Cinta Yang Halal

Cinta Yang Halal
28


__ADS_3

Samuel baru saja selesai mengikuti evaluasi kegiatan bersama panitia orientasi sebelum berangkat ke Masjid untuk sholat subuh berjamaah. Samuel dan kawan-kawannya yang menjabat sebagai ketua BEM belum memejamkan mata sama sekali. Acara orientasi diadakan sampai menjelang sholat maghrib, namun ada beberapa hal yang harus di selesaikan untuk pengadaan orientasi hari esok hari. Setelah mengurus beberapa hal, seluruh panitia orientasi harus melakukan briefing tentang kendala selama orientasi dan solusi yang akan mereka terapkan.


“Gimana sama acara seminar kependidikan? Surat permohonan menjadi pemateri sudah disampaikan?” Samuel menghampiri Fathur yang sedang duduk di emperan Aula dan matanya fokus dengan rundown acara yang di pegangnya.


Fathur mengangguk. “Udah. Kemarin sebelum orientasi gue sama Vika yang ngurus. Harusnya lo, tapi malah ngilang nggak tau kemana.” Suaranya terdengar dongkol.


Samuel nyengir. “Gue udah cek program kita. Kayaknya abis orientasi, kita langsung mengancah program ini. Seenggaknya gue masih kelihatan bertanggung jawab, kan?”


Fathur mendengus.


“Eh ngomong-ngomong gimana sama penulis itu? Hari ini jadwal dia jadi pemateri, kan?”


Fathur mengangguk. “Gue udah hubungi sejak semalam. Katanya dia bakal ada di kampus sebelum jam 8.”


Samuel manggut-manggut.


“Lo kayaknya dari kemarin-kemarin ngomongin penulis terus, naksir lo ya?”


Samuel berdecak, “Gue pembawa acara, Bambang. Sementara gue sama sekali belum kenal sama narasumber. Ya lo kira aja gue bakalan kayak orang **** di atas panggung.”


Fathur terkekeh. “Ya kirain. Padahal gue baru aja mau bilang, gimana sama anak Pak Kyai.” Fathur menaik-naikkan kedua alisnya menggoda Samuel.


Samuel tersenyum, namun senyumnya terdengar hambar. “Belum ada kejelasan.”


Tiba-tiba Fahur tertawa keras sampai memukul bahu Samuel. “Gimana mau ada kejelasan. Lo sendiri aja kagak jelas. Tapi naksir sama orang yang jelas. Bagai pungguk merindukan bulan tau nggak.” Fathur berbicara di sela-sela tawanya.


Samuel memukul kepala Fathur, tidak keras, namun laki-laki itu terdengar mengaduh. “Gue kadang nggak yakin aja kalo lo tuh tulus temenan sama gue.”


Fathur kembali tertawa. Sedang Samuel memasang wajah masam yang begitu dongkol.


*****


Orientasi hari kedua dimulai sejak pukul 6 tepat. Samuel yang mendapat tugas menjadi pembawa acara hari ini mondar-mandir mengecek jam di layar ponselnya. Sudah hampir pukul 8, namun narasumbernya belum juga berada di lokasi. Sedang ia akan tampil pukul 8:15. Yang membuatnya khawatir ialah, Samuel sama sekali belum mengenal narasumbernya tersebut. Ia tidak mau seperti kambing conge karena tidak mengenali narasumbernya saat di panggung nanti.


Ketika Fathur dan Indri muncul bersama dengan seorang gadis, Samuel lamat-lamat mengamati gadis tersebut. Tidak asing. Namun karena jaraknya yang lumayan jauh dari mereka, Samuel tidak bisa melihat wajah gadis itu dengan baik.


Ketika jarak mereka hanya berkisar 5 meter, Samuel sukses melongo di tempat. Gadis yang bersama dengan Fathur dan Indri, pantas saja ia merasa gadis itu tidak asing.


“Sam ini narasumber lo, yang sejak kemarin lo tanyain mulu.” Fathur menahan cekikikan yang sudah di ujung bibir melihat ekspresi Samuel yang sedang melongo saat ini.


