
Rian cukup lengah akibat tinjunya yang berhasil ditangkis oleh Adrian, sehingga lelaki dingin itu memanfaatkan celah, lalu mengibaskan kepalan tangan dari arah bawah. Rian terbatuk akibat tinju dari Adrian yang mengenai perutnya.
Tidak cukup sampai di situ, Adrian kembali menaikkan tangan ke atas, mengarahkan sikut pada punggung Rian yang berposisi membungkuk. Berandal dari SMP Nusantara itu pun roboh dengan posisi tengkurap.
“Lemah lo!” Adrian meludah ke samping tubuh Rian. “Bangun lo! Gue belum puas.”
“Sialan lo ....” Rian mencoba bangkit dengan bertumpu oleh kedua tangannya sehingga perlahan ia berhasil meskipun sedikit sempoyongan ketika berdiri.
Saat napas Rian terengah-engah, Adrian masih punya tenaga yang banyak untuk kembali merobohkan lawannya.
“Kenapa? Udah nggak mampu—“
Adrian terlalu sombong dan percaya diri untuk dapat mengalahkan Adrian dengan telak, nyatanya lelaki itu tidak akan dijuluki sebagai Auman Singa jika melawan mantan orang cupu saja tak bisa.
Adriana berteriak, terdengar seperti meraum. Ia melesat dengan cepat, lalu merobohkan Adrian dengan men-sliding kaki lelaki itu. Cukup terkejut dengan tindakan yang dilakukan oleh Rian, tetapi kini Adrian tidak dapat berkutik. Ia ditindih oleh tubuh besar Rian, apalagi tangannya dibelenggu oleh jepitan ************ si Auman Singa.
Emosi berkecamuk di benak Rian, ia tak mampu menghentikan darah yang mendidih sehingga membuatnya membabi buta, menjejali Adrian dengan tinju puluhan kali.
__ADS_1
“Bangsat lo!” pekik Rian menyuarakan amarah yang telah meluap. Adrian masih ia jejali dengan tinjunya yang besar.
Tentu saja, Adrian tidak tinggal diam, diam-diam tangannya mencoba merogoh saku celana meski sedikit kesulitan. Setelah bersusah payah meraba saku celana, Adrian berhasil dan segera mengambil benda itu lagi yang kemudian ,diarahkannya untuk mengenai betis Rian. Benda itu berhasil menggores betis si Auman Singa sehingga membuatnya memekik jerit yang cukup keras.
Adrian menarik tangannya yang terjepit, lalu mendorong tubuh Rian dengan sepenuh tenaga. Si Auman Rian terhuyung ke belakang dan Adrian mampu terbebas dari belenggunya.
Lelaki dingin berdiri sambil mengacungkan pisau ke arah Rian.
Di sela-sela pertarungan sengit itu, komplotan Rian bersama dengan Rico, Putra dan Ikshan
“Maju lo, Bangsat!” teriak Adrian yang telah dikuasai oleh amarah.
Akan tetapi, Rian masih menahan sakit di betis. Ia maju terlunta-lunta sambil berwaspada dengan segala sesuatu yang bisa saja dilakukan oleh Adrian. Kemungkinan terburuknya, Adrian bisa dengan mudah m******h Rian.
Keduanya hening, yang terdengar hanya helaan napas terengah.
Setelah cukup lama bungkam, Adrian angkat suara. “Pisau ini bakalan menancap di jantung lo.”
__ADS_1
Rian tetap fokus, ia tidak ingin ancaman Adrian dapat membuatnya lengah sedikit pun sehingga pisau yang dipegang oleh lawan mampu menggores bagian tubuhnya.
“Cemen lo! Kalau berani, jangan pakai benda t
terlarang!"
Adrian tak menggubris perkataan Rian, lantas mengangkat langkah dan berlari untuk menjangkau lelaki dengan tubuh besar itu.
Rian mencoba menghindari serangan Adrian yang cukup bahaya, berlari ke samping, tetapi Adrian jauh lebih cepat sehingga dapat menjangkau leher Rian, kemudian diacungkan benda itu dari belakang, tepat di depan wajah si Auman Singa.
“Woi! Jangan main-main, woi! Jangan, jangan, jangan!” Rian berontak. Namun, tidak bisa ia mengalahkan tenaga Adrian ataupun melepaskan cengkeraman tangan itu dari lehernya.
“Mati lo,” bisik Adrian sambil menyeringai senang.
BERSAMBUNG
__ADS_1