Cinta Yang Halal

Cinta Yang Halal
Awal terjadinya salah paham


__ADS_3

Adit pov.


Aku sedang bertegus di rumah sakit malam ini, waktu sudah menunjukan pukul 21.00, sungguh aku sangat lelah dan ingin sekali pulang.


Tiba-tiba ada yang mengeruk pintu ruanganku.


Tok tok tok.


"Silahkan masuk" ucapku.


Aku melihat wanita hamil masuk ruanganku, aku bukan dokter kandungan lalu ada perlu apa dia, pikirku.


Aku sedikit aga merinding, wanita hamil malam-malam dan mengenakan baju putih, jangan-jangan setan.


Ah tidak kakinya masih menapak.


"Permisi dok". Ucapnya.


"Ya ada apa?". Tanyaku.


Loh dia kan Ziya adiknya Rania.


"Ziya". Ucapku, dia terlihat sangat lelah dan begitu pucat.


"Mas Adit, tolong Ziya mas". Ucapnya sambil terisak.


"Ada apa dengan kamu Ziya?" Tanyaku padanya.


"Mas Ziya boleh minjam uang gak, Ziya butuh uang untuk menyewa tempat tinggal dan makan". Ucapnya, ada apa dengannya setauku dia menikah setahun sebelum aku menikah dengan Rania.


"Ziya katakan dulu ada apa denganmu". Ucapku.


"Suami Ziya mas, suami Ziya melakukan KDRT dan dia juga selingkuh, dia hendak membunuh bayi yang Ziya kandung, makanya Ziya kabur". Ucapnya sambil berurai air mata.


"Ya sudah kamu tidak perlu pinjam uang, kamu ikut saja mas ke rumah". Ajaku, karena di rumah ada Rania yang bisa menjaganya.


"Ngga mas, aku datang ke sini itu agr ibu bapak, dan kak Ran tidak merasa kawatir padaku, makanya aku minta tolong mas".


"Hei mereka akan lebih kawatir jika, kamu tidak memberitahunya Ziya".


"Aku mohon mas jangan dulu beri tahu mereka, aku juga gak mau merepotkan mereka". Ucapnya keras kepala mungkin di turunkan dari kakaknya.


"Ya sudah ayo iku aku kita cari kontrakan, maaf aku tidak bisa menye hotel untukmu ". Ucapku.


"Tidak masalah mas asalkan aku mempunyai tempat untuk berteduh". Jawabnya.


"Mas makasih, aku akan mengganti uangnya jika nanti aku punya uang ya mas".


"Tidak perlu di pikirkan, kau adiku". Ucapku.


"Mas tolong yah jangan beritahu Ka Rania dulu soal ini". Ucapnya sambil memelas.


"Iyah, ya sudah aku pulang dulu Rania pasti sudah menungguku ". Aku berpamitan pada adik iparku ya mungkin Rania sedang gelisah menungguku karena ini sudah jam 23.00.


Aku mondar mandir menunggu suamiku, tidak biasanya dia pulang lebih dari jam sepuluh malam, bukan apa aku hanya kawatir saja padanya takut terjadi apa-apa.


"Asssalamuaalaiku" terdengar salam dari luar, aku mengenal suaranya, ya itu suara ka Adit.


"Waalaikumsalam". Jawabku sambil membukakan pintu.


Dia terlihat sangat lelah dan mengantuk.


"Kamu nungguin aku ya sayang, maaf yah aku pulangnya malem banget". Ucapnya penuh penyesalan.


"Tidak apa-apa ko ka, aku cuma kawatir ada apa-apa sama kakak". Jawabku.


"Ya udah aku mandi dulu yah, kamu tidur saja duluan, pasti kamu sudah ngantukan ?". Ucapnya, aku memang sudah sangat mengantuk tapi mana mungkin aku membiarkan suamiku yang sedang kelelahan.

__ADS_1


"Tidak apa, Kakak mau mandi air hangat biar aku siapkan, kakak sudah makan?".


"Ga usah kamu kelihatan sudah ngantuk biar aku mandi air dingin saja, tadi aku udah makan ko". Jawabnya.


"Tapi ini sudah malam masa kakak mandi air dingin sih".


"Tidak apa-apa, sudah sana tidur".


Allahu Akbar Allahu Akbar..


Aku mendengar suara adzan subuh berkumandang langsung saja aku bangun dan membangunkan ka Adit.


"Ka ayo bangun sudah subuh". Ucapku membangunkannya sambil menepuk-nepuk pikinya.


"Iya". Jawabnya dengan suara khas orang bangun tidur.


"Sarapan dulu ka". Ucapku saat melihatnya keluar dari kamar.


"Sayang kakak sarapan di rumah sakit saja ya, soalnya kakak buru-buru". Ucapnya.


Tak biasanya kak Adit sarapan di luar sesibuk apapun dia biasanya akan selalu menyempatkan untuk sarapan di rumah.


