
Cuaca sedang tidak bersahabat hari ini. Sejak pagi hingga menjelang tengah hari, hujan deras mengguyur Ibukota. Matahari bahkan hanya mengintip malu-malu di balik gelapnya awan kelabu.
“Ada apa kesini hujan-hujan begini, Lil?”
Nisa menyuguhkan teh hijau seperti biasa kepada Alila. Gadis itu nampak sedikit kedinginan. Ujung roknya basah, dan pakaiannya lembab. Ia mengeratkan hoodie yang ia kenakan.
“Aku mau izin beberapa hari, boleh?”
Nisa mengerutkan kening. “Mau kemana?”
Nisa bisa menagkap raut gelisah dari wajah gadis tersebut.
“Aku ada janji sama Kahfi.” Ucapnya kemudian.
“Sekarang? Masih hujan loh.” Nisa berusaha membaca maksud Alila. Bola mata Alila sesekali bergerak-gerak kesana kemari.
Merasa Alila tidak akan memberi jawaban, Nisa kembali buka suara, “Kalau begitu, saya telepon Mas Kahfi dulu. Supaya dia jemput kamu sampai di depan Rumah.”
Dengan gerakan cepat, Alila menaha pergerakan Nisa. Gadis itu mencekal tangan Nisa dengan erat. “Tidak usah. Biar aku yang ke Parkiran.”
Kali ini Nisa semakin yakin, bahwa ada sesuatu yang sedang Alila tutupi. Ia menarik tangan Alila lembut, lalu membuat gadis itu kembali duduk di posisi semula. “Apa ada yang mengganggumu?”
Alila membuang pandangan ke arah jendela. Ia menggigit bibir bawahnya, seperti khawatir. “Tidak ada.”
Nisa meraih tangan Alila, lalu mengenggam tangan dingin tersebut dengan lembut. “Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri kalau sampai karena izin yang saya berikan sama kamu itu justru mencelakaimu.”
Alila menatap Nisa dengan sorot yang tidak bisa di baca. “Aku mau bertemu dengan laki-laki itu.”
Nisa mengerutkan kening. Ia tahu laki-laki yang terlibat dalam kehidupan Alila, tapi ia tidak tahu pasti siapa laki-laki yng di maksudnya kali ini. “Siapa?” Tanyanya.
Alila memilin-milin ujung jilbabnya, ia bergerak-gerak gelisah. “Laki-laki yang sudah merusakku.”
Nisa terhenyak. “Untuk apa kamu menemuinya?”
Alila kini mengamgkat wajahnya. Mata sendunya menatap Nisa, “Ada yang mau dia bicarakan.”
“Jangan pergi.”
Napas Alila tertahan. Air mata menganak sungai di pipi. “Ada yang harus ku selesaikan dengan dia.”
“Kalau begitu tunggu disini.” Nisa bergegas masuk ke dalam, hendak mengambil sweeter.
Begitu kembali, ia disambut dengan tatapan heran Alila. Mengerti sedang di tatap aneh oleh sosok di hadapannya, Nisa menjelaskan, “Aku mau nemenin kamu.”
Refleks Alila berdiri. “Jangan. Jangan terlibat terlalu jauh. Aku bisa pergi sendiri.” Gadis itu berusaha lari, mengabaikan hujan dan juga teriakan Nisa yang memanggil namanya.
Merasa tak ada pilihan, terpaksa Nisa berlari mengejar Alila. Ia menyerobot payung yang di gantung di pintu gerbang garasi. Nisa terus meneriakkan nama Alila, berharap gadis itu mau menghentikan langkahnya.
“Alila!”
__ADS_1
Alila tidak menoleh sama sekali, bahkan gadis itu semakin memacu langkahnya. Ketika sampai di depan gerbang, sudah ada taxi yang menantinya. Ternyata ia sudah merencanakan semuanya.
Nisa ketar-ketir ketika melihat sosok yang di kejarnya masuk ke dalam taxi dan kemudian taxi tersebut melaju dengan cepat. Jantungnya seperti di pompa dua kali lebih cepat. Napasnya tersengal-sengal. Tidak mudah berlarian di tengah hujan.
