Cinta Yang Halal

Cinta Yang Halal
37


__ADS_3

Setelah 3 tahun lebih menjadi mahasiswa, Nisa menyadari satu hal. Bahwa sudah terlalu banyak hal yang terlewatkan. Kalau sudah seperti ini, maka ia pasti berpikir, 'kenapa siih dulu nggak gini', 'kenapa sih dulu nggak gitu'. Sampai akhirnya berujung pada penyesalan. Nisa bukanlah mahasiswa yang aktif dalam organisasi. Lembaga Dakwah Kampus menjadi organisasi tunggal yang ia tekuni sejak semester 2. Jadi kalau bertanya masalah pengalaman, hanya sedikit yang ia miliki selama duduk di bangku perkuliahan. Ia justru jauh lebih aktif di luar. Ia sering mengisi acara-acara kepenulisan, mengikuti lomba musabaqah tilawatil Qur'an, atau lomba-lomba ceramah. Dan itulah sebabnya mengapa eksistensinya di kampus tidak begitu di akui.


Dan selama mencicipi dunia perkuliahan pun ia juga menyadari satu hal, bahwa semua penggambaran tentang tokoh mahasiswa di berbagai produksi film memang hanya fiksi belaka. Apalagi yang temanya romansa. Sungguh hina semua itu karena jarang ada betulnya. Mahasiswa pada betulnya itu disibukkan dengan tugas, laporan, kerja kelompok, kuis dadakan. Sedang romansa kampus itu hanya di miliki oleh segelintir mahasiswa di jurusan tertentu saja, alias dikit banget.


Jujur, Nisa kagum dengan teman seangkatannya yang sudah aktif berkecimpung di dunia organisasi mulai yang standard seperti himpunan sampai yang high seperti organisasi-organisasi politik kampus yang doyannya mengkritik tindakan-tindakan kotor pemerintah atau petinggi negara. Rasa-rasanya waktu buat mereka berputar bukan 24 jam tapi 48 jam.


Membahas mahasiswa tukang kritik seperti itu, mengingatkan Nisa pada Samuel. Laki-laki itu juga seseorang yang doyan mengkritik. Bahkan ia sampai di juluki 'mahasiswa antik' yakni mahasiswa angkat kritik. Hal itu di karenakan Samuel yang jago sekali dalam hal kritik mengkritik pemerintah. Laki-laki itu pernah sekali pun ketinggalan ketika ada demo. Meski bukan mahasiswa Guna Dharma yang menggelar, namun apabila ada panggilan untuk aksi, telinganya langsung ON memproses informasi.


"Nisa! Nisa! Nisa!" Teriakan Sarah yang beradu dengan suara sepatu berlarian di lantai berlari menuju ke arah Nisa.


"Lihat ini?" Kini Sarah sudah merangkul pundak Nisa dengan napas tersengal-sengal. Sepertinya ia baru saja berlari menaiki tangga dari lantai satu menuju lantai empat.


"Kamu kesini lari, Rah?" Nisa bertanya untuk membenarkan teorinya. Sarah mengangguk. "Ya ampun, kakimu ndak pegel tah?" Nisa memeriksa kaki Sarah yang langsung di tepis oleh gadis itu.


"Heh udah nggak papa." Ucapnya kemudian. "Lihat ini." Sarah menyodorkan ponsel miliknya ke arah Nisa.


Nisa memperhatikan benda tersebut. Ketika layar di hidupkan ia membaca sesuatu disana. SELAMAT!!! PERUSAHAAN MENGANGKAT ANDA SEBAGAI SEKRETARIS DARI DIREKTUR UTAMA.


Nisa ternganga membaca sebaris kalimat tersebut. Yang ia tahu, selama ini Sarah bekerja paruh waktu di sebuah perusahaan ternama, dan ia bekerja di bagian paling bawah. Bersama dengan para karyawan magang. Dan saat ini, tiba-tiba ada pemberitahuan dia di angkat menjadi asisten dari direktur utama? Sungguh mengherankan.


"Nis, apa aku mimpi? Atau ini notifikasi nyasar?" Saat ini wajah Sarah berubah cengo.


"Kayaknya enggak deh, Rah. Itu beneran." Ucap Nisa.


"Ngimpi apa aku semalam, bisa naik jabatan tiba-tiba kayak gini?! Jabatannya bukan jabatan biasa lagi." Mata Sarah berbinar-binar.