Ini juga masih sangat pagi, baru jam 06.00 dan biasanya kak Adit berangkat jam 07.00.


Apa mungkin ada operasi hingga dia sangat terburu-buru.


Sudah satu minggu ka Adit pergi pagi-pagi sekali dan pulang larut malam.


Setiap kali aku tanya apakah ada masalah dia hanya bilang kalau pasiennya banyak selama seminggu terakhir ini.


Aku sangat kasihan melihatnya yang selalu terlihat lelah saat pulang.


Adit pov.


Sudah satu minggu aku mengurusi ziya yang sudah mendekati waktu lahiran.


Dia berkata jika aku bosan merawatnya aku bisa membiarkannya hidup sendi, dan itu tidak mungkin aku sudah menganggapnya sebagai adiku sendiri.


Namun kadang saat rania bertanya padaku, apa aku ada masalah aku sangat kesulitan untuk berbohong, alasan yang sama selalu aku ucapkan padanya.


Kadang aku juga mengacuhkan rania karena saat dekat dengannya aku selalu ingin berkata jujur.


Pagi ini aku juga berangkat sangat pagi, karena aku menerima sms dari tetangga ziya jika ziya pingsan.


Aku sungguh kawatir, aku mengusulkan dia agar di rawat di rumah sakit tapi ziya tidak mau.


Aku sanggup membayari biyaya tumah sakit, tapi ziya bilang dia tidak mau merepotkanku.


Tiba-tibak aku mendengar ponselku berbunyi.


From : bidadari surgaku


"Assalamualaikum".


To : bidadari sugaku


"Waalaikumsalam"


From : bidadari surgaku


"Kak pulang malam lagi ?"


To : bidadari surgaku


"Iyah aku pulang malam, ada apa Ran apa ada masalah?" tanyaku


From : bidadari surgaku

__ADS_1


"Tidak aku hanya bertanya". Jawabnya.


To : bidadari surgaku


"Ya sudah, aku ada pasien dulu yah". Jawabku.


From : bidadari surgaku


"Iyah"


To :bidadari surgaku


"Wassalamualaikum"


From : bidadari surgaku


"Waalaikumsalam".


Tok tok tok.


"Permisi dok ada orang yang mau bertemu anda". Ucap seorang suster.


"Suruh masuk saja sus". Jawabku.


Ternyata yang datang adalah ziya, ada apa ya dia datang ke rumah sakit.


"Mas, aku kesini mau periksa kandungan, aku boleh gak minjem uang lagi". Ucap ziya


"Kamu tinggal pergi saja ke ruangannya dokter mawar, bilang bahwa pembayaran biar saya yang tangani". Ucapku ya karena mawar adalah istri temanku dan aku sudah mengenal dia dekat.


"Baiklah mas, makasih ya". Ucapnya padaku.


Ziya pov.


Aku sedang hamil besar dan kakak iparku yang merawatku, aku tidak mungkin memberitahu ibu bapak, dan ka Rania aku tidak mau membuat mereka kawatir dengan kondisiku saat ini.


Untung saja kakak iparku sangat baik dia mau membiayai hidupku untuk sementara ini, sudah hampir dua minggu aku meminta tolong padanya.


Bahkan untuk memeriksakan kandunganku saja aku harus meminjam uang ke kakak iparku lagi.


Dokter bilang umurku tidak panjang lagi, tapi itu tidak masalah yang terpenting untukmu adalah anaku lahir dan sebelum ia lahir aku harus mampu bertahan.


Dan Alhamdulillah dokter bilang kandunganku sehat.


Aditya pov.


"Bagaimana kandunganmu, apakah sehat?" Tanyaku pada ziya.


Mungkin jika yang hamil adalah Rania aku akan sangat lebih perhatian, meluangkan banyak waktu untuknya, dan tidak akan membiarkannya kecapean.


Sayangnya rania belum isi juga sampai saat ini.


"Baik mas, kta dokter kandunganku sehat". Jawabnya.


"Oh" icapku ber oh.


"Mas minggu depan kan kak Rania ulang tahun yang ke 24 mas mau kasih kado apa?. Tanyanya padaku, aku bahkan lupa jika istriku akan ulang tahun.


Aku belum mempersiapkan apapun, untuk merayakannya.


"Aku belum tahu aku belum mempersiapkan apapun untuk merayakannya". Ucapku jujur pada adik iparku.


"Mas sebaiknya jangan di rayakan, Kak Rania tidak suka jika ulang tahunnya di rayakan". Ucap adik iparku, bahkan aku tidak tahu bahwa Rania tidak suka ulang tahunnya di rayakan.


"Lantas aku harus memberinya apa". Ucapku bingung.


"Ka Rania itu suka novel yang bernuansa islami mas, mas belikan saja dia novel dan bunga mawar, dan ka Rania juga suka surat Ar -Rahman mas, mas murotal surat Ar - Rahman saja di depan ka Rania dia pasti akan sangat suka". Ucapnya dengan penuh semangat.

__ADS_1


__ADS_2