“Penulis muda? Nisa?” Samuel bergumam sendiri, namun masih bisa terdengar jelas di telinga ketiga orang yang saat ini tengah berdiri menatapnya.


Nisa menangkuokan kedua tangan di dada sebagai formalitas. Sementara Samuel masih melongo, sampai-sampai Fathur mengira Samuel sedang ketempelan setan dan tidak bisa mengembalikan ekpresi semula.


“Sam, sadar. Sudah jam 8 lewat.” Indri mengingatkan.


Buru-buru Samuel mengubah ekspresinya. Kini wajahnya tidak setegang tadi. Ia mengajak Nisa masuk ke dalam Aula, mengabaikan Fathur yang masih saja mengejek di belakang.


“Kamu penulis? Sejak kapan? Judul bukumu apa?”


Nisa menghentikan langkahnya. “Yang mana dulu yang harus ku jawab?”


Samuel sadar, pertanyaannya barusan sangat beruntun hingga membingungkan.


“Sejak kapan kamu jadi penulis?” Akhirnya ia memilih satu pertanyaan itu untuk diajukan terlebih dahulu.


“Sejak SMP. Tapi baru bisa terbitin buku 2 tahun lalu.” Jawab Nisa kalem.


“Kenapa nggak pernah bilang kalau kamu penulis?”


“Kamu nggak pernah nanya.”


Samuel menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Iya juga.”


Nisa ingin tertawa melihat reaksi Samuel saat ini, namun ia menahannya. Karena kondisi jantungnya sedang tidak bisa diajak kompromi sekarang. Sejujurnya ia masih sangat canggung dan enggan bertemu dengan Samuel. Mengingat beberapa hari lalu, laki-laki itu mengutarakan perasannya. Namun ia sudah terlanjur menyepakati janji dengan Fathur yang memintanya untuk menjadi pemateri. Alhasil, disinilah ia sekarang berada, di ruangan luas yang berjajar belasan kursi dan ribuan MABA yang duduk lesehan di depan panggung.


*****


Di ruangan yang diisi oleh ribuan kepala itu, Samuel mulai menjelaskan latar belakang dan tujuan acara. Tak lupa, ia juga memperkenalkan dua narasumbernya, yakni Nisa dan Defara Najwa, seorang public influencer yang merangkap sebagai selebgram.


Setelah memberikan sambutan, Samuel langsung mempersilahkan narasumbernya untuk memberikan materi atau kuliah singkat. Yang pertama kali mengisi adalah Defara, gadis itu membawakan beberapa wejangan dan suntikan motivasi untuk seluruh MABA.


Tibalah waktu Nisa untuk mengisi materi. Entah mengapa Nisa merasa gugup. Mungkin karena ini adalah pertama kalinya ia menjadi pembicara di kampus, ataukah karena ada Samuel yang saat ini sedang menatapnya dalam-dalam. Nisa menggeleng. Sepertinya opsi pertama lebih masuk akal.


“Ali bin Abi Thalib pernah mengatakan, ‘Ikatlah ilmu dengan menulis.’ Memaknai pesan tersebut, tulisan sangat penting untuk memahami sebuah informasi atau ilmu. Islam sendiri pernah mengalami masa emas, dimana kemajuan ilmu dan teknologi berkembang pesat. Ilmu akan sangat cepat hilang jika kita hanya sekilas membaca, bahkan menghafal tanpa di tulis. Karena manusia adalah makhluk yang paling rentan akan lupa. Apalalagi jika sehubungan dengan faktor tingkat usia dan permasalahan-permasalahan yang di alami. Maka yang di harap melekat sangat mudah pergi.” Nisa terlihat begitu luwes membawakan materi.


Bahkan Samuel sampai hampir melupakan cara berkedip saking fokusnya mengamati gadis tersebut. Nisa benar-benar gadis yang tak terduga. Gadis itu selalu saja menunjukkan sisi sisi lain dari dirinya. Dan hal itulah yang juga membuat Samuel menyukainya.