"Tunggu, Rah. Kalo kamu di angkat jadi sekretaris dari direktur utama, itu tandanya kamu bakalan kerja langsung sama si direktur dong? Kamu bakalam ketemu sama dia terus? Bukannya direktur utama di perusahaanmu itu Pak Alfian?"


Senyum yang tadi menghias wajah Sarah lenyap seketika. Ia sama sekali tak meikirkan hal itu karena saking senangnya.


Rasa senang yang tadi berubah menjdi desahan frustasi. "Aku kudu piye sekarang?"


"Aku mencium maksud lain dari tindakan pak Alfian, Rah."


Sarah merengut. Wajahnya seratus persen masam. "Jangan nakut-nakutin deh." Rengeknya.


Nisa menggeleng. "Bukan nakut-nakutin. Cuma mau ngingetin kamu buat waspada aja." Jawabnya. "Mungkin kamu bisa temuin Pak Alfian langsung, dan tanyakan apa maksud beliau tiba-tiba ngangkat kamu jadi sekretarisnya."


Sarah benar-benar frustasi sekarang. Ia sama sekali tak bisa menebak hal apa yang sedang di rencanakan oleh bosnya saat ini. Entah kenapa, ia jadi merasa takut. Jangan-jangan bosnya itu memiliki niatan jahat terhadapnya? Tapi kata Nisa jangan suka menaruh prasangka kepada orang lain, karena sebagian prasagka adalah dosa. Sarah memijit keningnya, rasa-rasanya kepalanya penuh sesak dengan pikiran-pikiran tidak jelas saat ini.


*****


Keheningan berpendar di selasar ruangan. Sampai-sampai suara pendingin ruangan yang biasa di abaikan kali ini terdengar jelas.


Alfian berdehem, hendak memulai pembicaraan. "Selamat, atas kenaikan jabatanmu." Ia mengulurkan tangan ke arah Sarah. Namun di balas Sarah dengan menangkupkan kedua telapak tangan di dada, tanpa mengurangi rasa hormat.


Alfian tersenyum maklum, ia sudah bisa menebak bahwa perempuan seperti Sarah pasti tidak mau berjabat tangan dengan laki-laki asing yang tak memiliki hubungan darah dengannya.


"Pertama-tama saya mau mengucapkan terima kasih kepada bapak, kemudian kepada perusahaan beserta jajarannya, tanpa kalian semua saya tidak bisa mencapai posisi ini ini, dan juga…"


"Kenapa resmi sekali? Macam menang nominasi." Alfian terkekeh. Merasa geli sendiri melihat tingkah absurd anak buah di hadapannya.


Sarah menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Jadi kenapa bapak ngangkat saya jadi sekretaris bapak?" Ucapnya tiba-tiba.


Bahkan Alfian sampa berjengit karena kaget dengan intonasi Sarah yang tiba-tiba ngegas. "Kamu bisa nggak sih, ngomong nggak tiba-tiba gitu?"


"Habisnya bapak melarang saya buat basa-basi, jadi saya langsung to the point." Ucapnya polos.


Alfian menggeleng-gelengkan kepalanya heran. Ada ya, gadis seperti Sarah. "Ya tapi tidak harus ngegas gitu juga sekretarisku."


Mendengar Alfian menyebut dirinya dengan panggilan 'sekretarisku' rasanya aneh. Ada sesuatu di dalam sana yag menari-nari tidak jelas, seolah sedang menyoraki Sarah yang tersipu malu-malu saat ini.

__ADS_1


"Maaf, Pak." Ucapnya penuh rasa takzim.


"Dan ya, buang panggilan 'bapak' itu untuk saya." Perintah Alfian.


Sarah refleks memukul mulutnya sendiri. Ia lupa, bahwa kemarin Alfian menyuruhnya agar tidak menggunakan panggilan tua tersebut.


Alfian mati-matian menahan tawanya agar tak meledak saat itu juga. "Jadi ada apa kamu menemui saya? Mau langsung bekerja atau ada sesuatu yang lain?" Tanyanya.


Sarah memperbaiki posisi hijabnya yang sedikit miring. "Seperti yang saya tanyakan tadi pak, eh maksud saya Mas. Kenapa tiba-tiba Mas Alfian ngangkat saya sebagai sekretaris?"


Alfian melipat kedua tangan di dada. "Memangnya kenapa? Kamu tidak suka jabatanmu di naikkan?" Tanyanya.


Sarah menggeleng cepat, tidak ingin atasanya tersebut salah paham. "Bukan begitu maksud saya Pak. Tapi, saya cuma merasa belum pantas saja. Secara, saya kan cuma karyawan magang yang bekerja paruh waktu. Saya takut, kalau saya tidak bisa menyelesaikan tugas saya dengan baik karena saya juga harus membagi fokus saya dengan perkuliahan."


