Cinta Yang Halal

Cinta Yang Halal
27


__ADS_3

Nisa berbohong saat mengatakan buru-buru untuk mengajar. Faktanya hari ni ia tidak memiliki jadwal mengajar apapun. Dan jangan lupakan ini, Nisa justru bergerak pulang ke Rumah, bukan ke Pesantren putri seperti yang dikatakannya pada Samuel.


Jantung Nisa kembali berdenyut-denyut dengan cara yang ganjil. Dalam setiap arteri dan vena mengalir kebahagiaan yang utuh. Sungguh, Nisa tidak pernah mengonsumsi zat adiktif jenis stimulan yang mampu merangsang daya khayal berlebih. Atau jangan-jangan Samuel memasukkan zat adiktif tertentu sehingga Nisa mengalami kebahagiaan dan khayalan dalam satu waktu. Siapa yang tahu?


Nisa menggeleng, menepis pikiran gilanya. Gadis itu masih mencoba menetralkan denyut jangtungnya yang berdetak gila-gilaan. Ia bahkan sudah mengucap istighfar dan dzikir sejak tadi. Namun suasana hatinya masih tak kunjung tenang.


“Ya Allah, ini kenapa, sih?” Nisa bergumam sendiri.


Gadis itu tak pernah merasakan ini sebelumnya. Apakah jatuh cinta yang sesungguhnya seperti ini rasanya? Jantungnya yang berdetak di atas batas normal, ah rasanya jika lama-lama seperti itu terus maka kondisi jantungnya akan memburuk.


Nisa melayangkan tatapan pada langit. Disana banyak sekali bintang yang berkerlap-kerlip. Pada arah Barat, matanya menangkap gugusan bintang paling terang, sirius. Diantara jutaan bintang tersebut sirius lah yang paling menawan. Cahanya mengalahkan bintang-bintang di sekelilingnya. Kadang Nisa sering mengumpamakan sirius dengan Umminya. Saat ia sedang sedih atau merindukan Ummi, maka ia akan menatap ke arah langit, lalu mencari-cari sirius. Tapi malam ini ia tidak sedang sedih. Dikatakan bahagia pun tidak. Hanya saja letupan-letupan kembang api itu membawa euphoria yang menyenangkan.


Nisa menghembuskan napas kasar, “Ummi anakmu ini sedang jatuh cinta.”


*****


“Aduh.” Nisa terkejut kala sendok teh yang sejak tadi di genggamnya jatuh bebas ke lantai hingga menimblkan suara dentingan. Sekali lagi ia menarik napas, berusaha menyingkirkan pikiran-pikiran aneh yang merayap di kepalanya.


“Kok bengong sih, Nis? Tumben.” Suara Sarah menyadarkan Nisa dari lamunannya.


“Enggak apa-apa.” Nisa berusaha tersenyum, namun sejago apa pun ia berakting di depan Sarah, gadis itu pasti tahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan dirinya. Untung menghindari tatapan Sarah yang sedang menatapnya dengan tatapan menuntut penjelasan, Nisa memungut sendok yang terjatuh tadi lalu membungkusnya dengan tissue kemudian meletakkan di atas meja.


“Nggak biasanya lo kamu bengong. Hmm, ada apa?” Kalimat itu terdengar santai namun juga menuntut penjelasan.


Lagi-lagi Nisa menggeleng. “Beneran nggak papa.”


Sarah mengmbil tissue lalu dengan gerakan luwes mengelap mulutnya dengan lembaran tipis tersebut. “Selama kenal Samuel kamu jadi tertutup.”


Nisa tersedak. Bahkan ia sampai terbatuk-batuk. Mendengar nama Samuel membuat ribuan kupu-kupu di perutnya bereaksi lagi.


“Tuh kan. Kalian punya hubungan spesial.” Bukannya membantu Nisa, Sarah justru malah mencerca sahabatnya tersebut dengan pernyataan-pernyataan yang entah bagaimana bisa benar.


“Atas dasar apa kamu ngomong kayak gitu.” Kali ini Nisa sudah lebih tenang.


Sarah mengangkat alis. “Jangan lupakan kalau aku ini pengamat ulung, Nis.” Ucapnya jumawa.


