
Dua hari kemudian, saat fany sedang menunggu di rumah sakit, kegaduhan dari dalam ruangan tempat ibunya sedang di rawat terjadi, beberapa tenaga medis memasuki ruangan itu, alex yang baru datang dari membeli minum, segera menghampiri fany
“ada apa? Apa ada sesuatu?”
“aku gak tau, aku mau tanya, tapi mereka sedang tergesa – gesa” fany mengintip dari celah kaca pada pintu, perasaan nya tidak enak, tanpa sengaja air mata menetes, begitu melihat para medis yang sedang berusaha memompa jantung ibunya, hatinya hancur, badannya terasa lemas, hilang tenaga
“kamu kenapa?” alex dengan sigap mengangkat badan fany, yang hampir terjatuh
“hiks hiks hiks hiks.. “
“tenanglah.. kamu duduk disini dulu..” alex mendudukannya di kursi dekat situ sementara alex mendekat ke arah pintu ruang icu
“ada wali dari nyonya farah?” suara seorang tenaga medis keluar dari ruangan itu
“iya dok, bagaimana keadaan ibu farah?”
“bagaimana keadaan mama saya dok? Saya anaknya” fany melonjak dari tempat duduknya mendekati mereka
“begini nona, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, namun Tuhan berkehendak lain, mohon menerima keadaan ini dengan sabar dan tabah, silahkan masuk nona, lihatlah ibu anda dulu”
“tidak.. mama saya orang yang kuat, mama saya tidak akan meninggalkan saya secepat ini”
“tenanglah nona.. tenang..”
“fan.. tenanglah.. “
“bagaimana aku bisa tenang?!”
“aku mohon, ayo lihat ibumu dulu..”
“hiks hiks hiks… mama… kenapa kamu tega sekali ma, aku harus bagaimana sekarang? Aku sendirian ma..” berada di samping mamanya
“sabar sayang… sabar… “
“aku….” Tiba – tiba fany jatuh pingsan
“fan.. fan.. fan.. dokter, suster tolong…”
“mari pak, baringkan disini” di ranjang kosong di ruangan itu” dokter segera memeriksa keadaan fany
“bagaimana dok?”
“dia syok, banyak orang yang mengalami seperti ini, harap selalu memberi dukungan kepada nya agar dia bisa terus semangat”
“baik dok, terimakasih”
“bagaimana soal pemakaman ibunya?”
“saya akan segera mengabari segera dok, setelah anaknya ini sadar”
“baiklah, kami akan memeindahkan ibu farah ke ruangan khusus dahulu”
“baik dok..”
“administrasi dan segalanya, mohon dibereskan juga, agar jasad ibu farah bisa dibawa keluar dari sini”
“baik dok, setelah ini saya akan membereskannya”
Setelah fany sadar, fany dan alex menyiapkan segala hal untuk pemakaman mamanya, fany tidak banyak bicara dan hanya pasrah, fany berusaha kuat, karena hanya itulah yang harus dia lakukan supaya mamanya bisa pergi dengan tenang. Alex selalu menguatkan dan menemaninya. Tidak banyak yang datang saat diadakannya pemakaman, karena fany dan mamanya memang sangat tertutup, begitu juga dengan sanak saudara. Hanya beberapa rekan kerja yang datang dan menemani fany di masa – masa sulitnya.
“terima kasih sudah sangat membantuku selama ini, maaf kalau aku sangat merepotkanmu” pembicaraan di dalam mobil setelah pemakaman selesai.
“kamu ngomong apa sih, aku bukan orang lain, sudah kewajiban aku selalu di sampingmu”
“emm.. iya.. apa kamu bisa antarkan aku pulang saja?”
“kenapa?”
“aku sudah cukup lama tinggal di rumahmu”
“tidak ada masalah tentang hal itu, aku mau kamu tetap tinggal bersamaku”
__ADS_1
“aku tidak mau berutang budi padamu lebih banyak lagi”
“aku tidak menganggap semua yang aku lakukan, adalah utang untukmu, aku tulus melakukan semuanya”
“aku harus mengambil baju juga bukan?”
“kalau itu, aku akan mengantarnya, tapi aku tidak akan meninggalkanmu”
“kenapa?”
