Courage And Self-Esteem

Courage And Self-Esteem
Episode 40


__ADS_3

“Gue terima tawaran elo dengan sepenuh hati.” Adrian pun melepaskan belenggunya dari tubuh Vera. Entah mengapa ia percaya perempuan itu tidak akan mampu untuk melakukan perlawanan.


“Kenapa lo akhirnya melepaskan gue?” tanya Vera.


“Nggak ada alasan spesial. Gue hanya yakin elo gadis biasa.”


Adrian pun melangkah keluar dari ruangan itu. “Ayo, kalian berdua. Kita balik!”


Vera menyaksikan langkah Adrian, tepatnya ke arah punggung lelaki dingin itu. Bahkan sang perempuan keluar dari ruangan untuk melihatnya berjalan di koridor, memperhatikan sang lelaki sampai menghilang dan turun ke lantai bawah.


“Lelaki yang unik.”


Di lain hari ketika Adrian sedang menikmati makanan yang dipesannya di kantin, Vera melihat lelaki itu dan berniat untuk menghampirinya. Akan tetapi, ia merasa begitu sungkan karena ekspresi wajah Adrian yang begitu datar. Ia pikir, Adrian bukan tipe orang yang suka diganggu atau bahkan tidak suka dengan orang yang sok akrab dengannya. Meski begitu, Vera tetap menghampiri lelaki itu.


Sampai di meja tempat Adrian berada, Vera berdiri dan menyiapkan diri untuk mengatakan sesuatu. Padahal, Adrian menyadari ada kehadiran seseorang di hadapannya, tetapi ia sama sekali tidak menggubris hal itu. Adrian tetap cuek menyantap baksonya.


Vera mengembuskan napas panjang, lalu mulai menyapa, “H-hai.”


Ini sangat aneh. Perempuan itu tiba-tiba saja bersikap lembut. Semestinya, bukankah dia merupakan perempuan yang galak? Tidak fenimin, dan tentu saja hawa keberadaannya sebagai seorang perempuan sebelumnya tidak begitu berkesan.

__ADS_1


Adrian menolehkan pandangannya. Ia bungkam sejenak, padahal tahu perempuan itu merupakan Vera yang kemarin menculik dua anggota inti kelompoknya.


“Ada apa?” tanya Adrian acuh.


“Gue boleh duduk di sini, kan?” tanya Vera. “Gue juga mau makan.”


“Kenapa harus di sini? Di sana masih banyak meja kosong,” respons Adrian dengan nada ketus, Lelaki itu kembali menyendok baksonya.


“Gue nggak suka makan sendiri.”


“Goblok. Suruh bawahan elo nemani.”


“Tunggu sebentar.”


Vera pergi untuk mengambil makanan pesanannya pada ibu penjual. Sekembalinya, ia cuek saja duduk di hadapan Adrian sambil menikmati nasi goreng kesukaannya.


“Gue nggak pernah ngizinin elo duduk di sini,” ujar Adrian.


“Kantin ini bukan milik elo,” balas Vera tak mau kalah.

__ADS_1


“Kalau gue udah duduk di sini, artinya meja dan kursi ini milik gue. Ngerti lo?! Sekarang juga elo cari tempat lain.”


“Emangnya kenapa kalau gue ada di sini? Kenapa elo sangat keberatan dengan kehadiran gue?”


Adrian diam. Fokus menghabiskan baksonya. Setelah habis dan menenggak sebotol mineral, Adrian bangkit, lalu melangkah pergi tanpa mengucapkan apa pun pada Vera. Ia tidak peduli dengan orang lain, terlebih seorang perempuan seperti Vera.


Melangkah cukup jauh, Vera hadir di samping Adrian, kemudian berjalan beriringan. Adrian merasa sangat terganggu dengan kehadiran perempuan itu sehingga dahinya mengernyit.


“Lo ngikutin gue?” tanya Adrian.


“Gue nggak ngikutin elo!” Vera menekankan.


Adrian melangkah lebih cepat, Vera pun mengikuti kecepatan langkah Adrian.


“Eh, Jalang! Lo ngikutin gue?!” tanya lagi Adrian dengan sedikit emosi.


“Jangan panggil gue jalang! Nama gue Vera!” pekik sang perempuan dengan menajamkan tatapannya pada Adrian.


Tentu saja, Adrian tidak peduli dengan apa yang dikatakan olehnya. Ia tidak bertanya lagi meskipun Vera masih mengikuti langkahnya. Bahkan, Vera mengikuti Adrian hingga sampai di markasnya.

__ADS_1


__ADS_2