Nisa berdecak. Ia paham dengan tabiat Sarah. Meskipun tanpa di beritahu apa yang sedang terjadi, sahabatnya tersebut kadang bisa menebak dengan dugaan yang tidak meleset. Bahkan kadang Nisa sampai berpikir, mungkin saja Sarah ini adalah keturunan cenayang. Ilmu cenayangnya diwariskan dari para leluhur-leluhurnya.


“Apa susahnya sih cerita sahabat sendiri? Aku kayak nggak pernah teranggap jadi sahabat kalo gini tau nggak.” Sarah mulai mendramatisir keadaan.


“Memangnya aku mau cerita apa? Nggak ada yang perlu aku ceritain.” Ucap Nisa tak acuh.


“Cerita tentang hubungan kalian.” Sarah menaik-naikkan kedua alisnya menggoda Nis.


Dan terbukti, pipi Nisa langsung memerah. Membuat Sarah terbahak sampai memegangi perutnya. “Ah udah, kamu memang beneran ada apa-apa sama Samuel. Nggak usah di tutp-tutupin lagi, aku udah tau.” Sarah mengelap setitik air di sudut matanya.


“Apa sih, Rah. Asumsimu bisa bikin fitnah loh.” Nisa masih saja mencoba berkilah.


“Nis, Samuel itu suka sama kamu. Dan kamu suka sama Samuel.”


Nisa mendelik, “Apa-apaan sih? Jangan sok tau kamu.” Pipi Nisa makin memerah.


Sarah masih tidak bisa menghentikan tawanya ketika melihat Nisa bereaksi malu-malu. “Nisa Nisa. Cerita makanya. Jangan suka buat aku nebak-nebak kayak gini, kan jadinya bener tebakanku.”


Akhirnya Nisa mengalah. Percuma berdebat dengan Sarah, tidak ada ujungnya. Dan gadis itu tidak akan pernah membiarkan hidup Nisa tenang sampai Nisa mau menceritakan semuanya. “Samuel bilang suka ke aku.”


Rahang Sarah hampir jatuh dibuatnya. “Demi apa? Serius?!”


Nisa mengangguk.


“Aku bahkan nggak sampai mikir kesitu. Samuel emang gentle.”


Nisa memutar bola mata jengah. “Gentle itu mendatangi wali, bukan perempuan yang di sukai.”


Sarah mengibaskan tangan di depan wajahnya sendiri. “Ah yaudah, mending cerita. Gimana awal mulanya sampai Samuel bisa bilang suka ke kamu?”


Nisa menggeleng, “Nggak tau. Tiba-tiba aja dia nanya masakah komitmen terus tau-tau ujungnya dia malah bilang suka.”

__ADS_1


“Nggak nyangka aku kalau Samuel segercep ini. Kalian udah kenal berapa lama, sih?”


Nisa mencoba berpikir sejenak. “Mmm… tiga bulan? Eh empat bulan. Iya. Kayaknya segitu.”


“Bahkan kalian belum bisa dikatakan lama saling mengenal, Samuel sudah berani mengutarakan perasaan.” Sarah terkikik sendiri. “Hmm, terus gimana sama kamu?”


Nisa mengangkat wajah, “Apa?”


“Bagaimana perasaanmu ke Samuel?”


“Nggak tau. Aku bahkan…”


“Oke cukup!” Sarah menyela pembicaraan Nisa. “Kamu punya perasaan yang sama.”


Nisa menampik hal tersebut, “Nggak Rah. Ini hanya perasaan sesaat. Lama-lama juga pasti bakal hilang.”


Sarah menggeleng-gelengkan kepala. “Nggak sesederhana itu. Jadi apa keputusanmu?”


“Keputusan apa?”


Sarah menepuk jidat, “Keputusan buat nerima dia atau tidak.”


Nisa mendelik, “Islam melarang pacaran, Rah.”


“I see. Tapi kamu tetap harus ngasih dia keputusan. Jangan menggantung perasaan orang lain seperti mau tak mau seperti itu.”


Nisa terdiam. Benar apa yang di katakan Sarah. Harus ia memberikan kejelasan. Bila tak mau ia harus bisa mengatakan tidak. Bila mau ia tinggal bilang, iya.


“Masalahnya dia bilang belum bisa berkomitmen.”


“Maksudnya, dia belum berani nemuin Abimu gitu?”


Nisa mengagguk.