Alfian manggut-manggut paham dengan alasan Sarah. "Sebenarnya, kamu bukan sekretaris umum yang harus menghandle hampir seluruh kerjaan. Kamu sekretaris pribadi saya. Jadi kamu bebas mau bagi waktu antara kerjaan dan kuliah. Tapi tidak usah khawatir, karena gaji kamu setara dengan gaji sekretaris umum." Ucapnya.


Sarah melongo. Sampai rahangnya seperti mau lepas saja. "Maksudnya?"


"Apa yang saya ucapkan tadi masih kurang jelas?" Alfian justru melempar balik pertanyaan.


Sarah spontan menggeleng pelan. Apa yang di katakan Alfian tadi memang sudah jelas. Hanya saja yang ia ta mengerti adalah atas dasar apa pria itu melakukan hal demikian terhadap dirinya.


"Kenapa Mas Alfian melakukan ini?" Tanya Sarah kemudian.


Alfian berpikir sejenak sebelum mulai buka suara. "Karena kamu istimewa."


Nisa hampir tersedak ludahnya sendiri mendengar kalimat Alfian. Istimewa katanya? Benar kata-kata Nisa, ia harus waspada dengan laki-laki di hadapannya ini.


"Apa ada yang salah, Sarah?" Tanya Alfian.


Yang salah adalah otakmu wahai Alfian. Tentu saja kalimat itu hanya berani Sarah gumamkan di dalam hati. Kecuali kalau ia ingin di depak dari perusahaan ini.


"Jujur saja, Sarah. Apa ada yang mengganggumu?" Tanya Alfian lagi.


Alfian menyimak dengan seksama. Lalu akhirnya tertawa. "Mungkin kamu mengira saya akan berbuat macam-macam denganmu, ya?" Ia tekekeh lagi. "Sarah Sarah, tenang saja, saya tidak memiliki niatan jahat denganmu. Saya hanya tertarik. Itu saja."


Sarah mengerutkan kening dalam. "Tertarik? Maksudnya?" Jangan salahkan Sarah jika saat ini ia melempar pandangan yang tak sopan terhadap bosnya. Karena laki-laki itu memang pantas mendapatkan hal tersebut.


"Saya jarang menemukan gadis sepertimu. Polos, apa adanya, blak-blakan, dan yang pasti tidak suka main belakang. Kamu beda dari perempuan-perempuan lain di sekitarku. Mereka akan langsung terpana melihatku dan memuja-mujaku ketika di depan. Dan ternyata mereka melakukan itu karena maksud tertentu. Berbeda denganmu. Kamu bahkan berani ngegas ke saya, di saat hampir semua orang bicara tertunduk-tunduk di hadapanku."


Ingatkan Sarah untuk menutup mulutnya saat ini agar lalat tak masuk. Gadis itu melongo sepenuhnya. Tak menyangka jika Alfian akan mengutarakan hal tersebut.


"Saya mencoba mendekatimu setelah sekian lama memperhatikanmu diam-diam. Mungkin kamu tidak menyadarinya." Ia terkekeh. Suara tawanya terdengar renyah sekali.


"Bagaimana bisa Mas Alfian tertarik sama saya di saat Mas di kelilingi oleh wanita-wanita yang jauh lebih di atas saya?" Akhirnya Sarah buka suara.


"Bukannya sudah ku sebutkan alasannya tadi? Saya malas mengulanginya." Ia berdiri, meraih cangkir dengan aroma kopi yang menguar.


Ia menyeruput kopi tersebut, satu tangannya ia masukkan ke dalam saku celana. "Apa kamu tidak tertarik denganku?" Tanyanya kemudian.


Sarah terdiam. Ia memang tidak memiliki ketertarikan khusus dengan atasannya tersebut.


"Oke, karena tidak ada jawaban. Maka saya anggap kamu juga tertarik denganku."


Beri tahu Sarah dimana ada jasa nyantet orang tanpa menimbulkan dosa. Rasa rasanya Sarah ingin menyantet Alfian hingga laki-laki itu muntah paku buk Seenaknya saja memutuskan sesuatu tanpa meminta persetujuan terlebih dahulu. Dasar the freak man in the world.