“Setiap penulis pasti punya gaya penulisan tersendiri dalam menyampaikan informasi kepada jagat raya, juga cara berbeda untuk membuat nyaman pembaca dalam menikmati karyanya. Maka yang terpenting dari menulis selain mengagungkan Sang Pencipta, adalah bukan tentang seberapa lihai kita merangkai kata, bukan seberapa menggunung kita menguasai aksara, tapi sederhana, seberapa mampu kita memahami pembaca.”


Tepuk tangan riuh menggema di seluruh ruangan ketika Nisa menutup pembicaraannya dengan quotes indah miliknya. Gadis itu tersenyum anggun ke seluruh audience.


Sayyidah Annisa. Samuel menggumamkan nama tersebut di dalam hatinya. ‘Kau tak boleh kemana-mana, hanya aku yang akan memilikimu, pegang tekadku ini.’ Dan seminar itu di tutup dengan perasaan meletup-letup di hati Samuel. Seperti sedang merayakan pesta kembang api di dalam sana.


*****


“Gimana tadi pas jadi pembicara?” Sarah mengambil posisi duduk di depan Nisa setelah memesan dua porsi es dawet. Paduan gula merah, santan, dawet dan es batu, rasanya nikmat sekali di siang bolong seperti ini.


“Alhamdulillah.” Nisa mengaduk es dawetnya.


“Samuel pembacara acara, kan? Gimana perasaanmu?” Sarah kembali menggoda Nisa. Wajah tengilnya berhasil membuat Nisa kesal.


Nisa mendengus, “Biasa aja.”


“Bohong.” Tegas Sarah sok tahu.


“Beneran. Memangnya aku harus bereaksi bagaimana?”

__ADS_1


Sarah menraik kursinya mendekat. “Hatimu nggak jedar jedor macam petasan di malam takbiran?”


Nisa mendesis geli, “Apaan sih, Rah. Ya enggaklah, alay banget.”


Sarah menggeleng, ”Nggak bisa dibiarin. Sebenarnya perasaanmu ke Samuel bagaimana?”


Nisa mengendikkan bahu tak acuh. “Entah.”


Sarah merasa gemas sendiri melihat kepolosan sahabatnya tersebut yang menurutnya justru terlihat konyol. “Vika sama Samuel.” Memang Sarah kadang suka to the point. Ucapan yang keluar dari mulutnya kadang tak terduga.


Dan kalimat itu berhasil membuat Nisa menghentikan kegiatan meminum es dawetnya. “Vika yang mana?”


“Ya Vika sekretaris BEM. Savika Christin.”


Nisa tak menduga bahwa Vika menyukai Samuel. Yang ia tahu, selama ini keduanya memang cukup dekat. Selama di Pesantren pun, Samuel kerap kali mengunjungi Vika di tempat menginapnya. Kadang juga, Vika membuatkan makanan khusus untuk Samuel. Nisa pikir, apa yang ia lihat selama ini adalah hal yang lumrah, dimana hubungan keduanya hanya sebatas rekan kerja saja. Dan bodohnya Nisa tak pernah berpikir bahwa keduanya memiliki hubungan khusus. Jika Vika menyukai Samuel, lalu bagaimana dengan Samuel? Apakah ia juga menyukai Vika?


“Dia tahu kalau Samuel suka sama kamu. Tapi kayaknya Samuel nggak tau kalau Vika sama dia.”


Kalimat Sarah barusan menjwab pertanyaan di benak Nisa. Tapi ia tak bisa sepenuhnya percaya. Bagaimana pun apa yang diucapkan Sarah barulah sebatas prediksi dan perspektifnya.


“Vika non, ya?” Kali ini Nisa yang buka suara.


Sarah mengangguk, “Iya. Makanya kamu harus selamatin Samuel.”


“Selamatin Samuel, maksudnya?”


“Kalau Samuel sama Vika, dia tidak akan bisa melanjutkan proses pembenahan diri seperti yang dia lakukan sekarang ini.”