“Bahaya. Sebenarnya Samuel juga bukan tipe orang yang sesuai sama kriteriamu, Nis. Dia lebih ke kebalikannya sama kamu.” Sarah memasang wajah menyesal, namun tak lama, karena sedetik kemudian ekspresinya berubah. “Tapi entah kenapa, aku memiliki keyakinan kalau kamu bisa menuntun dia menjadi lebih baik.”


Sarah mengusap punggung Nisa. Berusaha menyalurkan kekuatan.


“Kamu bisa kok bantuin dia. Fighting!!!”


*****


Suara adzan isya yang berkumandang menggerakkan langkah Nisa mengambil air wudhu. Ia tidak pernah mau menunda kewajibannya. Ia melirik Aya yang sudah tertidur pulas di sampingnya. Ia berpamitan dengan balita tersebut, meskipun tahu bahwa Aya tidak sedang mendengarkannya.


Nisa berjalan keluar, menuju Masjid, dimana sholat berjamaah di laksanakan. Ketika memasuki Masjid, sudah banyak berjejer santri putri yang mengisi shaf. Tirai berwarna hijau lumut menjadi sekat pembatas antara pria dan wanita.


“Nisa.”


Nisa berbalik ketika seseorang menegurnya dan menepuk pundaknya. Dilihatnya Alila yang memakai mukenah berwarna pastel sedang tersenyum kearahnya. Sudah hampir 3 minggu gadis itu tinggal di Pesantren. Dan nampaknya ia sudah mulai bisa beradaptasi dengan orang-orang di sekelilingnya daripada saat pertama kali datang dulu.


“Eh, Alila. Sini sampingan.”


Alila menggeser posisi berdirinya mendekat keaah Nisa.


“Sholat sunnah qabliyah isya’ dulu, yuk.”


Alila mengangguk.


Semenjak di Pesantren, banyak yang sudah di pelajari oleh Alila. Gadis itu belajar dengan cepat. Kini ia mulai paham jenis-jenis sholat, dari yang wajib sampai yang sunnah. Dan ia juga sudah mulai terbiasa menunaikan semuanya.


Sholat sunnah sudah selesai di tunaikan. Suara iqamat gantian berkumandang setelah adzan. Semua jamaah bersiap untuk menunaikan sholat Isya’.


Bacaan surah at- takatsur dan al kautsar yang di lantunkan imam sholat begitu merdu. Semua jamaah mengenali suara itu, termasuk jamaah perempuan. Suara itu milik Naim. Ustadz paling muda di Pesantren ini. Nisa terhanyut dalam setiap ayat yang terdengar di telinga. Tak terasa empat rakaat pun selesai di tunaikan.


Bintang bermunculan dan berkelip dengan indah di angkasa saat Alila melangkah keluar dari Masjid. Gadis itu sejenak menengadah menikmati semua. Bulan pun nampak bulat sempurna dan bersinar sangat terang di tengah pekatnya langit malam. Alila kadang iri pada bulan yang selalu terlihat bercahaya meski di kelilingi oleh kegelapan.


Ia menengok pada dirinya. Dirinya tak bisa seperti bulan. Bahkan ia hanya seperti mendung yang suram sebelum hujan. Rasa sakit 2 tahun yang lalu telah merenggut semua tawa. Rasa malu, akibat aib yang ditanggungnya menggoreskan luka yang kini telah mengerak. Betapa pun Alila berusaha melupakan, semua gunjingan, tatapan meremehkan, juga kandasnya harapan membuat kata ceria lenyap dalam kamus hidupnya.

__ADS_1


“La, jangan bengong malam-malam.”


Suara Nisa mengagetkan Alila. Gadis itu spontan berbalik, dan mendapati wajah Nisa seperti biasanya. Kalem dan cantik. Siapa yang akan menolak gadis seperti Nisa. Cantik, pintar, berpendidikan, mudah bergaul, sholeh, dan yang pasti punya masa depan menjanjikan. Sekarang ia malah membanding-bandingkan dirinya dengan sosok di hadapannya kini.


“La.”


Alila kembali terperanjat. “Eh, iya maaf.”


Nisa tersenyum. “Ada apa?”


Alila menggeleng. “Tidak ada apa-apa.”