“aku tidak tau, apa yang akan kamu lakukan bila kamu seorang diri di saat – saat seperti ini”
“aku tidak kenapa – kenapa sungguh”
“aku tidak percaya”
“huft.. terserah kamu sajalah”
“baguslah kalau begitu”
“emm..”
Alex mengantar fany, pulang ke rumahnya, dan fany mengambil beberapa pakaian dan barang – barang peninggalan ibunya.
“hiks hiks hiks..” fany menangis di kamar ibunya
“emm… jangan menangis lagi, mata kamu sudah kayak panda, coba lihatlah di kaca, bengkak begitu”
“aku cuma sedih, air matanya keluar sendiri”
“emm.. ayo kita jalan, kalau sudah membaik, baru aku ajak kesini lagi” menarik tangan fany, dan membawakan barang - barangnya
“kenapa gitu?”
“menurut saja atau aku akan menghukummu”
“ee…” fany pasrah, mengikuti alex
“apa saja..”
“huft.. “ alex berhenti di depan rumah makan padang
“kamu mau beli nasi padang”
“iya, tadi kamu bilang apa saja kan? Aku bungkus saja, bukannya kamu lebih suka dibungkus”
“ee.. iya…”
“tunggu disini..” alex menyuruh fany menunggu di dalam mobil
“iya..”
Setelah membeli nasi padang, mereka pulang ke rumah alex. Alex membantu fany mengeluarkan barang – barang yang tadi dia bawa dari rumahnya.
“ayo makan“ mengajak fany duduk di ruang makan
“iya..”
“makan yang banyak, supaya kamu tidak lemas”
“kelihatanya aku tidak bisa menghabiskan makanan ini”
“iya, tidak papa.. nanti aku yang habiskan”
“apa kamu selalu bantu habisin makanan orang”
“emmm.. “ alex mengetuk pelan kepala fany
“awww.. sakit.. “
“emangnya aku tong sampah.. seumur – umur aku cuma makan, makanan kamu”
__ADS_1
“emm.. kenapa?”
“gak ada alasan, hanya lebih romantis saja”
“emm…”
“kamu sudah kenyang?”
“iya.. apa aku boleh ke kamar, mau beresin pakaian ku”
“iya.. pergilah.. jangan lupa, aku gak mau lihat kamu menangis lagi, atau aku akan menghukummu”
“kamu ini aneh, aku lagi sedih, tapi kamu mau menghukumku”
“suka – suka aku lah..”
“huhh.. dasar…” pergi dengan muka kesal
“hahaha…”
Selesai makan, alex menghampiri fany di kamar, yang sedang sibuk melipat pakaian nya dan memasukkan nya ke dalam lemari.
“mau aku bantu?”
“ehh.. kamu masuk kok gak ketok pintu dulu sih”
“oohh.. maaf, coba kita ulang lagi ya”
“ahh sudahlah..” fany lekas membereskan pakaian dalamnya yang masih acak – acakan di ranjang, memasukannya ke dalam lemari
“besok, aku mau kembali ke kantor, kamu gak papa kan sendirian di rumah ?”
“aku mau ke kantor juga”
“kamu sudah gak papa?”
“aku gak papa, aku mau ke kantor, biar ada hiburan”
“eemm.. baiklah, setidaknya ada fay dan bunda yang bisa menghibur kamu”
“iya..”
“ya sudah, aku mau tiduran dulu di kamarku, setelah kamu selesai membereskan ini, kamu istirahat, oke?”
“iya, oke bos”
Alex masuk ke kamarnya, dan merebahkan diri, baru saja memejamkan matanya, hape nya berdering dan membuatnya membuka mata kembali
“iya bro… what happen?”
“dimana kamu?”
“dirumah lah bro”
“pacarmu masih tinggal sama kamu?”
“iyalah, aku takut dia aneh – aneh kalau sendirian”
“baguslah.. asal kamu jangan yang aneh – aneh aja sama dia”
“nggak lah, kamu kayak gak tau aku aja”
“hahaha.. ya sudah, nanti malam, aku dan fay, main ke rumah mu ya”
“oo ya sudah kemarilah, biar fany juga ada teman”
“oke.. sip..”
“ya sudah, aku mau tidur dulu ya sebentar, aku ngantuk berat”
“iya.. iya.. daa..” mematikan telepon mereka
__ADS_1
bersambung..