Alis Nisa terangkat satu. “Tapi kalau Samuel bisa narik Vika, kan bagus.”


Sarah mendesah frustasi, “Nis, Nis, kapan sih kamu itu coba pentingkan diri sendiri? Kalau Samuel jadian sama Vika, apa kabar sama hatimu?”


Ada sesuatu yang mencubit hati Nisa. Gadis itu terdiam. Pasalnya ia tidak tahu, apakah yang dia rasakan ke Samuel saat ini benar perasaan cinta ataukah justru hanya nafsu semata.


“Perasaanmu ke Samuel sebenarnya gimana?” Sarah kembali buka suara.


Nisa terdiam sebelum akhirnya menjawab, “Nggak tau. Aku nggak paham, Rah.”


Sudah Sarah duga. Sahabatnya yang polos tersebut tidak pernah membahas masalah percintaan sebelumnya. Bahkan Sarah sempat mengira bahwa percintaan tidak pernah masuk dalam kamus hidup Nisa. Dan karena kepolosannya itulah, Nisa sekarang justru tampak seperti anak SD yang tidak paham dengan pelajaran logaritma. Tentu saja tidak paham, karena itu bukan ranah mereka. Seperti itulah Nisa. Nisa tidak memahami perasaannya sendiri karena ia tidak pernah bersinggungan dengan kata cinta sebelumnya.


“Kalau kamu ketemu Samuel ada perasaan yang ganjil, nggak?” Kali ini Sarah mencoba memancing Nisa untuk memahami apa yang sedang di rasakannya selama ini.


“Yang ganjil apa?” Nisa justru kebingungan dengan pertanyaan Sarah.


Sarah menggeram kemudian menepuk jidat frustasi. “Oke, begini. Kamu ada perasaan deg degan nggak kalau ketemu Samuel?”


Nisa terdiam, namun kemudian mengangguk ragu.


“Ada rasa seneng yang kelewatan banget nggak kalau kalian sedang membicarakan sesuatu apa gitu?”


“Kamu ngerasa sedih pas aku bilang Vika suka sama Samuel?”


Kali ini Nisa terdiam, tak menanggapi.


“Nis!”


Nisa mengangguk.


“Fix, kamu suka sama Samuel.” Sarah berseru.


“Rah.” Nisa merengek.


“Nisa, Samuel itu pilih kamu, bukan Vika. Jadi kamu nggak usah ragu. Tetap bantu Samuel buat belajar agama. Dan satu lagi, jangan ragu sama perasaanmu sendiri.’


“Bukan itu, Rah. Aku takut kalau perasaanku ini Cuma nafsu semata. Kamu tahu kan, cinta sebelum pernikahan itu bahaya.”


Sarah nampak berpikir. “Mmm.. Gimana kalau kamu nyuruh Samuel temuin Pak Kyai?”


Nisa terperangah. “Nggak mungkin, Rah. Aku nggak berani.”


“Apa yang ngebuat kamu nggak berani?”


Nisa larut dalam kebimbangan. “Aku belum pernah bicara masalah begini sama Abi.”


“Ya makanya di coba dulu. Tapi kamu harus bicara sama Samuel dulu.”


*****


Vika memainkan sedotan jus alpukatnya. Pandangannya tertunduk. Hanya keheningan yang melingkupi meja kafetaria.


“Kalian mau sampai kapan diem-dieman kayak gitu?” Sarah yang mulai jenuh dengan situasi yang menurutnya nggak enak banget akhirnya angkat suara memecah keheningan.


Samuel menggaruk kepalanya yang tak gatal.


“Atau kalian canggung mau bicara karena ada aku? Kalau gitu aku pergi aja. Kalian bisa bicara.” Sarah bangkit dari tempat duduknya. Namun belum sepenuhnya berdiri, Nisa menarik tangannya hingga gadis itu kembali duduk.


“Jangan. Disini aja.” Nisa melempar pandangan memelas, seolah mengatakan ‘please jangan tinggalin aku.’


