Courage And Self-Esteem

Courage And Self-Esteem
Episode 10


__ADS_3

“Eh, Cupu—"


Melihat tatapan mengerikan dari Adrian, Rico tak melanjutkan kalimatnya. Ditelan salivanya, lalu berdeham sebelum mulai membenarkan kata-kata.


“Maksud gue ... Bos. Lo seharusnya nggak pakai acara nantang komplotan SMP Nusantara,” imbuh Rico yang kemudian duduk di kursi kantin.


“Terserah gue. Kenapa? Lo takut? Atau lo juga takut?” Adrian menatap Putra dan Ikshan yang tengah menikmati bakso dengan khidmat.


“Nggak komentar gue. Terserah lo. Gue bukannya takut sama komplotan mereka. Tapi, kalau elo mau nantangin mereka semua, kita kalah jumlah,” terang Putra sambil mengunyah.


“Kalian berdua nggak percaya sama gue? Kalau memang kalian nggak percaya sama gue, itu artinya kalian meremehkan—"


“Maaf, nih, ya. Gue bukannya meremehkan elo. Gue sampai saat ini belum percaya kalau elo itu si cowok cupu dan kutu buku. Menurut gue, perubahan elo itu terlalu cepat bagi kami. Bukan cuma gue, tapi bagi semua siswa yang kenal elo.” Ikshan menyuarakan pendapat.

__ADS_1


Apa yang dikatakan oleh Ikshan memang seratus persen benar. Memangnya siapa yang akan percaya jika seseorang yang cupu, lalu beberapa waktu kemudian berubah menjadi orang yang brutal, bahkan memberandal? Sebenarnya ini juga menjadi perbincangan hangat para guru di sekolah mereka. Sejak beberapa waktu lalu, para guru terheran-heran dengan tingkah laku aneh Adrian. Dia yang biasanya selalu mengikuti perintah guru, kini berlaku semena-mena bahkan tidak pernah mengikuti apa yang dipinta sang guru.


“Sama, gue juga,” Rico menimpali.


“Kelemahan hanya membuat orang-orang seperti kalian mengambil kesempatan untuk menindas siapa pun.” Adrian bangkit dari duduknya. “Gue udah sadar dan membuang perasaan lemah dalam diri gue. Dan ingat, kalian nggak akan bisa melemahkan gue lagi seperti dulu.”


Adrian berlalu pergi meninggalkan Rico, Putra dan Ikshan. Para siswa yang melihat dirinya berjalan dengan santai sambil memasukkan tangan ke saku celana, lantas geleng-geleng kepala. Apalagi ditambah dengan penampilannya, Adrian kini selalu mengeluarkan ujung seragamnya dari celana. Ada satu lagi yang baru dari Adrian, yaitu gaya rambut pompadour yang mana sisi kiri dan kanan dibuat tipis, lalu di tengah-tengahnya agak panjang, disisir ke belakang dan berdiri. Pada dasarnya ia merupakan lelaki yang tampan.


Perempuan berkulit putih yang pernah melihat Adrian di toilet waktu itu tidak kalah heran dengan perubahan sang lelaki. Padahal, sebelumnya ia sangat suka melihat Adrian, tetapi kini ia menyayangkan Adrian ternyata ikut-ikutan menjadi seorang berandal, apalagi menjadi ketua di sekolah ini. Itu artinya, Adrian sudah termakan api dendam hingga membutakan perasaan yang sangat vital di dalam jiwanya. Sang perempuan menatap Adrian dengan lamat sampai lelaki itu perlahan mengecil di pandangannya.


“Eh, itu si ... cupu, ya?”


“Masa, sih? Kok beda banget, ya?”

__ADS_1


“Gue juga nggak tahu. Kerasukan setan apa, ya, dia? Kok bisa cakep banget, ya?”


“Kalau cakep kayak gitu, kan, gue jadi suka.”


Komentar-komentar para perempuan seperti itu pastinya tidak akan digubris oleh Adrian. Segala caci maki pun dulunya tak pernah ia gubris, ia juga bukan seorang lelaki yang haus dengan pujian. Namun, para perempuan seperti menjilat ludahnya sendiri. Bahkan dulu pernah ada seorang perempuan yang bersumpah serapah mengomentari penampilan lelaki itu. Sang perempuan mengaku selalu jijik dan tidak suka saat bertatap wajah ataupun ketika tidak sengaja berpapasan.


“Eh, Cupu! Ini beneran elo si cupu?!”


Seorang perempuan tiba-tiba menghentikan langkah Adrian ketika dirinya akan sampai di kelas. Adrian hanya menatap perempuan itu dengan kerutan di dahi, lalu mengembuskan napas panjang. Ia tidak berniat merespons sang perempuan, dijejakkannya langkah dan masuk ke dalam kelas.


...----------------...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2