apalagi berjalan.
"Kalau begitu, ayo aku gendong". Di rumah sakit ini banyak kursi roda kenapa harus menawarkan di gendong.
"Ka di sini pasti ada kursi roda, kakak ambilkan saja kursi roda".
"Tidak itu terlalu lama, aku gendong saja kamu". Ucapnya, dia mendekat dan benar-benar menggendongku.
"Ka turunkan, lihat semua orang melihat ke arah kita". Aku begitu malu setiap orang yang kami lewati selalu saja melit kami.
"Biarkan saja itu kan hak mereka melihat kita". Ucap ka adit enteng.
Aku mendengar suara bisik-bisik suster yang mengatakan aku tak tau malu memakai niqab tapi mau-maunya di gendong lelaki.
Hei, dia suamiku, tidak masalah bila dia mengendongku, kenapa mereka mempermasalahkannya.
Kami memasuki ruang persalinan, aku melihat wanita tengah berbaring dan di sampingnya seorang bayi mungil yang sangat lucu.
Aku tidak bisa melihat wajah wanita itu karena dia membelakangiku.
Ka Adit menyuruhku untuk diam dulu di pintu, dan dia duluan masuk menemui wanita itu.
Aku tidak tau apa yang ka Adit bicarakan dengan wanita itu, aku hanya melihat dia sedang berdebat dengan wanita itu.
Adit pov.
"Ziya, ada Rania di si i". Ucapku memberi tahu Ziya.
"Mas memberi tahu ka Ran aku di sini". Jawab Ziya kaget.
"Tidak, tapi tadi Rania melihat aku membawamu, dia tidak tahu itu kamu sehingga dia salah paham terhadapku Zi ". Aku mengatakan semaunya sungguh aku sudah tidak tahan menyembunyikan Ziya dari keluarganya, Ziya seharusnya bisa mengerti bahwa keluarganya pasti sangat kawatir.
"Mas, aku mohon bawa ka Ran keluar, aku tidak ingin ka Ran tahu bahwa aku sedang melahirkan tapi suamiku tidak mendampingiku".
"Maafkan aku Zi aku tidak bisa, Rania menganggapku selingkuh, aku tidak ingin Rania terus salah paham padaku, tolong mengertilah Zi keluargamu pasti akan sangat kawatir apalagi Rania dia sangat menyayangimu".
Bagilah masalahmu kepada orang lain jika kamu merasa masalah yang kamu hadapi sangat berat, tapi jika kamu ragu mempercayai seseorang bagilah masalahmu dengan Allah percayalah semuanya akan terasa ringan.
"Maafkan aku mas, gara-gara aku ka Ran jadi salah paham padamu, tapi mas aku mohon jangan beritahu dulu soal penyakitku pada bak Ran, aku siap bertemu dengannya". Akhirnya Zahra menyerah juga dengan keras kepalanya.
"Ran masuklah". Ucapku memanggil Rania.
__ADS_1
Aku melihat ekspresi keterkejutan dari wajah Rania.
"Ka Ran". Ucap Ziya memanghil Rania.
"Ziya, jadi wanita itu kamu". Rania seperti akan menangis.
"Iya Ka, maafkan aku membuatmu berburuk sangka pada suamimu, sungguh aku tidak ada maksud ka, aku hanya tidak tahu harus memimta tolong pada siapa selain ibu, bapak dan kakak, makanya aku meminta tolong pada mas Adit".
"Apa yang kamu sembunyikan dariku Zi?". Tany Rania pada Ziya.
"Aku sudah berpisah dari suamiku Kak , aku ta ingin membuat kalian bersedih makanya aku meminta bantuan mas Adit untuk menyembunyikanku dan kebenaran itu, aku tidak tahu bahwa gara-gara hal ini Kakak akan salah paham dan menuduh Mas Adit selingkuh, sungguh maafkan aku ka". Ucap Ziya pada Ran oanjang lebar.
"Aku tidak mau memaafkanmu". Ucap Rania dengan berurai air mata.
"Maafkan aku, aku mohon ka sungguh ka Adit hanya menolongku". Ziya menangis juga.
"Bukan itu masalahnya, tapi kamu membuatku kawatir kamu tidak mempercayai aku sebagai kakakmu untuk berbai masalahmu Zi".
"Maaf ka".
"Sudah jangan terus meminta maaf, dasar adik nakal, seharusnya sebelum kamu berbagi masalahmu dengan kakak iparmu kamu harus membagi masalahmu dengan kakamu dulu". Rania memeluk Ziya.
"Iya lain kali aku tidak akan begini lagi, tapi aku mohon ka jangan beri tahu dulu ibu soal ini".
"Tidak Zi aku harus memberi tahu mereka, jangan egois ji sesakit apapu kenyataan kita harus mengungkapkannya".
"Tapi ka"
"Ziya sayang, satu kebohongan akn di tutupi dengan kebohongan, aku tidak ingin kebohongan-kebohongan membuat semuanya menjadi tambah sulit".
"Baiklah ka aku setuju dengan kakak".
Derama adik kakak ini akhirnya selesai juga hingga aku mendengar Rania memintaku untuk mengadzani keponakannya.
"Mas ayo adzani keponakanmu, siapa tau dengan begitu kita akan tertular punya anak". Ucap Rania.
"Iya Ran".
Jujurlah meski kejujuran kadang menyakitkan. Sebab sesuatu yang di awali kebohongan akan selalu mendatangkan kebohongan lainnya.
Jujurlah dalam segala hal, karena
__ADS_1
Satu kebohongan akan mendatangkan kebohongan lain yang nantinya akan menimbulkan masalah yang lebih rumit.