
sesampainya di rumah Raka berjalan gontai setelah mengetahui apa yang sudah menimpa Tiara, sesal akan hilangnya calon anak yang sangat dia nanti-nantikan.
duduk di sofa ruang tengah, memejamkan mata sambil menghembuskan nafas berkali-kali untuk menghilangkan sesak di dada. bunyi langkah kaki membuatnya membuka mata dan melihat Maureen menuju dapur.
"sayang..."panggil Raka
"ada apa"
"boleh bicara sebentar disi" ucap Raka sambil menepuk tempat duduk di sebelahnya
Maureen berjalan mendekat ke arah Raka dan mendudukkan bokongnya tepat di sebelah Raka
"mau ngomongin soal apa"
"sayang kamu tahu kan kalau umur ku sudah kepala tiga"
"tahu, kenapa "
"emm aku pengen banget punya anak dari wanita yang aku cintai saat ini apa kamu .."
"maksud mu aku harus hamil mas" ucap Maureen memotong ucapan Raka
"iya sayang, pasti rumah ini akan ramai dengan adanya anak kita"
"jangan Ngada-ngada deh mas, sejak awal aku sudah bilang bukan kalau aku belum siap punya anak"ucap Maureen sedikit meninggi karena kesal akan ucapan Maureen
"huffff "
"bukankah kamu tahu kalau mama menginginkan cucu?"
"ya aku tahu itu tapi di awal sebelum kita menikah aku sudah kasih tahu ma kamu kalau aku nggak mau punya anak dulu, aku nggak mau repot ngurusi anak dan aku juga nggak mau badan ku melar terus aku juga masih muda mau menikmati masa mudaku"
"tapi sayang...."
"nggak ada tapi-tapian"
__ADS_1
Maureen pergi meninggalkan Raka dengan rasa marah, sedangkan Raka hanya bisa terduduk lemas di sofa ruang tengah
"kenapa kamu keras kepala Maureen"
"hufffff" raka memejamkan mata untuk menghilangkan beban pikirannya
"kenapa kamu tak bilang kepada ku Tiara jika kamu hamil? mungkinkah kamu begitu terluka karena ku atau kamu sakit hati karena ucapan ku waktu itu?"
*flashback on
saat itu Raka pulang dari kantor dengan Maureen menuju rumahnya tak di sangka Tiara berada di depan rumahnya entah ada gerangan apa sampai Tiara datang ke rumahnya
"ngapain kamu disini" tanya Raka
"aku ingin mengambil sesuatu yang tertinggal mas jadi aku kesini lagi "
"itu bukan alasan kamu kan buat bertemu mas Raka" tuduh Maureen
"bukan mbak memang ada yang tertinggal kalau tak percaya mbak bisa mengambilkannya "
"sudah jangan ribut, masuklah segera ambil barang itu dan segera pergi dari rumah ku" ucap Raka
"baiklah"
Tiara masuk ke dalam rumah menuju kamar Raka, setibanya di kamar Tiara langsung mengambil barang itu dan bergegas keluar kamar. sesak di hati yang ia rasakan saat ini melihat kamar itu menjadi kamarnya Raka dan Maureen.
menuruni tangga dengan pelan dan mencari keberadaan Raka untuk berpamitan pulang
"sudah"
"sudah mas terimakasih"
"tunggu Tiara, aku perhatikan kamu gemukan ya apa jangan-jangan kamu hamil ya?" tanya Maureen
"enggak mbak"
__ADS_1
"kenapa kamu ngomong seperti itu si sayang, aku juga nggak mau punya anak darinya aku hanya ingin punya anak dari wanita yang aku cintai yaitu kamu" ucap raka
"kalau tiba-tiba dia hamil bagaimana?" tanya Maureen
"ya nggak gimana-gimana cuma aku nggak Sudi mengakui anak itu"
hancur hari Tiara mendengar ucapan Raka namun dia berusaha beristighfar menghilang rasa di hatinya
"maaf mas aku sudah selesai dengan urusan ku jadi aku pamit. assalamualaikum " ucap Tiara kepada Raka setelah itu dia keluar dari rumah. menghapus air mata yang mengalir dan mencoba tetap tegar menerima kenyataan bahwa matan suaminya tak ingin punya anak darinya
*flashback off
Raka benar-benar menyesal akan hal ini. dirinya menjadi sedih karena perbuatannya
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
berbeda dengan Raka, di tempat yang baru Tiara mencoba membuka usaha tas rajut online dan membuat kue yang di titipkan ke warung dekat kontrakan,
mencoba yang terbaik untuk sang anak itu menjadi semangat Tiara saat ini
"Ra aku berangkat kerja dulu ya kamu hati-hati di rumah jika ada apa-apa langsung telepon aku ya"
"siap komandan"
"kamu ini"
"hehehe" Tiara tertawa
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Marcell masih kepikiran soal Tiara yang tiba-tiba pergi dan dia ingin segera mengetahui keberadaan Tiara dan akan segera menikahi Tiara agar Marcell bisa melindungi Tiara
"Tia kamu di mana sekarang?apa kamu sudah makan? semoga kamu baik-baik saja Tia. ya Allah tolong jaga Tiara berserta janinnya mudahkan segala apapun urusan Tiara, ku titipkan Tiara hanya kepadamu"
Marcell melanjutkan pekerjaannya yang tinggal sedikit lagi, ia tak sabar ingin segera kembali agar bisa langsung mencari keberadaan Tiara.
__ADS_1
walaupun sahabatnya sekarang membantu mencari keberadaan Tiara namun itu belum bisa membuat Marcell tenang.