Tak ingin membuang waktu percuma, Nisa kembali ke rumah untuk mengambil mobil. Langkahnya berlari tergesa. Begitu mendapat kunci, ia bergegas masuk ke dalam mobil dan mengendarainya dengan kecepatan diatas rata-rata. “Astaghfirullah, kalau terjadi apa-apa sama Alila bagaimana?” Nisa bergumam sendiri. Tangannya masih fokus pada kemudi.
Nisa baru sadar, sejak tadi ia hanya berjalan lurus saja tanpa arah yang jelas. Ia tidak tahu kemana perginya Alila. Merasa percuma jika melakukan usaha sendirian, Nisa berinisiatif menghubungi Kahfi. Ia menepikan mobil ke bahu jalan, tangannya sibuk mencari ponsel. Setelahnya Nisa mengucap istighfar, baru ingat bahwa ia tidak membawa ponsel. Karena terburu-buru di tambah pikirannya yang kacau membuatnya melupakan benda penting yang saat ini sangat di butuhkan.
Nisa melihat sekeliling. Sekarang ia berada di dekat Kampusnya. Merasa bahwa opsi untuk meminta bantuan Kahfi bukan pilihan yang tepat. Nisa mencoba berpikir cerdas di saat-saat genting seperti ini. Saat ini pikirannya tertuju pada sosok yang kemungkinan besar dapat membantunya. Gadis itu memutar mobil menuju Kampus.
Begitu memasuki pekarangan Kampus, Nisa membelokkan mobil ke arah ruang sekretariat. Hujan masih mengguyur dengan derasnya, gadis itu menerobos hujan dan dengan gesit berlari menuju ruang sekretariat.
Ruang sekretariat terlihat ramai, banyak mahasiswa yang duduk di teras depan. Mungkin sebagian dari mereka sedang berteduh. Nisa tak peduli, kakinya masih berlari. Kali ini ia langsung menerobos ke dalam. Begitu sampai, ada dua pintu di hadapannya. Ia tidak tahu dimana sosok yang ia cari saat ini berada.
Kedua pintu itu tertutup rapat. Merasa tak ada pilihan, Nisa langsung membuka pintu sebelah kanan. Begitu pintu di buka, beberapa pasang mata menatap ke arahnya. Sesaat Nisa merutuki kebodohannya yang lupa mengetuk pintu karena terburu-buru.
“Nisa?”
Suara itu seolah mengembalikan kesadaran Nisa untuk kembali pada tujuan awalnya. Samuel bangkit dari duduknya. Meninggalkan beberapa orang yang duduk melingkar.
Setelah pamit undur diri dengan Fathur, Samuel bergerak ke arah Nisa. “Kenapa?”
“Boleh pinjam hp?”
Samuel berbalik, melihat beberapa pasang mata yang sedang menatap dirinya dengan Nisa penuh tanya. Setelahnya ia menutup pintu dan membawa Nisa ke tempat yang lebih lengang.
“Kenapa, Nisa? Kamu basah kuyup kayak gini darimana?”
Meski tak mengerti dengan sikap aneh Nisa, Samuel tetap mengambil handphonenya kemudian menyerahkan kepada Nisa.
“Nama kontak Abiku disini siapa?”
“Camer.”
Sesaat Nisa menghentikan gerakannya. Kalau saja tidak dalam keadaan genting, ia pasti sudah memprotes Samuel. Namun sedetik kemudian ia kembali fokus mencari nomor ponsel Abinya. Setelah menemukan, ia langsung menekan tombol dial, tak butuh waktu lama, di nada panggilan kedua Abinya langsung menjawab.
“Abi, tolong kirimkan nomor telepon Mas Kahfi.”
“Kenapa, Nduk? Kamu sekarang dimana?”
“Nanti kalau pulang Nisa cerita. Sekarang tolong kirim nomor telepon Mas Kahfi dulu.”
Nisa menutup telepon setelah Abinya mengiyakan. Tidak cukup sampai 2 menit, sebuah pesan masuk. Dari Abinya. Ia langsung menekan tombol dial untuk menelepon nomor yang dikirimkan Abinya tadi.
“Halo, Mas Kahfi. Alila kabur dari Pesantren.”
Seseorang disana nampak panik.
“Aku lagi cari dia. Mas ke Guna Dharma sekarang. Aku tunggu disini.”
