Courage And Self-Esteem

Courage And Self-Esteem
Episode 25


__ADS_3

BAB 9


“BERHENTI!” teriak sang polisi.


Dengan pisau yang dibawanya, Adrian berhasil lolos dari kejaran aparat kepolisian. Meskipun sedikit nekat menggunakan pisau untuk menggores tangan polisi yang mencengkeram kerah seragamnya, tetapi ia mampu tidak memperlihatkan wajah.


Tak hanya Adrian, anggota lain pun berhasil lolos karena kemampuan mereka dalam melarikan diri. Untuk sementara ini, Adrian hanya bersama dengan keempat bawahannya, yaitu Rian, Rico, Putra, dan Ikhsan Mereka membaringkan tubuh di rooftop bangunan kosong sambil terengah-engah, mencoba mengatur napas. Keringat telah bersimbah di seluruh tubuh, basah kuyup.


“Hampir aja. Aduh, hampir, hampir,” Putra membuka suara, ditutup mata dengan tangan karena silaunya mentari. Napasnya masih menderu, bahkan merasa tenggorokannya kering meminta segelas air untuk menyapu gatal yang menempel.

__ADS_1


“Kalau sampai kita ketangkap, gimana jadinya? Kita pasti akan dipenjara,” pungkas Rico yang berada di sebelah Ikhsan dengan posisi yang sama.


Adrian bangkit dari posisi berbaring, melangkah ke tepi bangunan untuk memastikan tidak satu polisi pun yang mengendus keberadaannya. Setelah kondisi benar-benar meyakinkan baginya, lelaki itu mengembuskan napas lega, lalu buka suara, “Gue cabut. Sampai ketemu di SMA Bakti Siswa. Kita jangan ketemu dulu selama libur sekolah untuk mengantisipasi hal-hal buruk.”


Adrian melangkah turun dari atap. Sampai di bawah dan melangkah, ia tak menurunkan kewaspadaan. Tetap was-was.


Hari ini merupakan hari pertama Adrian dan anggotanya masuk di SMA Bakti Siswa. Mereka resmi menjadi siswa Sekolah Menengah Atas setelah menjalani proses belajar selama tiga tahun di SMP. Tidak ada MOS di sekolah itu, bahkan organisasi yang dibentuk guru pun tidak berjalan dengan baik. Bangunan kelas di SMA ini benar-benar tidak terawat seperti informasi yang tersebar. Gerbang masuk sekolah pun telah berkarat dan membengkok, tak ada sekuriti yang dipekerjakan untuk mengawasi kedatangan para siswa seperti kebanyakan sekolah lainnya.


Lahan parkir SMA Bakti Siswa memang cukup luas. Sebagian besar siswa menggunakan sepeda motor, tak sedikit pula yang menggunakan mobil hasil modifikasi. Banyak yang menilai, sekolah ini memang sangat buruk, tetapi bagi Adrian dan anggotanya, inilah sekolah paling keren dan merupakan dambaan para siswa nakal. Karena dengan menjadi murid SMA Bakti Siswa, itu artinya mereka bisa seenaknya tidak mengikuti pelajaran atau bahkan membolos.

__ADS_1


Adrian, Rico, Putra dan Ikhsan bertemu di lahan parkir ketika mereka mencari tempat untuk menambatkan sepeda motor. Keempatnya menggunakan sepeda motor dengan model yang sama, yaitu CB Japstyle yang mungkin telah puluhan kali dimodifikasi.


“Woi, Dri. Motor lo keren juga. Nggak kalah sama punya gue.” Ikhsan menyapa dengan senyum lebar sambil memperhatikan sepeda motor Adrian yang didominasi berwarna hitam dan mesinnya dicat dengan warna chrome mengilap.


Adrian hanya merespons dengan anggukan. Ia sudah mendapatkan tempat parkir, kemudian mematikan mesin dan mencabut kuncinya. Rico memarkir di sebelah sepeda motor milik Adrian. Sedangkan, Putra masih celingukan mencari lahan yang kosong.


SMA Bakti Siswa memang luas, tetapi siswanya juga membludak. Itu dikarenakan banyaknya siswa yang tidak diterima bersekolah di sekolah-sekolah lain, sehingga pilihan satu-satunya adalah SMA paling buruk di kota yang merupakan milik swasta.


Sekolah itu seolah seperti pembuangan siswa-siswa sampah tak berbobot. Mungkin Adrian lah satu-satunya siswa paling berprestasi dan jenius. Namun, sayangnya ia dikirim ke sekolah ini bukan sebagai seorang malaikat, tetapi sebagai iblis yang siap menambah citra sekolah ini menjadi lebih menjijikkan dari sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2