Nisa melepas cekalan tangan Nisa dengan lembut, “Aku Cuma di meja sebelah. Udah nggak papa.” Sarah buru-buru angkat kaki, sebelum Nisa mencegahnya lagi.


Kini tingallah Samuel dan Nisa yang tersisa. Nisa memilin-milin ujung jilbabnya, tatapannya masih seperti semula, menunduk ke bawah. Sedang Samuel menatap Nisa diam-diam.


Merasa tidak akan ada obroloan sebelum dirinya yang memulai, Samuel berdehem.


“Ada apa, Nis?”


Nisa berusaha memperbaiki suasana hatinya yang tak karuan. Dengan menghembuskan napas kasar, akhirnya ia mengangkat kepala. “Tentang perkataanmu waktu itu.” Nisa mengumpulkan segenap keberaniannya untuk membahas masalah tersebut.

__ADS_1


Samuel mengangjat alis, “Yang mana?”


“Yang waktu itu.”


“Yang mana, Nisa?” Samuel menggoda Nisa, hingga gadis itu kelihatan salah tingkah. Rona merah menjalar di kedua pipinya.


“Tentang perasaanmu.” Nisa mengucapkan kalimat tersebut dengan satu kali tarikan napas.


Samuel mati-matian menahan senyumnya. “Ada apa? Saya tidak menyuruh kamu untuk membalasnya. Masalah perasaan itu mutlak hak prerogatifmu. Saya hanya mau kamu tau saja.”


“Jadi tidak apa-apa kalau saya mengabaikannya?”


Samuel terkekeh. “Kalau bisa sih jangan diabaikan. Kalau bisa ya.”


“Kamu yakin perasaanmu itu bukan nafsu?”


Samuel mengerutkan kening. “Nafsu?”


Nisa mengangguk sebagai jawaban.


“Nis. Kamu bilang jatuh cinta itu fitrah. Aku hanya sedang menerima fitrahku sebagai manusia. Lagipula aku tidak mengajakmu pacaran. Aku juga tidak memaksamu untuk membalas perasaanku.”


Nisa terdiam. Hati dan pikirannya tak karu-karuan. Seperti ada benang kusut yang tidak ditemukan ujungnya untuk melepas lilitan.


“Aku memang bukan laki-laki baik, Nis. Tapi aku juga masih menghargai perempuan, terutama kamu.”


Nisa menggeleng. Sepertinya Samuel salah paham. “Bukan begitu maksudku, kamu salah paham.”


Samuel menatap Nisa penuh tanya.


“Jadi begini, Islam hanya menawarkan komitmen. Tapi waktu itu kamu bilang kamu menyukaiku, tapi belum mampu memberiku komitmen. Menurutmu sebagai seorang perempuan, aku harus bagaimana?”


“Cukup tau saja,Nisa.” Samuel menatap Nisa dengan pandangan yang sulit diartikan.


Nisa memejamkan mata. Dengan segenap keberanian yang masih tersisa ia mengucapkan kalimat yang mungkin saja bisa ia sesali setelahnya. “Bagiamana jika aku juga memiliki perasaan yang sama?”


Sesaat Samuel terperangah. Melongo sepenuhnya. Bahkan ia merasa bahwa waktu tiba-tiba berhenti berputar. “Kamu barusan bilang apa?” Percayalah, Samuel mengucapkan kalimat barusan tanpa ekspresi.


Nisa semakin menunduk dalam. “Kamu sudah dengar.” Bahkan suaranya hanya serupa cicitan.


“Kamu punya perasaan yang sama denganku? Berarti kamu menyukaiku? Kamu membalas perasannku?”


“Tidak usah di perjelas. Jawab saja pertanyaanku.” Saat ini wajah Nisa sudah seperti kepiting rebus yang disiram saus tomat.


“Aku Cuma memastikan. Kali aja salah dengar.”


Nisa tak menjawab. Gadis itu terlihat salah tangkah. Tak sedikit pun ia mengangkat wajah untuk membalas tatapan Samuel. Ia meremas jari-jemarinya sendiri untuk menghilangkan rasa gugup.