*****


Vika baru saja menyelesaikan persiapan untuk seminar proposal. Ia bergerak meninggalkan Kampus dengan memesan Ojol untuk membawanya ke Super Market. Kebutuhan sehari-harinya sudah menipis di Kost. Dan memang ia sudah hampir 2 bulan tidak pernah belanja bulanan di karenakan kesibukan di Kampus. Kalau tidak mengurusi kerjaan BEM, ya sibuk ngurus proposal dan persiapan KKNnya.


Vika menyerahkan selembar uang sepuluh ribuan kepada driver Ojol kemudian menyerahkan helm berwarna hijau yang tadi bertengger di kepalanya kepada sang empunya. Kakinya bergerak masuk ke dalam Super Market yang ramai pengunjung. Biasanya saat belanja bulanan seperti ini, Samuel yang mengantarnya. Laki-laki itu akan membuntutinya sambil mendorong troli besar, padahal belanjaan Vika tidak banyak-banyak amat. Troli hanya di jadikan alasan untuk membawa barang, toh nyatanya benda beroda tersebut ia gunakan untuk bermain-main. Ia akan menyuruh Vika naik di atas troli, kemudian mendoronya kesana kemari. Absurd memang. Vika tertawa kecil mengingat tingkah Samuel.

__ADS_1


Semenjak Samuel dekat dengan Nisa, Vika tahu diri untuk tidak dekat-dekat dengan laki-laki itu. Ia tidak ingin membuat Nisa salah paham. Jangankan Nisa, orang lain pun kadang salah mengira bahwa Samuel dan Vika memiliki hubungan khusus, dikarenakan mereka yang terlalu akrab dan Samuel yang memang selalu memperlakukan Vika istimewa. Bahkan Vika sendiri saja sampai salah mengartikan sifat laki-laki tersebut terhadapnya. Vika menghela napas, mengingat Samuel sama saja sedang sengaja membuat batinnya terluka. Meski berkali-kali ia mengatakan ikhlas, namun sudut hatinya terkadang masih nyeri juga tiap mengingatnya.


Vika mengambil troli, ia pun tidak mengerti mengapa sekarang ia mengambil benda tersebut, padahal ia yakin keranjang kecil masih bisa memuat belanjaannya. Oh, ataukah karena kebiasaan? Vika menggeleng. Masa bodoh mau menggunakan troli atau keranjang, toh tidak akan ada yang menegurnya bilang salah ambil tempat menaruh belanjaan.


Vika mendorong troli perlahan, sambil matanya menyusuri rak-rak bahan makanan. Tak sengaja matanya menangkap sosok yang entah kenapa menarik perhatiannya. Sosok itu berdiri di dekat rak snack. Trolinya hanya berisi sedikit belajanjaan. Hanya ada sikat gigi, deodorant, dan sebuah gelas mug sepasang dengan tulisan 'Mama Papa' di bagian depannya. Membuat Vika bisa menebak jika laki-laki itu sudah memiliki pasangan.


Laki-laki itu bergerak menuju meja kasir, sedang trolinya hanya berisi 4 benda tadi. Vika menggelengkan kepala, merasa bahwa laki-laki itu sama absurdnya dengan dirinya.


Vika telah selesai belanja. Tak banyak yang ia beli. Gadis itu hanya membeli kebutuhan dapur secukupnya dan beberapa kebutuhannya. Dan sudah di pastikan, troli terlalu besar untuk menampung barang belanjaannya.


Antrian panjang di meja kasir membuat Vika mendesah malas. Ia mengingat-ingat hari apa hari ini. Setelah melihat kalender di jam tangannya, hari Rabu. Harusnya Super Market tidak seramai ini, mengingat hari ini adalah hari kerja. Tapi entah kenapa, antrian di depan sana mengalahkan antrian di akhir pekan.


"Mbak, belanjaannya sedikit, bisa gabungin punya saya? Kalo antri kelamaan, kasian yang lain nunggu."


Vika menjadi cengo sesaat. Sosok yang sedang berbicara dengannya saat ini adalah sosok yang menarik perhatiannya tadi.


"Mbak, gimana?" Melihat Vika yang hanya terdiam, ia bertanya lagi untuk memastikan.


Vika mengangguk. Sosok itu langsung meletakkan barang belanjaannya di troli Vika. Kemudian menyuruh Vika mundur untuk memberinya akses menyimpan troli miliknya.


Vika pikir, sosok itu akan menunggu di tempat tunggu pengunjung dan membiarkan Vika berdiri antri. Namun ternyata Vika salah, setelah mengembalikan troli, sosok itu kembali mendekat ke arah Vika. "Biar saya yang antri, kamu tunggu di sana." Ucapnya lembut.