__ADS_1
Nisa menutup sambungan sepihak. Ia mengembalikan ponsel kepada pemiliknya. Nisa baru sadar, sejak tadi Samuel memperhatiakannya.
“Alila yang kamu maksud siapa?”
Nisa melihat ada guratan-guratan aneh di wajah Samuel. “Santri baru di pondok.” Ucapnya kemudian.
Samuel mengerutkan kening. Namun ia menepis asumsinya. Ada banyak nama Alila di dunia ini. Tidak mungkin Alila yang di maksud Nisa adalah Alila mantan kekasihnya.
“Saya permisi dulu. Terima kasih atas bantuannya, dan maaf karena sudah menganggu waktumu.”
Nisa hendak pergi, namun pergerakannya di hentikan oleh cekalan tangan besar yang menyentuh pergelangannya.
Begitu sadar, Samuel melepas cekalannya pada pergelangan tangan Nisa. “Maaf.”
Ribuan kupu-kupu kembali menari di dalam perut Nisa. Nisa beristighfar, lalu memalingkan wajahnya.
“Biar saya ikut.”
Selanjutnya Nisa merasa tidak punya pilihan. Sekarang Samuel mengikuti langkahnya. Berjalan beriringan menuju tempat Nisa memarkirkan mobilnya.
*****
Nisa harus ikhlas saat Samuel memaksakan diri mengambil alih kemudi. Sekarang laki-laki itu menguasai pergerakan mobil yang melaju sedang membelah jalanan basah di depan sana.
"Kita ke arah mana?" Samuel buka suara setelah sejak tadi keheningan melingkupi keduanya.
"SPBU yang di jalan Ahmad Dahlan." Ucap Nisa. Tatapannya lurus ke depan, sesekali ia mengecek ponsel Samuel yang ada dalam gengamannya. Samuel berbaik hati meminjamkan ponsel miliknya kepada Nisa, dengan syarat ia diizinkan menemani gadis itu.
"Dia nunggu disana?"
Dia yang Samuel maksud adalah Kahfi. Laki-laki itu memutuskan untuk menunggu Nisa di SPBU Ahmad Dahlan, setelah membatalkan bertemu dengan Nisa di Kampus.
Nisa mengangguk. Tatapannya masih fokus pada jalanan di depan. Begitu sampai di depan SPBU, Nisa langsung turun, menghampiri Kahfi yang terlihat sedang cemas. "Gimana ceritanya Alila bisa kabur?"
"Ceritanya panjang. Nanti saja saya ceritakan kalau Alila sudah ketemu. Sekarang kita fokus cari Alila dulu."
Diam-diam Samuel mengamati interaksi keduanya. Ia seperti mengenali wajah laki-laki tersebut. Ia merasa pernah bertemu, tapi kapan? Dan dimana?
Samuel berjengit begitu pintu di buka. "Kita ke Bekasi." Ucap Nisa begitu ia memasuki mobil.
"Bekasi? Jauh banget." Perjalanan menuju Bekasi memakan waktu kurang lebih 3 jam.
Nisa mengangguk mantap. "Kenapa? Kamu keberatan? Kalau begitu kamu boleh pulang, biar saya yang ambil alih kemudi."
Buru-buru Samuel menggeleng cepat. "Enggak. Biar pun kamu mau sampai ke ujung dunia, aku anterin." Ucap Samuel jumawa sambil menepuk-nepuk dada.
"Kalau begitu ayo jalan. Ikuti mobil di depan."
Samuel mulai kembali melajukan mobil membelah jalanan. Hawa dingin yang berasal dari AC mobil membuat Nisa bergidik. Sesekali ka merapatkan sweeter yang di pakainya. Melihat hal itu Samuel merasa iba. "Nis, kamu nggak ganti baju dulu? Kamu basah kuyup, bisa hiportemia."
__ADS_1
Nisa menggeleng. "Nggak papa. Kita sekarang sedang berburu dengan waktu. Nanti juga pakaianku kering sendiri."
"Keras kepala." Samuel menggumam sendiri, namun masih terdengar di telinga Nisa. Nisa mengabaikan hal itu. Selama perjalanan, Samuel yang biasa banyak bicara kali ini benar-benar tak berkomentar apapun.