“Nhomong-ngomong selama ini aku belum tau alasanmu memilih mondok disini.” Nisa tersenyum kembali, mencoba berbasi-basi.


Alila terdiam. Ia tidak biasa bercerita dengan orang asing. Namun ada sesuatu yang membuat hatinya tergerak untuk menceritakan apa yang ia alami kepada Nisa. Sebagai sesama permpuan, mungkin Nisa jauh lebih bisa memahaminya dibandingkan Kahfi.


“Yakin kamu mau dengar ceritaku?” Alila bertanya ragu.


Nisa mengangguk mantap. “Yakin. Tapi kayaknya jangan disini. Supaya lebih nyaman, kita ngobrolnya di rumahku saja, ya? Lagi pula Aya ku tinggal sendiri di rumah.”


Alila mengangguk. Keduanya berjalan beriringan menuju rumah Pak Kyai.


“Jadi kenapa kamu memilih mondok disini?” Begitu menyuguhkan secangkir teh hijau kepada Alila, Nisa memulai percakapan. Tahu bahwa gadis di hadapannya tidak akan memulai obrolan tanpa di pancing terlebih dahulu.


“Aku mau belajar memperbaiki diri.”


Nisa terdiam menunggu kelanjutan ucapan Alila.


“Aku merasa selama ini sudah terlalu jauh melailaikan Tuhan. Sampai-sampai Tuhan marah sama aku, dan membiarkan aku mengalami kesulitan.”


Nisa menunjukkan senyum tulus sebelum memberi wejangan kepada gadis di hadapannya. “Semua orang berpotensi meninggalkan kita, kecuali Allah.”


Perkataan Nisa nampaknya memancing Alila untuk kembali bercerita.


“Kenapa kamu bisa seyakin itu?”


“Karena Allah sendiri yang menyatakan hal tersebut dalam firmannya. Surah Al-Kahfi ayat 49 yang artinya ‘Dan Rabbmu tidak akan pernah mendzalimi siapapun juga.’ Dzalim disini maknanya berarti Allah tidak akan pernah meletakkan segala sesuatu bukan pada tempatnya, termasuk meninggalkan hamba-Nya. Ketika kita diberi ujian oleh Allah, bukan berarti Allah dzalim dan bakhil. Akan tetapi itu adalah merupakan konsekuensi dari keadilan dan hikmah setelah rahmat. Banyak di antara kita karena kurangnya keilmuan tidak mengerti kenapa terjadi begini dan begitu. Lalu dengan kekurangan ilmu kita ini, kita tuduh Allah Subhanahu wa Ta’ala bahwa Allah dzalim, Allah tidak sayang dan yang lainnya.”


Alila merenungi ucapan Nisa. Benar, selama ini ia hanya memikirkan orang-orang yang meninggalkannya saja, ia tak pernah berpikir bahwa Allah selalu di sisinya. Tak pernah sekali pun mencampakkannya. Dulu bahkan ia membenci Allah, menyalah-nyalahkan-Nya atas kejadian yang menimpa dirinya. Ia mengatakan bahwa Allah itu tidak adil karena sudah merenggut segala yang ia miliki dalam sekejap mata. Dan Dia pun membiarkan dirinya jatuh dan terus berlarut-larut dalam kesedihan tanpa memberikan pertolongan.


“Ilmu kita sedikit. Bagaimana kita yang ilmunya sedikit ini hendak mengomentari ilmu Allah yang luasnya tak terhingga? Makanya kewajiban seorang hamba adalah yakin bahwa semua perbuatan Allah itu adil dan tidak mungkin dzalim. Yang kita pandang dzalim di mata kita itu akibat kekurangan ilmu kita. Hakikatnya itu bukan kedzaliman karena Allah yang maha tahu. Allah terkadang tidak memberi bukan karena Allah bakhil. Tapi Allah tidak memberi karena ingin memberi yang lebih baik dari itu. Allah menghalangi dari seseorang harta dunia -bisa jadi- karena ilmu Allah bahwa dia kalau diberikan harta menjadi orang yang lupa daratan. Akhirnya Allah berikan dia kesempitan rezeki agar ia tidak menjadi orang-orang yang sombong. Akhirnya dia selamat daripada tertipu dengan dunia. Ia selamat daripada kesombongan dan yang lainnya. Allah memporsi-porsikan ujian kepada setiap hamba-Nya. Yang perlu kita ingat adalah Allah tidak pernah memberikan ujian kepada hamba-Nya diluar batas kemampuan hamba tersebut.” Nisa menunjukkan ketulusan di setiap nasehatnya.


