Courage And Self-Esteem

Courage And Self-Esteem
Episode 42


__ADS_3

Bab 15


Di markasnya, Vera terduduk sambil menggunakan kedua tangannya sebagai bantal di atas meja. Sedari tadi, para anggota melihat perempuan yang biasanya terlihat judes itu senyum-senyum tanpa alasan pasti. Pasalnya, mereka mengetahui bahwa seniornya itu tidak sekali pun menggores sebuah senyum. Akan tetapi, sekarang malah sebaliknya. Sehingga itu, para anggota mengernyitkan dahi, sesekali menatap penuh curiga pada Vera.


Vera mendapati salah satu anggotanya memandang ke arah dirinya dengan heran, seketika itu senyum di wajah sang perempuan sirna.


“Heh! Ngapain lihat-lihat?!” cetus Vera ketus.


“Ng-nggak ada, Kak,” jawab anggota itu, lalu membuang pandangan ke sembarang arah.


Ada hal aneh terjadi pada Vera akhir-akhir ini. Ia sangat drastis berubah, tidak seperti biasanya. Ketika dirinya bosan di dalam ruangan berdebu itu, Vera bangkit dan mulai melangkah keluar. Ada satu tujuan yang terlintas di dalam kepalanya, yaitu markas kelompok Adrian.


Masih dengan senyum mengembang, Vera berjalan menyusuri koridor demi koridor. Semua junior yang melihat Vera, jadi terheran-heran. Seorang berandal perempuan SMA Bakti Siswa yang biasanya terlihat galak dan memalak di setiap kelas, kini tidak peduli lagi dengan keadaan sekitar lantas terus berjalan.


“Woi, Vera!”


Vera tidak peduli senior lain menyerukan namanya. Yang lebih penting ia ingin cepat-cepat sampai di markas sang lelaki dingin penuh pesona. Setidaknya itulah Adrian menurut Vera.

__ADS_1


Di depan markas, beberapa anggota sedang terduduk. Melihat Vera yang sedang melangkah menuju markas, mereka bangkit dari posisi duduk dan menghadang sang perempuan.


“Mau ke mana lo?”


“Gue mau masuk!” jawab Vera sambil memaksa menyibak sederet anggota yang menghalangi jalannya.


“Nggak bisa. Kemarin lo udah dibilangin jangan ke sini lagi.”


“Heh! Terserah guelah mau datang atau nggak. Ini bukan sekolah elo doang. Gue juga berhak ke ruangan mana pun sesuai keinginan gue. Minggir kalian!” Vera memaksa para lelaki itu menyingkir sehingga berhasil melewati mereka.


Segera Vera melangkah masuk dan menemui Adrian yang tengah membaca sebuah buku, tampak sebuah novel.


Adrian sebenarnya sudah menyadari kehadiran Vera sejak pertama ia masuk ke ruangan. Namun, ia masih asyik membaca bagian novel yang sedang seru-serunya.


“Woi, gue datang,” ucap Vera memberitahukan kedatangannya. Adrian tidak menggubris sang perempuan, sehingga Vera bersuara beberapa kali. Hal ini membuat Adrian mengernyitkan dahi. Dia juga cukup kesal sebab waktu santainya diganggu oleh kedatangan seorang Vera yang masih merupakan lawan dari kelompoknya.


“Dri—"

__ADS_1


“Gue nggak budek!” potong Adrian ketus sambil terus membaca.


Vera terkesiap, lalu membalas, “Judes amat.”


“Ada keperluan apa lo sama gue?”


“Nggak ada. Gue cuma mau nyamperin elo doang. Emang nggak boleh gue ketemu sama lo?” Vera tersenyum tipis menunggu jawaban Adrian.


“Kita musuh. Lo ingat?”


“Gue ingat. Kita emang musuh di dalam kelompok, tapi bukan berarti kita musuh secara personal.”


“Sekali musuh tetap musuh!”


“Nggak bisa gitu, dong, Dri.”


“Eh, lo dengar, ya! Sebelum elo bergabung dengan kelompok gue, elo itu musuh bagi gue dan semua anggota!” Adrian menutup buku miliknya, lalu menatap Vera dengan tajam.

__ADS_1


“Dri. Udah, deh. Gue lagi nggak mau bahas soal itu. Gue cuma mau ketemu sama elo.”


__ADS_2