“Kalau kamu punya perasaan yang sama itu jauh lebih bagus.” Samuel terkekeh. “Aku bahkan nggak pernah nyangka cewek seperti kamu bisa jatuh hati dengan laki-laki begundal macam saya.”


Nisa masih terdiam. Samuel takut khilaf dan membawa gadis tersebut ke pelukannya lalu mengacak-acak puncak kepalanya, akhirnya ia mencoba menetralkan situasi. “Kamu bisa nunggu saya?”


“Hah?” Nisa mengerutkan kening, tak paham dengan ucapan Samuel.


“Saya memang belum bisa memberimu komitmen. Tapi bukan berarti saya tipe laki-laki yang tidak bisa memberikan kepastian. Saya ingin kita punya hubungan yang serius, hubungan yang halal. Tapi bukan sekarang. Tunggu sampai saya mampu dan cukup ilmu.”


“Saya takut, jika karena perasaan ini Allah murka.”


Samuel terdiam. Memikirkan kata-kata Nisa. Ia tidak pernah mengalami ini sebelumnya. Ternyata Nisa jauh lebih rumit dari yang ia pikirkan.


“Kita tidak pacaran. Saya hanya memintamu untuk tidak menaruh perasaan ke laki-laki lain. Begitu pun dengan saya. Saya janji, tidak akan memilih siapa pun selain kamu. Tunggu saya, Nis. Kamu tau kan, berjalan ke hubungan yang serius itu bukan hal yang mudah. Persoalan menikah bukan hal yang bisa dianggap main-main. Kita harus memiliki ilmu yang cukup untuk kesana. Karena tanpa ilmu, kita bagaikan orang buta yang berjalan di tepi jurang. Kapan ia salah sedikit melangkah, maka ia akan jatuh terperosok."


“Apa yang membuat kamu yakin untuk memilih saya?”


“Sederhana saja. Kamu berbeda dari perempuan-perempuan lain yang ku temui.”


“Dimana letak perbedaannya?”


Samuel tersenyum. “Saya pikir, tidak perlu menyebutkan satu persatu. Terlalu banyak. Kalau kamu mau tau, perwakilannya saja. Kamu satu-satunya perempuan yang membuat saya kembali pada Tuhan.”


“Hidayah itu datang dari Allah. Makhluk tak memiliki kuasa apapun untuk mendatangkan hidayah di hati seseorang.”


“Saya tau. Tapi Allah jadikan kamu perantaranya.” Jawab Samuel optimis.


“Saya tidak bisa menjamin untuk terus bisa menuggumu.”


Samuel mengusap wajah kasar. “Kenapa?”


“Beri saya kejelasan, berapa lama saya harus menunggu.”


Samuel terdiam. Berusaha menimbang-nimbang, apa yang hendak ia katakan.


“Setelah wisuda?”


“Bagaimana dengan kuliahmu? Saya dengar kamu jarang mengikuti perkuliahan.”


Samuel nyengir kuda, lalu mengangguk. “Tapi saya bisa membereskan semua.”


“Jangan terlalu menggampangkan sesuatu ketika kamu berjanji dengan seseorang. Pastika dulu bahwa kamu mampu.”


Samuel menatap Nisa intens. Mencoba menebak jalan pikiran gadis tersebut.


“Dengan cara apa aku bisa meyakinkanmu?”


Nisa membuang napas kasar, “Temui Abiku, dan sampaikan niatmu.”


Samuel kembali melongo. Menemui orang tua Nisa? Bukankah itu artinya ia sedang di tantang untuk mengajukan lamaran oleh gadis itu? Sesaat pikirannya kacau. Ia tak ingin kehilangan batu permata indah seperti Nisa. Namun ia juga belum sanggup bertemu dengan orang tua gadis itu. Memangnya apa nanti yang harus ia katakan? Bagaimana jika orang tua Nisa menolak i’tikad baiknya? Samuel mengacak rambutnya frustasi. Bahkan ia sampai tak menyadari, bahwa Nisa sudah tidak lagi berada di depannya.

__ADS_1


__ADS_2