Setetes air mata jatuh di pipi Alila. Gadis itu merasa jauh lebih berdosa sekarang. “Apa dengan berusaha memperbaiki diri, Allah akan mengampuniku?” Suaranya terdengar bergetar.


“InsyaAllah. Ampunan Allah begitu luas, tak terhingga. Dan Allah tidak pernah menutup pintu taubat kepada siapun hamba-Nya yang bersungguh-sungguh untuk bertaubat.”


Alila menghapus air matanya serabutan. “Tapi aku adalah manusia paling hina. Masa laluku begitu buruk.”


Nisa mengusap punggung Alila, berusaha menyalurkan kekuatan. “Seburuk apapun masa lalu seseorang, masa depannya masih suci.”


Alila menutup wajahnya, tangisnya benar-benar pecah. “Aku bahkan menganggap sudah tidak memiliki masa depan yang baik. Aku kehilangan semuanya. Hidupku, orang tuaku, orang yang ku cintai, satu persatu dari mereka membenciku.”


“Alila, ingat kata-kataku tadi, mereka semua memang meninggalkanmu, tapi kamu tidak sendiri, ada Allah yang selalu di sisimu. Allah adalah Dzat yang Maha membolak-balikkan hati manusia, Ia bahkan bisa dengan mudah meluluhkan hati yang paling keras sekalipun. Berdoa, Alila. Berdoa agar Allah lembutkan hati orang-orang yang membencimu saat ini. Karena doa adalah senjata paling ampuh saat kita tidak memiliki apa-apa.”


Alila tergugu, dalam isaknya ia menyadari sesuatu, bahwa harapan itu masih ada. Ia bisa menata kembali hidupnya.


“Aku hamil di usia yang masih belia. Ayahku meninggal karena aku. Ibuku tidak sudi lagi menganggap aku sebagai anaknya. Dan orang yang ku cintai begitu membenciku.” Semua hal yang mengganjal itu akhirnya lolos dari bibir Alila.


“Lalu kamu menyalahkan diri sendiri akan semua hal itu?”


Alila mengangguk. “Tidak ada yang patut di salahkan selain aku. Aku penyebabnya. Aku yang menghancurkan hidupku sendiri.”


Nisa masih mengusap-usap punggung Alila. ”Alila, tidak sesuatu pun yang terjadi di dunia ini tanpa kendali dari Allah. Ingat, Allah tidak pernah menguji seorang hamba diluar batas kemampuannya. Allah tau kamu kuat, makanya ujian ini tidak diberikan kepada orang lain. Dan jangan pernah menganggap ujian dari Allah adalah bentuk kebencian Allah terhadapmu. Tapi anggap itu sebagai pelajaran, sebagai penguat diri, sebagai bentuk kasih sayang Allah yang masih mengingat kamu sebagai hamba-Nya. Di kehidupan nyata, seseorang harus melewati ujian terlebih dari untuk bisa naik level. Bisa saja setelah ini, Allah akan memberikan kejutan yang tidak kamu sangka-sangka. Dan ya, setelah kesulitan selalu ada kemudahan.”


Alila menghapus air mata menggunakan punggung tangannya. Suntikan nasehat yang di sampaikan Nisa membuka pikirannya. Rasanya ia baru saja melepaskan ber ton ton beban yang selama ini memberatkan pundaknya.


Bercerita memang tidak menyelsaikan masalah. Masih ada beberpa hal yang harus ia lakukan lagi setelahnya. Namun dengan bercerita, beban-beban yang di pikul sendiri akan terasa jauh lebih ringan.

__ADS_1


Nisa memeluk Alila. Ia bisa merasakan kesedihan dan sulitnya hidup gadis itu selama ini. Tanpa kawan, ia pasti memendam semua masalahnya selama ini sendirian. Meskipun ia tahu, kemungkinan besar Kahfi juga mengetahui hal ini. Namun akan berbeda rasanya, jika sesama perempuan yang Alila temani berkeluh kesah. Karena secara naluriah, pikiran laki-laki dan perempuan berbeda.


__ADS_2