Vika terdiam, otaknya bekerja lemot sejenak. Apalagi ketika sosok itu tersenyum. Senyumnya bagai gemerisik air di mata air pegunungan. Begitu segar dan menenangkan.


Tanpa aba-aba, sosok itu mengambil alih troli dari tangan Vika dan bergerak memasuki antrian. Mau tak mau Vika meninggalkannya dan berjalan menuju tempat tunggu pengunjung.


Dari jarak yang lumayan jauh, Vika memperhatikan sosok itu. Dia adalah laki-laki yang berdiri sambil memainkan ponselnya. Postur tubuhnya tinggi tegap. Jika di sejajarkan dengan Vika, maka Vika hanya sampai bahunya saja. Rambutnya di cukur rapi, dengan sedikit sentuhan pomade. Wajahnya putih bersih berseri-seri seperti model iklan facial wash pria. Ia juga menggunakan fashion yang lumayan keren, dengan kemeja putih berbahan katun yang terlihat sangat pas di badannya, di padu dengan celana bahan berwarna abu-abu tua. Melihat gaya penampilannya, Vika bisa menebak usia laki-laki itu lumayan matang.


Hampir 10 menit Vika menunggu. Ketika di lihatnya laki-laki itu sedang di layani oleh kasir, Vika berjalan mendekat. Ia tahu diri harus membayar barang-barangnya.


"Belanjaan saya berapa?" Tanya Vika.


Laki-laki itu menggeleng, "Sudah saya bayar." Ucapnya kemudian.


"Oh kalau begitu berapa totalnya? Biar saya ganti." Vika mengambil dompetnya di dalam tas.


"Nggak usah, Mbak. Nggak papa. Hitung-hitung ucapan terima kasih saya, sudah mau saya repotkan."


Vika terdiam. Laki-laki itu bilang merepotkan? Padahal ia hanya sekedar menitipkan beberapa biji barangnya di troli Vika. Bahkan ia yang mengantri selama lebih 10 menit. Kemudian membayar semua barang belanjaan tak terkecuali barang Vika. Dan sekarang ia mengatakan bahwa ia yang merepotkan. Harusnya Vika kan yang mengatakan hal itu.


"Maaf, Mbak, Mas. Bisa tolong maju sedikit. Pengunjung yang lain mau membayar." Suara kasir menginterupsi keduanya. Membuat Vika dan laki-laki itu langsung berpindah dari tempat tersebut.


"Ini barangmu." Laki-laki itu menyerahkan sekantong besar berisi beberapa macam barang kepada Vika.


"Saya harus membayar. Tolong katakan, berapa total ini semua. Atau ada struknya?" Vika masih berusaha agar laki-laki itu berkenan di beri uang ganti oleh Vika.


Laki-laki itu menggeleng. "Nggak perlu, Mbak. Barangnya juga tidak seberapa. Anggap saja lagi sedekah." Ucapnya kalem.


Vika membuang napas kasar. "Saya tidak mau punya hutang budi sama orang. Saya tidak terbiasa."


Laki-laki itu tersenyum. Duh, sejuk sekali, batin Vika.


"Nggak usah, Mbak. Nggak papa. Saya permisi dulu." Laki-laki itu langsung melenggaang pergi meninggalkan Vika.


Vika berusaha mengejarnya. "Mas, kasih saya nomor rekening saja. Nanti uangnya saya transfer."


Laki-laki itu mengerutkan kening dalam. Namun detik berikutnya ia tersenyum. Sepertinya ia tahu dimana letak daya tariknya, jadi ia terus-terusan memamerkan daya tarik tersebut. "Nggak usah, Mbak."


"Kalau begitu, beritahu saya, namamu siapa?" Vika heran sendiri dengan pertanyaan yang baru saja ia lontarkan. Kenapa tiba-tiba ia bertanya perihal nama? Kan nggak nyambung, bisiknya dalam hati.


"Naim." Ucapnya singkat namun begitu lembut. Dan jangan lupa, laki-laki itu menyebutkan namanya sambil mempertahankan senyum yang tersungging di kedua ujung bibirnya.

__ADS_1


Vika melongo begitu laki-laki itu pergi. Ia baru saja bertemu orang asing berhati malaikat. Dan parahnya, laki-laki itu memiliki tampang yang tidak bisa dikatakan biasa. Ada desiran aneh yang tiba-tiba menyusup di dada Vika. Vika tidak tahu apa itu. Tapi yang pasti desiran itu menyenangkan.


__ADS_2