Courage And Self-Esteem

Courage And Self-Esteem
Episode 20


__ADS_3

Satu perempuan yang tidak menunjukkan ekspresi takut kepada Adrian, yaitu perempuan dengan bibir tipis yang kerap kali diam-diam memperhatikan Adrian di mana pun lelaki itu berada. Perempuan yang diam-diam memancarkan senyum ketika saling berpapasan dengan Adrian meskipun lelaki itu hanya bersikap cuek dan tidak memedulikan orang-orang di sekitar. Bagi sang perempuan, Adrian adalah lelaki pertama yang mampu menyita perhatiannya. Bukan karena perubahan Adrian yang drastis, tetapi sejak Adrian masih menjadi lelaki cupu, perempuan itu sudah sering kali memperhatikannya.


“Lo ke mana aja? Beberapa hari ini lo nggak pernah kelihatan,” Rico membuka suara.


“Sibuk belajar.”


Putra tertawa cekikikan, lalu berkata, “Baru sekarang gue denger ada berandal sekolah yang rajin belajar.”


“Ya. Terserah lo. Gue sedang menyiasati soal ujian yang akan keluar di ujian hari Senin lusa.”


“Oh, gitu. Pantesan aja.”


“Ngomong-ngomong, nih, ya. Kok, suasana di kantin ini jadi berubah, ya?” Ikhsan menyadari sesuatu yang aneh.

__ADS_1


“Apa?” Adrian tetap merespons dengan singkat.


“Lo kayaknya akhir-akhir ini jadi bahan perhatian terus di sekolah ini, Dri. Apa karena perubahan elo, ya?” lanjut Putra memberi pendapat.


“Nggak tahu dan gue nggak peduli.”


“Peduli sedikitlah. Cewek-cewek di sekolah ini bahkan rata-rata ngelihatin elo terus di mana pun elo berada. Gue malah nggak pernah jadi sepopuler elo.”


“Apa yang istimewa dari populer? Gue nggak peduli dengan popularitas di kalangan para cewek. Yang gue peduli adalah, kita harus bisa menguasai, jadi berandal nomor satu di kota ini.”


“Gue jadi pengin tahu alasan elo mau—“


“Kalian nggak perlu tahu. Kalian juga pasti pernah berkeinginan jadi yang terdepan, jadi yang paling hebat dan kuat.”

__ADS_1


Tak merespons lagi, Ikhsan mengembuskan napas panjang. Adrian bangkit dari duduk dan kembali ke kelas meskipun jam istirahat masih berlangsung cukup lama.


Sebelum bel masuk bergema, Adrian mengumpulkan para bawahannya di kantin sekolah. Pasalnya, hari ini akan berlangsung Ujian Akhir Sekolah yang menentukan para siswa dapat melanjutkan ke sekolah menengah atau jika tidak, akan mengikuti ujian susulan.


Puluhan anggota telah berkumpul di kantin dan siap mendengarkan apa yang ingin disampaikan oleh Adrian—sang ketua. Bahkan Rico, Putra dan Ikhsan yang juga penasaran dengannya.


“Gue mau kalian semua lulus dari sekolah ini dan ikut bersama gue untuk masuk ke SMA Bakti Siswa. Jika ada dari kalian yang punya SMA tujuan lain, silakan angkat kaki, keluar dari barisan ini, berarti kalian bukan anggota gue. Dan ingat, setelah gue tahu siapa yang nggak ikut bersama gue, akan merasakan akibatnya,” jelas Adrian sambil memutar bola mata, menatap barisan para anggotanya. “Jadi, kalian semua setuju masuk ke SMA Bakti Siswa?”


“Siap, Bos!” serentak semuanya menjawab.


“Oke. Gunakan kunci jawaban yang udah gue berikan ke kalian beberapa hari lalu. Gue tahu kalian semua nggak ada satu pun yang nilainya sempurna, dan gue udah mengatur kunci jawaban itu agar para guru nggak curiga dengan nilai kelulusan kalian.”


“Oke. Kalau gitu, sekarang bubar satu per satu. Jangan sampai mencolok dan membuat siapa pun curiga.”

__ADS_1


Para anggota satu per satu meninggalkan kantin untuk masuk ke ruang ujian masing-masing. Mereka tentu sudah sangat siap karena dijamin oleh murid paling jenius di sekolah ini, yaitu Adrian Mahesa Putra.


__ADS_2