Courage And Self-Esteem

Courage And Self-Esteem
Episode 6


__ADS_3

Mengetahui dirinya gagal mengenai wajah Adrian, Rico kembali mengarahkan kaki kanan untuk menendang pinggang bagian kiri lawannya. Tak berhasil, lantas Adrian meraih kaki Rico setelah ia menangkisnya dengan tangan kiri, tepat menggunakan siku tangan. Ia segera mendorong Rico hingga terkapar ke belakang. Dengan sangat lugas Adrian mengeluarkan sebuah benda dari saku celana sebelah kanan, lalu mengarahkannya di depan wajah Rico.


Melihat Adrian mengacungkan benda itu di depannya, Rico kini berwajah takut. Ia resah jika saja Adrian benar-benar akan menggoreskan benda itu diwajahnya.


Rico mengangkat kedua tangannya sambil tetap waspada, menatap benda cemerlang itu di tangan sang lawan.


"Sekian tahun elo nyiksa gue di sekolah ini, sekarang saatnya gue balas semua perlakuan itu." Dengan wajah seringai, terlihat seperti penjahat yang ganas, Adrian menindih tubuh Rico sambil memajukan benda itu ke wajahnya. Benda itu berhasil menempel di pipi sebelah kiri Rico sehingga membuat lelaki itu tidak dapat berkutik.


Mendengar suara pergerakan Putra dan Ikshan yang sedari tadi menyaksikan. Adrian menoleh dan berkata, "Jangan membuat pergerakan! Kalau kalian sampai bergerak, gue serius akan m******h kawan Lo! Bukan cuma dia, tapi juga kalian!"

__ADS_1


Akhirnya Putra dan Ikshan tidak punya pilihan selain bergeming. Putra dan Ikshan beberapa kali menelan saliva, masih merasa tidak percaya bahwa Adrian akan melakukan hal brutal seperti ini.


Kembali Adrian mengarahkan tatapannya ke arah Rico, mendekatkan benda itu lagi ke arah pipi sebelah kiri lelaki itu. Tanpa keraguan sedikitpun, Adrian menggoreskan benda itu membentuk vertikal di pipi Rico sehingga menyebabkan teriak pekak dari mulut lelaki itu.


"Aaarrgghh! Bangsat! Sakit, Goblok! " umpat Rico sambil memegangi pipinya yang kini berdarah. "Bangsat lo! Sialan! "


"Lo mau lagi?" tanya Adrian dengan tenang. "Kalau lo mau lagi, gue kasih yang lebih sakit dari ini." katanya sambil tertawa jahat.


"Oke, gue nggak akan lanjut asal mulai sekarang elo harus nurut dan tunduk sama gue. " Adrian masih mengarahkan benda itu ke wajah Rico.

__ADS_1


"Iya, iya, iya. Gue akan tunduk sama lo. Lepasin gue."


"Ingat, ya. Kalau elo ingkar janji sama gue, gue nggak akan lepasin elo gitu aja. Benda ini akan menancap di dada elo. MENGERTI?!" tegasnya dengan nada pekak.


"Iya, gue mengerti. Gue mengerti, gue mengerti. " ucap Rico berkali-kali dengan nafas yang tersengal sambil menahan sakit pada lukanya.


Adrian pun melepaskan Rico, ia berdiri sambil melihat ke arah pintu gudang. Dilihatnya Putra dan Ikshan sedang ketakutan dengan mata membelalak. Ketika Adrian akan melangkah ke arah mereka berdua, Putra dan Ikshan membuka pintu gudang dan lari sekencang-kencangnya.


"Gue akan kejar kalian ke mana pun kalian berdua lari" Gumam Adrian sambil menjilat benda yang bekas darah Rico yang masih segar. Adrian mengarahkan tatapan ke arah Rico, lalu kembali berujar, "Dan elo! Kalau sampai elo berani berbuat macam-macam sama gue, akan gue b***h lo. Camkan itu!"

__ADS_1


Adrian pun pergi meninggalkan Rico yang terlihat tengah kelelahan sambil menghapus tetesan darah di pipinya dengan tangan. Sesekali lelaki berandal itu menjerit. Meskipun sebenarnya perasaan tidak terima hadir dibenaknya, tetapi ia tak tahu harus berbuat apa. Selama Rico menjadi berandalan disekolah ini, tak sekali pun terpikir olehnya bermain atau menyiksa siapa saja menggunakan benda yang dilarang. Akan tetapi, Adrian ternyata menjadi jauh lebih kejam dari dirinya.


__ADS_2