
“Nggak jadi gue lerai. Kalau lo mau kelahi, begitu caranya. Gampang, kan?” ucap Adrian pada siswa yang lebih pendek dari sang senior. Siswa itu terkesiap, juga tampak heran dengan Adrian. “Gue tunjukkin sekali lagi, ya.”
“Woi, berani-beraninya elo ganggu perkelahian gue. Gue juga senior di sini!”
“Oh, gitu.”
Kembali Adrian melayangkan tinju dengan tenaga penuh dan berhasil mendarat di mata kiri senior lainnya. Dua senior hari ini telah dibuat terluka oleh Adrian. Menurutnya, ini adalah langkah bagus untuk mencari perhatian siswa lain, juga untuk mencari nama agar dirinya dikenal.
“Kalau begitu, kalian berdua musuh gue,” pungkas Adrian yang kini menyeringai. Dipasangnya kuda-kuda, merentangkan tangan ke arah dua senior yang sedang membungkuk menahan sakit.
“Gue tantang kalian berdua.” Adrian menaik-turunkan keempat jari-jari tangan sebagai tanda meminta kedua lawannya untuk menyerang.
“Jangan senang-senang sendirian, dong, Bos.”
Ternyata Rico. Ia tidak ingin ketinggalan oleh langkah Adrian, lantas berdiri dengan kuda-kuda di sebelah sang ketua.
“Gue ikut pestanya.” Kali ini Putra yang maju, ia berdiri di sebelah Rico sambil menatap senior berambut mohawk.
__ADS_1
lalu kedua orang itu menatap Ikhsan dengan wajah datar. " lo enggak ikut shan?" Rico memberikan wajah datar ke arah temannya satu itu.
"ehhh, iya gue ikut, jangan bersenang-senang tanpa gue kalian" lalu Ikhsan maju, dan berdiri disebelah Putra.
“Goblok, kalian cari mati!”
Serentak dua senior mengambil tindakan.
Adrian melawan senior berambut hitam, sedangkan Rico, Putra dan Ikhsan melawan si rambut pirang. Acara perkelahian antara Senior dan Junior sekolah itupun dimulai.
Adrian tidak sekali pun terkena oleh pukulan lawannya. Ia lebih banyak menghindar dan menangkis serangan. Hal itu tentu akan membuat senior itu lebih cepat kelelahan. Apalagi, ia begitu berambisi untuk melukai Adrian.
“Keluarkan kemampuan lo. Kalau nyerang kayak gitu, anak SD pun bisa.”
“Sialan lo. Lo ngeremehin gue, B******n!” sang senior semakin naik pitam oleh perkataan Adrian.
“Nggak. Itu bukan kalimat meremehkan, tapi fakta.”
__ADS_1
Murid-murid lain yang menyaksikan jalannya perkelahian, kini semakin seru bersorak dan bertepuk tangan. Bahkan, perkelahian kelompok Adrian dengan dua senior itu menjadi ajang taruhan bagi mereka. Meski telah melihat aksi Adrian, kebanyakan masih mendukung dua senior. Itu karena mereka yakin senior lebih berpengalaman di sekolah ini.
Sementara itu, Rico, Putra dan Ikhsan yang bekerjasama untuk melumpuhkan lawan, terlihat masih saling melancarkan pukulan. Lawan mereka sepertinya cukup kuat dan bertenaga, sehingga itu ketiganya telah mendapatkan luka di bagian wajah. Bahkan di sudut bibir Rico, darah terlihat menetes.
“Maju!”
Sudah cukup bagi Adrian memberikan istirahat pada lawan. Kembali ia memasang kuda-kuda, menanti serangan datang padanya.
Sang senior jelas merasa sangat tertantang. Ia dengan tenaga penuh melayangkan tendangan, tapi berhasil ditangkis oleh Adrian. Belum menyerah, sang senior kembali melakukan pukulan bertubi-tubi. Akan tetapi, Adrian dengan cekatan mengeluarkan pisau kecil cemerlang dari saku celana dan menggoreskannya di lengan senior itu.
Pekik jerit menggema, umpatan demi umpatan disuarakan. Adrian tersenyum miring sembari meraih rambut lawan, dan dengan tenaga penuh ia empaskan kepala senior pada lutut. Kemudian, Adrian melepasnya hingga tubuh lawan roboh di tanah berdebu.
“Ternyata cuma segitu. Emang lemah.”
Adrian pergi meninggalkan kerumunan, tak peduli pada Rico, Putra dan Ikhsan yang masih berkutat dengan perkelahian.
...----------------...
__ADS_1
BERSAMBUNG